Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di sisi lain dermaga, Alecio berdiri di balik crane bongkar muat yang setengah rusak. Bahunya terluka terkena goresan peluru. Beruntungnya tidak keluar banyak darah.
Max mendekat cepat. “Tuan, pergerakan tambahan terdeteksi dari jalur utara. Beberapa kendaraan masuk ke wilayah tebing.”
Alecio tidak terkejut. “Aliansi kecilnya,” ucapnya tenang.
Patrick mengangkat alis. “Jadi, benar dia panggil bala bantuan.”
Alecio menatap laut gelap di kejauhan. “Aku tidak pernah mengira dia akan mati sendirian,” katanya pelan.
Lalu, Aleciomengangkat alat komunikasi. “Gelombang kedua, bersiap.”
Suara dari radio menjawab hampir bersamaan. “Siap.”
Beberapa ratus meter dari lokasi utama, tersembunyi di balik lipatan tebing dan semak liar, belasan anggota Serigala Hitam sudah menunggu. Mereka membawa senjata cadangan, amunisi tambahan, dan dua pelontar granat taktis.
Alecio memang sudah memperkirakan satu hal,
Benio tidak akan bertarung sendirian sampai akhir.
“Biarkan mereka masuk,” perintah Alecio. “Jangan buka posisi sebelum aku beri aba-aba.”
Max menyeringai tipis. “Perangkap?”
Alecio menatapnya sekilas. “Kita tidak datang tanpa persiapan.”
Tak lama kemudian, suara mesin kendaraan menggema di antara tebing. Lampu-lampu mobil menyapu area pantai. Beberapa truk dan SUV berhenti mendadak. Puluhan pria bersenjata turun dengan cepat.
“Di mana Benio?” teriak salah satu dari mereka.
Dari balik karang, Benio muncul dengan wajah penuh jelaga. “Di sini!” serunya. “Serigala Hitam mencoba memusnahkan kita!”
Kelompok aliansi itu langsung menyebar, membentuk barisan tembak menghadap ke arah api dan kontainer terbakar. Mereka tidak sadar kalau di atas mereka, di sisi kanan, di belakang tumpukan karang. Kelompok Serigala Hitam sudah berada di posisi masing-masing. Sedang menunggu aba-aba dari sang pemimpin.
Alecio mengangkat tangannya perlahan. Jari-jarinya mengepal. Lalu ....
“Serang!”
Rentetan tembakan meledak hampir bersamaan dari tiga arah. Sasaran mereka adalah lawan yang tergabung dalam aliansi kelompok Serigala Abu-abu.
Dor! Dor! Dor!
Suara sniper kembali memecah udara. Dua pria aliansi roboh sebelum sempat mengangkat senjata.
“Apa—?! Kita dijebak!” teriak salah satu dari mereka.
Granat taktis dilempar dari sisi tebing. Ledakan mengguncang tanah, membuat beberapa kendaraan terbalik. Kekacauan kembali pecah, lebih brutal dari sebelumnya. Baku tembak menjadi dua kali lipat sengit. Jumlah mereka memang jauh lebih banyak sekarang.
Namun, Serigala Hitam tidak panik. Mereka bergerak seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Formasi rapat dan pergerakan terkoordinasi.
Tidak ada yang bergerak tanpa komando. Jika ada sedikit saja tanda ragu atau niat membelot, semua tahu konsekuensinya. Kesetiaan adalah harga mati. Dan malam ini, kesetiaan itu terlihat jelas.
Max menembak dengan presisi, menutupi pergerakan Patrick yang memindahkan posisi amunisi. Sniper tetap menjaga jarak aman. Alecio sendiri bergerak ke titik tengah, memecah konsentrasi musuh.
Walau jumlah aliansi lebih banyak, mereka tidak memiliki disiplin yang sama. Teriakan perintah saling tumpang tindih. Beberapa bahkan saling bertabrakan saat mundur.
Benio menyadari sesuatu yang membuat jantungnya menciut. Ini bukan pertempuran spontan. Ini pertempuran yang sudah dirancang. Alecio sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk. Dan mereka datang terburu-buru.
“Dorong terus!” teriak Benio frustasi.
