Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang indah
Malam itu, kemegahan hotel bintang lima milik keluarga Sterling-Valerius menjadi saksi bisu pernikahan yang disebut-sebut sebagai penyatuan dua dinasti terbesar.
Andrea Sterling Valerius, dengan gaun pengantin putih yang menyapu lantai, tampak seperti dewi. Namun di balik senyum angkuhnya, ia merasa tubuhnya remuk. Sepatunya yang seharga ribuan dolar terasa seperti alat penyiksa setelah berdiri berjam-jam menyalami ribuan tamu dari kalangan elit dunia.
Di tengah hiruk-pikuk pesta, Andrea membisikkan sesuatu pada Aldrian. "Sayang, aku benar-benar lelah. Bolehkah aku ke kamar pengantin lebih dulu?"
Aldrian, dengan setelan tuksedo yang sangat pas dan senyum hangatnya yang mematikan, mengecup dahi Andrea dengan lembut. Sorot matanya penuh pesona romantis yang selama ini membuat Andrea bertekuk lutut. "Tentu, Sayang. Pergilah istirahat. Aku akan menyusul setelah menyalami beberapa kolega penting terakhir. Tampil yang cantik untukku, ya?"
Andrea tersipu, sebuah pemandangan langka bagi wanita yang biasanya dikenal berlidah tajam itu. Didampingi oleh Kate, ibunya, Andrea menuju Penthouse Suite yang telah disulap menjadi kamar pengantin paling mewah.
"Andrea," Kate membelai rambut putrinya sebelum pergi. "Jangan gugup. Aldrian pria yang baik. Ibu tahu kamu sudah menjaga dirimu untuk saat ini."
Setelah sang ibu keluar, Andrea menarik napas panjang. Ia mandi dengan air hangat, mencoba mengikis rasa lelahnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memakai lingerie sutra berwarna putih salju, pemberian khusus dari ibunya.
Gaun tipis itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, memamerkan lekuk tubuh yang selama ini tertutup oleh sikap dingin dan angkuhnya.
Karena efek kelelahan yang luar biasa dan sisa sampanye yang ia minum di pesta, Andrea merebahkan diri sejenak di atas tempat tidur bertabur kelopak mawar. Ia hanya berniat memejamkan mata selama lima menit sambil menunggu Aldrian. Namun, kantuk yang berat menyelimutinya hingga ia terlelap dalam kegelapan yang tenang.
Di luar kamar, sebuah bayangan bergerak dalam senyap. Xavier Cavanough tidak berada di aula pesta. Ia sudah merencanakan ini sejak malam ia mendengar pengakuan Aldrian di kamar. Ia tahu pamannya sedang asyik berpesta, bahkan mungkin sedang menggoda salah satu pelayan cantik di sudut bar, seperti kebiasaan lamanya yang belum benar-benar hilang.
Xavier masuk menggunakan kunci cadangan yang ia dapatkan dengan otoritasnya sebagai bagian dari keluarga Cavanough. Ia telah mempersiapkan segalanya. Ia memakai parfum yang sama dengan yang dipakai Aldrian, aroma sandalwood dan bergamot yang khas.
Kamar itu gelap. Hanya cahaya lampu tidur remang-remang yang memberikan siluet jingga di atas tempat tidur. Xavier melihat Andrea di sana, tampak begitu rapuh dan cantik, sangat berbeda dari Andrea yang cerewet di kampus. Amarah, obsesi, dan rasa posesif yang selama ini Xavier pendam meledak di dalam dadanya. Ia tidak akan membiarkan wanita ini menjadi korban penaklukan pamannya. Jika Andrea harus jatuh, maka dia harus jatuh ke tangan Xavier.
Andrea tersentak kecil saat merasakan sebuah berat menindih tempat tidur. Aroma parfum suaminya tercium kuat, membuatnya merasa aman. Dalam keadaan setengah sadar dan kantuk yang masih menggelayut, ia merasakan tangan dingin mulai menjelajahi permukaan kulitnya.
"Mmm... Aldrian..." gumam Andrea lirih.
Xavier tidak menjawab. Ia tidak boleh bersuara. Ia mencium leher Andrea dengan intensitas yang mengejutkan. Andrea merasa sentuhan ini berbeda, lebih menuntut, lebih dalam, dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Namun, karena ini adalah malam pertamanya, ia mengira bahwa mungkin inilah sisi lain dari Aldrian yang selama ini lembut.
