NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Ke Kampung halaman

Harapan adalah lilin kecil yang mencoba menyala di tengah badai, dan bagi Bimo, lilin itu bernama "Kampung Halaman". Setelah pengusiran paksa yang menghinakan di kantor, akal sehat Bimo telah menguap. Ia tidak lagi memikirkan martabat atau karier. Ia hanya ingin lari. Ia ingin bersembunyi di ketiak masa lalunya, di rumah tua ayahnya, meskipun ia tahu ada sosok ibu tiri yang kejam menantinya di sana.

Dengan sisa uang dari dr. Aris dan recehan yang ia temukan di kantong tas ranselnya, Bimo menyeret kakinya menuju Terminal Kampung Rambutan. Jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki itu membuat tubuhnya semakin lunglai. Ulat sengkolo di dalam dirinya tampak sedikit tenang, seolah mereka juga sedang menikmati perjalanan menuju tempat yang lebih gelap.

Perjalanan di Atas Bus Terkutuk

Matahari mulai condong ke barat saat Bimo berhasil naik ke sebuah bus antarkota jurusan Jawa Tengah. Kampungnya sebenarnya tidak jauh dari kampung halaman Ratih, hanya berbeda kecamatan, namun bagi Bimo, jarak itu terasa seperti antara surga dan neraka.

Begitu Bimo melangkah masuk ke dalam bus, atmosfer di dalam kendaraan itu berubah seketika. Bau busuk yang tajam, seperti perpaduan antara bangkai tikus dan sulfur, langsung memenuhi kabin bus yang sempit.

"Aduh, bau apa ini?!" seorang penumpang di baris depan langsung menutup hidung dengan sapu tangan.

"Pak Kondektur! Ini ada bangkai masuk ya?!" teriak yang lain.

Bimo menunduk dalam-dalam, duduk di kursi paling belakang dekat mesin yang panas. Ia berharap panas mesin bisa sedikit menyamarkan baunya, namun yang terjadi justru sebaliknya; hawa panas membuat pori-porinya terbuka dan aroma pembusukan itu semakin menguar hebat.

Sang kondektur menghampiri Bimo dengan wajah yang sudah ditutupi masker kain dobel. Ia melihat Bimo yang tampak sangat menderita, wajahnya pucat dengan mata yang terus berair.

"Mas... Mas sakit apa? Baunya kok... luar biasa begini," tanya kondektur itu dengan suara sengau.

"Saya cuma kecelakaan, Pak. Luka infeksi. Tolong... saya mau pulang kampung," rintih Bimo sambil menyodorkan uang ongkosnya.

Melihat kondisi Bimo yang sangat mengenaskan dan uang yang diberikan adalah uang pas-pasan, sang kondektur merasa iba. Meski penumpang lain memaki-maki dan menuntut Bimo diturunkan di pinggir jalan, sang supir dan kondektur itu tetap bersikeras. Mungkin mereka adalah dua dari sedikit manusia yang masih memiliki sisa empati di dunia yang sudah muak pada Bimo.

"Sudah, tenang semua! Yang penting dia bayar dan duduk diam di belakang!" bentak supir bus dari depan.

Sepanjang perjalanan lima jam itu, Bimo menjadi sasaran tatapan kebencian. Orang-orang di sekitarnya rela berdiri di koridor bus daripada harus duduk di dekatnya. Bimo memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir melewati pipinya yang mulai ditumbuhi bintik hitam. Ia tidak sadar, di bus yang sama, beberapa baris di depannya, seorang wanita dengan kerudung hitam duduk dengan tenang. Ratih.

Ratih tidak merasa terganggu oleh bau itu. Baginya, bau busuk Bimo adalah aroma kemenangan. Ia menikmati setiap makian yang diarahkan pada Bimo. Ia ingin memastikan Bimo sampai di rumahnya, karena ia tahu, penderitaan Bimo di Jakarta hanyalah hidangan pembuka.

Tanah Kelahiran yang Tak Lagi Ramah

Pukul sepuluh malam, bus menurunkan Bimo di sebuah persimpangan jalan desa yang sepi. Angin malam pedesaan yang dingin menusuk tulang Bimo yang kini nyaris tak berdaging. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang gelap, menuju sebuah rumah tembok tua yang berdiri di ujung desa.

Itu adalah rumah bapaknya. Rumah di mana ia dulu tumbuh menjadi pemuda yang sombong sebelum merantau ke Jakarta.

Begitu sampai di depan pintu, Bimo mengetuk dengan ragu. "Pak... Bapak... ini Bimo, Pak..."

