NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Selingkuh / Ibu susu
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Eugh!

Upsss!

Hana spontan menutup mulutnya dengan tatapan kikuk, ketika tadi kelepasan saat bersendawa. Hal itu membuatnya merasa mati kutu dihadapan sang Majikan. Apalagi, ekspresi Danish sampai melongo dibuatnya.

"Maaf, Pak... Kelepasan!" sambil memejamkan mata kecil, Hana menunduk malu.

Danish bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka. "Nggak ada elegan-elegantnya jadi wanita!" hardiknya. Namun setelah itu Danish bangkit begitu saja. Pria tampan itu menarik kerah jasnya, dengan wajah penuh wibawa berjalan santai menuju pintu keluar. Namun baru setengah jalan, bibir tipisnya berdesis, "Jika kamu tidak segera bangkit, maka staff akan membawamu sebagai barang jaminan!"

Barulah, setelah itu Danish kembali melanjutkan jalannya.

"Apa? Jadi... Makanan sebanyak ini? Ngutang gitu?" Hana shock, pandanganya jatuh kearah beberapa tumpuk piring bekasnya tadi.

Melihat Danish sudah mencapai ambang pintu, Ibu susu itu bergegas ngacir, menyambar tas selempangnya dengan cepat.

Hana yang bagaikan liliput, begitu kesusahan mengimbangi langkah raksasa Danish. Wajahnya masih menekuk, pandanganya seolah tengah mengamati ekspresi datar sang Majikan.

"Sudah kenyang?" Danish berkata tanpa memalingkan fokusnya kedepan.

Hana mengerucutkan bibirnya. "Tadinya saya masih ingin menghabiskan steak saya. Padahal hanya tinggal sepotong saja," jawabnya kesal.

Danish tak lagi menghiraukan. Bibirnya melekuk tipis, merasa aneh sekaligus bahagia mengdapati nafsu makan Hana sangat baik. "Di rumah ada stok daging banyak! Nanti aku akan suruh pelayan untuk membuatkannya untukmu. Setelah ini saya akan kerja kembali, jadi saya nggak punya waktu hanya menatapmu seperti orang kelaparan!"

Huhhh!!!!

Hana menghembuskan napas dalam, merosotkan bahunya dengan lemas.

Siang itu, setelah mengantarkan Hana kembali ke rumah sakit, Danish juga bergegas menuju kantornya untuk melanjutkan meting yang tadi siang terhenti.

"Pak.... Hati-hati, ya!" pekik Hana mengangkat rendah tanganya.

"Hem!" Danish hanya mengangguk sekilas, lalu bergegas masuk kembali dalam mobilnya.

Dari siang menuju sore itu, Keira tampak anteng. Wajahnya damai, terlelap dengan perut yang selalu kenyang. Seolah, bayi dua bulan itu sudah tidak pusing lagi mencari dimana sumber makananya.

Malam itu, waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam.

Rencananya, malam ini Hana akan pulang, karena lusa harus menghadiri sidang perceraiannya. Namun sebelum benar-benar pergi, Hana sudah memompa Asinya terlebih dulu, membuat stock untuk 1 hari kedepan.

Keira juga sudah terlelap kembali setelah ia diberi Asi. Sambil menunggu Bu Ana datang, Hana menuju kamar mandi terlebih dulu, meninggalkannya bersama Bik Inem.

"Sebentar ya, Bik... Saya mau ke kamar mandi dulu," kata Hana mengusap lengan Bik Inem.

Namun tiba-tiba pintu terbuka dari luar.

"Keira sudah tidur?" Bu Ana datang membawa dua jinjing paperbag ukuran tanggung.

Sementara Danish, pria itu sudah berganti drescode dengan pakaian yang lebih santai.

"Baru saja tidur, Bu! Kekenyangan Keira nya," senyum tipis Hana. "Saya ke kemar mandi sebentar," pamitnya melanjutkan jalannya.

Bu Ana sudah meletakan dua bingkisan tadi. Sebelum mendekat kearah Keira, wanita paru baya itu mencuci tanganya terlebih dulu. Barulah ia mendaratkan kecupan hangat pada dahi kecil yang mengeluarkan butiran keringat.

"Nggak rewel 'kan Bik, sejak tadi?"

Bik Inem tersenyum lembut, "Nggak, Bu! Non Keira mah selalu anteng kalau sama Mbak Hana."

Sebelum mendekat kearah putrinya pun, Danish mencuci tanganya di wastafel dekat pintu kamar mandi. Dan ketika ia berbalik arah, Hana juga baru saja keluar dari sana.

Eh!

Hampir saja keduanya bertubrukan, jika Hana tidak menarik tubuhnya kebelakang.

"Jalan itu pake mata!" cibir Danish yang sempat menghentikan langkahnya sejenak.

Dibelakang tubuh tegap itu, Hana menajamkan matanya kuat, sambil mengangkat kepalan tanganya. "Dasar, om-om aneh!" kesalnya.

Begitu tiba didekat Bu Ana, Hana langsung saja berpamitan untuk meminta ijin pulang. "Bu, kalau begitu saja pulang dulu. Saya sudah menyiapkan stok Asi untuk Keira sampai besok pagi."

Bu Ana menoleh. Tatapanya hangat, tanganya memegang pundak Hana. "Saya berterimakasih sama kamu, Hana! Setelah sidang kamu selesai... Kamu tinggal saja ya di rumah, biar nggak capek bolak balik!"

