NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: BAYANGAN DARI MASA LALU

Angin sore menyusup pelan di antara dinding bambu yang mulai rapuh. Rumah itu sunyi, seperti menahan napas. Di luar, suara burung pipit terdengar putus-putus, seolah takut mengganggu sesuatu yang tak terlihat—sesuatu yang menggantung di udara seperti rahasia yang belum diucapkan.

Melati duduk di dekat jendela, jemarinya meremas kain kebaya tipis di pangkuannya. Cahaya matahari yang condong ke barat membuat bayangannya memanjang di lantai tanah. Bayangan itu tampak seperti orang lain—lebih tua, lebih lelah, lebih sunyi.

Sejak kedatangan tentara Jepang, hidupnya berubah menjadi serangkaian hari yang terasa seperti mimpi buruk yang dipaksa menjadi nyata.

Dan Kenjiro.

Nama itu bahkan tak perlu diucapkan keras-keras untuk membuat dadanya sesak.

Ia menunduk, mencoba mengusir pikiran itu, ketika langkah kaki pelan terdengar di halaman.

Bukan langkah sepatu bot.

Langkah tanpa suara—langkah orang yang terbiasa bergerak diam.

“Non Melati…”

Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan angin.

Melati menoleh. Seorang pelayan pribumi berdiri di ambang pintu. Lelaki itu kurus, wajahnya tegang, matanya terus melirik ke belakang seolah takut diikuti.

“Ada apa, Pak Sastro?” tanya Melati pelan.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia masuk, menutup pintu dengan hati-hati, lalu merogoh kain di balik bajunya.

Sebuah kertas kecil.

Dilipat berkali-kali.

Tangannya gemetar saat menyerahkannya.

“Ini… dari tawanan Belanda,” bisiknya. “Dia bilang… hanya untuk Nona.”

Jantung Melati seperti berhenti.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Ia sudah tahu.

Sebelum membuka lipatan pertama.

Sebelum melihat tulisan tangan itu.

Tulisan yang pernah membuatnya tersenyum.

Tulisan yang dulu terasa hangat.

Tulisan Willem.

Tangannya gemetar saat membuka kertas itu. Huruf-hurufnya tidak rapi, tinta tampak pudar di beberapa bagian, seolah ditulis tergesa atau dalam cahaya yang buruk.

*Melati,*

*Jika surat ini sampai kepadamu, berarti Tuhan masih memberi aku kesempatan.*

*Aku hidup. Meski tidak sepenuhnya.*

Napas Melati tercekat.

Suara dunia di sekitarnya menghilang.

*Jepang menahan kami seperti bayangan yang tidak boleh ada. Aku kehilangan nama, kehilangan pangkat, kehilangan tanah. Tetapi aku belum kehilangan satu hal—ingatan tentangmu.*

Matanya panas.

Ia membenci ini.

Membenci bagaimana hatinya masih bereaksi.

*Aku tahu aku bagian dari luka negeri ini. Aku tahu seragamku pernah membuatmu takut. Jika kebencianmu adalah hukuman, aku menerimanya. Tetapi izinkan aku meminta satu hal—jangan lupakan bahwa aku pernah mencintaimu tanpa perintah, tanpa kerajaan, tanpa perang.*

Melati menutup mata.

Kenangan datang seperti banjir.

Senyum Willem yang canggung. Cara ia mencoba berbicara bahasa Melayu dengan aksen yang membuat Melati ingin tertawa. Cara ia selalu menunduk sedikit saat berbicara padanya, seolah takut membuatnya tersinggung.

*Aku bukan pangeran di sini. Aku hanya lelaki yang menunggu kesempatan untuk menebus kesalahan. Jika aku selamat… aku akan kembali. Bukan sebagai penjajah. Bukan sebagai pangeran. Hanya sebagai lelaki yang meminta pengampunanmu.*

*Tunggu aku jika kau bisa. Lupakan aku jika kau harus.*

*—Willem*

Kertas itu jatuh ke pangkuannya.

Sunyi.

Begitu sunyi sampai Melati bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Pak Sastro masih berdiri di sana.

“Dia… sangat lemah,” kata lelaki itu pelan. “Tapi dia tetap bilang… harus sampai ke Nona.”

Melati tidak menjawab.

Ia tidak tahu bagaimana caranya.

Bagaimana mungkin satu surat bisa membuka luka yang sudah ia paksa menutup?

“Apa… dia disiksa?” suara Melati akhirnya keluar, nyaris tak terdengar.

Pak Sastro menelan.

“Kami tidak boleh lihat banyak. Tapi… tawanan Belanda tidak diperlakukan seperti manusia.”

Kata-kata itu terasa dingin.

Aneh.

Ia seharusnya tidak peduli.

Bukankah Belanda melakukan hal yang sama selama ratusan tahun?

Bukankah penderitaan itu seperti lingkaran yang tak pernah berhenti?

Namun bayangan Willem di balik jeruji membuat dadanya sakit dengan cara yang tidak ia mengerti.

Pak Sastro pergi. Rumah kembali sunyi.

Melati memegang surat itu lagi.

Tangannya gemetar.

“Aku tidak boleh…” bisiknya.

Ia membenci penjajahan Belanda.

Ia membenci sistem yang membuat orang seperti Willem lahir dengan kekuasaan sementara rakyatnya lahir dengan beban.

Tetapi Kenjiro…

Nama itu muncul seperti bayangan yang lebih gelap.

