Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silas Corven
Saat Sylvaine keluar dari ruang kerja Raja, dia berjalan kembali ke kediaman Putri Mahkota, dia teringat dengan ucapannya 'Anda cukup menjadikannya Raja pajangan saja.' Lalu dia bergumam pelan, "Sial! Bisa-bisanya aku keceplosan ngomong gitu. Tak hanya leherku yang jadi taruhannya, namun seluruh leher keluargaku juga akan melayang jika aku terbukti bersalah. Paman benar-benar serius dengan ucapannya itu. Aku harus bergerak cepat untuk mencari bukti dan dalang dibalik kejadian ini. Jika tak bisa menemukan dalangnya dengan cepat, aku harus membuktikan diri dan punya bukti kuat bahwa aku tak terlibat dengan kematian Victor. Hasil penyelidikan ini sangat penting, aku harus menugaskan orang untuk mengawasi dengan ketat agar hasilnya tak direkayasa yang jelas pasti merugikanku. Yang bisa kupastikan bahwa aku dan juga keluargaku tak terlibat. Namun aku harus punya bukti kuat untuk membuktikannya serta membersihkan nama baikku juga. Aku pasti akan menemukan pelaku di balik kematian tidak adilmu ini, Victor."
Silas tak sengaja mendengar kalimat akhir itu saat hendak menghadap Raja. Dia berpikir mungkin Sylvaine bukanlah dalang dibalik kematian Putra Mahkota Victor. Setelah menghadap Raja, mungkin ada baiknya jika dia menemui Sylvaine untuk memastikannya.
***
Setibanya di kamar, Sylvaine memecahkan beberapa vas bunga untuk melampiaskan rasa kesalnya. Membalikkan meja serta melemparkan bantal-bantalnya sampai berserakan. "Aarghhhh... Sial!"
Seorang pelayan mencoba mengetuk pintu, "Permisi yang mulia Putri Mahkota. Ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Suruh kembali lagi di lain hari. Hal seperti itu masih harus diajarin? Aku sedang tak ingin bertemu siapapun."
"Tapi..." Ucap pelayan itu.
"Tak ada tapi tapian!" Bentak Sylvaine.
"Tapi tuan Silas Corven yang sedang menunggu..."Pelayan itu mengatakan dengan cepat.
"Tunggu. Coba ulangi dengan jelas." Kata Sylvaine.
"Tuan Silas Corven ingin bertemu anda." Sekarang pelayan itu mengatakannya dengan jelas.
Sylvaine berpikir untuk apa Silas ingin menemuinya. Mungkin ini hal menguntungkan untuknya, "Antarkan dia di ruang kerjaku. Dan panggilkan pelayan lain untuk membantuku bersiap." Ucap Sylvaine sambil menata emosinya.
***
Beberapa waktu setelah Sylvaine bersiap, dia berjalan ke arah ruang kerjanya dan memasukinya. Silas berdiri dari sofa yang didudukinya dan menyapa Sylvaine. Sylvaine mengangguk dan berjalan ke arah sofa lalu duduk, Silas pun kembali duduk setelah Sylvaine menyuruhnya duduk.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Sylvaine.
"Saya langsung ke intinya. Apa anda terlibat dengan kematian Putra Mahkota?" Silas bertanya tanpa basa-basi.
"Terlibat atau tidak, semua akan terjawab saat hasil penyelidikan tentangku keluar." Ucap Sylvaine dengan percaya diri.
"Jika saya mengatakan bahwa saya sedang melakukan penyelidikan terpisah tentang dalang dibalik kematian Yang Mulia Pangeran Mahkota. Bagaimana menurut anda?" Silas mencoba memancing Sylvaine dan ingin mengetahui bagaimana dia merespon.
"Itu hal bagus! Jika ada hal yang bisa kubantu, katakan saja." Jawab Sylvaine.
"Jadi anda punya asumsi bahwa ada campur tangan seseorang dibalik kematian beliau?" Tanya Silas.
"Tentu saja! Semua jelas sekali janggal! Rute yang kami lewati jelas aman. Tanpa hujan lebat, badai atau banjir. Tiba-tiba tanah longsor, Bahkan batu besar tergelincir. Bagaimana bisa tanpa ada penyebabnya tiba-tiba batu tergelincir? Jelas ini sangat janggal. Lalu, sebelumnya Victor mendapatkan laporan bahwa ada hal mendesak di istana. Itu juga yang membuatku bertanya-tanya hal mendesak apa itu?" Tanya Sylvaine.
"Seingatku, yang mulia telah menyelesaikan dokumen-dokumen penting sebelum pergi bersama anda menghadiri jamuan." Jawab Silas.
"Nah jelas ini sudah janggal, sudah dipastikan ada yang merencanakan ini." Kata Sylvaine.
Dari respon yang diberikan Sylvaine. Dia tak gugup ataupun terlihat cemas, namun dia percaya diri dan cukup jeli dalam mengamati dan tajam dalam berpikir. Silas merasa memang bukan Sylvaine pelakunya. Namun Silas tak ingin buru-buru untuk menyimpulkannya. Silas memutuskan untuk memantau Sylvaine untuk beberapa waktu kedepan hingga hasil penyelidikannya keluar.
"Baiklah, saya akan menghubungi anda jika membutuhkan bantuan dalam penyelidikan terpisah ini. Saya permisi." Silas ijin undur diri.
"Ya." Jawab Sylvaine singkat.
***
Di Kamar mendiang Ratu, Garrick pun merespon pertanyaan Raja, "Menurut saya ini adalah opsi terbaik. Selain meredam rumor yang cukup merepotkan seperti ini, juga tetap bisa mempertahankan legitimasi kerajaan. Simbol stabilitas serta terkenal akan hukum administrasi dan legitimasi adalah identitas kerajaan Cyrven. Jadi sebaiknya memang membawa Pangeran Kedua kembali ke istana."
"Tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku baru-baru ini setelah bertemu Sylvaine."
"Apa itu, Yang Mulia?" Tanya Garrick.
"Sylvaine menunjukkan ambisinya untuk mengontrol kerajaan. Sebenarnya dia juga menyarankan untuk membawa kembali bocah memalukan itu kembali ke istana, dia menyebutkan cukup menjadikan bocah lemah itu menjadi Raja pajangan. Jelas itu akan mencoreng legitimasi kerajaan." Ungkap Raja.
"Putri Mahkota Sylvaine memang kompeten. Jika beliau sampai menunjukkan ambisinya itu. Hal yang jelas kita lakukan adalah membatasi ruang geraknya. Meskipun rumor tentangnya sedang buruk, namun saya yakin beliau tetap bisa membuat semua bangsawan berpihak padanya. Anda bisa membatasinya." Kata Garrick.
"Bagaimana caranya?" Tanya Raja.
"Jika beliau menyebutkan Pangeran Kedua, sudah jelas dia bersedia menikah dengan Pangeran Kedua. Jadi anda bisa memanfaatkan celah itu, anda akan mengizinkan mereka menikah dengan syarat Putri Mahkota Sylvaine sepenuhnya mendukung Pangeran Kedua dalam hal politik dan lainnya. Jika tak menyetujui syarat itu, anda bisa bilang akan mengganti posisi Putri Mahkota ke gadis lain. Namun jika setelah penggantian itu timbul masalah yang membahayakan keluarga kerajaan. Sudah dipastikan pelakunya adalah putri Mahkota Sylvaine." Garrick menjelaskan rencananya.
"Yah cukup masuk akal. Kau boleh pergi, sebelum kau pergi. Tolong panggilkan dokter. Dadaku terasa sesak sedari tadi." Ucap Raja.
"Baik Yang Mulia, akan saya panggilkan dokter. Saya mohon ijin undur diri." Jawab Garrick.
***
Keesokan harinya, hari itu mendung tepat saat memulai proses penguburan jenazah Victor. Penduduk berbondong-bondong memenuhi jalanan ke arah makam kerajaan, sebagai penghormatan terakhir. Mereka tertunduk pilu dan kehilangan sosok pemimpin yang dicintai. Langit mendung seolah sedang menahan tangis tanda kehilangan yang mendalam. Raja hanya menatap diam peti mati putranya yang perlahan tertimbun tanah. Dia merenung sambil penuh penyesalan terlihat di wajahnya, kenapa baru sekarang putranya itu menunjukkan dan mengekspresikan emosinya. Ironisnya, Raja baru mengetahui bahwa putra kebanggaannya itu menyayanginya setelah putranya itu meninggal, itupun hanya melalui selembar kertas.
***
Beberapa minggu setelah melewati masa berkabung, penyelidikan membuahkan hasil. Dan ternyata Sylvaine memang tak terlibat sedikitpun. Serta satu hal pasti yang didapatkan dalam penyelidikan ini adalah ada seseorang dibalik kematian Victor. Entah organisasi atau individu.
Bersambung...