Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Story of Bei Chen.
Seminggu setelah berkunjungnya Bei Chen ke kota administrasinya, TONG FENG.
“ Uhuk .. Uhuk..Pufftt,” segumpal darah kecil berwarna hitam memercik saat bei Chen memuntahkan makanannya.
Chen si sangat ketakutan hingga tubuhnya gemetar.
“ Tu .. Tuan muda, Anda tidak apa – apa?” Tanyanya setelah semenit kemudian. Chen Si berlutut di depan Bei Chen yang tampak tenang dan anggun dengan gerakan mengusap mulut menggunakan sapu tangan sutranya.
“ Rasanya sedikit lega,” gumam Bei Chen terdengar sedikit keterkejutan didalam nadanya. Chen Si masih menunduk ketakutan.
“ Bangkitlah, benar – benar terasa lega didadaku,” ucap Bei Chen dengan datar dan tak berdaya.
Berawal dari melewati sebuah restoran yang tampak sangat ramai saat sedang berkeliling kota Tong Fen, Chen Si iseng membeli sebuah lauk yang berada di dalam botol kemasan. Pelayan di restoran tersebut mengatakan jika benda itu bernama sambal kemasan, sebuah rasa yang asing menurut Chen Si dan membuatnya langsung tertarik.
Ia mengeluarkan 750 rupiah untuk sebotol kecil sambal yang ‘katanya’ sangat enak dan cocok dicampur dengan nasi, mie ataupun bakpao.
Chen Si kembali ke kediaman pangeran Chen dan ingin mencoba, lalu tanpa sengaja Bei Chen memergokinya.
Sebagai seorang pecinta kuliner, Bei Chen tanpa memperdulikan latar belakangnya sebagai majikan langsung meminta sesendok penuh sambal lalu mengoleskannya ke atas bakpao hangat.
Ledakan rasa pedas gurih dan harum dari perpaduan bakpao dan sambal langsung pecah didalam mulut Bei Chen. Ia terlihat sangat menikmatinya.
Tetapi, selang 5 menit kemudian, racun yang sudah bersarang di tubuhnya sedikit bereaksi. Sebelum Chen Si sempat memanggil tabib, Bei Chen sudah muntah darah hitam, darah yang berisi racun.
“ Kenapa racunnya bereaksi?” tanya Chen Si yang kebingungan. Setelah peristiwa hampir 3 bulan yang lalu dimana sang pangeran pergi tanpa pengawalan dan disergap lalu diselamatkan oleh gadis desa, racun pangerannya sudah tidak bereaksi, lebih tepatnya tabib mengatakan jika Racunnya berhasil ditekan sedemikian rupa.
“ Di mana kau membeli benda ini?” tanya Bei Chen sambil menunjuk sambal kemasan yang isinya tinggal setengah.
Chen Si mengikuti arah telunjuk Bei Chen dan sedikit tertegun.
Pangerannya ini,, agak tidak biasa, bukan? Bukankah kita sedang membicarakan racun? Kenapa malah masih memikirkan makanan?
Tetapi Chen Si hanyalah bawahan yang setia, ia tidak berani mempertanyakan pikiran sang majikan.
“ Menjawab, Tuan. Saya membelinya di sebuah restoran yang sangat ramai di pusat kota,” jujur Chen Si.
Bei Chen tampak merenung. Ia memiliki tebakan sedikit gila dan berani, racunnya bereaksi dan memaksa keluar, apakah karena memakan ini?
Pemikiran ini terlintas begitu saja karena sedari pagi ia hanya makan makanan biasa dan hanya setelah menelan sambal ini ia langsung muntah.
Bei Chen sedikit mengernyitkan keningnya, besok ia akan membelinya secara langsung.
Sebenarnya, pikiran Bei Chen tidak sepenuhnya salah. Sambal kemasan ini adalah yang dijual di restoran Sedap Makan. Dan merupakan hasil panen dari ruang ajaib.
Ia tumbuh dan panen di ruang ajaib tersebut, menyerap air lingquan dan otomatis memiliki sedikit fungsi dari air lingquan yang menetralkan segala racun.
...****************...
Keesokan harinya
Dengan mengenakan topeng perak dan tampilan seperti seorang pelajar yang anggun, Bei Chen meminta Chen Si untuk memimpin jalan. Ia mengunjungi restoran Sedap Makan secara langsung.
“ Silahkan, bisakah saya mencatat pesanan Anda?” suara Ceria dari A Ming segera terdengar. Bei Chen sedikit tertegun dengan sapaan yang menurutnya baru ini.