Kenjiro tidak hanya berkuasa.

Kenjiro menikmati kekuasaan.

Melati berdiri tiba-tiba, berjalan ke jendela. Di kejauhan, truk militer Jepang melintas, suara mesinnya kasar seperti peringatan.

Ia memeluk dirinya sendiri.

Willem adalah masa lalu yang rumit.

Kenjiro adalah masa kini yang menakutkan.

Dan masa depan terasa seperti jalan tanpa cahaya.

Di kamp tawanan, malam datang lebih cepat.

Udara lembap menempel di kulit seperti lapisan tipis penderitaan. Bau tanah, keringat, dan besi bercampur menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan—bau orang yang perlahan kehilangan harapan.

Willem duduk bersandar pada dinding kayu kasar. Wajahnya lebih kurus, rambutnya lebih panjang, tetapi matanya masih menyimpan sesuatu yang keras kepala.

Ia menatap langit melalui celah kecil.

“Suratmu… sampai?” bisik seorang tawanan lain.

Willem tidak menjawab.

Ia tidak tahu.

Tetapi mengirim surat itu membuatnya merasa masih hidup.

Masih memiliki pilihan.

Masih memiliki seseorang di dunia yang tahu ia pernah menjadi lebih dari sekadar tawanan.

Ia menutup mata.

Bayangan Melati muncul—bukan seperti terakhir kali ia melihatnya, tetapi seperti pertama kali.

Tertawa di bawah pohon cengkeh.

Tidak takut.

Tidak terjebak.

“Aku akan kembali,” bisiknya pada dirinya sendiri, suara serak tetapi tegas.

Di sudut kamp, seorang penjaga Jepang lewat. Suara langkahnya membuat semua orang diam.

Willem membuka mata lagi.

Ia tidak tahu apakah ia pantas kembali.

Tetapi keinginan itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya bertahan.

Malam di rumah Melati terasa panjang.

Lampu minyak bergetar pelan. Bayangan di dinding bergerak seperti kenangan yang tidak mau diam.

Surat itu masih di tangannya.

Ia membacanya lagi.

Dan lagi.

Setiap kali, hatinya terpecah di tempat yang sama.

“Kenapa kau harus menulis…” bisiknya.

Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya.

Ia marah pada Willem.

Marah karena membuatnya mengingat.

Marah karena menunjukkan sisi manusia di balik seragam penjajah.

Marah karena memberi harapan di saat hidupnya dipenuhi ketakutan.

Kenjiro muncul di pikirannya—senyum tipis, tatapan tajam, cara ia berbicara seolah dunia adalah papan catur.

Melati menggigil.

Jika Willem adalah masa lalu yang penuh luka, Kenjiro adalah masa depan yang bisa menghancurkannya.

Dan di antara keduanya, ia berdiri sendirian.

Pintu berderit pelan karena angin. Melati menoleh cepat, jantungnya berdebar. Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi rasa diawasi tidak pernah benar-benar pergi.

Ia melipat surat itu hati-hati. Terlalu hati-hati untuk sesuatu yang katanya ingin ia lupakan.

Ia menyembunyikannya di balik peti kayu.

Tangannya berhenti sesaat.

“Jika kau kembali…” bisiknya ke ruang kosong, “apa semuanya bisa berbeda?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara malam.

Di kamp, Willem bermimpi.

Bukan mimpi indah.

Ia bermimpi berjalan di jalan panjang yang dipenuhi bayangan. Di ujung jalan, Melati berdiri, tetapi setiap kali ia mendekat, bayangan lain muncul—seragam, pedang, perang.

Ia terbangun dengan napas berat.

Tawanan lain masih tidur. Malam masih gelap.

Willem menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu memegang kekuasaan kini hanya memegang udara.

“Aku tidak ingin kembali sebagai pangeran,” bisiknya. “Aku hanya ingin kesempatan.”

Ia tidak tahu kepada siapa ia berbicara.

Tuhan.

Nasib.

Atau Melati.

Pagi datang tanpa kelembutan.

Melati bangun dengan mata bengkak. Dunia terlihat sama, tetapi terasa berbeda.

Surat itu mengubah sesuatu.

Bukan keputusan.

Belum.

Tetapi cara ia melihat masa lalu.

Ia keluar rumah. Udara pagi dingin, embun menempel di daun. Desa tampak biasa—orang menimba air, anak berlari, kehidupan berjalan seolah perang adalah sesuatu yang jauh.

Padahal tidak.

Perang ada di setiap langkah.

Di setiap tatapan tentara.

Di setiap keputusan yang harus ia ambil.

Melati berhenti di pematang sawah. Angin meniup rambutnya.

“Kalau aku menunggu…” gumamnya, “apakah aku bodoh?”

Tidak ada jawaban.

Tetapi hatinya tidak lagi sepenuhnya menutup pintu.

Dan itu membuatnya takut.

Karena harapan, di masa perang, sering kali lebih berbahaya daripada keputusasaan.

Di kejauhan, suara kendaraan militer kembali terdengar.

Melati menoleh.

Bayangan masa lalu berjalan ke arahnya.

Bayangan masa depan juga.

Dan di antara keduanya, seorang gadis desa berdiri—mencoba memilih, mencoba bertahan, mencoba tidak kehilangan dirinya sendiri.

Surat kecil itu terasa lebih berat daripada dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!