Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengecut
“Heeii, Raka…
Kenapa kamu blokir akunku?”
Dadaku langsung terasa sesak saat membaca pesan itu.
“Apa salahku, Raka?!! Kamu nyebelin, ya. Tiba-tiba blokir-blokiran. Perasaan kita nggak kenapa-kenapa. Kita juga wajar aja main sosmed paling cuma saling tegur di kolom komentar. DM pun jarang banget.”
Aku menelan ludah.
“Jadi aku bingung… alasan kamu blokir aku itu apa? Heiii… kalau aku ada salah, ya kasih tahu dong. Jangan main blokir aja.”
Pesan terakhirnya membuat jantungku berdegup lebih keras.
“Awas ya, kalau DM ini kamu nggak kasih penjelasan tapi malah tiba-tiba aku kena blokir lagi 😏🤔😡
Jelasin, RAKA!”
Aku paham Ini pasti Hana. Aku segera membuka profil pengirim pesan itu. Dan… ah iya. Benar saja. Dia memakai nama akun olshop-nya. Hana memang berbisnis online jelas dia punya lebih dari satu akun. Astaga. Payah. Aku sampai nggak kepikiran ke situ sama sekali.
Aku menghela napas, lalu tertawa kecil sendiri.
Bodoh, Raka. Bodoh…! Hahahaha tawaku kikuk.
Bagaimana bisa aku lupa hal sesederhana ini? Terlalu sibuk menyelamatkan diri, sampai lupa bahwa Hana bukan tipe orang yang mudah menyerah begitu saja. Aku yang sok menjauh, sok dewasa, sok kuat padahal ujung-ujungnya tetap ketahuan.
Ah, sial.
lalu aku harus jawab apa ya hahahha ya tuhan tolong...
Akhirnya, dengan segala gundah gulana yang meronta-ronta di dadaku, aku mondar-mandir sambil menggenggam ponsel. Panik. Gugup. Kepalaku penuh. Aku benar-benar tidak menyangka bisa ketahuan oleh Hana secepat ini.
Akhirnya aku mencoba membalasnya. Berkali-kali kutulis, lalu kuhapus. Tak ada kalimat pembelaan yang pantas, tak ada alasan yang benar-benar masuk akal. Aku lelah menjelaskan… dan di titik itu, aku sadar: mungkin aku memang PENGECUT.
Akhirnya, aku hanya membalas singkat.
“Yah ketahuan… sorry 🙏”
Sesederhana itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan. Aku membiarkan kalimat itu terkirim, lalu meletakkan ponsel di atas meja. Dalam hati, aku siap menerima apa pun. Dimaki, disindir, atau ditinggalkan begitu saja. Sudah lama aku tidak membaca kata-kata marah darinya, dan entah kenapa… aku merasa memang pantas mendapatkannya.
Aku menarik napas panjang. Jika ini akhir dari percakapan kami, biarlah...setidaknya, kali ini aku tidak sepenuhnya lari meski tetap bersembunyi di balik satu kalimat pendek yang menyedihkan.
"What… Raka? Are you okay?
Cuma itu balasanmu? Aku bener-bener nggak habis pikir sama jalan pikiranmu. Kok gampang banget bilang sorry? Huh… anak TK juga bisa kalau cuma minta maaf kayak gitu.”
Raka...!!
Tolong jelasin…!!
Nggak sopan banget kamu main blokir aja tanpa bilang apa-apa.
Aku nggak merasa kita ada masalah,
jadi wajar dong kalau aku bingung"
“Aaah… iya, Raka. Kayaknya aku mulai paham.
Mungkin kamu udah punya pacar ya?
Terus pacarmu itu melarang kamu follow akun perempuan lain?
Begitu ya, Raka?”
“Soalnya kemarin aku lihat kamu jalan sama seorang perempuan.
Namanya Disya, kan? Aku tahu karena kamu sendiri yang nge-tag akunnya.”
“Dia cantik kok, Raka.
Tapi lucu aja… baru pacaran udah banyak tuntutan. Sampai kamu harus blokir orang tanpa penjelasan Kesian kamunya, hmzz…"
Aku tak membalas dengan kata-kata. Aku hanya mengirim stiker tertawa.
Beberapa detik hening.
Lalu notifikasi masuk bertubi-tubi.
“Raka… kamu kira ini lucu?”
“Bener-bener nggak sopan.
Aku serius nanya, kamu malah kirim stiker doang.”
“Ya udah deh. Kalau memang aku ada salah, aku minta maaf ya.”
“Dan salam buat Disya—
kekasih pujaan hatimu itu.”
Aku menatap layar lama. Stiker itu mungkin terlihat ringan, tapi dampaknya berat.
Aku tahu aku baru saja membuatnya kecewa. Bukan karena diblokir tapi karena aku memilih tidak jujur.
Tanganku ingin mengetik penjelasan.
Tapi lagi-lagi aku diam.
Aku pengecut, atau aku hanya terlalu takut pada satu hal: kalau aku bicara jujur, semua akan berubah. Dan perubahan itu aku belum siap menghadapinya.
Aku akhirnya membuka kembali blokiran akun Hana yang kemarin. Hanya membuka. Tidak menyapa. Tidak mengirim DM apa pun. Aku cuma ingin… bernapas sedikit lebih lega.
Belum sempat kupikirkan apa pun, notifikasi itu muncul.
“Lahhh kok dibuka?”
