NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang dia sembunyikan.

Aku tidak langsung melakukan apa-apa setelah pikiran itu muncul.

Aku membiarkannya ada, duduk diam di sudut kepalaku, seperti debu yang terlihat hanya ketika cahaya datang dari sudut tertentu.

Hari-hari tetap berjalan.

Aku masih tertawa di waktu yang tepat. Masih menerima sentuhan Arven tanpa menolak. Masih membiarkannya menyiapkan segalanya untukku. Dari luar, tidak ada yang berubah.

Yang berubah hanya caraku memperhatikannya.

Aku mulai menguji batas-batas tertentu dengan cara-cara kecil. Hampir kekanak-kanakan.

Malamnya, kami duduk di ruang tengah seperti biasa. Arven memilihkan film, yang katanya dulu sering kami tonton bersama.

Aku tidak ingat ceritanya, tapi aku ingat perasaan ini tenang dan membuatku sedikit mengantuk.

Saat film hampir selesai, ia bangkit.

"Tunggu sebentar," katanya. "Aku ambil sesuatu."

Ia kembali dengan sebuah gelang tipis, dengan ornament berbentuk kotak sebagai hiasannya.

"Aku nemu ini di laci lama," katanya sambil duduk di sampingku. "Dulu kamu sering pakai."

Ia meraih pergelangan tanganku dan memasangkannya dengan hati-hati. Jari-jarinya lama berada di sana, seolah memastikan tidak terlalu ketat.

"Bagus," katanya. "Cocok."

Aku menatap gelang itu. "Ini apa?"

"Cuma gelang," jawabnya ringan. "Biar aku tahu kamu di rumah kalau aku lagi nggak ada."

Aku tertawa kecil. "Emang kenapa?"

Ia tersenyum balik. "Biar aku tenang."

Kalimat itu terdengar manis. Bahkan romantis.

Tapi entah kenapa, malam itu aku melepas gelang itu sebelum tidur, lalu menaruhnya di meja ruang tengah menghadap ke bawah.

Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang lembut, seperti tidak membawa apa-apa selain rutinitas biasa.

Aku terbangun lebih dulu. Aku menatap langit-langit, lalu

aku ke dapur, menuang air, lalu berhenti.

Gelang itu.

Ia tergeletak di meja ruang tengah, persis di tempat aku meninggalkannya semalam. Tapi posisinya berubah.Tadi malam aku yakin meletakkannya terbalik, pengaitnya menghadap ke bawah.

Sekarang menghadap ke atas.

Aku berdiri lama menatapnya. Mencoba mencari alasan. Mungkin aku lupa. Mungkin tanganku yang salah ingat. Hal-hal kecil memang sering meleset sejak aku bangun dari koma.

Aku menarik napas, lalu menggeser gelang itu sedikit, menjauhkannya dari padanganku.

Pagi itu Arven sedang mandi, aku bisa mendengar suara air dari kamar mandi. Lalu, aku mengambil ponselku dan berdiri dekat jendela. Aku membuka peta, menunggu beberapa detik. Kali ini aplikasi itu tidak langsung tertutup.

Aku menahan napas.

Tanganku bergerak sedikit, memperbesar layar. Jalan-jalan kecil di sekitar apartemen mulai terlihat. Aku hampir tersenyum sampai layar membeku.

Lalu gelap.

Notifikasi muncul lagi.

'Koneksi tidak tersedia.'

Lagi-lagi seperti ini.

Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa turun. Seperti ada harapan kecil yang baru saja ditarik kembali dengan cepat.

"Ren?"

Aku menoleh kaget.

Arven sudah berdiri di ambang pintu kamar, rambutnya masih sedikit basah, handuk tersampir di bahu. Wajahnya tenang, tapi matanya langsung jatuh ke ponsel di tanganku.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya lembut, seolah itu pertanyaan biasa.

"Enggak ke mana-mana, jawabku cepat.

"Cuma lihat jam," lanjutku.

