Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Ambisi
“Opa Lardo tidak sebaik yang kamu bayangkan, Ren,” jawab mamanya Mauren. “Dia waktu muda adalah seorang yang ambisius dan menghalalkan segala cara.”
Mauren ternganga mendengar cerita mamanya. “Maksud mama?”
“Mama harus mengundurkan diri dari karate yang mama cintai dan pelatnas yang mama impikan karena cedera yang dibikin oleh Opa Lardo,” kenang mama Mauren.
“Bagaimana caranya, Ma?” tanya Mauren ingin tahu.
“Waktu itu mama baru di pelatnas dan Opa Lardo sudah senior di pelatnas,” ucap Mama Mauren sambil mengiris bawang. “Atlet yunior harus sparing bebas dengan atlet senior untuk diukur sebatas mana kemampuannya.”
Mauren mendengarkan dengan antusias sambil membantu mamanya masak.
“Tiba-tiba dia melepaskan tendangan mawashi geri sekuat tenaga ke arah paha mama,” kata mama Mauren sambil memasukkan bumbu-bumbu ke dalam masakan. “Tolong api kompornya dikecilin, Ren.”
Mauren mengecilkan kompor lalu bertanya, “Terus bagaimana, Ma?”
“Paha mama retak dan harus dioperasi, recovery-nya selama berbulan-bulan,” cerita mamanya Mauren sedih. “Mama harus mengundurkan diri dari pelatnas dan dari dunia karate.”
“Opa Lardo sendiri bagaimana, Ma?” tanya Mauren.
“Dia mendapatkan sanksi dikeluarkan dari pelatnas dan diskors dari karate,” kata Pingkan, mamanya Mauren. “Dan bukan itu saja. Dalam sebuah pertandingan, Opa Lardo melakukan teknik sapuan yang ilegal.”
“Bukankah teknik sapuan legal dalam karate, Ma?” tanya Mauren.
“Opa Lardo melakukan teknik itu ke arah lutut lawan dengan sengaja, dan itu dilarang,” jelas mamanya Mauren. “Dan lawan Opa Lardo cedera waktu itu, dan Opa Lardo didiskualifikasi.”
“Dan masih ada keburukan Opa Lardo dalam kehidupan pribadinya,” kata mama Mauren. “Dan kamu belum saatnya untuk tahu, Ren. Kalau sudah mendidih, sayur beningnya diangkat, Ren, dan mama mau segera menggoreng tempe untuk tambahan lauk nanti.”
“Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan Opa Lardo,” kata mama Mauren serius.
Sorenya, Mauren bersiap pergi ke sekolah untuk ikut ekskul karate. Dia sudah siap dengan seragam karatenya, dan tak lupa dia pamit kepada mamanya.
“Hati-hati, ya, Ren,” ucap mamanya. Dia teringat masa mudanya seperti Mauren, sore-sore berpakaian karate lalu berangkat ke dojo karate dekat rumahnya.
“Tentu, Ma,” jawab Mauren ceria.
“Ah, waktu cepat berlalu,” gumamnya sendiri pelan. Matanya tampak sedikit basah, tapi senyum mengembang di bibirnya.
Tiba di sekolah, Sensei Nakamura sudah bersiap dengan pakaian karatenya. Dia tampak garang sekali, ditambah badannya yang kekar dan pelit senyum, semakin garang saja tampaknya.
“Mauren, sebentar ada yang perlu saya bicarakan,” panggil Sensei Nakamura.
Mauren segera berlari ke arah Sensei Nakamura. “Ada apa, Sensei?”
“Dua minggu lagi ada turnamen karate persahabatan antar SMA se-Jakarta. Karena waktunya mepet dan dari SMA ini hanya kamu yang sudah mahir karate, jadi cuma kamu yang bisa mewakili sekolah kita,” ujar Sensei Nakamura.
Mauren tampak berbinar mendengar itu dan segera menjawab, “Siap, Sensei!”
