NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - PECAHAN MASA LALU

Lampu neon rumah sakit menyakiti mata. Akselia terbangun dengan infus menancap di tangannya dan bunyi mesin monitor jantung yang berdecit monoton. Kamar rawat inap kelas tiga... sempit, tembok cat putih mengelupas, aroma antiseptik bercampur bau karbol.

"Kamu akhirnya bangun."

Suara itu... Suara yang tidak pernah Akselia kira akan didengarnya lagi.

Pak Dharma duduk di kursi lipat samping ranjang. Pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis kiri, rambut memutih di bagian samping, tapi tubuhnya masih tegap seperti petarung profesional. Tatapannya tajam tapi hangat, tatapan guru yang melihat muridnya jatuh dan bangkit berkali-kali.

"Pak..." suara Akselia serak.

"Jangan bicara dulu." Pak Dharma menuangkan air putih ke gelas. "Minum."

Akselia meneguk air itu perlahan. Dingin. Tenggorokannya terasa seperti digores silet.

"Bayiku?" tanyanya pelan, meski sudah tahu jawabannya.

Pak Dharma menggeleng. "Maaf, bayimu tidak bisa diselamatkan."

Akselia menutup mata, tidak ada air mata. Entah karena sudah kering atau karena sesuatu di dalam dirinya sudah mati bersama bayi itu.

"Dokter bilang kamu kehilangan banyak darah. Kalau aku tidak datang..." Pak Dharma menghela napas. "Beruntung aku masih punya kontak tukang ojek di apartemenmu. Dia yang kasih tahu kalau ada suara aneh dari kamarmu."

"Berapa lama aku di sini?"

"Dua hari."

Dua hari... Berarti sekarang sudah... Akselia melirik kalender di dinding, tanggal sepuluh. Tanggal yang seharusnya dia pakai untuk memberi kejutan ke Kevin. Kejutan kehamilan, kejutan bodoh dari perempuan bodoh.

"Kamu bilang mau kembali." Pak Dharma bersandar di kursi, menatap Akselia dengan serius. "Kembali ke dunia lama, kenapa?"

Akselia tertawa pahit. "Karena aku sudah mencoba jadi orang baik, Pak. Dan lihat hasilnya."

"Cerita."

Jadi Akselia cerita. Tentang Kevin Pratama yang pertama kali mampir ke restoran tempatnya kerja setahun lalu. Tentang bagaimana pria itu pesan menu termahal tapi makan sendirian, terlihat kesepian di meja pojok. Tentang bagaimana Kevin meninggalkan tip besar dan kartu nama dengan tulisan tangan [Pelayanannya bagus, boleh aku ajak makan lain kali?]

"Aku pikir dia beda," lanjut Akselia, menatap infus di tangannya. "Dia perhatian. Selalu tanya kamu sudah makan belum, kamu capek tidak, kamu butuh apa. Tidak pernah ada yang perlakukan aku seperti itu sejak... sejak Aksana meninggal."

Pak Dharma mengerutkan kening mendengar nama itu, tapi tidak menyela.

"Kevin tahu aku pelayan, tahu aku tinggal di apartemen sempit. Tapi dia bilang tidak masalah, dia bilang cinta bukan soal uang atau status." Akselia tersenyum miris. "Ternyata semua bohong, ternyata aku cuma hiburan sampai dia siap nikah sama perempuan seumurannya. Perempuan yang cantik, kaya, terkenal. Perempuan yang... yang levelnya sesuai."

"Dan sekarang kamu mau balas dendam?"

"Ya." Tidak ada keraguan di suara Akselia. "Aku mau mereka merasakan sakit yang aku rasakan, aku mau mereka hancur."

Pak Dharma terdiam lama. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi.

"Akselia, kamu ingat kenapa kamu berhenti dulu?"

Tentu saja Akselia ingat.

***

FLASHBACK - TIGA TAHUN LALU

Malam hujan... Akselia baru selesai latih murid baru di dojo. Aksana seharusnya menunggu sampai selesai, tapi adiknya itu ngambek karena Akselia tidak jadi nonton film bareng.

"Aku pulang duluan aja!" Aksana melempar tas ke pundak. "Kakak lebih sayang murid-murid daripada aku!"

"Aksana, jangan ngambek..."

"Bodo amat!"

Aksana langsung keluar dari tempat latihan. Akselia sempat mau kejar, tapi murid barunya bertanya soal teknik bantingan. Akselia menunda. Nanti aja deh telepon Aksana setelah selesai latihan, pikirnya.

