NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kado Beracun dan Taktik Es Krim Sang Profesor

Malam sebelum hari pernikahan yang seharusnya penuh ketenangan, justru berubah menjadi bencana. Zea baru saja pulang dari studio untuk mengambil beberapa alat gambar yang tertinggal, namun di depan pintu apartemen, ia menemukan sebuah kotak kado elegan berwarna hitam tanpa nama pengirim.

Dengan rasa penasaran, Zea membukanya. Detik itu juga, dunianya serasa runtuh lagi. Di dalamnya terdapat sebuah album foto kecil. Isinya? Foto-foto masa SMA Antares dengan Clarissa. Mereka terlihat sangat serasi—berpelukan di depan teleskop, tertawa di acara kelulusan, hingga foto Antares yang mencium kening Clarissa dengan lembut.

Ada sebuah catatan kecil di bawahnya: "Apa kamu yakin bisa menggantikan posisi wanita sesempurna ini di hati Antares? Kamu hanya selingan, Zea."

"Hwaaaaa! Mas Antar jahat!"

Zea membanting kotak itu, masuk ke dalam apartemen secepat kilat, dan langsung mengunci diri di kamar utama.

Aksi Mogok Makan dan Pintu yang Terkunci

Antares yang baru saja keluar dari ruang kerja langsung terlonjak mendengar suara bantingan pintu kamar. Ia melihat album foto yang berserakan di lantai lobi dan langsung paham. Wajahnya menggelap, namun rasa khawatirnya pada Zea jauh lebih besar.

Tok! Tok! Tok!

"Zea, buka pintunya. Itu cuma masa lalu, jangan didengarkan," ucap Antares, suaranya terdengar sangat tenang meski batinnya cemas.

"Nggak mau! Mas pergi aja ke London cari Tante Clarissa itu! Aku mau batalin nikahnya! Aku mau pulang ke rumah Papa!" teriak Zea dari dalam kamar, diikuti suara bantal yang dilempar ke arah pintu.

Dua jam berlalu. Zea tidak mau keluar. Antares mulai kewalahan. Ia tahu Zea sedang stres berat karena tugas maket dan persiapan pesta, ditambah lagi teror foto ini. Ia takut Zea jatuh sakit karena tidak makan malam.

Antares berdiri di depan pintu, memutar otak. Menghadapi Zea tidak bisa dengan logika astronomi; harus dengan taktik "anak gaul".

Taktik Es Krim yang "Aneh"

Antares berjalan ke dapur, membuka freezer, dan mengambil satu cup besar es krim double choco-chip—makanan yang biasanya sangat ia hindari, apalagi saat larut malam karena alasan kesehatan.

Ia kembali ke depan pintu kamar, lalu duduk di lantai bersandar pada pintu kayu tersebut. Antares sengaja mengeraskan suaranya, seolah sedang melakukan mukbang di depan pintu.

"Wah... es krimnya enak sekali. Dingin, manis, cokelatnya kerasa banget," ucap Antares dengan nada yang dibuat-buat, sangat tidak mirip dengan dirinya yang kaku.

Dari dalam kamar, Zea yang tadinya menangis, mendadak berhenti. Telinganya menempel di pintu. Mas Antar makan es krim? Malem-malem gini? Bukannya dia anti gula?

"Nyam... crunchy banget choco-chipnya. Sayang sekali Zea nggak mau keluar, padahal ini es krim terbatas yang tadi saya beli di kafe favoritnya. Hmm... nikmat sekali," lanjut Antares lagi, kali ini sambil sengaja mengetukkan sendok ke wadah plastik agar terdengar nyaring.

Zea menelan ludah. Perutnya yang lapar sejak sore langsung bereaksi mendengar kata "es krim" dan "choco-chip".

Klik.

Pintu terbuka sedikit. Zea mengintip dengan mata sembap dan hidung merah. Ia melihat suaminya benar-benar sedang duduk di lantai sambil memegang sendok es krim.

"Mas... Mas beneran makan es krim?" tanya Zea lirih.

Antares menoleh, menatap istrinya dengan tatapan gemas dan lega. "Akhirnya pusat gravitasi saya keluar juga. Iya, saya makan. Kamu mau? Tapi syaratnya, berhenti nangis dan buang album foto sampah itu."

Zea keluar sepenuhnya, lalu duduk di samping Antares di lantai koridor apartemen. Antares menyuapkan sesendok es krim ke mulut Zea.

"Enak?" tanya Antares lembut.

Zea mengangguk pelan sambil mengunyah choco-chip-nya. "Kenapa Mas makan ginian? Kan Mas nggak suka manis."

"Saya lebih nggak suka liat kamu kelaparan dan nangis gara-gara foto lama," Antares meletakkan cup es krim itu, lalu menarik Zea ke dalam dekapannya. "Zea, dengerin saya. Saya nggak bisa hapus masa lalu, tapi saya bisa jamin masa depan saya cuma punya kamu. Foto-foto itu nggak ada artinya dibanding tiap detik saya bareng kamu."

Zea menyembunyikan wajahnya di dada Antares, sisa-sisa amarahnya menguap karena rasa manis es krim dan kehangatan pelukan suaminya. "Mas... besok beneran kita nikah?"

"Iya, Sayang. Besok satu dunia bakal tahu kamu Ny. Antares Bagaskara. Jadi, jangan nangis lagi ya? Nanti mata kamu bengkak di pelaminan, Papa bisa marahin saya."

Zea akhirnya tersenyum kecil, ia mengambil sendok dari tangan Antares. "Oke. Tapi es krimnya buat aku semua ya?"

"Iya, habisin semuanya. Biar besok kamu punya tenaga buat berdiri di samping saya seharian," bisik Antares sambil mengecup puncak kepala Zea.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!