Axel juga tiba. Dengan tengil, dia melakukan pemanasan dengan memukul-mukul dan menendang ala karate. Mauren yang melihatnya hanya tersenyum geli melihat ketengilan Axel itu. Rommy juga datang, tapi karena dia tidak boleh ikut ekskul karate karena masalah administrasi, Sensei Nakamura melarangnya masuk ke gym sekolah yang sudah direnovasi jadi dojo itu.
Rommy berjalan ke lapangan basket di samping gym lalu berlari keliling lapangan dan melakukan shadow boxing.
“Mauren, bantu saya mengajari teman-temanmu kuda-kuda dalam karate,” kata Sensei Nakamura. “Nanti selesai latihan kau berlatih khusus sama saya untuk persiapan turnamen.”
“Haik!” jawab Mauren semangat.
Latihan langsung dimulai, dan Sensei Nakamura mengajari mereka pukulan-pukulan dasar dalam karate. Satu per satu Sensei Nakamura menendang betis anak-anak, tidak terlalu kuat, namun mampu membuat mereka yang salah posisi dalam mengambil kuda-kuda terjengkang. Termasuk Axel.
“Mauren, ajari mereka posisi kuda-kuda yang benar,” perintah Sensei Nakamura.
“Haik!” jawab Mauren.
Latihan karate sore itu sudah selesai dan semua pulang, kecuali Mauren yang diberi latihan intensif oleh Sensei Nakamura. Area sekolah juga sudah sepi, tinggal Rommy yang masih melakukan shadow boxing di lapangan basket sendirian. Axel yang baru akan pulang melihatnya dan segera menuju ke lapangan basket.
“Kalau berani sparing lawan aku, jangan beraninya sama angin,” tantang Axel.
Rommy tidak memedulikannya dan terus melakukan shadow boxing, namun tiba-tiba Axel menyerang dan memukul dengan mendadak.
Rommy sedikit terkejut, namun dia dengan santai menghindari pukulan brutal itu sehingga pukulan Axel luput. Axel memukul lagi dengan sekuat tenaga, tapi Rommy dengan mudah menghindarinya.
Sampai akhirnya Axel melancarkan pukulan terakhir, Rommy menghindarinya dengan taktis. Pukulan itu dengan deras meluncur mengenai besi penyangga ring basket.
“Ding!” Lalu Axel berteriak kesakitan.
Rommy mempunyai peluang besar untuk melakukan serangan balasan, namun itu tidak dilakukannya.
“Kau tidak apa-apa, Xel?” tanya Rommy dengan penuh perhatian.
“Pergi kau! Aku tidak butuh bantuanmu!” bentak Axel. “Ingat! Urusan kita belum selesai!”
Axel lalu pulang dan meninggalkan Rommy seorang diri yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Axel.
“Ke mana Mauren? Gua cuma ingin melihatnya saat ekskul karate ini,” kata Rommy dalam hati.
“Kamu cukup bagus dalam latihan kali ini, aku kira kamu bisa bicara banyak dalam turnamen nanti,” kata Sensei Nakamura kepada Mauren seusai latihan. “Paling tidak kamu bisa runner up atau malah bisa juara.”
“Terima kasih, Sensei,” kata Mauren lalu membuka ponselnya, termasuk pesan dari papa Mauren:
“Mauren, maaf Papa pulang malam hari ini. Nggak bisa jemput kamu.”
Jawab Mauren:
“Nggak apa-apa, Pa. Mauren nanti naik taksi aja.”
Usai latihan karate, Mauren memutuskan ke panti jompo tempat Opa Lardo tinggal. Dia mau dengar cerita tentang masa lalu Opa Lardo dari dia. Saat dia keluar dari gym, dia melihat Rommy di lapangan basket, juga sedang menuju gym.
“Eh, Rom, kamu juga di sini?” sapa Mauren sambil tersenyum manis.
Rommy sempat berdebar gebetannya kasih senyum manis ke dia, tapi dia segera menguasai diri. “Iya, kalau sedang tidak latihan tinju di sasana Bulungan, aku latihan di sini, lari-lari keliling lapangan basket sambil melakukan shadow boxing. Kok latihan hari ini lebih sore?”
“Sensei Nakamura menunjuk aku mewakili sekolah dalam turnamen karate dua minggu lagi,” jawab Mauren. “Dia kasih aku tambahan latihan usai latihan reguler sore ini.”
“Wow! Mantap sekali tuh!” jawab Rommy.
“Omong-omong, anterin aku ke pantinya Opa Lardo, yuk,” ajak Mauren. “Aku mau minta diajarin tendangan terbang sama Opa Lardo untuk turnamen nanti.”
“Duh, Opa itu lagi, bikin bete aja,” ujar Rommy dalam hati, tapi akhirnya dia mengangguk menyetujui permintaan Mauren.
Dan mereka pun berjalan berdua menuju ke Panti Wreda Surya Kencana tempat Opa Lardo tinggal. Hanya 10 menit mereka berjalan, dan mereka sudah tiba di panti jompo itu.
Setibanya di sana, Mauren langsung menemui Opa Lardo dengan bantuan resepsionis.
“Selamat sore, Opa, apa kabarnya hari ini?” tanya Mauren sambil tersenyum ramah dan menyalami Opa Lardo. Sedangkan Rommy hanya diam saja, berusaha menyembunyikan rasa cemburunya melihat kedekatan Mauren dengan Opa Lardo.
“Selamat sore, Mauren,” balas Opa Lardo. “Ada kabar apa nih?”
“Mauren habis ditunjuk oleh Sensei Nakamura mewakili sekolah dalam turnamen karate antar sekolah dua minggu lagi,” kata Mauren berapi-api.
“Wah, hebat!” seru Opa Lardo. “Persisnya di mana, biar Opa bisa ikut nonton.”
“Opa nggak usah ke mana-mana deh, jaga kesehatan aja,” dalam hati Rommy sewot.
“Belum tahu, Opa,” jawab Mauren. “Nanti kalau sudah ada info, Mauren akan kasih tahu.”
“Janji, ya,” jawab Opa Lardo.
“Opa ajarin Mauren tendangan terbang tobi mae geri untuk turnamen itu, ya?” kata Mauren.
“Hmm, tendangan tobi mae geri ya?” jawab Opa Lardo. “Setahu Opa, tendangan itu dibatasi dalam sebuah turnamen, apalagi tingkat SMA sepertimu.”
“Maksudnya, Opa?” tanya Mauren.
“Tendangan itu termasuk tendangan bahaya dalam karate,” jelas Opa Lardo. “Kalau dalam turnamen tidak boleh dengan kekuatan penuh. Kalau bisa memperagakan dengan bagus, akan dapat nilai naik. Tapi kalau dilakukan dengan kekuatan, bisa-bisa kamu didiskualifikasi.”
Mauren mengangguk kecil.
“Waktu Opa muda dulu, Opa akan lakukan apa pun dan sangat emosional,” kata Opa Lardo. “Tapi sekarang Opa sudah tidak seperti dulu. Opa sekarang adalah Lardo yang penyabar, bukan Lardo yang emosional seperti zaman muda dulu.”
“Mulai nih ngegombalnya,” kata Rommy dalam hati.
“Ya, Opa. Mama sudah cerita tentang Opa masa muda dulu,” timpal Mauren. “Tapi Opa sudah berubah sekarang.”
“Opa akan ajari kamu tendangan terbang tobi mae geri, tapi tidak untuk turnamen,” gumam Opa pelan. “Kecuali terpaksa, gerakan itu jangan dilakukan, karena kalau lawanmu sigap, itu justru akan membahayakanmu.”
“Mengerti, Opa,” sahut Mauren.
“Pergunakan tendangan ini dengan hati-hati,” ujar Opa Lardo. “Sekarang coba lakukan tendangan terbang ke dada kakek. Tapi jangan kena ya, kakek sudah tua, nanti KO.”
“Ciat…!” Mauren melakukan tendangan terbang ke arah dada kakek.