andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Semua memandangku. Tatapan mereka tidak sekadar menunggu jawaban, melainkan mengukur keyakinanku. Dalam ruangan itu, kesimpulan sering kali lebih berbahaya daripada senjata, sebab satu kesalahan logika bisa menyesatkan seluruh penyelidikan.
“Semua ceritamu mungkin sebagian benar dan kesimpulannya salah. Pelaku adalah dalangnya Nirmala,” ucap Pak Haris.
Aku terdiam. Kesimpulanku runtuh seketika dengan kemunculan video Nirmala. Selama ini aku membangun teori berdasarkan pola, motif, dan kemampuan teknis, namun satu bukti visual mampu menggoyahkan fondasi paling kokoh sekalipun. Aku menarik napas perlahan, mencoba menata ulang alur pikiranku.
“Apa ada rekaman video Nirmala?” tanyaku.
“Ini aku ada?” ucap Zaki sambil memberikan ponselnya padaku.
Aku menerima ponsel itu dan menatap layar dengan seksama. Video tersebut diputar tanpa suara terlebih dahulu. Walau sebelah muka Nirmala rusak, bahkan matanya saja tidak ada, sebelah wajahnya masih terlihat sempurna. Ketidakseimbangan itu justru menarik perhatianku. Wajah yang rusak tampak statis, sedangkan sisi yang utuh memperlihatkan ekspresi yang hidup.
Aku membandingkan foto Nirmala saat usia dua belas tahun dan sekarang tujuh belas tahun. Tentu saja ada perbedaan. Namun yang membuatku berhenti bernapas sejenak adalah gerakan bibirnya. Ada jeda antara suara dan gerakan bibir. Jeda itu terlalu halus untuk disadari orang awam, tetapi cukup jelas bagi mata yang terbiasa mencari ketidaksinkronan. Aku kemudian men-zoom video itu, memperbesar bagian mulut dan rahangnya.
“Apa mungkin ini video hasil AI?” ucapku.
Zaki mengambil ponselnya dariku dan meneliti dengan seksama. Alisnya sedikit berkerut, tanda ia tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang ia lihat.
“Tapi ini terlalu original untuk disebut hasil AI. Suaranya bukan khas robot, terus intonasinya juga tidak datar seperti robot,” ucap Zaki memberikan pendapatnya.
Aku mengangguk pelan, meski keraguanku belum hilang. “Kenapa logikaku masih ragu ya kalau ini Nirmala yang melakukannya. Dia tidak punya syarat teknis untuk melakukan teror. Satu nyawa saja paling murah dua miliar, ada yang sampai lima miliar. Lebih jelas ini butuh uang ratusan miliar. Belum lagi pembunuh saja tidak tahu siapa yang menyuruhnya. Mereka tahu dengan jelas siapa targetnya, tapi tidak tahu orang yang memberikan order,” jelasku.
Pam Cipto maju selangkah. Nada bicaranya tenang, namun tegas, seolah setiap kata telah ia timbang sebelumnya. “Asumsi dan teori kamu terbantahkan dengan kemunculan video Nirmala. Lima tahun mungkin waktu yang tidak masuk akal bagi kita untuk menguasai akses jaringan pembunuh, tapi orang yang dendam biasanya punya tekad kuat melampaui apa yang kita pikirkan,” ucap Pam Cipto memberikan argumentasinya.
Ya, aku menebak bukan Nirmala hanya sebatas asumsi dan tentu saja subjektif. Logika bisa tajam, tetapi tetaplah manusia yang memegangnya.
Seorang perawat datang padaku. Pak Cipto, Pak Haris, dan Zaki mundur memberi ruang.
“Anda sudah boleh pulang, Pak,” ucap perawat.
“Baik, Bu,” ucapku.
Dengan cekatan perawat itu melepaskan infusan. Tanganku terasa ringan, tetapi kepalaku justru semakin berat oleh pertanyaan yang belum terjawab. Ratna dan Andika tampak sibuk merapikan barang bawaanku.
Aku berada dalam dilema. Apakah aku lanjut terlibat dalam kasus ini atau aku berhenti. Kejadian kemarin membuatku trauma. Kepedulianku pada kasus ini justru membuatku menjadi tersangka.
Aku menatap wajah Ratna dan Andika. Mereka begitu tenang, terlalu tenang bagiku. Mereka warga sipil, sedangkan di luar sana orang-orang yang punya uang mengungsi ke tempat jauh. Yang tidak punya uang hanya tinggal di rumah. Setiap jam ada saja yang meninggal. Lebih gila lagi, ada yang berhubungan dengan Nirmala dan ada juga yang tidak.
