NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Bayangan yang Menghantui

Setiap kali Kai melepas topengnya, ia selalu muntah. Tangannya gemetar. Matanya kosong.

Ia sering terbangun di tengah malam, basah oleh keringat, mendengar jeritan yang tidak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.

“Kau bukan monster,” ucap ibunya suatu malam ketika melihat kondisi Kai yang hancur. “Tapi kau juga bukan Tuhan, Nak.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau.

Kai berhenti.

Bukan karena ia memaafkan dunia.

Melainkan karena ia sadar—jika ia terus melangkah, suatu hari ia akan menjadi sama dengan orang-orang yang ia benci.

Topeng itu ia simpan.

Dikubur bersama masa lalunya.

---

Janji yang Terpatri

Sejak hari itu, Kai bersumpah:

Ia tidak akan lagi menggunakan tangan kotor untuk menegakkan keadilan.

Ia akan melindungi dengan kekuatan, pengaruh, dan kecerdasan, bukan dengan darah.

Namun kebencian terhadap pria yang menyakiti wanita tidak pernah padam.

Itulah sebabnya, ketika Kai melihat Yuki malam hujan itu—wajahnya penuh ketakutan, tubuhnya melindungi bayinya—sesuatu di dalam dirinya kembali bangkit.

Bukan pria bertopeng itu.

Melainkan janji lama yang belum selesai.

---

Kembali ke Masa Kini

Kai menutup laci perlahan. Topeng hitam kembali tersembunyi.

“Aku tidak akan memakainya lagi,” ucapnya tegas pada bayangannya sendiri. “Tapi aku juga tidak akan membiarkan kejahatan itu hidup.”

Di kamar sebelah, Yuki dan Ai Chikara tertidur damai.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu, Kai merasa penebusan itu mungkin.

Bukan lewat kematian.

Melainkan lewat perlindungan.

Namun jauh di dalam hatinya, Kai tahu satu hal:

Jika suatu hari nyawa Yuki atau bayinya terancam…

topeng itu bisa saja kembali dikenakan.

Bukan sebagai legenda.

Melainkan sebagai akhir.

---

Konsekuensi Pertama – Teror Tanpa Wajah

Malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya di rumah sederhana milik suami Yuki. Lampu ruang tamu menyala redup, televisi menyala tanpa benar-benar ditonton, dan suara jangkrik bersahutan dari luar jendela. Namun ada sesuatu yang terasa tidak beres—udara terasa lebih berat, seolah dinding rumah menyimpan napas orang lain.

Selingkuhannya duduk di sofa, memainkan ponsel dengan senyum malas. “Akhirnya tenang juga hidup kita,” ucapnya ringan. “Tidak ada perempuan cengeng, tidak ada bayi menangis.”

Suami Yuki mengangguk, meneguk minuman di tangannya. “Aku sudah bilang. Dia tidak akan kembali.”

Tiba-tiba—

TOK. TOK. TOK.

Ketukan pintu terdengar pelan. Terlalu pelan untuk ukuran tamu, terlalu teratur untuk angin.

Suami Yuki mengernyit. “Siapa malam-malam begini?”

Selingkuhannya mendengus. “Paling tetangga.”

Ia bangkit dan membuka pintu.

Kosong.

Tidak ada siapa pun. Gang sempit di depan rumah sunyi, hanya lampu jalan yang berkedip pelan.

“Tidak ada orang,” gumamnya kesal sambil menutup pintu.

Ia kembali ke sofa, tapi belum sempat duduk—

TOK. TOK. TOK.

Kali ini terdengar dari jendela samping.

Selingkuhannya menegakkan punggung. “Kau dengar itu?”

Suami Yuki berdiri, ekspresinya berubah waspada. “Aku cek.”

Ia mengintip lewat jendela.

Kosong.

Gelap.

Sunyi.

Namun tepat ketika ia hendak menjauh, lampu teras padam dengan sendirinya.

“Listriknya kenapa?” tanya selingkuhannya, suaranya mulai meninggi.

Suami Yuki mencoba menyalakan kembali sakelar. Tidak menyala.

Lalu dari luar rumah terdengar suara pelan—bukan langkah, bukan suara manusia—melainkan gesekan benda keras di tanah, seperti kursi yang ditarik perlahan.

“Kau bercanda, kan?” bisik perempuan itu, kini berdiri di belakang suami Yuki.

Belum sempat ia menjawab—

BRAK!

Sesuatu jatuh di depan pintu rumah.

Suami Yuki membuka pintu dengan tangan gemetar.

Di ambang pintu tergeletak boneka bayi.

Kotor.

Basah.

Dengan bekas retakan di lehernya.

Wajah selingkuhan itu langsung pucat. “Itu… itu apa?”

Suami Yuki menelan ludah. “Hanya mainan bodoh.”

Namun saat ia menunduk mengambil boneka itu, matanya membelalak.

Di dada boneka tersebut tertempel secarik kertas kecil.

Tulisan tangan rapi, hitam, sederhana:

“Tidak semua bayi mati.”

