Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12🩷 Penasaran
Hari ini, ia tak bergairah untuk melanjutkan putaran roda ke basecamp Thunderbolt. Rifal memutuskan pulang saja, sebab sudah cukup malam juga mereka pulang dari rumah Nara. Bahkan, masih dengan rasa penasarannya Rifal sampai memutari jalanan blok G 1, Nara mengatakan catnya biru lantas ia melihat bangunan rumah dengan cat biru bukan hanya 1.
"Lah si Nara....biru ada banyak.." monolognya berdecih. Oke, Rifal mengetuk-ngetuk jidatnya mencoba mengingat-ingat clue apa lagi yang diberikan Nara.
"Nomor, nomor 9 katanya..." Rifal kembali melaju mencari angka 6 terbalik itu. Jika dipikir-pikir ia seperti debt kolektor yang keluyuran cari nasabah, atau mungkin, persis-persis maling yang sedang mengintai korban.
Ia temukan bangunan rumah hangat dengan cahaya lampu taman juga di halaman sepetaknya. Namun cukup sepi dan pagarnya tertutup rapat.
Ada sebuah mobil dan motor di carportnya, tapi Rifal tak cukup berani untuk mengetuk pintu dan bertandang. Bukan hanya Dea yang akan menyiramnya dengan air panas, melainkan orangtua Dea yang menodongkan golok jika ia bertamu malam-malam begini.
Serius?? Sampai berpikir sejauh itu? Biasanya juga ia akan masuk-masuk saja ke rumah teman sekalipun itu tengah malam, jiwa bang satnya memang keterlaluan.
Sempat diam sebentar di depan rumah Dea, untuk memotret kembali rumah dan jalanan di ingatan. Oke, setelah rumah lalu apa lagi? Tempat les, tempat nongkrong favorit, ukuran sepatu, baju dan behaa?
Suara jangkrik mengisi hangatnya lampu teras, namun hal itu tak berarti untuk keadaan rumahnya yang---baru kemarin terlihat akur, sekarang sudah dar--der--dor.
"Ya coba aja cek, liat di hapeku, apa ada nomor laki-laki?" jeritnya berapi-api, namun papa tak kalah membakar dan meledak.
"Lu pikir gua bodoh! Mana ada maling ngaku, dasar wanita sin ting....sini lu!" tariknya di rambut dan tangan sang istri.
Dan *plak*! Ia begitu ringan tangan.
Rifal tak mempedulikan adegan kekerasan rumah tangga di depannya itu. Ia hanya mendengus sumbang, *welcome to the hell*....saat ia menatap ke arah mata wanita itu. *Lo sendiri yang milih bokap gue*.
"Matiin aja sekalian. Biar puas..." lirihnya saat mendapati tatapan papa yang mengarah padanya.
"Ini lagi, keluyuran terus kerjaannya!" omel papa ikut menyerempetnya, "mau jadi apa begini terus!"
"Jadi bang sat." Jawabnya sekenanya nan bergumam pelan.
Langkahnya mantap tak lagi menoleh atau sekedar menghentikan kalapnya sang papa, biar saja biar saling tusuk-tusukan. Masuk ke dalam kamar bersiap menghantarkan mata yang mengantuk dan jiwa yang lelah.
*Dia mirip kamu Han, dan hari ini aku gagal dapat maaf. Dia marah. Salahku dimana*?
Dea
Ia mendapati nafasnya terasa pendek, lelapnya terganggu resah dan gundah. Disusul dengan badan yang mulai terasa panas dingin. Ia mengadu pada mama, alhasil obat-obatan yang biasa meredakan sakit masuk juga ke dalam tubuhnya.
"Kemarin makan apa? Ada salah makan ngga? Atau..." tanya mama pada Dea yang merasakan sakit mendera terutama di pernafasan dan tenggorokan.
Dea menggeleng, "cuacanya, mungkin debu juga, atau sekolah sama rumah mulai lembab. Belakangan sering pake inhaler."
Air purifier telah dipasang mama di kamarnya. Benar, asma bisa dipicu oleh berbagai faktor.
"Makan pedes juga ya? Bengkak tenggorokannya."
Dini hari, rumah harus diributkan dengan Dea yang mengalami peradangan dan alergi.
