NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Ambisi Keluarga Julia

Siang telah berganti malam, kini Arga berada diruang kerjanya, menatap layar laptop memeriksa beberapa email yang masuk, namun fikiran nya tidak fokus. Arga teringat kembali pada ucapan Luna siang tadi.

“Tante Julia nggak sebaik Kak Vara.”

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.

Selama ini, Arga mengenal Julia sebagai sosok yang lembut, santun, dan penuh perhatian. Ia tak pernah sekalipun melihat Julia bersikap kasar pada Luna. Bahkan Julia selalu terlihat berusaha dekat dengan keponakannya.

Lalu… apa yang sebenarnya terjadi?

Julia adalah putri dari sahabat dekat ayah nya. Karena kedekatan itu, Arga dan Julia sering bertemu sejak kecil hingga akhirnya berteman. Namun tak pernah ada perasaan lebih dari Arga. Sementara Julia, ia sangat berharap agar bisa memiliki Arga. Bahkan harapan itu sudah lama Julia pendam.

Arga menutup laptopnya pelan.

Ia harus memastikan sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi.

Langkahnya membawa Arga menuju kamar Luna. Ia sempat mengira keponakannya itu telah tidur, namun ternyata Luna masih terjaga, ia duduk di atas ranjang sambil membaca buku cerita favoritnya.

“Luna belum tidur?” tanya Arga lembut.

“Belum, Om. Luna belum ngantuk,” jawab Luna lembut.

Luna lalu menutup bukunya dan menatap Arga penuh harap.

“Om, gimana Kak Vara? Om terima ya, kak Vara bekerja di perusahaan?”

Pemintaan itu lagi. Memang Arga tidak akan pernah menolak permintaan keponakan nya selama itu permintaan yang wajar. Tapi kali ini, Arga tidak bisa mengiakan begitu saja. Karena hal ini bersangkutan dengan perusahaan, Arga harus profesional.

Arga tersenyum tipis. “Kita lihat nanti, ya. Kalau dia memang pantas, Om pasti terima. Tapi kalau ada yang lebih baik, Om harus adil.”

Luna mengangguk pelan. “Iya, Om. Luna ngerti.”

Arga duduk di tepi ranjang. Nada suaranya merendah.

“Luna… Om mau Luna menceritakan kejadian siang tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?.”

Luna terdiam sejenak, lalu mulai bercerita.

“Tadi Luna pulang sekolah lebih cepat. Karena Guru-guru ada rapat,” Luna bercerita sambil menatap Arga. “Luna pikir lebih baik ke kantor Om daripada pulang ke rumah dan ketemu Tante Ju.”

Arga mengernyit samar, tapi memilih diam.

“Pas Luna sampai kantor, ternyata Om lagi Meeting. Luna turun lagi ke bawah… terus Luna nggak sengaja nabrak pegawai Om. Mungkin dia orang baru, jadi nggak kenal Luna. Dia marah-marah,” lanjut Luna lirih.

“Luna sudah minta maaf, tapi wanita itu masih marah. Tiba-tiba Kak Vara datang, Om. Kak Vara bela Luna.”

Arga terdiam. Dadanya terasa menghangat, dan sekaligus gelisah.

“Lalu kenapa Luna nggak mau ditemani Tante Julia?” tanya Arga hati-hati. “Bukankah dia sayang Luna?”

Luna menunduk. Jari-jarinya memainkan ujung selimut.

“Tante Ju… nggak seperti yang Om pikir kan,” ucapnya singkat.

“Kenapa begitu?” tanya Arga lembut.

Namun Luna tak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, lalu berbaring dan memeluk bonekanya..

Arga tak memaksa.

“Sudah malam,” kata Arga akhirnya. “Tidurlah.”

Ia menyelimuti Luna, mengecup keningnya, lalu mematikan lampu. Arga memiringkan tubuh nya lalu membelai kepala Luna lembut," maaf kan Om, Om janji akan mencari tahu penyebab kematian orang tua Luna. Dan Om janji tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Luna." Janji Arga dalam hati,

Setelah memastikan Luna telah tidur, perlahan Arga beranjak dari sisi Luna. Dan membiarkan gadis kecil itu melewati malam dengan tenang.

Saat keluar dari kamar, langkah Arga terasa lebih berat.

Ia segera menuju ke lantai bawah, Arga memanggil para pelayan. Setelah para pelayan berkumpul ia bertanya dengan tenang, namun tegas.

"Bagaimana sikap Julia saat aku tidak ada di rumah?"

