"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Baris Belakang
Hari-hari berikutnya bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang menghilang secara perlahan. Tanpa jadwal latihan teater yang padat yang dulu memaksa bangunku pagi dan mengunci lelahku malam hari, waktu tiba-tiba membentang menjadi lubang hitam yang luas dan menakutkan. Aku kehilangan struktur. Aku kehilangan kerangka yang membuat Arka menjadi Arka. Tanpa panggung, tanpa naskah, tanpa Nadia, aku hanyalah setumpuk daging dan tulang yang menempati ruang di belakang kelas kosong.
Aku berubah menjadi hantu di kampusku sendiri.
Dulu, aku selalu duduk di barisan tengah, tangan terangkat, siap berdebat tentang dekonstruksi sastra atau mengkritik metode akting Stanislavski. Sekarang, aku meluncur masuk ke ruang kuliah Sastra Kontemporer lima menit setelah dosen masuk, mengambil kursi paling pojok di deretan paling belakang, tepat di belakang pilar beton yang menutupi pandanganku dari papan tulis. Aku menarik hoodie hitamku yang sudah bau apek hingga ke atas kepala, menyembunyikan wajah yang tak lagi cukup percaya diri untuk menatap dunia. Aku menjadi bagian dari dinding, partikel debu yang diam di saat yang lain bergerak.
Saat istirahat tiba, aku tidak pernah ke kantin. Kantin adalah medan perang memori; di sana aku pernah tertawa bersama Nadia sambil membagi nasi kucing, di sana Gilang pernah menepuk bahuku dengan akrab. Aku tidak sanggup bertahan di sana tanpa merasa dada remuk oleh nostalgia. Jadi, aku menghindar. Aku menyelinap ke toilet gedung tua yang jarang digunakan, menguncang rokok satu batang yang kupanaskan sejak pagi tanpa pernah menyulutnya ke api, hanya untuk menenangkan saraf gemetak di jariku. Aku mengurung diri di bilik sempit itu, mendengar suara teman-teman kuliah yang lewat di luar, tertawa riuh tentang tugas atau gosip, suara-suara yang seolah datang dari planet berbeda.
Gilang mencariku. Aku tahu dia melakukannya. Beberapa kali aku melihat siluetnya berlari di koridor, menengok ke kantin, bahkan sekali aku melihatnya berdiri bingung di tengah lapangan basket, memindai wajah di antara kerumunan mahasiswa. Ia merasa bersalah. Ia merasa bertanggung jawab atas kepergianku. Aku tahu itu. Dan karena itulah aku semakin memperdalam persembunyianku.
Suatu sore, hujan deras mengguyur kampus, memaksa semua orang berlarian mencari tempat berteduh. Aku memilih gazebo kecil di taman belakang fakultas, tempat pohon rambutan rindang menutupi pandangan dari jalur utama. Aku duduk di sana, menatap hujan yang menimpa semak-semak ilalang, merasakan dingin yang meresap ke tulang.
Langkah kaki berat memecahkan keringatan daun-daun kering di gazebo. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma rokok Gudang Garam dan minyak tanah yang khas sudah sangat dikenal.
"Lo nyembunyi di sini ya?" suara Gilang terdengar di antara gemuruh hujan. Ia duduk di bangku seberangku, tanpa meminta izin. Basah kuyup, jaketnya meneteskan air ke lantai gazebo yang kering.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menarik hoodieku lebih ke bawah, menyembunyikan setengah wajahku.
"Ka, ayo ngomong. Jangan kayak ini terus," buka Gilang, suaranya melembah, penuh rasa frustrasi yang tertahan. "Udah dua minggu, Ka. Lo kayak ilang ditelan bumi. Kuliah lo keteteran, dosennya pada nanyain."
"Gue masih hidup, kok. Masih terdaftar sebagai mahasiswa," sahutku datar, suara serak karena jarang kugunakan untuk bicara.
"Bukan itu maksud gue!" Gilang menepuk pahanya sendiri, menahan emosi. "Kami... tim teater ngomong soal lo. Kita butuh lo, Ka. Serius. Festival nasional bulan depan, naskahnya jadi berantakan abis tanpa editor kayak lo. Penonton nanti nanya, 'Mana Arka?', 'Kenapa Arka nggak main?'. Gue nggak bisa jawab."
Aku menoleh akhirnya. Di balik kacamata yang basah oleh uap hujan, mata Gilang terlihat putih kecil dan merah. Ia menatapku bukan sebagai sekadar ketua, tapi sebagai seorang sahabat yang sedang melihat temannya tenggelam.
"Jangan jawab penonton dengan alasan yang muluk-muluk, Lang," kataku pelan. "Bilang aja gue sakit. Bilang gue mendadak ada urusan keluarga. Apa aja."
"Gue nggak mau bohong!" bentak Gilang. Ia berdiri, mendekatiku, mengabaikan hujan yang terbasahi ke dalam gazebo. "Lo itu hebat, Ka! Lo punya bakat! Kenapa lo sih bakar rumah sendiri? Nadia pergi, iya. Itu nyesek, tapi kenapa lo ikut hilang juga?"
