Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Seratus hari yang awalnya terasa seperti petualangan aneh, perlahan berubah menjadi beban bagi Sandrina. Rindu itu datang diam-diam.
Awalnya hanya saat malam tiba. Ia memandangi bulan dan membayangkan langit yang sama sedang menggantung di atas rumah orang tuanya di Indonesia. Lalu ia mulai merindukan suara azan dari masjid kampungnya, aroma nasi hangat dari dapur ibunya, tawa teman-temannya yang cerewet.
Sampai akhirnya, tubuhnya menyerah.
Pagi itu, Rosa yang biasa mengantar sarapan mendapati pintu kamar Sandrina tidak dibuka seperti biasanya.
“Nonna?” panggil Rosa lembut dari luar.
Tidak ada jawaban. Jantung wanita tua itu langsung berdebar. Ia buru-buru memanggil Alecio.
Alecio datang dengan langkah cepat, wajahnya langsung berubah saat melihat Sandrina terbaring pucat di atas ranjang. Biasanya gadis itu bangun paling awal, mengomel tentang cuaca atau memprotes menu sarapan.
Kini ia hanya memejamkan mata, napasnya lebih berat dari biasanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Alecio dengan nada rendah, tapi jelas menahan panik.
“Sepertinya demam,” jawab Rosa pelan.
Alecio langsung berbalik. “Panggil Francisco. Sekarang!”
Beberapa menit kemudian, Francisco dan Patrick masuk ke kamar itu untuk pertama kalinya.
Selama ini mereka hanya melihat Sandrina dengan tertutup cadar, atau wajahnya terhalang kain.
Hari ini, saat demam membuatnya terlalu lemah untuk menutup wajahnya sepenuhnya, kain tipis yang biasa ia kenakan terlipat di sisi bantal.
Francisco berhenti sepersekian detik. Patrick bahkan lupa bernapas.
Wajah Sandrina yang pucat tetap terlihat cantik dengan cara yang alami dan bersih. Garis wajahnya lembut, kulitnya halus, dan bibirnya yang berwarna alami tampak sedikit kering karena demam.
Kini mereka mengerti. Bukan hanya karena sifatnya yang unik, cerewet, dan berani. Wajah gadis itu memang sulit untuk diabaikan.
Patrick berdeham pelan, mencoba terlihat profesional. Takut kena marah bosnya.
“Demamnya cukup tinggi.” Francisco memeriksa suhu tubuh Sandrina dengan termometer.
Dan tepat saat itu suara Alecio terdengar datar dan dingin, “Apa yang kalian lihat?”
Francisco langsung berdiri lebih tegak. “Kami hanya memeriksa pasien, Tuan.”
Alecio menatap mereka tajam seakan siap mengusir siapa pun yang memandang terlalu lama. Tatapan itu jelas, cukup melihat seperlunya.
Francisco yang lebih berpengalaman berusaha tetap tenang. “Dia kelelahan. Mungkin karena stres dan rindu rumah.”
Kata terakhir itu membuat rahang Alecio mengeras. Rindu rumah, itu yang pernah diucapkan oleh gadis itu.
Sandrina mengerang pelan dalam tidurnya.
“Ibu…” gumamnya lirih dalam bahasa Indonesia.
Alecio langsung duduk di sisi ranjang, tanpa peduli dua pria itu masih di sana. Tangannya hampir menyentuh tangan Sandrina, tetapi ia menahan diri, hanya meletakkan tangannya di atas selimut, dekat dengannya.
“Aku di sini,” bisiknya pelan, meski tahu ia memanggil orang lain.
Patrick dan Francisco saling melirik. Patrick berbisik pelan saat mereka menyiapkan obat, “Sekarang aku paham.”
Francisco mengangguk kecil. “Ya.”
“Bukan cuma karena dia cerewet.”
Francisco menahan senyum tipis. “Tidak heran Tuan Alecio berubah.”
Alecio mendengar bisikan itu. Ia menoleh pelan. Keduanya langsung pura-pura fokus pada termometer.
Setelah obat diberikan, kamar itu menjadi lebih tenang.
Alecio tetap duduk di sisi ranjang. Ia bahkan menolak ketika Rosa menyuruhnya istirahat.
“Tuan, Anda belum makan,” kata Rosa lembut.
“Nanti.”
Gianni datang membawa sup hangat. “Untuk Nona Sandrina.”
Alecio mengambil mangkuk itu sendiri. “Aku yang akan memberinya,” katanya.
Rosa dan Gianni bertukar pandang penuh arti. Keduanya pun berbalik pergi.
Ketika mereka keluar kamar, Rosa berbisik, “Kalau ini bukan cinta, saya sudah pensiun.”
Gianni terkekeh pelan. “Saya bahkan belum pernah melihat beliau duduk selama ini tanpa memegang berkas kerja.”
Sandrina perlahan membuka mata menjelang sore. Pandangan pertamanya adalah wajah Alecio yang duduk sangat dekat.
“Kamu, masih di sini?” tanya Sandrina suaranya lemah.
Alecio menatapnya tajam. “Tentu.”
Sandrina mencoba tersenyum kecil. “Kamu nggak kerja?”
“Kamu lebih penting.”
Kalimat itu membuatnya terdiam. Sandrina memalingkan wajah sedikit. “Aku cuma kangen rumah.”
Alecio tidak langsung menjawab.
“Aku kangen ibu, ayah, temen-temenku, suara motor lewat depan rumah, bahkan suara ayam tetangga,” lanjutnya pelan, mata mulai berkaca-kaca.
Alecio merasa dadanya ditarik sesuatu.
“Aku nggak biasa sejauh ini dari mereka,” bisik Sandrina.
Alecio menunduk sedikit, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Aku akan mengurus dokumenmu.”
Sandrina menoleh cepat. “Serius?”
Alecio mengangguk. “Tapi ....” suaranya sedikit tertahan, “… aku tidak suka membayangkan kau pergi.”
Sandrina terdiam. Namun, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” lanjut Alecio jujur.
Suasana menjadi sunyi. Sandrina tersenyum lemah. “Aku bukan barang yang bisa hilang.”
“Bagiku, kau bisa,” jawab Alecio pelan. Ia mengangkat sendok berisi sup. “Sekarang makan.”
Sandrina mendengus kecil. “Aku bisa makan sendiri.”
“Kau bahkan tidak kuat duduk lama.”
“Lebay.”
“Aku realistis.”
Sandrina akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu, sambil menatap Alecio dengan ekspresi campur aduk.
“Kamu itu menyebalkan,” gumam Sandrina pelan.
“Justru kamu yang lebih menyebalkan,” balas Alecio sambil menyuapi gadis itu.
Walau dengan muka cemberut, Sandrina tetap mau membuka mulutnya.
“Apa kamu tetap ingin pulang?” tanya pria itu untuk lebih meyakinkan.
Sandrina terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Iya, tapi ....”
“Tapi?”
“Aku juga nggak mau kamu sendirian lagi.”
Kalimat itu membuat jantung Alecio berhenti sepersekian detik. Ia menatapnya dalam.
“Kalau kau sembuh,” kata Alecio pelan, “kita akan bicarakan semuanya. Tapi sekarang, tugasmu hanya satu.”
“Apa?”
“Jangan pergi ke mana-mana.”
Sandrina tertawa pelan, walau suaranya lemah. “Aku lagi sakit, mana mungkin kabur.”
Alecio tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu. Ia tetap duduk di samping ranjang, tidak mau beranjak jauh.
Entah kenapa Sandrina merasa hangat bukan hanya karena selimut dan demam, melainkan karena seseorang benar-benar tidak ingin melepaskannya.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu