NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertanyaan?...

Suasana tenang itu seketika pecah. Sebuah mobil Avanza di depan mereka menginjak rem secara mendadak... Dan tanpa pemberitahuan.

[ Ciiiiittttt! ]

Mobil Alphard yang mereka tumpangi tersentak hebat. “Alah! Nyetir yang benar dong!” gerutu Pak Sopir sambil menginjak rem dalam-dalam untuk menghindari benturan.

Guncangan keras itu seketika membuat Killa dan Nadia terbangun dengan wajah terkejut.

Belum sempat rasa kaget mereka hilang, beberapa pria keluar dari mobil Avanza tersebut.

Mereka berjalan dengan langkah angkuh dan mulai menggedor kaca mobil Michelle dengan kasar. Begitu Pak Sopir menurunkan sedikit kaca jendela...

“Hei, Pak Tua! Nyetir yang benar dong!” bentak salah satu pria itu dengan nada bicara yang kasar dan tidak beraturan.

“Ealah, orang mabuk toh...” gumam Pak Sopir, menyadari aroma alkohol yang tajam dan tatapan kosong pria di hadapannya.

“Alah, banyak bacot!” bentak pria itu. Tanpa peringatan, ia menghantamkan botol minuman keras yang dipegangnya ke kepala Pak Sopir.

Prang!

“Woy!” Ken berteriak spontan. Ia langsung melompat keluar dari mobil, disusul oleh Andersen. “Apa maksud lo, hah?! Ngajak ribut?” tantang Ken dengan emosi yang menyulut.

Pria mabuk itu hanya menyeringai sinis, matanya merah dan gerakannya terlihat tidak beraturan. “Sudah deh, diam saja. Tidur sana, tidur... jangan banyak bacot,” sahutnya meremehkan.

“Ken! Andersen! Masuk ke mobil!” Killa berteriak dari jendela...

"Oalaaa.... bawa cewe... pantes sok jagoan kalian..." saut salah satu pria, dengan keadaan yang lebih stabil dan sambil menunjuk nunjuk kearah Ken dan Andersen.

“Sudahlah, habisi saja mereka! Kita akan bersenang-senang malam ini!” seru salah satu pria itu dengan seringai, setelah mendengar suara beberapa gadis dari dalam mobil.

Situasi menjadi tegang. Para pria itu kembali ke mobil Avanza mereka, mengambil senjata tajam yang tersimpan di sana, dan bergerak maju untuk menghabisi Ken serta Andersen.

“Cih, hanya tukang mabuk yang mencari masalah,” gumam Andersen dingin, matanya menatap tajam ke arah lawan.

“Bacot!” bentak salah satu pria yang merasa terhina karena serangannya meleset berkali-kali.

“Mati saja lo!” teriak pria lainnya yang membawa sebuah golok yang haus akan darah. Pria itu mengayunkan senjata tajam dengan kalap ke arah leher Andersen.

Namun, sebelum logam dingin itu sempat menyentuh kulitnya, Andersen dengan mudah menghindari ayunan tersebut.

Sebuah tendangan telak mendarat di perut pria itu, disusul pukulan keras yang menghantam tepat di wajahnya hingga ia tersungkur ke aspal.

Duak!

Jago juga lo, ucap salah satu pria sambil memegang senapa peluru angin. Pria itu mengarahkan senjatanya kearah Andersen dan Ken.

CHETAS!... CHETAS!...

Ken, yang tidak sempat bereaksi, tersentak saat peluru-peluru itu menghujam dan melubangi tubuhnya. Ia merintih kesakitan dan berusaha menutupi luka yang mulai berdarah.

Melihat Ken yang melemah, para pria mabuk itu seolah mendapat mangsa baru.

Mereka mengerumuni Ken yang sudah terjatuh, menghantamkan senjata tajam yang mereka pegang tanpa ampun. Darah mulai mengalir deras, membanjiri aspal dengan bau amis di bawah lampu jalan yang remang-remang.

“Cih, BAJINGAN!” teriak Andersen.

Andersen berlari dan ketika dirinya sudah mendekati pria yang sedang memegang senapan, Andersen lalu melompat dengan terjangan yang kuat.

Tanpa memberi celah untuk menghindar, Andersen menghujamkan pukulan berkali-kali ke wajah pria itu hingga hancur yang membuat lawannya terjatuh dengan suara yang cukup mengerikan.

Dengan gerakan cepat, Andersen merebut senapan angin tersebut. Ia memutar tubuh dan mengarahkan moncong senjata ke arah kerumunan pria yang sedang berusaha mendobrak pintu mobil Michelle.