Hana berpikir sejenak. Namun, permintaan Majikannya itu bukan lah yang membahayakan. Sambil mengangguk ragu, ia menjawab, "Baik, Bu."

Bu Ana menatap Danish. Matanya mengkode untuk mengantarkan Ibu susu cucunya itu pulang.

Danish malah terkejut. Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu mendesah lemas. Sebelum pergi lagi, ia mendekat kearah putrinya. Semakin hari, wajah cantik itu sangat mirip dengan sosok Rani-seorang Istri yang tega meninggalkan keluarga kecilnya demi dunia luar.

"Papah pergi sebentar ya, Sayang! Keira bobok yang nyenyak. Cup!" tak lupa juga Danish meninggalkan kecupan hangat pada kepala Keira.

Setelah itu, barulah Danish bergegas keluar.

Hana juga tak lupa mengusap lembut kepala Keira yang berkeringat. Ia tatap dalam-dalam wajah menggemaskan itu. "Keira... Tante pulang dulu ya! Besok kita main lagi," bisiknya.

Keira menggeliat, mencari posisi tidurnya yang paling nyaman. Memastikan bayi itu terlelap kembali, Hana segera beranjak keluar.

Tangan Hana masih memegang handle pintu. Dan bersamaan itu Danish bangkit. "Saya antarkan pulang!" ucapnya dingin terdengar kaku.

"Nggak usah, Pak! Saya 'kan bawa motor tadi siang," jawab Hana yang mengira motornya di bawa sopir Danish ke rumah sakit.

Danish terpaksa menoleh sebatas bahu. "Motor siapa yang akan kamu bawa?" tanyanya acuh, ada nada muak yang tertahan.

"Ya motor saya sendiri lah, Pak! Kan sopir Bapak yang bawa kesini," ucap Hana percaya diri.

Danish tak lagi menggapi. Ia mendesah dalam, lalu mulai berjalan sedikit menjauh. "Ayo cepet pulang! Motormu sudah diantarkan ke rumahmu!"

"Apaaaaa?!" pekik Hana tercengang. Sambil menghembuskan napas kasar, ia mulai mengikuti langkah Danish dari belakang.

Begitu keduanya tiba di lobi, Hana maupun Danish di kejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti menghadang jalan mereka.

Dari dalam, Dokter Rifki turun menampakan raut wajah cemas. Namun ketika melihat Hana dalam keadaan baik-baik saja, seketika senyumnya merekah.

"Hana... Ayo pulang saya antarkan!" ucap Rifki menatap Hana dengan antusias. Seolah, keberadaan pemilik rumah sakit itu sudah tertutup hal gaib.

Hana menatap Majikannya sekilas. Lalu kembali menatap Dokter Rifki dengan anggukan kecil. "Anda tahu saya masih ada disini, Dok?"

"Saya tahu dari perawat, Hana! Jadi, ya... Sekaian aja aku tungguin. Udah yuk, nanti keburu malem!" Dokter Rifki sudah berniat menarik tangan Hana, namun seketika di tahan oleh Danish.

Sret!

Hana tercengan. Jantungnya bahkan berdetak lebih kuat.

"Sebagai Dokter, Anda seharusnya memiliki sopan santun! Apa mata Anda buta?" suara Danish begitu tegas. Nadanya menusuk-menggeretakan kuat deretan giginya.

Rifki tersenyum miring. "Oh ya... Rupanya ada Pak Danish yang terhormat disini, wah-wah... Saya baru tahu," godanya sambil bertepuk tangan kecil.

Hana menegang. Menelan ludah saja rasanya terlalu sulit. Ia hanya takut, jika kedua pria didepanya itu akan beradu argumentasi melalui kekuatan pecak silatnya.

1
Ma Em
Danish kalau kamu suka sama Hana jgn jual mahal sok tdk butuh padahal hatinya mau , awas saja nanti ditikung Lukman baru Danish gigit jari wanita kesukaan nya diambil adiknya .
Anonymous
BUNUH RISMA BUNUH,, BUNUH BUNUH BUNUH... TATAKAE TATAKAE SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO
Anonymous
resign Cok resign
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Arin
Kasih bukti tuh orang tua Rani.... biar melek matanya. Jangan asal nuduh orang lain sebagai pelakor. Sedangkan anaknya sendiri yang lari dari rumah, masih ingin bebas celap celup dengan laki-laki lain ckckck😡😡😡😡
Hr sasuwe
👍
Titien Prawiro
Ada ya lelaki seperti itu, istri baru melahirkan, jahitan belum kering sdh diceraikan. kasihan kamu Hana. jgn ditangisi lelaki bejad, gk pantas air matamu kamu keluarkan.
Arin
Dzaki mengada-ada..... ya jelas dia buat tuntutan itu semua. Karena waktu itu dia sudah sibuk dengan Mona.... Dia gak perduli lagi sama Hana.
Ig:@septi.sari21: iya kak, jang jelas semua itu nggak bener. dia memalsukan semuanya.
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
💎💎💎💎💎
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍
Ig:@septi.sari21: kak herlina macihhh❤❤❤🙏
total 1 replies
Arin
Uuh..... kelakuan Mona-Dzaki.... Cepet banget udah hamil aja si Mona???
Ig:@septi.sari21: udah lama banget yang selingkuh🔥
total 1 replies
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Ig:@septi.sari21: hai kak deww jumpa lagi. makasih dukunganya🙏🙏❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!