NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 34

Siang itu udara warung kopi terasa pengap. Asap rokok bercampur bau minyak gorengan menempel di dinding kayu yang sudah kusam. Luki duduk gelisah di bangku panjang, kakinya terus bergoyang tanpa sadar.

“Apa benar Anton akan memberikan uang satu miliar pada kita?” tanya Luki sambil menggaruk kepalanya. Jemarinya hitam oleh minyak, matanya menyipit, seolah jawaban itu bisa langsung mengubah hidupnya.

Baron tidak segera menjawab. Ia mengisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Asap putih itu menggantung sebentar sebelum lenyap. Tatapannya kosong, tertuju pada meja kayu penuh bekas goresan.

“Aku juga tidak yakin,” ucapnya akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi. “Tapi menurut kamu, kita punya pilihan lain?”

Luki terdiam. Ia mengambil sepotong bakwan, menggigitnya pelan. Rasanya hambar. Pandangannya berkeliling, mencoba tampak santai, meski dadanya terasa sesak.

Di sudut warung, dua pria duduk sambil pura-pura menatap ponsel. Di dekat parkiran, satu orang berdiri terlalu lama. Luki mengenali wajah-wajah itu. Terlalu sering melihat mereka di tempat yang salah.

“Bang,” bisiknya pelan saat kembali mencondongkan tubuh. “Kayaknya kita diawasi.”

Baron melirik sekilas tanpa menolehkan kepala. Matanya tetap ke depan. “Ya,” sahutnya ringan, seolah sedang membahas cuaca.

Dalam hati, Baron mengumpat. Bahkan tukang warung ini jelas bukan orang sembarangan. Gerakannya terlalu sigap. Tatapannya terlalu waspada. Semua terlalu rapi, terlalu siap.

Seandainya Luki tidak setia, mungkin ia sudah pergi sejak lama. Kesetiaan memang mahal. Tapi kebodohan sering kali menuntut harga yang lebih mahal lagi.

“Tapi bagaimana kalau nanti Anton malah mengerahkan anak buahnya buat membunuh kita?” suara Luki bergetar. Tangannya kembali menggaruk kepala, kebiasaan lama yang selalu muncul saat ia panik.

Baron mendengus pendek. “Ke sana mati, ke sini mati.”

Luki menunduk. Bahunya merosot. “Kenapa sih, Bang, nyawa kita jadi mainan orang terus?”

Baron berdiri. Ia merogoh saku celana, meletakkan beberapa lembar uang di meja. Jumlahnya pas, tanpa kembalian. “Karena kita lemah,” ujarnya singkat.

Mereka melangkah keluar dari warung. Panas siang menyambut, lebih menyengat dari dalam ruangan. Baron menyalakan sepeda motor tua. Mesinnya bergetar kasar, suaranya parau seperti batuk orang tua.

Jalanan terasa sempit. Klakson bersahutan. Debu beterbangan. Luki memeluk pinggang Baron erat, seolah motor itu bisa tergelincir kapan saja.

Pertemuan dijadwalkan di depan sebuah kafe kecil. Tepat di seberangnya berdiri kafe mewah dengan pintu kaca besar dan lampu kuning hangat. Dua dunia yang berdiri berhadapan tanpa pernah benar-benar bersentuhan.

“Nah, gini dong,” ujar Luki sambil terkekeh kecut. “Kalau mau mati, setidaknya pernah ngerasain makanan Eropa.”

Ia duduk di kursi luar kafe mewah. Tanpa peduli tatapan orang, ia menyantap steak dengan tangan kosong. Minyak dan saus menempel di jarinya.

Beberapa tamu menoleh dengan wajah heran. Ada yang tampak jijik. Ada yang berbisik pelan. Luki tidak peduli. Ia sudah terlalu lama hidup dari tatapan merendahkan.

Baron tidak ikut makan. Ia duduk kaku, dahinya berkerut. Pikirannya bekerja cepat. Ada kepingan yang terasa tidak pas. Anton terlalu licin untuk bergerak sendiri. Selalu ada bayangan pria cepak di belakangnya.

Baron melirik jam dinding kafe. Waktu terus berjalan. Ia mengeluarkan ponsel lalu menelepon.

“Bos, ada di mana?” tanyanya.

“Di jalan,” jawab Anton singkat. “Bisa tidak tempat pertemuan digeser?”

“Tidak bisa, bos,” sahut Baron tegas. “Anda punya banyak uang. Kalau anda yang menentukan tempat, anda bisa saja menjebak saya.”

Terdengar desahan di seberang. “Oke, oke.”

“Anda sendiri, kan?” tanya Baron. Nada suaranya tetap tenang.

“Aku bawa enam pengawal,” jawab Anton tanpa ragu.

Baron tersenyum tipis. “Kalau begitu saya serahkan saja rekaman video ini ke Miranda.”

“Jangan,” suara Anton berubah cepat. “Kalian berdua masa aku sendiri. Kalian ini orang jahat. Aku harus jaga diri.”

“Bos,” kata Baron, “ini tempat ramai. Tepat di depan kantor polisi. Ini tempat paling netral. Kalau saya mau jahat, saya tidak sebodoh itu.”

Hening beberapa detik.

“Lima belas menit lagi aku sampai,” ucap Anton akhirnya.

Tak lama kemudian Anton datang. Ia berjalan sendiri, membawa sebuah tas hitam. Wajahnya tegang. Keringat tampak di pelipisnya.

“Mana ponselnya?” ucap Anton ketus.

“Apa tidak ingin makan dulu, bos?” sahut Luki ringan. “Di sini dagingnya enak.”

“Jangan banyak basa-basi. Cepat berikan ponsel itu,” ujar Anton dingin. “Aku harus pastikan video itu ada pada kalian.”

Baron menyerahkan ponsel tanpa ragu. “Ini ponselnya.”

Dalam hati Anton tersenyum tipis. Ia menganggap Baron bodoh. Uang belum diserahkan, ponsel sudah diberikan. Rencananya langsung berubah.

Anton membuka ponsel itu. Video muncul. Dirinya bersama Saras. Wajahnya memucat. Ia segera memasukkan ponsel ke sakunya.

“Jangan coba-coba berbuat curang, bos,” kata Luki sambil mengangkat ponselnya sendiri. “Aku punya salinannya.”

“Kau,” geram Anton.

“Anda ini orang licik,” ujar Baron menyeringai. “Setelah anda periksa, kenapa uangnya belum juga diberikan?”

“Aku orang yang bisa dipercaya,” kata Anton menahan emosi. “Buktinya aku datang sendiri. Padahal jelas kalian sudah menipuku kemarin. Tenang saja, aku membawa apa yang kalian minta.”

Anton menyerahkan tas hitam itu.

“Sekarang berikan ponsel kamu padaku,” katanya pada Luki.

Luki menyerahkan ponselnya. Ia lalu membuka tas itu, memeriksa isinya sekilas sebelum menyerahkannya pada Baron.

Baron membuka tas itu perlahan. Tumpukan uang tersusun rapi. Sekilas tampak meyakinkan. Tapi tangannya yang berpengalaman langsung tahu.

Dasar rubah tua. Delapan puluh persen uang ini palsu.

Ia teringat ucapan pria cepak. Anton selalu bermain kotor. Baron menahan diri. Ini bukan misi pribadinya. Ia hanya pion.

Anton mengembalikan ponsel Luki. “Mana? Tidak ada videonya?” tanyanya curiga.

“Memang tidak ada,” sahut Luki santai. “Buat apa nyimpan video mesum orang tua seperti anda?”

“Kau,” rahang Anton mengeras.

“Pak Anton,” Baron memotong cepat. “Kita jangan lama-lama di sini. Di depan kita kantor polisi. Nanti kena OTT.”

Anton menghela napas kasar. “Oke.”

Baron dan Luki berdiri. Mereka pergi lebih dulu, membawa tas itu. Langkah mereka cepat, tanpa menoleh.

Anton tetap di tempat. Ia mengeluarkan ponsel, menelepon seseorang.

“Dua berandalan itu membawa uang tiga ratus juta,” katanya dingin. “Kalau kalian bisa membereskannya, uang itu milik kalian. Aku tambah lima puluh juta.”

“Baik, bos,” jawab suara di seberang.

Anton menutup telepon. Tatapannya gelap. “Kalian mau mempermainkanku,” gumamnya. “Mimpi saja kalian di neraka.”

Setelah keluar dari kafe, Baron dan Luki memacu motor menembus jalan sepi. Lampu jalan jarang, angin malam menusuk. Dari kaca spion, lima motor muncul. Pengendaranya memakai helm fullface. Jarak mereka kian dekat.

“Kita disergap, Luki,” ucap Baron menahan suara.

“Terus kita harus apa, Bang?” tanya Luki panik.

“Usahakan bawa ke tempat ramai,” ujar Baron tegas.

Luki menambah gas. Mesin meraung. Namun ia mengerem mendadak. Sebuah truk pikap melintang, lampunya mati. Dari belakang, suara knalpot mendekat. Baron menoleh. Langkah kaki terdengar.

"Bang apakah kita akan mati"

"Kamu tunggu saja episode selanjutnya" ucap Baron

1
THAILAND GAERI
loh,,katanya hp nya hilang diambil Baron Ama kuki,,trs kok Miranda ditelp berkali2 ma org???apa beli hp baru ambil nomor sama ke Telkomsel GraPARI?
THAILAND GAERI
terlalu slow motion nih ceritanya..tp bikin curious🤣
Umi Asijah
ditunggu kelanjutannya
putmelyana
semangat Thor
putmelyana
lanjut terus ceritanya Thor aku nungguin chapter nya banyak dulu baca awal³ bikin sakit hti gak sanggup aku
cinta semu
bisa ny cuman curiga ...kalo g bisa ngatasi mending pergi aja knp ...biar g di bodohi terus
cinta semu
Miranda ny memang aneh ,, kebanyakan ngelamun 😁😁
cinta semu
Miranda bermain cantik berikan saja Amora pada keluarga raka ...u bisa ngatur strategi buat cari info suami u
falea sezi
MC nya goblok cerita muter teros
falea sezi
novel bkin mood anjlok maaf q ksih rating jelek
falea sezi
novel bertele tele
THAILAND GAERI: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
novel banyak teka teki jadi male baca g sat set/Drowsy/
falea sezi
MC nya goblok oon
sutiasih kasih
lnjut thor
sutiasih kasih
keluarga sundel....
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
sedayu
bikin naik darah si Rizky Sarah ini ...eh dukung aku Thor di sarjana undercover
sedayu
saras kudu si San tet 🤣
sutiasih kasih
kpan org tua durjana dpt karma ya🤔🤔🤔
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
sutiasih kasih
ank kndung di sia"kn... ank pungut di ratukan...
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄
Ma Em
Ayo Miranda hancurkan Anton dan Melisa jgn biarkan hdp nya tenang , apalagi si anak pungut Melisa itu buat dia menyesal seumur hdp nya serta Joni dan Ratna biar mereka tau bahwa anak yg dia sayangi itu hanya seorang penipu .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!