Lampu kamar yang mati total membuat Andrea hanya bisa merasakan lewat indera perabaan. Xavier bergerak dengan sangat hati-hati namun pasti. Jarinya menelusuri setiap inci aset yang selama ini dijaga ketat oleh Andrea. Andrea mulai bernapas memburu, desahan kecil mulai lolos dari bibirnya saat bibir Xavier menyentuh dadanya.
"Ahhh... Sayang..." Andrea merintih, tangannya mencengkeram bahu kokoh pria di atasnya. Ia merasakan kekuatan otot yang berbeda, lebih keras dan lebih muda daripada yang ia bayangkan tentang Aldrian.
Namun gairah yang dibangun Xavier begitu ahli. Xavier mencumbu Andrea bukan sebagai seorang penakluk seperti pamannya, melainkan sebagai pria yang sudah memuja wanita ini dalam kebencian selama bertahun-tahun.
Saat gairah itu mencapai puncaknya, Andrea yang gugup hanya bisa memejamkan mata erat-erat, air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya.
Lalu, momen itu tiba. Saat sesuatu yang asing dan penuh tenaga masuk menembus pertahanannya yang terakhir, Andrea memekik kecil, mencengkeram punggung Xavier hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas. Ia merasa sakit, namun nikmat yang luar biasa menyusul dengan cepat.
"Al... drian..." desisnya di sela desahan yang semakin liar.
Xavier terus bergerak, memberikan ritme yang menghancurkan logika Andrea. Di dalam kamar yang remang itu, desahan nikmat Andrea bersahutan dengan napas berat Xavier. Setiap gerakan Xavier adalah ungkapan rasa frustrasi dan cintanya yang terlarang. Andrea merasa seolah ia sedang terbang, sebuah sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia merasa dimiliki sepenuhnya.
Setelah badai gairah itu perlahan mereda, dan keduanya terengah-engah dalam keringat yang menyatu, pria di atasnya masih memeluknya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Andrea.
Andrea, dengan sisa-sisa tenaga dan perasaan bahagia yang semu, membelai rambut pria itu. "Terima kasih, Aldrian... itu... sangat luar biasa. Aku mencintaimu."
Pria itu terdiam sejenak. Keheningan yang tercipta terasa sangat mencekam. Perlahan, pria itu mengangkat kepalanya, membiarkan sedikit cahaya lampu tidur menyinari rahangnya yang tegas.
"Sama-sama, Andrea Sterling Valerius," suara itu terdengar rendah, namun sangat jernih. Itu bukan suara Aldrian yang hangat dan manis. Itu adalah suara bariton yang dingin, datar, dan penuh otoritas yang sangat dikenal Andrea.
Suara Xavier Cavanough.
Mata Andrea terbelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia segera mendorong tubuh pria itu dan menyalakan lampu utama dengan tangan gemetar. Cahaya terang benderang menyinari kamar, dan di sana, duduk Xavier di tepi tempat tidur, tampak berantakan namun tenang, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Xavier?!" Andrea menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang bergetar hebat.
"Apa yang kamu lakukan?! Di mana Aldrian?! Kamu... kamu..."
Andrea melihat ke bawah, melihat noda merah di atas sprei putih yang mahal itu. Kehormatannya, yang selama ini ia jaga untuk pria yang ia cintai, baru saja diambil oleh pria yang paling ia benci di dunia.
"Aldrian sedang mabuk dengan wanita lain di bar bawah, Andrea," ucap Xavier tanpa penyesalan sedikit pun. "Aku sudah bilang padamu, dia tidak pernah mencintaimu. Dia hanya ingin menaklukkanmu. Jadi, aku memutuskan untuk menyelamatkanmu dengan caraku sendiri."
"Menyelamatkanku?!" Andrea berteriak histeris, air mata kemarahan dan kehancuran membanjiri wajahnya. "Kamu memperkosaku, Xavier! Kamu menghancurkan malamku! Kamu menghancurkan hidupku!"
"Aku memberikan apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal," balas Xavier dingin, meski di dalam matanya ada luka yang mendalam.
"Mulai malam ini, kamu tidak akan pernah bisa menatap Aldrian tanpa membayangkan sentuhanku. Kamu bukan lagi milik paman, Andrea. Kamu milikku."
Andrea merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Di malam yang seharusnya menjadi mimpi indahnya, ia justru terjebak dalam neraka yang diciptakan oleh keponakan suaminya sendiri. Keangkuhannya hilang, yang tersisa hanyalah seorang wanita yang hancur dalam pengkhianatan yang paling kotor.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear😍