Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Yang Tak Wajar
Hari Sabtu Ririn baru saja menyelesaikan cucian ketika ponselnya bergetar nama Baskara muncul di layar.
“Iya, Pak?” jawabnya.
“Kamu ke supermarket sekarang,” kata Baskara tanpa basa-basi. “Beli beberapa keperluan rumah.”
Ririn menghela napas pelan. “Baik, Pak. List-nya?”
“Saya kirim.”
Telepon langsung terputus tak lama kemudian daftar masuk Ririn membaca sambil mengerling kecil.
Pewangi ruangan, sabun pencuci piring, minuman, cemilan.
“Lengkap dan bikin repot,” gumamnya sendiri.
Beberapa waktu kemudian mereka bertemu di supermarket. Baskara mendorong troli dengan santai, sementara Ririn sibuk mondar-mandir sesuai daftar.
“Sabun pencuci piringnya yang mana, Pak?” tanya Ririn sambil berdiri di depan rak panjang.
“Yang biasa,” jawab Baskara.
Ririn menoleh. “Yang biasa yang mana, Pak?”
Baskara menunjuk asal. “Itu.”
Ririn mengambilnya, lalu beralih ke rak sampo.
“Ini sekalian sampo, deodorant, sama pewangi ruangan ya, Pak.”
“Iya.”
Giliran minuman, dan cemilan. Troli makin penuh. Ririn mendorongnya sambil menahan senyum tipis.
Akhirnya lengkap batinnya ini belanja bulanan atau persiapan hidup baru?
Setelah semua dibayar dan dimasukkan ke mobil, Baskara berkata seolah baru ingat sesuatu,
“Habis ini kita nonton.”
Ririn terdiam. “Nonton film, Pak?”
“Iya.”
Ada jeda sebentar awalnya canggung tapi pikirannya cepat beradaptasi.
Gaji gue lumayan gue nggak keluar duit ini bukan kewajiban kerja.
“Baik, Pak,” jawabnya akhirnya.
Di bioskop, Ririn bisa merasakan beberapa pasang mata melirik ke arah mereka. Baskara memang mencolok tinggi, rapi, wajah dingin yang mudah menarik perhatian.
Ririn menunduk, senyum kecil nyaris lolos orang-orang mungkin mikir gue pacarnya,pikir Ririn padahal gue asisten lebih tepatnya asisten merangkap pembantu.
Di depan counter makanan, Baskara berdiri santai menatap papan menu.
“Popcorn sama minuman,” katanya. “Yang besar.”
Ririn menoleh. “Rasanya apa, Pak?”
Baskara menunjuk."Original aja,”
“Minumnya?”
“Yang itu.”
Ririn menahan tawa kecil. “Baik, Pak.”
Dia yang mengurus tiket, popcorn, dan minuman. Baskara hanya berdiri di sampingnya, tenang, seolah itu sudah sewajarnya.
“Ini tiketnya,” kata Ririn sambil menyerahkan.
Baskara mengambilnya. “Masuk.” katanya seolah ini tugas kantor katanya masih formal.
Di dalam studio, mereka duduk berdampingan film mulai, tapi pikiran Ririn melayang.
Jalan sama pria tampan ditraktir diperhatiin orang kalau nggak inget status ini hampir mirip kencan.
Baskara mengambil popcorn, lalu menyodorkannya ke arah Ririn tanpa menoleh.
“Makan.” katanya dengan nada perintah.
Ririn sedikit terkejut, lalu mengambilnya. “Terima kasih Pak.”
Beberapa menit kemudian, Baskara berbisik,
“Filmnya bagus.”
“Iya,” jawab Ririn pelan.
Hening kembali meski suasananya ringan, Ririn tahu satu hal tak berubah bahkan di bioskop bahkan di hari Sabtu Baskara tetap bos, dan Ririn tetap asisten.
Hanya saja, untuk hari itu, Ririn membiarkan dirinya menikmati momen kecil itu bukan sebagai kewajiban,melainkan sebagai hiburan singkat di sela hidup yang terus menuntutnya kuat.
Sesampainya di apartemen, Ririn langsung bergerak tanpa banyak bicara. Dia menyusun belanjaan satu per satu, mondar-mandir dari dapur ke kamar mandi, lalu ke wastafel. Sabun mandi ditata rapi, sampo disusun sejajar, deodorant diletakkan di rak kecil, sabun pencuci piring dipindahkan ke bawah wastafel. Pewangi ruangan digantung, minuman dimasukkan ke kulkas, cemilan disusun rapi di lemari.
Baskara duduk di sofa, awalnya sibuk dengan ponselnya. Namun entah sejak kapan, perhatiannya teralihkan.
Dia mengangkat kepala, memperhatikan Ririn yang sibuk. Gerakannya cepat tapi rapi, wajahnya terlihat lelah, tapi tetap berusaha teliti, rambutnya sedikit berantakan, kemejanya digulung sampai siku.
Tanpa disadarinya sendiri, Baskara tersenyum kecil.
aneh, pikirnya biasanya gue cepet bosen sama cewek tapi Ririn berbeda, waktu berlalu tanpa terasa semua sudah beres.
Ririn berdiri di depan Baskara, menepuk-nepuk tangannya pelan.
“Sudah, pak saya boleh pulang sekarang.”
Baskara tersentak, seperti baru sadar waktu. “Hah? Loh kok sebentar.”
Ririn mengangkat alis. “Iya pak sudah selesai,"
“Belum duduk temenin saya ngobrol dulu.”
Ririn membeku sepersekian detik ini udah malam. gue capek banget dia masih mau ngajak ngobrol?Gumaman itu hanya berani tinggal di kepalanya, Ririn mendekat perlahan.
“Duduk,” kata Baskara singkat.
Ririn menurut, duduk agak kaku di ujung sofa, menjaga jarak aman hening sejenak lalu Baskara menoleh, nadanya berubah lebih rendah.
“Kamu… berapa kali pacaran?”
Ririn terkejut dia menoleh cepat. “Hah?”
“Pacaran,” ulang Baskara santai. “Berapa kali.”
Ririn ragu, jemarinya saling mengait. “Sekali, Pak.”
Baskara menatapnya kali ini jelas terkejut.
“Sekali?”
“Iya.”
“Cuman sama saya?”
Ririn menunduk tak menjawab, tatapan Baskara mengeras sebentar, lalu melunak.
“Kamu sama Iqbal nggak pacaran.”
Ririn menggeleng cepat. “Tidak, Pak.”
Baskara bersandar, menatap langit-langit senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Kenapa?”
Ririn terdiam lama dia berpikir sejenak, lalu menjawab jujur dengan suara pelan
"Kita cuman temenan pak,”
Baskara menoleh lagi, lalu mengangguk pelan.
“Iya sih,” katanya ringan. “Kayaknya nggak ada yang mau sama kamu.”
Ririn langsung mendongak.
“Maksud bapak,"
Dalam hati Ririn menggerutu, Sialan.
"Maksud saya kamu fokus aja kerja,"
Baskara melanjutkan seolah tak menyadari ekspresinya yang terlihat senang.
“Kamu masih inget nggak… kita pernah diam-diam masuk kamar kamu ” Ungkap Baskara tiba-tiba.
“Pak.” Ririn memotong cepat, dia langsung berdiri wajahnya memanas.
“Saya permisi pak sudah malam, saya lelah,” katanya tegas tapi tetap sopan. “Permisi.”
Ririn melangkah cepat ke pintu sedikit berlari kecil.
“Eh, Rin. Aku belum selesai," kata Baskara sambil sedikit terkeukeuh.
Klik.
Pintu sudah tertutup di balik pintu, Ririn menarik napas panjang, dadanya naik turun gila bos nggak waras.
Di ingatan Baskara, kamar itu tak pernah menjadi tempat yang memalukan.
Tak ada apa-apa yang berlebihan terjadi di sana. Tidak lebih dari dua anak muda yang jatuh cinta dan terlalu gugup untuk melangkah lebih jauh. Hanya sebuah kecupan singkat, canggung, penuh malu. Bibir yang saling menyentuh lalu buru-buru menjauh, diiringi tawa pelan dan jantung yang berdegup terlalu kencang.
Selebihnya, kamar itu lebih sering menjadi ruang diskusi.
Baskara duduk di lantai, Ririn bersila di atas karpet. Buku-buku terbuka, kertas penuh coretan. dia, kakak kelas yang lebih dulu paham pelajaran, walau berbeda kampus tapi mereka satu jurusan. Baskara menjelaskan dengan sabar, Ririn mendengarkan serius, sesekali mengangguk, sesekali mengernyit bingung.
Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Hanya jari yang tanpa sengaja saling bersentuhan saat mengambil buku.
Hanya pelukan singkat saat salah satu dari mereka lelah.
Pelukan yang menguatkan, bukan menuntut.
Ciuman pun hanya manis dan cepat, seperti janji yang belum berani diucapkan.
Dan kini, mengingat semua itu, Baskara tersenyum pahit. Yang banyak berubah ternyata hanya dirinya.
Baskara yang kini penuh rencana, penuh luka, penuh permainan adalah dia, dia yang terbiasa berkelit, menyakiti lebih dulu sebelum disakiti. Dia yang tak lagi sabar, tak lagi polos.