Ia mendekat, mengambil ponselku tanpa memintanya. Jarang sekali ia melakukan itu.

"Jam di ponselmu kadang ngaco," katanya santai. "Yang di dinding lebih akurat."

Ia meletakkan ponsel itu di meja, layar menghadap ke bawah, lalu meraih tanganku.

"Ayo sarapan," katanya. "Aku bikin telur kesukaan kamu."

Aku mengangguk.

Ia menyiapkan sarapan seperti biasa. Gerakannya tenang, teratur, hampir menenangkan untuk dilihat. Aku duduk di meja, memperhatikannya, mencari celah entah apa.

"Kamu nggak pakai gelangnya?" tanyanya santai, seolah itu pertanyaan ringan.

Aku mengangkat bahu. "Lupa."

Ia tersenyum. "Nanti aja dipakai. Kalau mau."

Kalimat itu terdengar memberi pilihan. Tapi matanya menunggu, seakan memaksaku untuk menuruti perkataan nya.

Aku mengangguk. "Iya."

Kami makan tanpa banyak bicara. Aku merasa seperti sedang berdiri di tepi sesuatu yang tidak kelihatan, tapi bisa kurasakan.

Siang itu, aku kembali menguji batas. Kali ini lebih jelas.

Saat Arven sibuk dengan pekerjaannya, aku berdiri di depan pintu apartemen. Hanya berdiri. Tidak memutar kenop. Aku tidak berniat benar-benar keluar.

Aku hanya ingin tahu reaksinya.

Dan ternyata pintu itu terasa berat, mungkin perkataan Arven benar.

Bukan secara fisik. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang ragu. Seperti langkah pertama ke luar bukan sekadar langkah, tapi keputusan besar yang akan mengubah sesuatu.

"Kamu mau ke mana?"

Suara Arven terdengar dari belakang, suaranya terdengar tenang, tidak kaget. Mungkin karena dia sudah terbiasa melihatku merengek keluar, tapi kali ini berbeda.

Aku berbalik.

"Minimarket," kataku. "Aku pengen beli es krim. Sama.......ya, lihat-lihat aja." Aku berbohong pertama kali padanya.

Ia berjalan mendekat, langkahnya cepat.

"Sekarang?" nada suaranya berubah.

"Iya. Kenapa?"

"Kamu nggak perlu ke luar," katanya.

"Aku cuma sebentar Ven, cuma ke bawah."

Ia menggeleng keras. "Enggak."

Satu kata itu terdengar tegas,

Aku membeku saat itu juga.

"Kenapa?" tanyaku, suaraku lebih pelan dari yang kuinginkan.

"Kamu belum siap."

"Siap buat apa?" sebenarnya aku benci harus bertanya berulang kali, aku sudah tahu jawabannya.

"Buat ke luar." Balasnya singkat.

Aku tertawa kecil, refleks. "Aku bukan anak kecil."

Matanya mengeras, rahangnya menegang. Ia berdiri tepat di depanku sekarang, terlalu dekat, seolah pintu di belakangku bukan lagi pilihan.

"Justru karena kamu bukan anak kecil," katanya, nadanya naik. "Kamu nggak ngerti betapa bahayanya dunia di luar buat kamu sekarang."

Aku menelan ludah. "Bahaya apa?"

Ia tidak menjawab langsung.

"Kenapa kamu maksa?" lanjutnya, suaranya mulai meninggi. "Kamu aman di sini. Aku udah bilang."

"Aman menurut siapa?" balasku spontan.

Kalimat itu menggantung di udara.

Wajah Arven berubah.

"Aku cuma takut," kata Arven. Suaranya lebih pelan sekarang, seperti menahan sesuatu di dadanya. "Takut kamu ke luar, ketemu hal-hal yang bikin kamu bingung, takut, atau- "

"KAMU SELALU AJA BILANG GITU!" Rasa muak menggerogoti perut ku, dia selalh mengatakan hal yang sama.

Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri. Kata-kata itu meledak begitu saja, panas, penuh frustrasi yang sudah terlalu lama kutelan.

"KAMU SELALU NGASIH ALASAN YANG SAMA! AKU-"

Aku berhenti di tengah kalimat. Bukan karena aku sadar apa yang akan kukatakan. Tapi karena Arven menatapku, tatapan itu bukan marah, bukan juga kecewa. Bukan juga panik seperti biasanya.

Tatapannya dingin, Seperti permukaan air yang membeku tiba-tiba.

Aku merasakan sesuatu di dadaku turun perlahan. Jantungku masih berdetak, tapi ritmenya berubah lebih cepat dan terasa dangkal.

Aku sadar betapa dekatnya kami berdiri, betapa mudahnya aku bisa menyentuhnya dan mendorongnya jauh karena takut.

Arven mengangkat dagunya sedikit. Rahangnya mengeras, lalu melonggar lagi. Tangannya naik ke lehernya, mengusapnya pelan, seolah ada tekanan di sana yang perlu ia lepaskan.

Dan itulah yang membuatku takut.

Aku ingin berkata sesuatu, apa saja. Atau menarik kata-kataku kembali, atau setidaknya menjelaskan. Tapi mulutku terasa kering, lidahku berat. Tubuhku tidak bergerak sesuai keinginanku.

Aku tidak tahu kapan tangannya meraih pergelanganku.

Yang kutahu, genggamannya kuat, dan sedikit menyakitkan, cukup untuk membuatku paham bahwa aku tidak punya pilihan selain mengikutinya.

Napas kecil lolos dari bibirku saat ia menarikku. Kakiku bergerak mengikuti langkahnya. Lantai terasa terlalu jauh, suara langkah kami terlalu keras di kepalaku.

Aku ingin memanggil namanya.

Aku tidak bisa. Aku terlalu takut.

Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali dengan suara yang memantul di dinding.

Bam!!

Bunyi itu membuat tubuhku bergetar.

Dia menyeretku kasar hingga tubuhku terhempas ke kasur.

Lalu Arven menghela napas panjang dan berat. Seolah semua ketegangan tadi ia lepaskan begitu saja.

Saat aku menoleh, wajahnya sudah berubah.

Ekspresinya lembut lagi. Alisnya sedikit turun, matanya kembali hangat, hangat yang kukenal. dia mendekat perlahan lalu menyentuh lenganku, jari-jarinya hampir ragu.

"Udah," katanya pelan. Suaranya kembali seperti biasa.

Seperti Arven yang menenangkanku saat mimpi buruk.

"Aku nggak mau bahas ini lagi."

Aku menatapnya, mencoba menyatukan dua versi dirinya yang baru saja kulihat.

Ia mendekat, menunduk sedikit agar sejajar denganku. Gerakannya hati-hati, seolah takut aku akan menjauh.

"Nurut sama aku ya," katanya, suaranya seperti permohonan.

"Kali ini aja."

Tangannya naik, mengusap kepalaku pelan. Gerakan yang selalu membuatku merasa nyaman.

"Nanti," lanjutnya, "aku bakal izinin kamu keluar sendiri. Aku janji."

Ia tersenyum. Terlihat tulus jika dilihat sekilas, tapi aku memperhatikannya lebih lama kali ini.

Dan aku tahu.

Senyum bahkan itu tidak sampai ke matanya.

Aku mengangguk perlahan. Kepalaku bergerak sebelum pikiranku sempat bereaks, tubuhku masih terasa kaku, seolah bagian dariku belum sepenuhnya kembali.

Saat tangannya tetap berada di kepalaku, dan membiarkan semuanya berlalu.

Namun jauh di dalam diriku. Yang kutahu, aku baru saja melihat sisi dirinya yang selama ini ia sembunyikan.

1
j_ryuka
akal akalannya dia
ininellya
kok impulsif gitu ya kata"nya
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!