NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 19

Kertas ancaman di tangan Alkan bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mencapai titik didih. Sebagai seorang ahli keamanan sistem, ia tahu bahwa ketika lawan mulai menyerang variabel di luar teknis—menyerang keluarga—itu artinya mereka sudah putus asa.

"Kamu pikir saya akan membiarkan kalian menyentuh Ketenangan hidup saya?" gumam Alkan dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman.

Ia tidak bisa panik. Panik adalah celah bagi hacker. Alkan langsung melakukan enkripsi pada seluruh data risetnya dan menyimpannya di server fisik yang tidak terhubung ke internet. Namun, masalah utamanya adalah Sasya.

Sore itu, Alkan pulang dengan wajah yang sengaja dibuat setenang mungkin. Ia mendapati Sasya sedang mencoba makan sup ayam dengan perlahan.

"Sayang," Alkan duduk di sampingnya, mengusap lembut kepala Sasya. "Ayah tadi menelepon. Beliau bilang rindu sekali dan ingin kamu menginap di sana selama beberapa hari. Kebetulan ada bibi kamu juga yang datang dari luar kota."

Sasya mengerutkan dahi. "Tapi Mas gimana? Mas kan lagi sibuk di lab. Kalau aku nggak ada, siapa yang ingatin Mas makan?"

"Saya akan sering mampir ke sana, Sya. Lagipula, di rumah Ayah udaranya lebih segar, mungkin bisa mengurangi mual kamu," Alkan mencium kening Sasya cukup lama. "Turuti kata saya ya? Demi kesehatan kamu dan bayi kita."

Sasya, yang memiliki intuisi tajam, merasakan ada yang tidak beres. "Mas... ini bukan karena ancaman di kampus, kan?"

Alkan tertegun. Ia lupa bahwa istrinya adalah mantan mahasiswi terbaiknya yang memiliki logika sangat tajam. Alkan berlutut di depan Sasya, menggenggam kedua tangannya. "Ada sedikit Gangguan di laboratorium. Saya hanya ingin memastikan Keamanan di sekitar kamu tidak tertembus. Percaya sama saya, ya?"

Sasya akhirnya mengangguk, meski hatinya diliputi kecemasan.

Setelah memastikan Sasya aman di bawah penjagaan ketat rekannya yang merupakan intelijen kepolisian di rumah Pak Baskoro, Alkan kembali ke kampus malam itu. Ia sengaja membiarkan lampu laboratoriumnya menyala.

Ia menghubungi Sarah.

"Sarah, saya menyerah. Mari bertemu di lab sekarang. Saya akan serahkan draf kode itu, tapi pastikan kalian tidak menyentuh keluarga saya," ujar Alkan melalui telepon dengan suara yang terdengar "patah".

Tiga puluh menit kemudian, Sarah datang. Namun, ia tidak sendiri. Di belakangnya muncul seorang pria asing dengan setelan jas mahal—perwakilan dari konsorsium swasta yang selama ini mengincar riset Alkan.

"Keputusan yang bijak, Alkan," ujar pria itu sambil menyodorkan sebuah koper berisi dokumen kontrak dan cek senilai miliaran rupiah. "Berikan flashdisk-nya, dan kita semua pulang dengan tenang."

Alkan menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam. "Ini isinya. Tapi saya ingin konfirmasi bahwa foto-foto istri saya sudah dihancurkan."

Saat pria itu mencolokkan flashdisk tersebut ke laptopnya, sebuah bar progres muncul. Namun, bukannya menyalin data, layar laptop itu justru mendadak biru (Blue Screen) dan mulai menghapus seluruh isi harddisk laptop pria tersebut.

"Apa-apaan ini?!" teriak pria itu.

"Itu namanya Honeypot," ujar Alkan tenang sambil berdiri. "Dan itu juga sinyal bagi kepolisian untuk masuk."

Dalam sekejap, pintu lab didobrak. Tim siber kepolisian masuk dan membekuk pria tersebut beserta anak buahnya. Sarah berdiri mematung, wajahnya pucat pasi.

"Alkan... aku nggak tahu kalau mereka sampai mengancam Sasya," bisik Sarah gemetar.

"Keterlibatanmu akan diurus oleh pihak berwajib, Sarah. Kamu sudah membiarkan ambisi merusak integritasmu sebagai dosen," sahut Alkan tanpa belas kasihan.

Setelah urusan di kepolisian selesai menjelang fajar, Alkan langsung memacu mobilnya ke rumah Pak Baskoro. Ia butuh melihat Sasya. Ia butuh memastikan "dunia"-nya masih utuh.

Sasya ternyata belum tidur. Ia menunggu di teras belakang yang tertutup. Begitu melihat Alkan, ia langsung berlari kecil dan memeluk suaminya erat-erat.

"Mas... Mas nggak apa-apa?"

Alkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menggendong Sasya masuk ke dalam kamar tamu, mengunci pintu, dan membenamkan wajahnya di pundak istrinya. Segala ketegangan yang ia tahan semalaman tumpah.

Malam itu, di tengah kesunyian rumah masa kecil Sasya, mereka menyatu dalam keintiman yang penuh emosi. Alkan mencium Sasya dengan intensitas yang hampir meledak—sebuah campuran antara rasa syukur, nafsu yang tertahan karena ketakutan kehilangan, dan janji perlindungan yang mutlak.

Sentuhan Alkan malam ini terasa lebih posesif, tangannya menjelajahi lekuk tubuh Sasya seolah sedang memastikan bahwa setiap jengkal milik istrinya masih aman dalam dekapannya. Di bawah selimut tipis, panas tubuh mereka menjadi satu-satunya pelipur lara atas kekacauan yang terjadi di luar sana. Sasya menyambutnya dengan penuh kerinduan, memberikan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh seorang istri kepada suaminya yang baru saja pulang dari medan perang.

"Jangan pernah sembunyikan bahaya dari aku lagi, Mas," bisik Sasya di tengah napasnya yang memburu.

"Tidak akan," jawab Alkan sambil mencium lembut perut Sasya yang mulai sedikit menonjol. "Kalian adalah kesayangan yang akan saya jaga dengan nyawa saya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!