Sebagian besar pelayan mengatakan Julia tampak baik pada Luna. Rina bahkan menambahkan bahwa Julia sering membelikan Luna camilan.

Namun Bi Wina, kepala pelayan, ragu sejenak sebelum berbicara.

“Saya pernah melihat Nona Luna mengambilkan air untuk Nona Julia, Tuan,” ucapnya pelan. “Padahal… itu seharusnya bukan tugas Nona Luna. Saat saya bertanya, Nona Julia mengatakan jika itu kehendak Nona Luna sendiri.”

Arga terdiam.

Potongan-potongan penjelasan itu mulai membentuk bayangan yang tak utuh, namun cukup untuk menimbulkan kecurigaan.

Ia tahu satu hal.

Ia tidak bisa mengambil kesimpulan terburu-buru.

Namun ia juga tak akan tinggal diam.

Jika ada seseorang yang berani menyakiti Luna,

maka orang itu telah menggali kuburannya sendiri dan memilih musuh yang salah.

---

Di kediaman keluarga Julia, suasana malam terasa hangat, namun penuh ambisi. Julia duduk di sofa ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Televisi menyala tanpa benar-benar mereka tonton.

Steven, ayah Julia, meletakkan cangkir kopinya lalu menatap putrinya dengan penuh perhitungan.

“Bagaimana, Julia?” tanyanya. “Apa sudah ada perkembangan dengan Arga? Apa kamu bisa semakin dekat dengannya?”

Julia menghela napas pelan.

“Sampai sekarang masih begitu-begitu saja, Pa. Arga tidak pernah menganggapku istimewa. Kami hanya berteman… seperti biasa.”

Raut wajah Steven berubah tegas.

“Kamu harus lebih agresif, Julia. Masa hal seperti ini Papa yang harus turun tangan?”

Julia terdiam.

Steven menyandarkan tubuhnya, suaranya terdengar dingin namun penuh ambisi.

“Papa sudah membuka jalan untukmu. Papa yang membuatmu dekat dengan Arga sejak kecil. Sekarang kamu harus memanfaatkan kesempatan itu.”

Ia teringat masa lalu, saat Arga dan Julia masih anak-anak. Steven kerap berkunjung ke rumah keluarga Wisesa, sengaja membawa Julia agar keduanya akrab. Baginya, kedekatan itu adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

Karena tujuan Steven tak lain jika putri nya berhasil memikat Arga tentu saja itu akan berdampak pada perusahaan nya. Dan tentunya keluarga mereka juga akan menjadi keluarga yang disegani.

Diana, ibu Julia, ikut menimpali dengan senyum tipis.

“Kamu bebas keluar masuk rumah Arga, Julia. Manfaatkan itu. Cari cara untuk menarik perhatiannya.”

Julia mengernyit kesal.

“Tidak semudah itu, Ma. Arga hampir seharian di kantor. Dan kalau sudah pulang, yang dia cari hanya keponakannya itu.”

“Kalau begitu,” ucap Diana santai, “ambil hatinya lewat anak itu.”

Julia mendecak.

“Kalian tahu sendiri aku tidak suka anak kecil. Mereka itu merepotkan.”

Steven menatap putrinya tajam.

“Mau bagaimana lagi. Kalau kamu tidak bisa mengambil hati keponakan Arga, jangan harap kamu bisa mendapatkan Arga.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

“Pastikan anak itu berada di bawah kendalimu. Buat dia hanya mengatakan hal-hal baik tentangmu.”

Julia tersenyum tipis. Matanya berkilat penuh perhitungan.

“Iya, Pa. Tenang saja,” ujarnya yakin. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan berusaha sebaik mungkin mendekatinya.”

Ia bersandar pada sofa, dan senyumnya melebar.

“Dan setelah aku mendapatkan Arga… aku pastikan anak itu tidak akan berada di sisinya lagi.”

Steven tertawa kecil. Merasa bangga dengan rencana putri nya.

“Begitu dong anak Papa. Kalau kamu berhasil memiliki Arga, sudah pasti posisi keluarga kita akan diperhitungkan.”

Diana pun ikut tersenyum bangga.

“Bayangkan nanti, Mama bisa membanggakanmu pada semua teman-teman Mama. Kamu akan menjadi Nyonya Wisesa, dihormati, disegani.”

Mereka bertiga larut dalam keyakinan dan ambisi masing-masing. Tak satu pun dari mereka memikirkan risiko, dari keinginan itu.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!