“ Berikan kami hidangan favorit kalian,” Chen Si yang mengambil alih jawaban. A Ming tersenyum ramah dan mencatatnya.
“ Untuk hidangan Favorit kami, kami menyediakan rasa pedas dengan level tertentu. Bisakah Anda memberitahu kami berapa takaran kepedasan Anda?” Tanya A Ming lagi.
“ Apakah ada hal seperti itu?” kali ini Bei Chen yang bertanya. Sudah heran dengan sapaan yang unik, kini ia kembali dikejutkan dengan variasi tingkat kepedasan masakan.
“ Benar. Kami akan menyesuaikan tingkatnya sesuai dengan kesanggupan kalian,” A Ming tampak sabar menjelaskannya.
Hal ini adalah usulan dari Su Ran. Ia bukan hanya mengganti beberapa dekorasi menjadikan restoran semakin terlihat segar, tetapi juga mengusulkan perbaikan pelayan konsumen.
Dan ini semua terbukti. Awalnya banyak yang tertegun seperti reaksi Bei Chen tetapi kemudian para pelanggan menerima sikap ramah dengan gembira, membuat restoran menjadi semakin ramai.
“ Kami tidak takut pedas, berikan kami level sedang dan tertinggi. Juga, bisakah saya memesan sambal kemasan itu?” Bei Chen menjadi aktif dalam berbicara. Chen Si bahkan terkejut dengan sikap Bei Chen yang terkenal dengan irit bicaranya.
Benar – benar, makanan enak mengubah kebiasaan!
“ Wah, kebetulan sekali sudah ada stok terbarunya, baru datang dua hari yang lalu. Anda bisa langsung memesannya,” A Ming penuh semangat.
Chen Si hampir saja menyemburkan air putih yang terhidang. Mahal sekali! Tetapi jika ia teringat dengan rasa lezat variasi original kemarin malam, ia merasa harganya cukup sepadan. Apalagi ini adalah jenis makanan baru. Chen Si belum mendengar adanya tanaman yang digunakan untuk membuat sambal ini. cabai kata pelayan tadi.
“ Baik, aku akan memesan 5 botol ,” Bei Chen memesan tanpa memejamkan mata. Tidak sayang uang sama sekali.
“ Baik – baik, saya akan segera menyampaikan pesanan Anda. Silahkan menunggu sejenak sampai makanan Anda siap,” A Ming rasanya ingin terbang untuk menyampaikan pesanan besar ini.
Meskipun sudah terbiasa dengan ramainya pelanggan, A Ming terkadang masih belum percaya jika restoran tempatnya bernaung kembali ke masa jayanya, bahkan melebihi masa jaya dahulu kala!.
Ini semua adalah berkat dari Xiao Rannya, dewa kekayaan restoran Sedap Makan.
“ Hatchi ... Hatchi...” Su ‘si dewa kekayaan’ kini sedang mengusap hidungnya dan merasakan jika tengkuknya meremang.
“ Gila, siapa yang sedang mengumpatku,” gumamnya sambil melanjutkan aktivitasnya menggiling cabai – cabai dan bumbu lainnya menggunakan chopper.
...****************...
Back to story
“ Jadi, Fen Rui tetap dinikahkan ke keluarga Fu?” tanya Su Ran setelah sedari awal menyimak cerita Chen Rui yang sangat bersemangat.
“ Huum. Mau apalagi? Nyonya tua sudah menerima uang, lalu kudengar paman kepala desa juga ikut serta dalam perundingan. Huh, kau sangat tahu jika paman kepala desa sudah lama muak dengan tingkah keluarga Fen cabang pertama,” saat mengucapkan hal ini, Chen Rui menatap Su Ran dengan iba.
“ RanRan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu juga mendiang paman dan bibi di keluarga sana,” ucapnya sedih. Su Ran sedikit tertegun tetapi hatinya langsung menghangat.
“ Kami baik – baik saja. Ayah dan ibuku sebisa mungkin menjaga perasaan dan menuruti semua permintaan nyonya tua. Hanya saja, aku tetap tidak bisa mempertahankan peninggalan mereka,” jawab Su Ran dengan senyum pasrah.
“ Ya, tidak apa. Paman dan bibi pasti akan mengerti. Sekarang, kau memiliki kami, kami adalah keluargamu,” Chen Rui begitu bersemangat lagi.
Su Ran tersenyum manis. Ia menerawang jauh ke depan sana.
“ Ya. Kali ini aku pasti akan menjalani kehidupan yang bahagia...”