CETHASSS!

Satu tembakan dilepaskan. Peluru itu meluncur dan menghantam salah satu pria, hingga ia tersungkur sambil merintih kesakitan.

“Hei, berhenti!” teriak Andersen, suaranya parau tertelan angin malam jalan tol.

Namun, respons yang ia dapatkan bukanlah ketakutan. “Woy... tenang, Bro... tenang...” Salah satu pria itu mengangkat tangan.

Detik berikutnya, rasa sakit yang tidak masuk akal menghujam punggungnya... sebuah sensasi panas yang menjalar lebih cepat dari sinyal saraf mana pun.

Saat ia memutar tubuh dengan sisa tenaganya, ia melihat sesosok siluet keluar dari kegelapan di balik mobil.

Pria itu berdiri tenang, sebatang rokok terselip di bibirnya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah pistol.

Pandangan Andersen mulai goyah. Cahaya lampu memudar dan sempat terlihat bergetar, lalu pecah menjadi bintik-bintik kegelapan yang melahap kesadarannya. Di tengah kekosongan itu, sebuah suara...

[ Keberuntungan... ]

Andersen tersentak. Napasnya memburu, paru-parunya seolah baru saja dipaksa menghirup oksigen setelah tenggelam.

Ia terduduk di kursi Mobil Michelle. Di belakangnya, Nadia dan Killa masih tertidur pulas dalam irama yang damai. Suasana di dalam kabin begitu tenang, hanya ada suara rendah dari deruh mesin mobil.

“Mimpi...” bisik Andersen pada dirinya sendiri, jemarinya yang gemetar menyapu keringat dingin di dahi. “Itu pasti hanya mimpi buruk.”

Saat ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup liar, matanya tertuju pada kaca depan.

Tepat di hadapan mereka, sebuah mobil Avanza hitam dengan pelat nomor yang identik dengan yang ada dalam ingatannya, tiba-tiba menginjak rem.

Pintu mobil yang ada di depan mereka terbuka, memuntahkan beberapa sosok pria...

Ketukan keras menghantam “Woy! Nyetir yang benar dong... Pak Tua!” teriak pria yang berdiri di garis depan. Aroma tembakau murah merembes masuk melalui celah udara, bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan.

Supir Michelle baru saja hendak membuka mulut untuk membela diri ketika pria itu menyeringai dingin. “Tidak tahu sopan santun ya? Kurang ajar.”

Tanpa peringatan, pria itu menarik sebuah pistol dari balik pinggangnya.

DAR!

Cairan merah pekat memercik ke arah dasbor, sebuah pemandangan yang terjadi dalam hitungan milidetik.

“Malam ini, kita akan bersenang-senang kawan,” ucap pria itu sambil mengembuskan asap rokoknya dengan tenang. Matanya yang gelap melirik ke arah kabin belakang. “Ada banyak mangsa cantik di dalam mobil ini.”

Ken, didorong oleh adrenalin murni dan amarah, membuka pintu mobil dengan kasar. Andersen menyusul di belakangnya, pikirannya berteriak agar ia berhenti... Namun tubuhnya bergerak secara tidak sadar.

Mereka belum sempat menginjakkan kaki dengan kokoh di atas aspal, ketika moncong pistol itu kembali memuntahkan api.

DAR! DAR!

Dunia seolah berputar. Gravitasi menarik Andersen dan Ken jatuh menghantam aspal jalan tol yang kasar. Rasa panas yang melumpuhkan menjalar di dada Andersen..

Pikirannya kebingungan karena mencerna apa yang sedang terjadi... Saat kegelapan mulai menutup penglihatannya untuk kedua kalinya, sebuah gema mekanis kembali beresonansi di dalam kerongkongan batinnya. Sebuah kata yang terasa seperti ejekan.

[ KEBERUNTUNGAN... ]

Andersen kembali tersadar saat keadaan mobil michelle sedang sunyi. Otaknya mulai membanjirinya dengan berbagai pertanyaan dan ingatan tentang apa yang baru saja terjadi. Andersen masih terasa berat untuk sekdar mengangkat tangan yang dimiliki olehnya.

Tangannya menyanggah di kursi supir... pak, apakah kita bisa lebih cepat?.... ucap Andersen. Walaupun ia sudah mengalami kejadian ini 2 kali, Andersen masih harus mengolahnya dengan sulit.

Ia tidak mengetahui apakah hal ini adalah yang benar, tetapi menurutnya cukup pantas dicoba...

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!