Tapi, tiga puluh menit kemudian, telepon masuk dari rumah sakit.

Aksana tertabrak mobil di zebra cross, tabrak lari, sopirnya kabur. Adiknya... adik semata wayangnya yang ceria, yang suka curi cemilan Akselia, yang manja dan cerewet itu meninggal di tempat sebelum ambulans datang.

Akselia hancur, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri.

Pak Dharma yang menemukannya seminggu kemudian, duduk termenung di ring kosong, tidak makan, tidak tidur.

"Aku yang bunuh dia, Pak," Akselia berbisik saat itu. "Kalau aku tidak sibuk latih murid, kalau aku perhatian ke Aksana..."

"Kamu tidak bunuh dia. Pengemudi brengsek itu yang bunuh dia."

"Tapi aku..."

"Akselia." Pak Dharma memaksa Akselia menatapnya. "Kamu bisa pilih. Mau tenggelam dalam rasa bersalah, atau bangkit dan cari cara berdamai dengan semua ini."

Tapi Akselia tidak bisa, terlalu sakit. Jadi dia lari meninggalkan dojo, meninggalkan murid-murid, meninggalkan identitasnya sebagai pelatih bela diri yang pernah menang tujuh kejuaraan berturut-turut.

Jadi orang biasa, jadi pelayan restoran, jadi tidak ada siapa-siapa.

***

KEMBALI KE MASA KINI

"Aku ingat, Pak," jawab Akselia pelan. "Tapi ini beda, Aksana meninggal karena kecelakaan. Kevin... Kevin sengaja menghancurkanku. Dia pakai perasaanku, dia bikin aku percaya, terus dia buang aku seperti sampah."

"Dan kamu pikir balas dendam akan bikin kamu lebih baik?"

"Aku tidak peduli jadi lebih baik atau tidak." Mata Akselia menyala. "Aku cuma mau mereka tahu rasanya dikhianati. Rasanya kehilangan sesuatu yang berharga, rasanya... rasanya jadi tidak berdaya."

Pak Dharma menatapnya lama. Lalu perlahan, dia mengangguk.

"Oke."

Akselia tersentak. "Oke?"

"Oke, aku bantu kamu." Pak Dharma berdiri, memasukkan tangan ke saku celana. "Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kamu harus kembali berlatih, serius tidak setengah-setengah. Kamu bilang mau kekuatanmu kembali? Maka kamu harus mulai dari nol lagi. Otot-ototmu sudah lemah, refleksmu sudah tumpul. Kamu sekarang cuma bayangan dari Akselia yang dulu."

Akselia menelan ludah, dia tahu Pak Dharma benar. Setahun jadi pelayan, tubuhnya melembek. Tangannya yang dulu bisa mematahkan tulang sekarang cuma bisa mengangkat nampan.

"Berapa lama?"

"Minimal tiga bulan. Latihan intensif, diet ketat, mental training." Pak Dharma menatapnya tajam. "Dan dalam tiga bulan itu, kamu tidak boleh kontak sama Kevin atau orang-orangnya. Kamu fokus jadi kuat dulu. Kalau kamu mau balas dendam, kamu harus punya pondasi. Mengerti?"

Tiga bulan... Lama... Tapi Akselia sudah menunggu setahun untuk Kevin yang ternyata bohong, tiga bulan bukan apa-apa.

"Aku mengerti."

"Bagus." Pak Dharma menuju pintu, lalu berhenti. "Oh ya, aku sudah urus apartemenmu."

"Urus?"

"Kevin benar. Dia memang mengkosongkan apartemenmu, barang-barangmu dibuang semua." Pak Dharma berkata tanpa emosi, tapi Akselia bisa lihat amarah terpendam di matanya. "Tapi aku sudah mengambil surat kontraknya, ternyata nama penyewa bukan kamu. Nama Kevin. Berarti secara hukum, kamu cuma 'tamu' yang tinggal di sana."

Tentu saja. Kevin tidak pernah berniat serius.

"Jadi sekarang kamu tinggal di mana?"

"Kamu ikut aku. Aku punya kamar kos di belakang dojo, gratis. Tapi kamu harus bantu-bantu ngajar murid pemula sebagai bayaran."

Akselia mengangguk, tidak ada pilihan lain. Dan sejujurnya, dia rindu dojo itu. Rindu aroma matras, rindu suara pukulan ke samsak, rindu jadi dirinya yang dulu.

