Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Harga Sebuah Senyuman
Malam itu, perpustakaan terasa lebih sunyi dari biasanya. Setelah mengunci pintu depan, Genevieve tidak langsung pulang. Ia menyeret langkahnya menuju meja kayu besar di sudut terjauh, tempat di mana bayangan rak buku menyembunyikannya dari jendela dunia luar.
Ia duduk di atas meja, membiarkan kakinya menjuntai lemas. Di sini, di bawah temaram lampu meja yang berkedip, topeng "Miss Genevieve" yang ceria perlahan retak.
Pikirannya melayang kembali ke sebuah ruang tamu kecil yang pengap beberapa tahun lalu.
Ia teringat suara ayahnya yang berat, mendiskusikan angka-angka hutang di atas meja makan, sementara ibunya menangis terisak—bukan karena kasihan padanya, tapi karena takut akan kemiskinan.
"Pria dari kota seberang itu kaya, Genevieve.
Dia bisa menjamin masa depan kakakmu di universitas dan pengobatan adikmu," suara ibunya terngiang seperti kutukan. "Kau satu-satunya harapan kami. Anggap saja ini pengabdianmu pada keluarga."
Genevieve memejamkan mata erat, memeluk lututnya sendiri. Ia hampir dijual. Darah dagingnya sendiri melihatnya tak lebih dari sekadar barang dagangan untuk menyelamatkan anggota keluarga yang lain.
Demi membiayai ambisi kakak perempuannya dan napas adik laki-lakinya, Genevieve adalah tumbal yang sudah dipersiapkan.
Ia memang berhasil melarikan diri malam itu, namun ia tidak pernah benar-benar "bebas". Ia bekerja mati-matian, mengirimkan sebagian besar gajinya untuk mereka setiap bulan, dan menulis surat-surat penuh kebohongan tentang betapa bahagianya ia di kota ini.
Ia tersenyum sepanjang hari agar tidak ada yang bertanya mengapa matanya selalu terlihat lelah.
"Aku lelah menjadi pahlawan bagi orang-orang yang rela menghancurkanku," bisiknya lirih.
Satu tetes air mata jatuh, membasahi permukaan meja kayu. Genevieve menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya, membiarkan bahunya berguncang dalam isak tangis yang tertahan. Ia merasa kosong.
Ia merasa seperti sebuah vas bunga indah yang di dalamnya penuh dengan keretakan, yang siap hancur hanya dengan satu sentuhan kecil.
Ia merasa sendirian di dunia ini.
Begitu terasing.
Kesunyian perpustakaan di malam hari biasanya menjadi pelipur lara bagi Genevieve, namun malam ini, keheningan itu terasa mencekam.
Sebagai pustakawan shift malam, Genevieve memang memiliki hak istimewa sekaligus beban: ia diizinkan tinggal di sebuah kamar kecil di loteng perpustakaan sebagai bagian dari upah kerjanya.
Perpustakaan tua ini adalah satu-satunya atap yang ia miliki, satu-satunya tempat di mana ia bisa bersembunyi dari bayang-bayang orang tuanya yang mungkin masih mencarinya.
Ia menyeka air matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan gaunnya. "Cukup, Genevieve. Menangis tidak akan membayar tagihan obat adikmu," gumamnya pada diri sendiri.
Ia mulai melakukan rutinitasnya.
Memeriksa kembali buku-buku yang dikembalikan, merapikan kursi, dan memastikan lilin-livel di koridor utama tetap menyala.
Namun, ada perasaan aneh yang merayap di tengkuknya. Seolah-olah udara di sekitarnya menjadi lebih dingin, dan aroma debu kertas tua bercampur dengan sesuatu yang tajam—seperti wangi hutan setelah hujan badai.
Saat ia melangkah menuju lorong Literatur Klasik, ia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah buku bersampul kulit hitam tergeletak di lantai, tepat di tengah jalan.
"Aneh, tadi aku sudah merapikan area ini," bisiknya.
Genevieve membungkuk untuk mengambil buku itu.
Judulnya telah pudar, namun di dalamnya terselip sebuah mawar merah yang tampak sangat segar—terlalu segar untuk berada di dalam perpustakaan yang tertutup rapat.
Begitu jarinya menyentuh mawar itu, sebuah suara rendah yang bergetar seperti dawai cello menyapa dari kegelapan rak di depannya.
"Mawar itu melambangkan keindahan yang tumbuh dari luka. Sangat mirip denganmu, Genevieve Isolde Clara."
Genevieve tersentak hingga hampir menjatuhkan buku tersebut. Dari balik bayangan rak buku yang menjulang, sesosok pria melangkah keluar.
Ia sangat tinggi, mengenakan setelan hitam formal dengan jubah panjang yang menyapu lantai. Kulitnya pucat seperti pualam, kontras dengan rambut gelapnya yang tertata rapi.
Itulah Valerius Theodore Lucien.
Genevieve terpaku. Ia seharusnya merasa terancam—pria ini adalah orang asing yang masuk ke perpustakaan yang sudah terkunci.
Namun, saat mata mereka bertemu, Genevieve merasakan sentakan di dadanya. Sebuah ikatan batin yang tak masuk akal seolah menarik jiwanya menuju pria itu.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Genevieve, mencoba mempertahankan suaranya agar tetap tegas meski hatinya berdegup kencang.
Valerius tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat—sangat dekat hingga Genevieve bisa melihat kilat kemerahan di pupil matanya.
Valerius mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Genevieve yang masih lembap oleh sisa air mata, namun ia menahannya di udara.
"Aku adalah seseorang yang telah memperhatikanmu sejak lama, Genevieve," ucap Valerius dengan nada posesif yang kental.
"Aku melihatmu tersenyum pada anak-anak itu di siang hari, dan aku melihatmu hancur di meja ini di malam hari. Aku tahu harga yang harus kau bayar untuk kebebasanmu."
Genevieve mundur selangkah, napasnya memburu. "Kau... kau menguntitku?"
"Aku menjagamu," koreksi Valerius, suaranya kini lebih lembut namun tetap mengintimidasi. "Dunia ini tidak pantas memilikimu.
Orang-orang yang menyebut diri mereka keluargamu bahkan tidak pantas menyebut namamu. Kau tidak perlu lagi menumpang hidup di tempat berdebu ini."
keren
cerita nya manis