Kata itu menusuk. Nadia pergi. Gilang menyebut nama itu begitu saja, seolah itu hanya penyakit flu yang sudah sembuh.
"Lo nggak ngerti, Lang," sahutku, suaraku mulai naik satu oktaf karena tertekan. "Lo nggak ngerti rasanya jadi boneka kertas. Selama ini gue hebat di panggung karena gue punya Nadia yang nge-cover kekacauan gue. Gue punya naskah yang gue tulis bareng dia. Sekarang gue tinggal sendiri. Dan waktu gue coba main kemarin... gue lihat sendiri kan? Gue nggak ada apa-apanya. Gue cuma aktor parau yang penuh drama."
Aku berdiri, menghadapi Gilang. Tubuhku lebih kecil darinya, tapi rasa frustasiku membuatku terasa lebih besar.
"Jangan cari gue lagi, Lang. Gue udah nggak punya apa-apa buat dikasih ke kalian. Gue cuma akan jadi beban. Biar gue ngilang pelan-pelan, kayak nggak pernah ada."
"Arka..." Gilang meraih lenganku, mencoba menahanku.
Aku menepis tangannya kasar. "Pergi! Latih aja tim lo yang baru! Jangan ganggu gue yang lagi ngehapus jejak!"
Aku berbalik dan berlari menembus hujan deras, meninggalkan Gilang yang terpaku di gazebo. Aku berlari sampai nafas menciut, sampai ke kamar kosku, dan mengunci pintu dari dalam. Aku bersandar di pintu kayu itu, meluncur turun sampai bokongku menyentuh lantai ubin yang dingin. Napasku memburu, dadaku sakit seperti tertusuk duri.
Aku menatap kamar ini. Ini sudah hari kelima belas. Kondisinya mengerikan. Tumpukan pakaian kotor menumpuk di sudut, bungkus mie instan berserakan di lantai dekat kasur, dan tumpukan buku sastra yang kubeli semangat dulu kini teronggok di meja belajar ditutup lapisan debu. Aku tidur seharian, bangun cuma buat makan sesuatu yang gampang, lalu tidur lagi. Tidak ada puisi yang tertulis. Tidak ada ide naskah. Tidak ada apa-apa.
Malam itu, hujan di luar tidak berhenti. Aku duduk di tengah kekacauan kamarku, merasa sesak oleh pengap yang menyesakkan. Dalam keputusasaan, aku berdiri dan berjalan menuju meja belajar. Aku mengambil tumpukan buku-buku itu, berniat merapikannya agar terlihat rapi, mungkin saja itu bisa membuat otakku kembali tertib.
Di antara tumpukan buku Kritik Sastra dan Sejarah Teater Modern, tanganku menyentuh sesuatu yang akrab. Buku Sajak-sajak Chairil Anwar yang sampulnya sudah sobek di sudutnya. Buku yang dulu adalah kitab suciku, pedoman hidupku saat aku masih merasa menjadi "anomali" yang istimewa.
Aku duduk di lantai, membuka buku itu dengan hati-hati. Kertasnya sudah menguning, lembap oleh udara kamar. Aku berharap menemukan kenyamanan di kata-kata lama itu. Aku membuka halaman acak, mataku memindai baris-baris puisi yang dulu bisa membuatku menangis terharau.
Tak ada yang lebih dalam dari matamu...
Tapi tidak ada yang terjadi. Kata-kata itu hanya tinta di atas kertas kusam. Rasa hampa di dadaku tidak terisi oleh apapun. Kegilaan percintaanku pada Senja telah memakan kemampuanku untuk merasakan keindahan. Kehangatan Nadia telah membakar habis hasratku untuk menulis. Aku membaca halaman demi halaman, membalik dengan kasar, mencari sesuatu yang menusuk, tapi tidak menemukan apa-apa.
Dalam amarah yang tiba-tiba dan membabi buta, aku melempar buku itu sekuat tenaga ke arah dinding.
BUK!
Buku itu menimpa kaca jam dinding, lalu jatuh bersama jam tersebut ke lantai dengan suara yang menyayat hati. Kaca jam itu pecah berkeping-keping, menyebar di lantai ubin seperti bintang jatuh yang mati.
Aku menatap pecahan kaca itu. Beberapa potong kecil berserakan di sekitar buku Chairil Anwar yang kini terbanting terbalik. Itu adalah metafora yang terlalu jelas untuk diabaikan. Aku tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas lagi. Aku butuh kacamata, tapi aku tidak lagi peduli. Jiwaku telah hancur berkeping-keping, jadi apa gunanya melihat dunia dengan fokus?
Aku berbaring lagi di kasur yang tidak aku rapihkan, membiarkan pintu kamar kos terbuka lebar meski angin malam yang membawa bau tanah dan sampah masuk tanpa halangan. Aku berharap ada seseorang—siapa saja—masuk ke sini, memarahiku, atau bahkan sekadar menutup pintu itu. Tapi tidak ada yang datang. Suara hujan adalah satu-satunya teman bicaraku, dan dia hanya tertawa mengejekku dengan gema yang sunyi, membiarkanku terdiam di antara senja yang sudah mati dan fajar yang sudah pergi menjauh, meninggalkan aku dalam kegelapan yang abadi.