Surat dokter sudah di tangan. Mama melihatnya mengangguk paham, "mana mas Huda mau tunangan, De. Masa disambung gini ijinnya..." namun ucapan itu hanya sekedar ucapan lirih saja darinya, sebab yang dilakukan mama setelahnya adalah keluar dari kamar, membiarkan Dea istirahat.
Dea menghela nafasnya, belum jua memejamkan mata setelah sempat terganggu beberapa jam, ia melirik jam di meja dan meraihnya sebentar.
Ada helaan lega, setidaknya untuk beberapa hari ia bisa menghindari orang-orang yang membuatnya lelah termasuk, Rifaldi.
Mutiara berlari mulai dari gerbang, "Om Falll!" serunya merangkul tangan Rifal begitu saja.
"Yankkk...jangan marah dong!" Yusuf terlihat menyusul dari belakang dengan wajah mengenaskannya.
Ya Allah! Drama apa lagi sepagi ini? Rifal menaikan alisnya.
"Diem Lo, dasar playboy cap kadal buntung!Yank...yank.. yang hauus yang hausss!" cemoohnya menunjukan wajah judes pada Yusuf.
"Apa-apaan sih Lo berdua!" Rifal menarik tangannya dari rangkulan Muti, "gue mah mending sama om Fal aja, daripada sama Lo tukang cuap-cuap, eehhhh playboy ngga modal Lo!" sarkasnya lagi.
"Asli yank, dia mah cuma adik kelas bukan siapa-siapa....cuma kebetulan aja sempet kenal."
"Berisik, mulut Lo itu...ngga bisa dipercaya." Tunjuk Muti ke arah mulut Yusuf.
"Ck, berisik ahh! Pagi-pagi udah drama maruk Khan. Lo Mut, ngga usah begini... Giliran ditarik, so-soan nolak, giliran liat Cupid sama cewek lain ngomel-ngomel. Kalo suka ya suka, jadian."
"Dan Lo cup, kalo suka ngga usah geberrr gombal sana-sini, bang ke lu."
Keriuhan pagi ini sungguh bikin Rifal berdecak kesal, untung saja semalam tidurnya cukup. Beberapa teman kelas mereka ada di belakang.
"Tapi dia dijodoh-jodohin sama tetangganya yang ABRI Fal, anak temen emaknya. Jadi gue berasa ngambang begini..." ujar Yusuf.
Vian tertawa, "Lo sejenis ta i cup?"
Ada Tama, si ketua kelas yang kalem nan santuy tertawa. Ada Dian dan Mery juga yang baru datang tapi sudah tergelak.
"Viannnn! Jorok!" seru Muti tertawa juga pada akhirnya.
"Lo mau minta saran gue kagak?" tanya Rifal.
"Apa?" tanya Yusuf penasaran.
"Lo sikat tuh kaki tentara biar pincang. Abis itu emaknya Cimut pasti kagak mau punya mantu pincang." Ucap Rifal santai.
Hahaha!
"Saravvv njirrr. Sesat woyy!" Tama bersuara. Tentu saja mereka awalnya menanggapi Rifal yang biasa bicara serius, namun ujungnya....anak buah Rama memang tak ada yang beres, sekelas Rifal sekalipun.
"Minta saran om Fal, dia mikirnya sambil ngorok! Ini aja datang pagi, berasa lagi tidur sambil jalan." Itu Tasya.
"Dahlah, awas ...gue paling risih digelendotin begini. Persis lagi bawa tuyul." Rifal menyingkirkan tangan Muti yang sudah kembali menggelayuti tangannya.
Langkah yang semakin dalam membawa kepalanya refleks memutar ke arah kelas MIPA 2, namun usahanya itu nihil sebab yang diharapkan tak ada.
Karena biasanya, tanpa harus ia menoleh pun Dea akan berada di pandangannya. Namun pagi ini, Rifal melirik jam tangannya yang sudah menunjukan 6.40...tapi Dea belum terlihat.
Atau mungkin gadis itu datang terlambat.
Lantas tak lama ia melihat mobil milik Willy berhenti di parkiran depan.
Satu persatu penumpang turun, namun.... Inggrid hanya sendiri, bersama Gibran dan Willy saja. Lalu dimana Dea?
Alisnya mengernyit sepanjang sisa jalan ke arah kelas, berbagai spekulasi muncul di kepalanya.
*Ijin? Sakit? Pindah sekolah? ah kejauhan*....
.
.
.
.
saya suka 😍😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