Daftar target di markas Nirmala sepertinya kurang akurat. Aku hanya melihat dari video dan foto. Andai saja ada aslinya, mungkin bisa diteliti apakah daftar itu tulisan asli Nirmala atau bukan. Belum lagi umur kertasnya, apakah sudah lama atau belum. Kalau kertas itu baru, aku yakin itu hanya pengalihan saja. Kalau umur kertas di atas tiga tahun, kemungkinan Nirmala memang menargetkan nama-nama itu. Daftar dan foto itu dipajang sebagai penyemangat untuk balas dendam.
“Andi, kamu harus kembali ke markas. Informasi yang kamu alami itu sangat membantu dalam pengungkapan kasus ini,” ucap Pak Haris.
Aku menatapnya. Wajahnya tampak serius, bukan sebagai atasan semata, melainkan sebagai orang yang meyakini bahwa kebenaran harus dibayar mahal. Aku menunduk sejenak sebelum menjawab, “Aku masih trauma dengan kejadian kemarin,” ucapku jujur.
“Militer sudah minta maaf. Kamu sebagai abdi negara tentu saja harus berkontribusi, apalagi kamu pernah diculik oleh para pembunuh. Hari ini sekecil apa pun informasi sangat berharga. Ini harus dihentikan. Kegilaan Nirmala sudah terlalu jauh,” ucap Pak Haris.
Aku terdiam. Yang gila sebenarnya siapa. Nirmala, atau sistem yang membiarkan kegilaan itu tumbuh. Bukankah hukum kita sudah lama gila. Ke bawah tajam, ke atas tumpul. Berapa banyak orang dihukum tidak adil karena miskin. Dan berapa banyak yang lolos dari jerat hukum karena kaya dan berkuasa. Pikiran itu berputar tanpa bisa kuhentikan.
“Lalu bagaimana dengan anak-anakku?” tanyaku.
“Sementara bisa tinggal di markas intelijen,” jawab Pak Cipto.
Aku melihat ke arah Ratna dan Andika. Ada raut keraguan di wajah mereka. Ya, selama ini hanya markas intelijen yang tak tersentuh. Bahkan beberapa orang meninggal setelah keluar dari sana. Tempat itu aman, tetapi juga seperti sangkar yang tak semua orang ingin memasukinya.
Jika aku menjadi garda utama dalam kasus ini, tentu saja keselamatan keluargaku terancam. Aku menatap mereka lebih lama, mencoba membaca ketakutan yang tak terucap.
“Baiklah kalau begitu,” jawabku.
..
..
Singkat cerita, Ratna, Andika, dan Tiara ditempatkan dalam sebuah mes yang ada di dalam markas. Lokasinya terpisah dari gedung utama, dijaga ketat, dan hampir tak tersentuh oleh lalu lintas personel biasa. Keamanan memang terjamin, tetapi suasananya dingin dan menekan, seolah setiap dinding ikut mengawasi.
Sekarang aku duduk melingkar bersama beberapa perwira untuk membahas teror 172. Ruangan itu sunyi, hanya suara pendingin udara yang terdengar. Di hadapanku ada wajah-wajah yang terbiasa membaca kebohongan.
“Andi, cepat ceritakan bagaimana kamu diculik oleh para pembunuh dan katakan bagaimana ciri-ciri fisik mereka,” tanya Pak Anton.
Aku menghela napas. Mereka menyebutnya penculikan, tetapi bagiku rasanya justru seperti penyelamatan. Militer datang ke rumahku membawa senjata AK-47, menyerbu tanpa penjelasan, lalu membawaku dengan status tersangka. Ingatan itu membuat dadaku sesak.
“Sebelum saya cerita, saya ingin Anda menjamin keselamatan saya dan tidak menjadikan saya tersangka,” ucapku.
“Baiklah. Kemarin hanya kesalahan teknis. Sekarang aku yang akan menjamin kamu,” ucap Pak Anton.
Aku ragu. Kalimat itu terdengar seperti janji yang mudah diucapkan, tetapi sulit ditepati.
“Lihatlah, di sana ada kamera. Ucapanku ini direkam. Kalau kamu mau rekam juga, silakan,” ucap Pak Anton.
Aku menghidupkan rekaman di ponselku. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena antisipasi.
“Sekarang ceritalah,” ucap Pak Anton.
Dan aku mulai menceritakan semuanya. Setiap detail, setiap gerakan, setiap kata yang kuingat. Semua perhatian tertuju padaku. Tidak ada yang menyela.
Hampir sepuluh menit aku bercerita.
“Dari cerita kamu, sepertinya para pembunuh malah ingin melindungi kamu. Apa kamu benar-benar terlibat?” ucap Pak Romi.
Persis seperti dugaanku. Secepat apa pun aku menjelaskan, arah tuduhan tetap sama.
Aku pasti dituduh terlibat.