Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sekutu di Balik Pintu
BAB 17: Sekutu di Balik Pintu
Setelah memastikan Alisha nyaman di tepi ranjang, Gathan mengecup kening adiknya itu dengan lembut.
"Istirahatlah. Kakak ada di ruang kerja jika kamu butuh sesuatu," ucapnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu deru langkah Gathan menjauh, atmosfer di dalam kamar berubah. Sari yang tadinya tampak heboh dan berisik, tiba-tiba menjadi sangat tenang. Ia berjalan menuju pintu, memastikan kunci sudah terpasang, lalu mendekati Alisha.
"Ikut saya, Nona. Kita ke ruang ganti," ajak Sari dengan nada suara yang berbeda lebih rendah dan terjaga.
Alisha menurut dengan perasaan was-was. Begitu mereka masuk ke dalam walk-in closet yang luasnya luar biasa itu, Sari berbalik dan menatap Alisha dengan senyuman tulus yang sangat tenang.
"Selamat datang, Alisha," ucap Sari lembut.
Alisha tersentak hingga hampir kehilangan keseimbangan. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mendadak dingin.
"Bagaimana... bagaimana Mbak tahu namaku?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Aku... aku Aruna."
L
Sari terkekeh kecil, seolah melihat kepanikan seorang anak kecil.
"Tenanglah, jangan panik. Saya adalah bagian dari rencana Nona Aruna. Beliau sudah menceritakan semuanya kepada saya."
Alisha mengembuskan napas panjang, bahunya merosot karena lega. Rupanya, Aruna tidak membiarkannya bertempur sendirian di rumah ini tanpa pemandu.
"Nona Aruna tahu, mau bagaimana pun seseorang meniru dirinya, saya pasti akan segera menyadarinya. Saya yang menyuapinya sejak bayi, Alisha. Bau keringatnya saja saya hafal," lanjut Sari sembari membukakan lemari pakaian.
"Sekarang, ganti pakaianmu dengan baju tidur ini. Setelah itu, lakukan apa yang Nona Aruna pesankan kemarin."
Setelah berganti pakaian, Alisha teringat instruksi spesifik Aruna saat di apartemen. Ia mendekati deretan lemari tas mewah, jemarinya meraba sisi kayu di balik sebuah rak tersembunyi. Begitu ujung jarinya menekan sebuah tombol kecil yang tersamar, terdengar suara klik mekanis.
Pintu lemari bagian atas bergeser perlahan, menyingkap sebuah layar monitor tipis yang tersembunyi di baliknya. Tidak lama kemudian, layar itu menyala, menampilkan wajah Aruna asli yang tampak sedang berada di sebuah ruangan redup.
"Selamat datang di kediaman Ardiansyah, Alisha," sapa Aruna dari balik layar. Wajahnya tampak sedikit lebih santai.
"Bagaimana peranmu sejauh ini? Kak Gathan tidak mencurigaimu, kan?"
Alisha mendekat ke layar, suaranya setengah berbisik.
"Mbak Sari... dia tahu semuanya. Kenapa kamu tidak bilang padaku semalam?"
Aruna tersenyum tipis di layar. "Karena aku ingin melihat reaksi pertamamu. Sari adalah satu-satunya orang yang bisa membedakan kita dalam hitungan detik. Tanpa dia sebagai sekutumu, kamu akan mati kutu di rumah itu dalam waktu semalam. Dia yang akan membantumu menghindari kesalahan-kesalahan kecil tentang kebiasaanku."
Alisha mengangguk, mulai memahami strategi Aruna.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah sampai di rumahku?"
Wajah Aruna di layar berubah sedikit masygul.
"Aku sudah di depan rumahmu. Dan sepertinya, aku punya masalah besar yang bernama Rendy. Dia sedang menunggumu di depan pagar dengan wajah sangat cemas."
Alisha menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah kembali muncul.
"Tolong jangan sakiti dia, Aruna. Bersikaplah lembut seperti biasanya aku bersikap padanya."
"Akan kucoba," jawab Aruna singkat.
"Sekarang matikan layarnya. Sari akan membawakanmu makan malam. Ingat, tetaplah pada mode 'amnesia'. Jangan terlalu banyak bicara pada Gathan malam ini."
Layar itu kembali gelap dan pintu lemari tertutup otomatis. Alisha berdiri mematung di tengah kemewahan itu. Di satu sisi, ia lega ada Sari yang membantunya, namun di sisi lain, ia sadar bahwa Aruna kini sedang mengambil alih hidupnya di dunia nyata, termasuk laki-laki yang ia cintai.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