Namun satu per satu, orang-orangnya tumbang. Api berkobar semakin besar. Peluru semakin jarang terdengar dari sisi mereka. Malam semakin larut dan kekuatan mulai timpang.
Sementara itu, jauh di kastil markas Serigala Hitam, di bagian sayap kiri terasa sunyi. Sandrina duduk di atas sajah di kamar kecilnya, mengenakan mukena putih bersih. Tangannya terangkat. Bibirnya bergetar pelan dalam doa.
“Ya Allah, lindungi dia.”
Sandrina tahu siapa Alecio. Ia tahu dunia yang digelutinya gelap penuh darah, dan penuh dosa. Namun, ia juga tahu satu hal, kalau pria itu masih punya nurani.
Alecio tidak menyakiti orang yang tidak mengkhianatinya. Ia melindungi orang-orang yang setia. Dan di dalam hatinya yang keras, masih ada luka seorang anak yang kehilangan keluarga.
Air mata Sandrina jatuh di atas sajadah. “Selamatkan dia dan anak buahnya.”
Di luar, angin malam berhembus pelan melewati jendela kastil. Seakan membawa doa itu menembus gelapnya laut.
Kembali ke dermaga, pertempuran mulai mencapai titik kritis. Aliansi Benio semakin terdesak. Sisa-sisa mereka mundur perlahan, kehilangan koordinasi.
Alecio berdiri tegak di antara kobaran api dan asap. Matanya masih terkunci pada satu sosok, Benio.
Malam belum selesai. Namun, satu hal mulai jelas. Jumlah tidak selalu menentukan kemenangan. Kesetiaan dan persiapan serta dendam yang terpelihara bertahun-tahun,
Itulah yang membuat Serigala Hitam tetap berdiri.
Hal itu membuat Benio mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini. Yaitu kekalahan yang semakin nyata di depan mata.
Untuk menyelamatkan diri, Benio berusaha untuk kabur. Dia memang pemimpin yang takut mati.
Api mulai meredup, menyisakan bara dan asap tebal yang menggantung di udara pantai timur. Teriakan yang tadi memenuhi dermaga kini berubah menjadi erangan lemah dan suara ombak yang kembali terdengar jelas. Pertempuran hampir selesai.
Dan di tengah pasir yang basah darah, Benio berdiri terhuyung. Kemejanya basah oleh warna merah gelap. Satu tembakan bersarang di perutnya, satu di paha, dan satu lagi menembus lengannya. Napasnya tidak lagi teratur. Namun, matanya masih menyala oleh kebencian.
Beberapa meter di depannya, Alecio berdiri tegak. Ia juga terluka. Darah merembes dari sisi rusuknya, lengannya tergores peluru, dan pelipisnya robek oleh serpihan batu, tetapi posturnya tidak goyah. Matanya masih awas dengan keadaan sekitar.
Mereka saling menatap di antara sisa api dan tubuh-tubuh yang bergelimpangan.
“Lihat sekelilingmu, Benio,” ucap Alecio dingin. “Kerajaanmu terbakar.”
Benio terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. “Kau pikir ini akhir?” ia tertawa serak. “Kau tetap anak kecil yang menyaksikan keluarganya mati tanpa bisa berbuat apa-apa.”
Kalimat itu seperti pisau yang kembali mengoyak luka lama. Untuk sepersekian detik, Alecio tidak lagi melihat dermaga. Ia melihat rumah keluarganya yang dipenuhi asap. Ia melihat ayahnya terjatuh setelah suara tembakan. Ia melihat kakeknya roboh dengan dada tertusuk. Ia melihat dirinya yang masih kecil, berlutut di lantai, tangannya gemetar memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa. Dan di tengah semua itu, wajah Benio yang berdiri sambil tersenyum puas.
Alecio mengangkat senjatanya perlahan. “Aku memang anak kecil waktu itu,” ucapnya pelan. “Tapi malam ini aku bukan lagi anak kecil.”
Benio mencoba mengangkat senjatanya.
opor dan obor mmg 2 kata yg mirip pantas Patrick JD bingung 🤣🤣🤣
besok apalagi....
auto termehek-mehek tuh para mafioso....besok lebaran bersilahturahmi dari rumah ke rumah....dah gitu dapat suguhan segambreng....plus di suruh makan ketupa sayur...rendang dan kawan kawan.....😁