Pintu terbuka. Sosok pria tua yang tampak lemah, bapak Bimo, muncul dengan lampu teplok di tangan. Namun, belum sempat ia memeluk anaknya, seorang wanita paruh baya dengan wajah galak dan mata yang tajam menyeruak dari belakang. Ibu tiri Bimo.

"Siapa yang datang malam-malam... HUEKK!" Ibu tiri Bimo langsung menutup mulut dan hidungnya. "Astaga! Bimo?! Kamu bawa setan apa dari Jakarta?! Kenapa baumu seperti bangkai!"

"Mak... Bapak... Bimo sakit. Bimo mau istirahat di sini," rintih Bimo, mencoba melangkah masuk.

"JANGAN MASUK!" teriak ibu tirinya sambil mendorong bahu Bimo dengan sebatang sapu. "Langkahmu itu bawa sial! Lihat bajumu, lihat kulitmu! Kamu ini kena penyakit kotor ya?! Kamu mau menulari kami semua di sini?!"

Bapak Bimo hanya berdiri mematung di belakang istrinya. Ia ingin menolong anaknya, namun bau busuk itu memang sangatlah nyata. Ia menutup hidungnya dengan sarung, matanya berkaca-kaca melihat anak laki-lakinya yang dulu gagah kini tampak seperti mayat hidup.

"Bim... kok bisa jadi begini, Nak?" tanya bapaknya dengan suara bergetar.

"Jangan ditanya-tanya! Dia ini pasti kena kutukan atau penyakit dari pelacur di kota!" timpal ibu tirinya dengan kejam. "Aku tidak mau dia tidur di dalam rumah. Bisa busuk semua kasur dan sofa kita!"

"Tapi Mak, ini anakku..." bapak Bimo mencoba membela.

"Kalau dia mau tinggal di sini, dia tidur di gudang kayu samping rumah! Di sana banyak tumpukan kayu dan jerami. Lebih cocok buat orang yang baunya seperti binatang mati!"

Bimo tertegun. Kata-kata itu lebih tajam dari ribuan ulat yang menggigit sarafnya. Ia pulang untuk mencari perlindungan, namun ia justru diusir ke gudang kayu layaknya hewan piaraan yang berpenyakit.

"Baik, Mak... Bimo tidur di gudang," ucap Bimo pasrah. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.

Gudang Kayu: Penjara Terakhir

Gudang kayu itu gelap, pengap, dan dipenuhi sarang laba-laba. Bimo merebahkan tubuhnya di atas tumpukan jerami kering. Bau tanah dan kayu lapuk sedikit bercampur dengan bau tubuhnya, namun tetap tidak bisa menutupinya. Ia meringkuk di pojok, kedinginan karena dinding gudang itu hanya terbuat dari papan yang berlubang-lubang.

Bapaknya datang sebentar membawa segelas air putih dan sepotong singkong rebus. Ia meletakkannya di pintu gudang, tidak berani mendekat.

"Maafkan bapak ya, Bim. Ibu tirimu itu... kamu tahu sendiri sifatnya," bisik bapaknya sebelum pergi dengan langkah berat.

Bimo menatap singkong itu, namun selera makannya hilang.

"Argh... Ratih... ampuni aku..." Bimo merintih di kegelapan.

Di luar gudang, di balik rumpun bambu yang bergoyang tertiup angin malam, Ratih berdiri mengamati. Ia melihat cahaya lampu teplok di rumah bapak Bimo padam. Ia melihat Bimo yang menderita di dalam gudang kayu yang hina.

Ratih tersenyum. Ia merasa obsesinya mulai mencapai puncaknya. Ia tidak butuh melihat Bimo mati dengan cepat. Ia ingin melihat Bimo membusuk sedikit demi sedikit, ditinggalkan oleh semua orang yang ia harapkan bisa menolongnya.

"Rumahmu sendiri adalah kuburanmu, Bimo," bisik Ratih.

Malam itu, di sebuah desa terpencil, seorang pria yang dulu merasa dirinya raja di ibukota, kini tidur berselimut jerami . Kehancuran Bimo kini sudah lengkap: ia kehilangan segalanya, termasuk kasih sayang orang tuanya sendiri.

Ratih berbalik, berjalan menuju rumah kecil di pasar kecamatan. Besok, ia akan memastikan berita tentang "Anak Bimo yang pulang membawa kutukan" tersebar ke seluruh desa. Ia ingin memastikan tidak ada satu pun orang di kampung itu yang akan memberikan simpati pada Bimo.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!