Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Fragmen Asing
Aruna tersentak bangun. Paru-parunya terasa sangat sesak seolah dia baru saja menyelesaikan lari maraton yang brutal. Ia mengerjap, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Dinginnya AC menusuk kulitnya yang basah oleh keringat dingin.
"Auristela…"
Nama itu berdering di telinganya. Aruna memejamkan mata erat, memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan.
'Auristela? Siapa? Duh... Namaku kan, Aruna?!'
"Eh?? Tanggal berapa sekarang??" Aruna langsung meraba-raba kasurnya.
Begitu layar ponsel menyala dan menunjukkan tanggal, Aruna menghela napas panjang sampai bahunya merosot. "Fiuh... untung masih libur..." bisiknya lega. Sebagai mahasiswi yang sudah masuk semester tiga di usianya yang baru 17 tahun, hal terakhir yang ingin ia hadapi adalah dosen killer di kampusnya yang hobinya bikin tekanan batin.
"Ngh... kenapa ototku kerasa kaku semua?" Ia merenggangkan badannya sebentar sebelum berjalan keluar kamar menuju dapur. Di atas meja, ada selembar memo pendek dari ayahnya: 'Ayah harus ke Kota B seminggu. Jaga dirimu.' Aruna cuma meliriknya sekilas. Ditinggal sendirian sudah jadi biasa baginya.
KRRUUYUUK! Aruna meraih wajan penggorengan di gantungan dapur untuk membuat telur mata sapi. Namun, begitu jemarinya mencengkeram gagang wajan besi, sesuatu yang ganjil terjadi.
Secara reflek, ia menyesuaikan posisi berdiri dan menggenggam gagang itu dengan posisi siap mengayun, tangannya gatal ingin menabok sesuatu.
"Rasanya kalau ada yang lewat, pas banget kalau kutabok pakai ini," gumamnya. Instingnya mengatakan suara wajan ini bakal memuaskan jika beradu dengan sesuatu.
Ia meletakkan kembali wajan itu dengan perasaan was-was. Ia segera berjalan menuju sudut ruangan, tempat perangkat VRnya berada. Ia butuh memastikan sesuatu. Begitu ia memakai headset VR dan masuk ke menu utama, Aruna langsung mendecak kecewa.
"Lho? Kok grafiknya nambah jelek? Perasaan kemarin nggak seburuk ini," gumamnya. Semua sudah pengaturan paling tinggi, tapi di matanya, dunia digital itu terlihat hambar. Tekstur rumputnya kelihatan kaku, cahayanya terlihat palsu dan tidak "hidup" seperti yang ada di ingatannya.
Aruna melepaskan headset VR-nya dengan gusar. Saat itulah, ia menyadari lampu indikator pada konsol mesin VR-nya berkedip-kedip ungu—warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tiba-tiba, telinganya berdenging hebat, suara statis terdengar seperti sinyal radio yang rusak di kepalanya sendiri.
Zzzzt— Pemulihan... data...
Aruna terhuyung, memegangi kepalanya. Di pantulan jendela besar apartemennya, bayangannya seolah terdistorsi. Selama sepersekian detik, ia tidak lagi melihat dirinya yang memakai kaos oblong sendirian. Ia melihat sosok pria berambut emas berdiri kokoh tepat di depannya, seolah sedang melindunginya dari sesuatu.
Sosok itu terasa begitu nyata, begitu hangat, namun hanya muncul sekejap sebelum menghilang ditelan bayangan ruangan yang kosong.
"Siapa... itu?"
air matanya menetee begitu saja. Ada rasa kehilangan yang sangat dalam, sebuah rindu yang tidak masuk akal. "Kenapa... rasanya aku ingin menangis??" Aruna menghapus air matanya dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah mesin VR itu.
"Aku nggak gila. Tapi kenapa grafik di mesin ini rasanya nggak sebanding sama apa yang aku ingat?"
Aruna berdiri mematung di depan mesin VR yang masih berderit pelan. Suara kipas pendinginnya terdengar lebih kasar dari biasanya, seolah mesin itu baru saja dipaksa bekerja melampaui batas overclock yang diizinkan. Ia meletakkan telapak tangannya di atas casing mesin. Panas. Suhu permukaannya jauh di atas normal, namun anehnya, tidak ada peringatan sistem yang muncul di monitor.
