kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pagi menyapa dengan sisa-sisa aroma tanah basah, namun ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Alendra terbangun ranjang empuk Patricia, Ia menatap wajah Patricia yang masih terlelap, wajah yang tampak begitu damai setelah badai trauma semalam.
Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, Alendra bersiap untuk mandi dan pergi ke masjid, kebetulan , pakaian Alendra sudah tersedia di paviliun.
Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan Patricia, Alendra pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mendekat ke kamar mandi, " aku pergi ke masjid dulu, " bisiknya lembut, Alendra mencium kening Patricia lembut.
Lalu keluar dari paviliun. Ia merasa sedikit lega karena telah menjadi pahlawan bagi istrinya yang satu itu. di teras, ia bertemu dengan kakek, dan Papanya, sedangkan Ardiansyah berangkat dengan ishaq, karena semenjak Najwa hamil besar, ia memutuskan untuk selalu menginap di sana, demi menjaga si kembar.
____
Alendra masuk ke rumah utama, dan membuka pintu kamar dengan senyum tipis yang masih tersisa, bermaksud ingin meminta maaf pada Kirana karena meninggalkannya semalaman. Namun, senyum itu luntur, berganti dengan wajah pucat pasi yang mengerikan.
"Kiran...?" ucap Alendra dengan tubuh bergetar.
Di lantai samping ranjang, Kirana tergeletak tak sadarkan diri. Wajahnya kini putih seperti porselen tanpa nyawa. Yang paling membuat jantung Alendra seolah berhenti adalah noda merah pekat yang membanjiri daster sutra putih yang dikenakan Kirana, merembes hingga ke karpet bulu mahal mereka.
Alendra berlari dan memangku kepala Kirana, tangannya gemetar hebat "Kirana! Bangun, ! Bangun! Ya Allah... darah apa ini?!"
Di paviliun, Patricia terbangun karena suara teriakan panik Alendra yang menggema hingga ke belakang. Dengan tubuh yang masih lemas dan langkah terseok-seok, ia berlari menuju rumah utama. Saat ia sampai di ambang pintu kamar, kakinya lemas. Ia ambruk di lantai, menutup mulutnya dengan tangan melihat pemandangan tragis itu.
Patricia membatin dengan tangis yang pecah tanpa suara "Ini karena aku... Apakah Semalam dia mengerang kesakitan, tapi suaminya justru mendekapku. Aku pembunuh... aku sudah membunuhnya secara perlahan." Patricia menggelengkan kepalanya.
Alendra menggendong tubuh Kirana yang terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk wanita seusianya. Ia melewati Patricia" aku kerumah sakit dulu, kau bisa menyusul bersama mama " ucap Alendra dengan menahan tangisnya.
Patricia mengangguk patuh.dalam hati ia merasa sangat bersalah.
___
Beberapa jam kemudian, di lorong rumah sakit yang dingin, Alendra duduk dengan pakaian yang masih ternoda darah kering istrinya. Monika dan Afkar datang dengan wajah cemas luar biasa. Di belakangnya Patricia berjalan , Tak lama, dokter keluar dengan wajah yang sangat berat. Najwa , ishaq dan Alendra belum tahu...
"Tuan Alendra... kenapa Anda baru membawa Nyonya sekarang? Kankernya sudah mencapai stadium akhir. Terjadi pendarahan hebat akibat tekanan fisik dan stres yang melampaui batas tubuhnya."
Alendra tertegun, matanya membelalak "Kanker? Apa maksud Dokter? Kirana tidak pernah sakit... dia hanya sering pusing."
"Nyonya Kirana sudah tahu sejak lama, Tuan. Beliau menolak pengobatan ke luar negeri karena ingin tetap berada di samping Anda. Beliau memohon pada saya untuk merahasiakannya." jawab sang Dokter.
Dunia Alendra seolah runtuh. Ia teringat bagaimana ia sering mengabaikan keluhan Kirana, teringat bagaimana semalam ia justru berlari menjauhi erangan kesakitan Kirana demi menenangkan Patricia.
Alendra membenturkan kepalanya ke dinding rumah sakit. Ia menangis sejadi-jadinya, sebuah tangisan penyesalan yang sangat dalam. Ia merasa menjadi pria paling brengsek di dunia.
"Aku sudah membunuhnya... Aku mengabaikannya di saat-saat terakhirnya hanya karena masa laluku!" ucapan pelan.
Patricia yang berdiri di kejauhan, hanya bisa bersandar di pilar rumah sakit. Ia melihat kehancuran Alendra dan menyadari satu hal, meskipun Alendra mencintainya, bayang-bayang Kirana akan selalu menjadi tembok besar di antara mereka. Ia merasa kehadirannya di rumah itu benar-benar sebuah kesalahan besar.
Alendra diizinkan masuk ke ruang ICU. Ia menggenggam tangan Kirana yang dingin, menciumnya berkali-kali sambil membisikkan kata maaf yang tak henti-henti. "Bangun, Kiran... maafkan aku. Aku janji akan membawamu berobat, aku akan melakukan apa saja... tolong jangan tinggalkan aku seperti ini." ucap Alendra dengan terisak.
Tiba-tiba, jemari Kirana bergerak sedikit. Matanya terbuka sangat tipis, menatap Alendra dengan tatapan yang sangat sayu namun penuh cinta yang tak terbalas.
Suara Kirana nyaris seperti embusan angin. "Mas... panggil... Patricia..."
Alendra tersentak. Dalam kondisi sekarat pun, Kirana justru memanggil wanita yang menjadi duri di hatinya.
Patricia membekap mulutnya,ia melihat Alendra hancur, ia memutuskan untuk pergi menjauh dari Alendra dan keluarga nya...
" Maafkan aku, karena harus pergi, maafkan aku karena sudah menghancurkan ke bahagiaan kalian " Dengan cepat , Patricia pergi dari rumah sakit, Langkah Patricia terasa sangat berat saat ia meninggalkan lorong rumah sakit yang berbau obat itu. Di telinganya, suara tangisan Alendra untuk Kirana masih terngiang, dan di matanya, bayangan darah Kirana di lantai kamar masih menghantui.
Ia merasa dirinya adalah kutukan. Ia merasa kehadirannya hanya membawa maut bagi Kirana dan kehancuran martabat bagi Alendra.
Tanpa membawa satu pun barang mewah pemberian Alendra, Patricia melangkah keluar dari rumah sakit. Ia hanya membawa tas kecil berisi mukena dan pakaian lamanya. Ia naik taksi menuju terminal, air matanya tak berhenti mengalir, membasahi khimar yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang hancur.
Patricia membatin dengan isak tangis yang tertahan "Hiduplah dengan tenang, Alen. Rawatlah Mbak Kirana. Biarkan aku kembali menjadi butiran debu yang menghilang tertiup angin. Aku tidak pantas berada di antara kalian."
__&
Dua jam kemudian, Hilman sampai di rumah sakit setelah mendapat kabar tentang Kirana. Namun, saat ia sampai, ia justru melihat Alendra sedang terduduk lemas di depan ICU. Najwa yang berada di sana memberi tahu dengan panik bahwa Patricia tidak ada di mana pun dan tidak bisa dihubungi. Sebelum Najwa ke rumah sakit ia ke rumah kakek dulu untuk mengajal Patricia, barangkali Patricia belum berangkat,namun kenyataannya di paviliun tidak ada,kata penjaga rumah, Patricia sudah berangkat bersama ,tuan afkar dan nyonya . Dan di rumah sakit juga tidak ada, bahkan Najwa sudah menghubungi orang tua Patricia namun jawaban nya tetap sama, tidak ada.
Wajah Hilman seketika memerah padam. Urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya memancarkan kilat amarah yang mematikan. Ia melangkah lebar menghampiri Alendra.
Hilman menarik kerah baju Alendra hingga pria itu berdiri paksa "DI MANA ADIKKU, ALEN?! DI MANA PATRICIA?!"
Tatapan Alendra kosong, suaranya parau "Aku... aku tidak tahu, Bang. Tadi dia di sini... lalu..."
Bugh...
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Alendra. Tubuh Alendra terjerembap ke lantai rumah sakit, namun ia tidak melawan. Ia bahkan tidak mencoba menghapus darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Hilman berteriak histeris, menarik Alendra lagi "Kamu bilang mau menjaganya! Kamu bilang sudah menikahinya secara hukum agar dia punya martabat! Tapi apa?! Kamu biarkan dia tertekan sampai dia harus melarikan diri lagi?!"
Bugh! Bugh!
Dua pukulan lagi menghantam perut dan wajah Alendra. Alendra hanya diam, membiarkan dirinya menjadi samsak tinju Hilman. Ia merasa rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibanding rasa bersalahnya pada Kirana yang sekarat dan Patricia yang menghilang.
Alendra terbatuk, menatap Hilman dengan mata berkaca-kaca "Pukul aku, Bang... Pukul lagi! Aku memang laki-laki brengsek. Aku gagal menjaga mereka berdua... Aku pantas mati!"
Najwa berlari melerai, memegang lengan Hilman yang berlapis kemeja panjang , Hilman sudah bersiap melayangkan pukulan terakhir.
"Bang, cukup! Alen bisa mati! Kirana juga sedang berjuang di dalam!"
Hilman melepaskan cengkeramannya, mendorong Alendra hingga membentur dinding. Ia menunjuk wajah Alendra dengan jari yang gemetar karena amarah.
"Dengarkan aku, Alendra Suhadi. Kalau sampai seujung kuku saja terjadi sesuatu pada Patricia di luar sana, aku sendiri yang akan memastikan kamu kehilangan segalanya. Cari dia! Gunakan seluruh hartamu untuk menemukannya!"
Alendra tersungkur di lantai koridor yang dingin. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, dan bajunya masih ternoda darah Kirana. Ia menoleh ke arah pintu ICU tempat Kirana terbaring, lalu menoleh ke arah pintu keluar tempat Patricia menghilang.
Ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Pria yang dulunya dipuja karena kekayaannya, kini hanyalah seorang suami yang kehilangan kedua istrinya dalam satu malam yang tragis.
Di tempat lain, di sebuah bus antar kota yang melaju menembus kegelapan, Patricia memeluk tasnya erat-erat, menatap jendela dengan pandangan kosong, menuju tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai istri kedua atau keluarga Effendi.