“Nanti Disya marah loh…”
“Nggak usah dibuka, blokir aja lagi.
Blokir selamanya 😏😏”
Aku terdiam. Nada bercandanya terasa ringan, tapi ada sesuatu di balik kalimat itu. Sindiran halus. Atau mungkin… cemburu kecil yang disamarkan tawa. Aku menatap layar ponsel lama.
Hana masih sama selalu bisa membuatku gelisah hanya dengan beberapa baris kata. Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Hanya membuka blokir. Sesederhana itu.
Dalam hati aku bergumam,
Kenapa kamu masih peduli, Hana?
Atau… justru aku yang terlalu berharap dari candaan yang seharusnya biasa saja?
Jari-jariku kembali menggantung di atas layar.
Mau membalas, tapi takut salah lagi.
Diam, tapi terasa semakin pengecut.
Dan di titik itu aku sadar membuka blokir ternyata lebih berani daripada menghadapi perasaan sendiri.
Lalu akhirnya… aku membalas DM-nya.
Aku mengetik, tanpa banyak mikir kali ini.
“Hana… hahahaha. Emang aku pernah nulis Disya itu pacarku di akunku?”
“Postingan reels itu keliatan kayak orang pacaran kah?”
Beberapa detik kemudian, balasan Hana masuk. Cepat. Seolah dia memang sudah menunggu.
“Ya enggak sih 🙈🫣 kamu emang nggak nulis ‘ini pacarku’.”
“Aku juga nggak lihat kalian kayak orang pacaran.”
“Tapi… mata Disya itu loh, Ka"
Aku menelan ludah.
“Aku udah nebak. Dia kecintaan banget sama kamu.”
“Terus lagu-lagu galau kemarin itu berarti buat dia kan?”
“Nah… berarti bener dong pacaran?”
Aku terdiam lama.
Pertanyaannya bertubi-tubi, tapi yang paling menusuk justru satu hal:
Hana memperhatikan. Terlalu memperhatikan.
Aku baru sadar ternyata Hana melihat lebih banyak daripada yang aku kira. Bukan cuma postinganku. Bukan cuma lagunya.
Tapi juga tatapan orang lain padaku.
Dan di titik itu, aku bingung harus menjelaskan ke siapa lebih dulu.
Ke Hana…
atau ke diriku sendiri.
Karena kenyataannya, aku tidak pernah benar-benar menyebut Disya pacarku.
Tapi aku juga tidak sepenuhnya menutup pintu.
Dan Hana dengan segala candanya seperti sedang berdiri di ambang pintu yang seharusnya sudah lama kututup.
Aku membalasnya cepat. Tanpa banyak pertimbangan. Tenang. Seolah ini bukan perkara besar.
“Menurutmu gimana dia?”
“Apa aku tembak aja ya?”
“Kan aku juga udah lama ngejomblo.”
“Bosen sendiri, Han.”
Setelah terkirim, aku menatap layar.
Entah kenapa… dadaku justru terasa sesak.
Kalimat itu terdengar biasa. Bahkan masuk akal.
Tapi aku tahu, di balik kata-kata santai itu, ada sesuatu yang sedang kupertaruhkan.
Aku tidak tahu apakah aku benar-benar ingin Disya.
Atau hanya ingin memastikan…
apa yang akan terjadi di hati Hana setelah membaca kalimat itu. Aku menunggu. Diam.
Membiarkan tiga titik itu muncul… lalu hilang… lalu muncul lagi. Dan di detik itu, aku sadar:
kalimat barusan bukan sekadar tanya pendapat.
Itu adalah uji nyali.
Pesan itu masuk. Tidak panjang. Tidak marah.
Justru terlalu dewasa… dan itu yang membuatnya menusuk.
“Ka… kalau memang kamu udah nemuin pujangga hatimu ya kejar lah, ka. Jangan jadi pengecut gitu. Inget umur, ka. Cuma kalau dia ngebatasin kamu sampai harus blokir aku… ya udah. Semoga kamu bahagia terus sama dia, ka 🤗”
Aku terdiam lama. Tidak langsung membalas.
Jari-jariku berhenti tepat di atas layar. Kalimatnya terdengar seperti doa. Tapi entah kenapa, rasanya seperti perpisahan kecil yang tak pernah diumumkan. Dia tidak marah. Tidak menuntut.
Tidak memaksaku menjelaskan. Dan justru karena itu… aku merasa kalah.
Aku membaca ulang satu kalimatnya:
“jangan jadi pengecut.”
Ah, Hana…
kalau saja kamu tahu, justru karena aku tidak ingin menjadi pengecut di hadapan perasaanku sendiri, aku memilih menjauh.
Karena aku tahu batas. Dan aku tahu, ada perasaan yang seharusnya tidak dilanjutkan, meski rasanya masih ada. Aku ingin mengetik banyak hal. Tentang salah paham. Tentang Disya yang bukan siapa-siapa. Tentang lagu yang bukan ditujukan untuk siapa pun atau mungkin justru untuk satu orang yang tak boleh kusebut.
Tapi akhirnya…
aku hanya mematikan layar. Karena kadang, menjelaskan terlalu jujur justru lebih egois daripada diam. Dan malam itu, aku sadar:
aku tidak sedang memilih Disya. Aku juga tidak sedang meninggalkan Hana. Aku hanya sedang berusaha menyelamatkan diriku sendiri dari perasaan yang datang terlambat, pada orang yang sudah berada di kehidupan orang lain.