"Pak Dharma." Akselia memanggil sebelum mentornya keluar. "Terima kasih."

Pak Dharma melirik dari balik bahu, setengah tersenyum. "Jangan berterima kasih dulu. Latihanku kejam, kamu ingat kan? Tiga bulan ke depan kamu akan menyesal."

"Aku tidak akan menyesal."

"Kita lihat saja."

Pintu tertutup. Akselia sendirian lagi di kamar rumah sakit yang dingin.

Tangannya menyentuh perut yang sudah kosong. Tidak ada bayi lagi di sana, tidak ada harapan lagi untuk keluarga kecil bahagia bersama Kevin.

Yang ada hanya amarah.

Dan amarah, Akselia baru ingat, selalu jadi bahan bakar terbaiknya di ring.

"Tiga bulan," gumamnya, menatap langit-langit. "Tiga bulan aku akan jadi kuat lagi. Lalu Kevin Pratama... kamu akan menyesal pernah kenal aku."

Di luar jendela, langit mulai gelap. Hujan gerimis, persis seperti malam Aksana meninggal.

Tapi kali ini, Akselia tidak akan lari.

Kali ini, dia akan berburu.

1
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
ikhlas itu latihannya seumur hidup dg bersabar dg airmata..hasilnya luarbiasa👍👍👍 goodjob akselia..💪💪💪 thor😍😍
Lienaa Likethisyow
goodjob👍👍 akselia..memaafkan membuat hati lega dan juga damai💪💪💪
Asyatun 1
lanjut
Dew666
👍👍👍👍
Nada She Embun
maafkan dirimu sendiri.... cintai dirimu sendiri... jangan beratkan dirimu dengan hal yg bahkan di luar kendali mu... kamu cukup untuk dirimu... 💜... mencintai diri sendiri bukan egois... itu pertahanan untuk mental yg lebih sehat... banggalah pada dirimu... kamu yg terbaik...
author terbaik.. 😍
Lienaa Likethisyow
semangat selia jadi diri sendiri,hargai,cintai dirimu sendiri👍👍👍💪💪💪
Soraya
mampir thor
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Erni Noviyanti
tuh dengerin,ada yg gampang ngapain nyari yg sulit.
Lee Mbaa Young
🤣🤣🤣 syukurin kalah kan. balas dendam kok naggung. lek ijek bucin rasah koar koar balas dendam memalukan.
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Erchapram: Jangan... ceritanya masih panjang, kita lihat dulu bagaimana perjuangan Akselia. 🙏
total 1 replies
vj'z tri
jurus buat ngalahin musuh ,malah dipakai musuh duluan 😅😅😅🤧🤧🤧🤧
Lee Mbaa Young: la dia bucin mkne gk tega kn menghancurkan lawan.
ngunu koar koar balas dendam.
wanita gk punya kemampuan kok bls dendam 🤣 apa nya yg di balas. yo mnding pergi jauh cari laki lain lah.drpd memalukan.
total 1 replies
Erni Noviyanti
kalau lemah ngga usah mikir bales dendam.mending pergi jauh mulai kehidupan yg baru.kasian orang yg udh banyak berkorban.
Lee Mbaa Young: laiya wong lemah kok balas dendam. yo mnding move on lah. cari laki lain. 🤣🤣🤣.
total 1 replies
Sunaryati
Setiap nongol langsung disikat, mana ada tabungannya🤣🤣🤭💪 Thoor
Sunaryati
Sudah berhasil menjerat Kevin, tapi tetap ragu ambil keputusan
Lienaa Likethisyow
lanjuuuuuuuuutttttttt....💪💪💪💪👍👍👍
Erchapram
Besok Novel ini libur update, jadi yang masih ditabung yukkk... bongkar dulu tabungannya, baca dulu sampai di bab akhir. Biar aku semangat lanjut...

Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.

Terima kasih.
Asyatun 1
lanjut
N Wage
maaf nih ya Thor,serius nanya...(apa ada bagian yg terlupa aku baca) kan Kevin dan selia cukup lama berhubungan,SMP selia hamil juga.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?
N Wage: iya KK,maaf...😅
total 2 replies
Nada She Embun
nahan nafas aq bacaa.... 😮‍💨.. pengen banget liat kevin babak belur d tangan akselia...
Erchapram: Gak ada Kak, akan ada plot twist yang gak terduga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!