"Nggak masuk akal," gumamnya. Aruna tahu betul kalau suhu setinggi ini seharusnya sudah memicu auto-shutdown.
Ia melangkah mundur, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Matanya menyapu seisi apartemen. Semuanya tampak sama. Sofa abu-abu yang empuk, rak buku yang penuh dengan buku-bukunya, dan tumpukan kotak mi instan di pojok meja. Namun, ada perasaan janggal yang terus menghantuinya.
Setiap kali ada bunyi kecil—derit lemari es atau suara klakson mobil di luar—bahu Aruna akan menegang secara otomatis. Tangannya akan bergerak mencari sesuatu untuk digenggam.
Ia kembali ke dapur, kali ini bukan untuk masak, tapi karena dia merasa ada yang kurang tanpa wajan. Begitu jemarinya kembali merasakan dinginnya besi wajan, ada rasa tenang yang aneh mengalir di nadinya.
"Oke, Aruna. Kita butuh memutar kembali." ia bicara pada diri sendiri, sebuah kebiasaan saat dia sedang memecahkan masalah yang rumit. "Satu, aku ngerasa pernah memainkan game yang grafiknya jauh lebih nyata dari teknologi tercanggih saat ini. Dua, aku... sepertinya mengenal pria berambut emas yang... entah kenapa membuat dadaku sesak. Dan tiga, instingku mendadak jadi lebih tajam dari pisau dapur."
Ia menyeret kursi ke depan mesin VR. Aruna tidak bisa menunggu ayahnya pulang seminggu lagi. Rasa dari penasaran ini lebih menyiksa daripada ancaman nilai F dari dosen paling galak sekalipun.
Ia mengambil kabel data bypass dari laci mejanya—sebuah alat yang sering ia gunakan untuk memodifikasi sistem operasi. Dengan gerakan cekatan, ia menghubungkan laptopnya langsung ke core mesin VR tersebut. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, menembus lapisan enkripsi yang biasanya sangat kokoh.
"Tunjukkan padaku apa yang kau sembunyikan," bisiknya.
Layar laptopnya dipenuhi oleh barisan kode berwarna hijau yang turun dengan cepat. Namun, semakin dalam dia menggali, semakin banyak file yang terkorupsi. Ada sebuah partisi tersembunyi yang terkunci oleh protokol yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Protokol itu diberi label: [PROJECT: FATE BREAKER.]
Tiba-tiba, sebuah log aktivitas muncul di layar.
[LOG: 04:12 AM - Sinkronisasi Emosional 98% - Status: Gagal Memutuskan.]
Mata Aruna membelalak. "Sinkronisasi emosional? Apa-apaan ini?"
Di tengah kebingungannya, hidungnya mendadak mencium aroma yang sangat familiar. Bukan aroma pembersih lantai apartemennya, melainkan aroma hutan setelah hujan, campur dengan aroma perpaduan Sandalwood dengan Cooling Peppermint.
Ia menoleh ke arah jendela. Bayangan pria berambut emas itu tidak muncul lagi, tapi Aruna bisa merasakan kehadiran sosok itu di sana. Seolah-olah pria itu sedang berdiri di sudut kamarnya, memperhatikan Aruna dengan tatapan yang sama seperti dalam bayangan tadi—tatapan yang penuh dengan pelindung sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Asher?"
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa ia sadari. Begitu kata itu terucap, kepalanya kembali berdenyut hebat. Sebuah ingatan kilat muncul: dia berdiri di depan pria itu sambil berteriak, "Jangan berani-berani menyentuhnya atau kutabok kepala kalian!"
Aruna tersenyum miris sambil menyeka keringat di dahinya. "Bahkan di dunia mimpi pun, aku tetap jadi tukang pukul ya?"
Ia kembali menatap layar laptopnya dengan tekad baru. Liburan kali ini tidak bisa dihabiskan dengan tidur atau menonton serial drama. Ada sesuatu yang tertinggal di dalam sana—di dalam Project: Fate Breaker—dan Aruna akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menarik kembali ingatan itu.
"Aku akan menemukanmu," janjinya pada sosok dalam bayangan itu. "Dan saat aku menemukanmu, kau lebih baik punya penjelasan yang bagus kenapa kau membuatku menangis begini."
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya