"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adrian Ardiwilaga Sang CEO Miliarder
Lantai 42 The Obsidian Towers bukan sekadar hunian mewah, bangunan itu adalah sebuah bukti nyata tahta yang kokoh dan berwibawa. Dari dinding kaca setinggi plafon, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik yang berdenyut di bawah kaki Sang CEO : Adrian Ardilwilaga. Di dalam ruangan itu, segalanya dikurasi dengan presisi yang menyakitkan—marmer Italia yang sedingin es, pencahayaan ambien yang diatur sedemikian rupa untuk menonjolkan lekuk otot, dan keheningan yang begitu pekat hingga detak jantung terdengar seperti hantaman palu.
Adrian berdiri di balkon, hanya mengenakan celana lari pendek. Tubuhnya adalah sebuah karya seni anatomi. Bahunya lebar dan kokoh, otot-otot trapezius-nya menonjol seperti akar pohon tua, dan perutnya terpahat keras. Setiap pagi, ia menghabiskan dua jam di gym pribadinya, mengangkat beban yang bisa mematahkan punggung pria biasa. Ia kaya, ia berkuasa, dan di usianya yang ke-38 tahun, ia memiliki wajah yang sering disandingkan dengan model jam tangan mewah di majalah internasional.
Namun, saat ini, pria yang tampak seperti dewa Yunani itu sedang hancur.
Di atas meja kopi berbahan eboni, terletak sebuah amplop putih bersih dari Klinik Fertilitas Pratama. Isinya hanya beberapa baris angka dan istilah medis, namun bagi Adrian, itu adalah surat hukuman mati bagi garis keturunannya. Azoospermia. Nol. Kosong. Mandul.
Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menyapu kulitnya. Ironi itu terasa seperti ludah di wajahnya. Ia bisa membangun gedung pencakar langit, ia bisa mengakuisisi perusahaan saingan dalam semalam, tapi ia tidak bisa menghasilkan satu sel kecil pun untuk melanjutkan namanya. Semua otot ini, semua kekayaan ini, hanyalah cangkang tanpa isi. Sebuah monumen kemegahan yang ditakdirkan untuk runtuh tanpa pewaris.
Pintu geser kaca berderit halus. Langkah kaki yang ringan dan berirama mendekat. Tanpa menoleh pun, Adrian tahu itu adalah Maya Karolina Zieliński.
Maya, istrinya yang berdarah Indonesia-Polandia itu, adalah definisi wanita modern yang sempurna. Ia cantik dengan kecantikan yang tidak membutuhkan riasan tebal. Ia adalah CEO dari Bloom Beauty, sebuah imperium kosmetik yang ia bangun dari nol. Mandiri, cerdas, dan memiliki keanggunan yang membuat setiap ruangan yang ia masuki terasa lebih terang.
Maya melingkarkan lengannya di pinggang Adrian yang berotot. Ia menyandarkan pipinya di punggung suaminya yang keras. "Mas, kamu di sini lagi," bisiknya lembut. Suaranya seperti beludru, menenangkan sekaligus menyayat hati Adrian.
"Hasilnya sudah keluar, May," suara Adrian parau, bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.
Maya tidak terkejut. Ia hanya mempererat pelukannya. "Aku sudah tahu. Dokter meneleponku tadi sore karena kamu tidak mengangkat ponselmu." Ucapnya lembut, “Kita masih muda, dua tahun pernikahan apalah artinya dibandingkan dengan komitmen kuat kita!” Maya menghela napas.
Adrian berbalik, menatap mata istrinya yang jernih. Di sana ia hanya menemukan cinta dan empati, sesuatu yang justru membuat Adrian merasa semakin kerdil. "Kenapa kamu masih di sini, May? Kamu cantik, sukses, dan kamu... kamu subur. Kamu berhak mendapatkan pria yang bisa memberimu keluarga. Bukan pria tidak sempurna dan mandul seperti aku."
Maya meletakkan jemarinya yang lentik di bibir Adrian. "Jangan pernah katakan itu lagi. Aku menikahimu bukan untuk menjadi pabrik anak, Mas. Aku memilihmu karena kamu adalah suamiku. Kita punya satu sama lain. Bukankah itu cukup? Istana ini mungkin sepi, tapi kita memilikinya berdua."
Adrian memeluk Maya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. Pria setinggi 185 cm itu tergugu, bahunya yang perkasa terguncang oleh tangis yang tak bersuara. Di dalam hatinya, ia merasa berutang seumur hidup pada kemuliaan hati Maya.
---
Minggu-minggu berlalu, dan kesedihan Adrian berubah menjadi obsesi fisik. Ia berlatih lebih keras dari sebelumnya. Ia mengonsumsi suplemen terbaik, menjalani diet paling ketat, dan berkonsultasi dengan ahli endokrinologi termahal di Singapura. Namun, setiap hasil tes tetap sama.
Ia mulai menarik diri dari pergaulan sosial. Saat teman-temannya di klub cerutu membicarakan tentang prestasi anak-anak mereka di sekolah internasional, Adrian hanya akan menatap gelas wiskinya dengan tatapan kosong. Ia merasa seperti penipu. Orang-orang melihatnya sebagai figur otoritas, pria maskulin yang tak terkalahkan, padahal di dalam dirinya, ia merasa hampa.
Satu-satunya cahaya dalam hidupnya adalah Maya. Istrinya itu luar biasa sabar. Maya selalu ada untuk membesarkan hatinya, menemaninya saat ia merasa terpuruk, dan dengan lembut menolak tawaran adopsi atau bayi tabung yang sempat Adrian lontarkan.
"Mas, kalau Tuhan memang tidak mengizinkan kita punya anak dari darahmu, aku lebih baik tidak punya anak sama sekali," kata Maya suatu malam saat mereka makan malam romantis di bawah cahaya lilin. "Aku tidak mau ada orang asing di antara kita. Aku hanya ingin kamu."
Adrian merasa Maya adalah malaikat yang dikirimkan untuknya. Seorang wanita mandiri yang rela mengorbankan naluri keibuannya demi menjaga ego suaminya yang hancur. Ia bersumpah akan memberikan segalanya untuk Maya—saham perusahaan, perhiasan, properti—apa pun untuk menebus kekurangannya.
---