Tangannya gemetar hebat. Boneka itu jatuh dari genggamannya.

“Siapa yang main-main seperti ini?!” teriaknya, berusaha terdengar marah, tapi suaranya pecah.

Selingkuhannya mundur beberapa langkah. “Aku tidak suka ini. Ini tidak lucu.”

Dari kejauhan, di balik rumah kosong seberang gang, dua sosok pria berpakaian gelap mengamati.

“Target mulai goyah,” bisik salah satunya lewat alat komunikasi kecil di telinga.

“Lanjutkan fase dua,” jawab suara lain dingin.

---

Hari Berikutnya – Dunia Mulai Retak

Pagi datang, tapi ketenangan tidak ikut serta.

Suami Yuki keluar rumah menuju warung. Bisikan mulai terdengar.

“Itu dia,” kata seorang pria setengah baya.

“Katanya istrinya kabur semalam hujan deras,” sahut yang lain.

“Anaknya juga dibawa…”

Suami Yuki menoleh tajam. “Apa kalian bilang?!”

Mereka terdiam, pura-pura sibuk.

Ia kembali ke rumah dengan wajah masam. Begitu masuk, selingkuhannya langsung menyergah.

“Ada orang aneh lewat depan rumah pagi tadi,” katanya cemas. “Dia cuma berdiri, menatap lama, lalu pergi.”

“Pakaiannya bagaimana?” tanya suami Yuki cepat.

“Hitam… wajahnya tertutup masker.”

Suami Yuki teringat boneka semalam. Dadanya terasa sesak.

Ia mencoba menghubungi teman lamanya—nomor tidak aktif. Menghubungi kerabat—tidak diangkat. Bahkan kepala RT yang biasa ramah kini menolak bertemu.

“Seolah semua orang menjauh…” gumamnya.

Selingkuhannya mulai panik. “Kau yakin perempuan itu benar-benar mati?”

“Kau sendiri yang bilang begitu!” bentaknya.

“Aku cuma menenangkanmu!” sahutnya dengan suara tinggi. “Aku tidak menyuruhmu percaya!”

Suasana rumah mulai dipenuhi pertengkaran.

---

Malam Kedua – Teror Berlanjut

Malam turun kembali.

Kali ini, hujan turun pelan—mengingatkan pada malam pelarian Yuki.

Suami Yuki terbangun karena suara bayi menangis.

Ia duduk tegak. “Kau dengar itu?”

Selingkuhannya juga terbangun. “Itu… suara apa?”

Tangisan itu lirih, sayup, seolah berasal dari luar rumah.

Mereka membuka pintu perlahan.

Tangisan berhenti.

Namun di tembok depan rumah, kini ada coretan cat merah:

“IBU TIDAK PERNAH MENINGGALKAN ANAKNYA.”

Selingkuhannya menjerit histeris. “Hentikan! Ini gila!”

Suami Yuki terjatuh terduduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Dia masih hidup…” bisiknya gemetar. “Perempuan itu… masih hidup.”

Di kejauhan, dari dalam mobil hitam tanpa plat, Raven menatap rumah itu dengan ekspresi datar.

“Bos benar,” ucapnya pelan ke alat komunikasi. “Mereka runtuh tanpa disentuh.”

Di sisi lain, suara Kai terdengar singkat namun tegas.

“Ini baru permulaan.”

---

Retakan di Antara Mereka

Keesokan harinya, selingkuhan itu mulai mengemasi barang.

“Aku tidak mau tinggal di sini lagi,” katanya tajam. “Ini tidak aman.”

“Kau mau meninggalkanku sekarang?” bentak suami Yuki.

“Ini semua salahmu!” teriaknya. “Kalau kau tidak memperlakukan istrimu seperti binatang, semua ini tidak akan terjadi!”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari teror malam.

Ia menampar perempuan itu tanpa sadar.

Begitu menyadari apa yang dilakukannya, mereka berdua terdiam.

Ketakutan.

Kebencian.

Penyesalan.

Dan di atas semua itu—bayangan yang terus mengawasi.

---

Di Kota – Kai Menunggu

Kai berdiri di depan jendela kantornya saat laporan masuk.

“Fase pertama berhasil,” ujar Raven. “Mental mereka mulai runtuh. Tidak ada kekerasan fisik.”

Kai mengangguk pelan. “Bagus.”

“Lanjut?”

Kai menatap langit malam, wajahnya tetap dingin. “Belum.”

Ia teringat wajah Yuki yang tertidur damai, tangan kecil Ai Chikara menggenggam jemarinya.

“Biarkan mereka merasakan takut,” ucapnya tenang. “Takut yang dulu Yuki rasakan setiap malam.”

Kai menutup mata sejenak.

“Ini bukan akhir,” bisiknya. “Ini hanya pengingat… bahwa kejahatan selalu punya harga.”

Dan di kampung kecil itu, suami Yuki akhirnya menyadari satu hal yang terlambat:

Ia tidak sedang dihukum oleh manusia.

Ia sedang dihancurkan oleh bayangan tanpa wajah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!