NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 (Part 1) Aroma Sabotase dan Uji Ketangguhan di Dapur Utama.

Pukul 03.30 pagi di kemang. Jakarta masih terlelap dalam sisa-sisa mimpi, namun dapur di unit apartemen Marisa sudah mulai berdenting. Ini adalah hari pertama 'Dapur Sejati' beroperasi di ibu kota sebagai vendor uji coba untuk staf lapangan divisi properti Angkasa Raya.

Marisa berdiri di depan stainless yang baru ia beli. Ia sengaja tidak menggunakan jasa asisten tambahan untuk hari pertama ini. Ia ingin meraba ritme Jakarta dengan tangannya sendiri. Ia mengenakan kaus hitam polos, rambutnya dibungkus hairnet, dan celemeknya terikat kencang. Di hadapannya, 200 kotak makan siang harus siap sebelum pukul 10.00 pagi.

Dalend muncul dari arah kamar, matanya masih merah karena kurang tidur. Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek, jauh dari citra eksekutif yang ia tampilkan kemarin di kantor pusat.

"Baunya sampai ke kamar," gumam Dalend, mendekati kompor. Ia mencoba mengambil sepotong tempe goreng yang baru diangkat, namun jarinya ditepis pelan oleh spatula kayu Marisa.

"Cuci tangan dulu, Manajer Operasional, " goda Marisa tanpa menoleh. "Dan jangan hanya jadi pengganggu. Kalau mau di sini, bantu aku mengupas bawang putih."

Dalend tertawa, menarik kursi kecil dan mulai mengupas bawang. "Siapa sangka, pewaris Angkasa Raya akan menghabiskan subuhnya dengan mengupas bawang putih di apartemen kemang? Kalau Mama lihat, dia pasti pingsan di tempat. "

"Biarkan dia pingsan, " balas Marisa sambil mengaduk bumbu rendang ayamnya. "Ini adalah kejujuran yang aku ceritakan, Dalend. Tidak ada kemewahan tanpa persiapan yang membosankan di belakangnya. "

Selama dua jam berikutnya,  mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman. Hanya suara sutil yang beradu dengan wajan dan aroma rempah yang mulai memenuhi ruangan.

Dalend mengamati Marisa dengan penuh kekaguman.  Cara Marisa mengatur waktu, ketelitiannya menimbang bumbu, dan ketenangannya saat satu kompor sempat mati adalah bentuk kepemimpinan yang berbeda dari apa yang dia pelajari di sekolah bisnis.

...

Pukul 09.30, 200 kotak makan siang telah tertata rapi di dalam boks isolasi panas. Dalend membantu Marisa menurunkan boks-boks itu ke mobil boks kecil yang sudah disewa.

"Aku akan mengantarnya sendiri ke lokasi proyek di Jakarta Utara," ujar Marisa saat mereka berdiri di depan mobil.

"Aku ikut?" Tawar Dalend.

"Jangan. Kamu punya rapat direksi pagi ini. Kamu harus terlihat seperti pemimpin yang kredibel, bukan kurir katering. Biarin aku yang menghadapi mereka di lapangan. Ini wilayahku," tegas Marisa.

Dalend mengangguk,  meski ada gurat kekhawatiran di wajahnya. "Hati-hati, Marisa. Lapangan bisa jadi jauh lebih kasar daripada ruang rapat. " Marisa tersenyum mendengar itu.

Marisa sampai di lokasi proyek tepat pukul 11.30. Para buruh bangunan dan staf lapangan sudah mulai beristirahat. Saat ia mulai menurunkan boks makan siang,  ia merasakan suasana yang dingin. Beberapa mandor menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Ini katering baru titipan Tuan Dalend?" Tanya seorang mandor besar bernama Jaka. Ia membuka satu kotak, mengamati isinya: Nasi putih, rendang ayam, tumis sayuran segar, dan sambal ijo.

"Bukan titipan," koreksi Marisa dengan nada sopan namun tegas. "Ini adalah Dapur Sejati. Silahkan Dicicipi, Pak Jaka."

Jaka mengambil suapan pertama. Matanya sedikit melebar, namun ia tidak memberikan pujian. "Ya, lumayan. Tapi ingat, Nona, di sini kami butuh porsi besar dan ketepatan waktu. Kalau besok terlambat lima menit saja, kami tidak akan mau terima."

Marisa hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu ini baru permulaan. Ia menghabiskan satu jam di sana, memperhatikan bagaimana para pekerja memakan masakannya. Sebagian besar tampak puas, namun di sudut area parkir, Marisa melihat sesuatu yang mencurigakan.

Sesosok pria berpakaian staf Angkasa Raya tampak sedang berbicara serius dengan salah satu kurir Logistik perusahaan, sambil menunjuk ke arah boks makanan milik Marisa. Pria itu adalah orang kepercayaan Bima.

Minggu pertama berjalan lancar, hingga hari kesepuluh. 

Pagi itu, Marisa menerima kiriman bahan baku dari supplier langganannya di pasar induk. Semuanya tampak normal, hingga ia mulai memotong daging sapi Bau anyir yang tidak wajar menyeruak.  Ia memeriksa bungkusan lain-sayuran yang dikirim tampak layu dan busuk di bagian bawah, seolah-olah sengaja disiram ait garam agar cepat hancur.

"Ini tidak mungkin," bisik Marisa. Ia segera menelepon supplier-nya.

"Maaf, Mbak Marisa. Tadi ada orang yang mengaku asisten Mbak datang ke gedung kami dan meminta mengganti pesanan dengan stok sisa yang lebih murah. Katanya atas instruksi Mbak untuk menghemat biaya," jelas si supplier di ujung telepon.

Marisa mengepalkan tangannya. Sabotase dimulai. Ia segera membuang semua bahan baku itu. Ia tidak akan menyajikan makanan sampah, meskipun itu artinya ia harus merugi hari ini.

Ia segera mengambil kunci mobil dan menuju pasar terdekat untuk membeli bahan baru dengan harga eceran yang jauh lebih mahal. Ia bekerja dua kali lebih cepat, peluh membanjiri keningnya.

Tepat pukul 12.00, ia sampai di lokasi proyek. Ia terlambat tiga puluh menit.

Pak Jaka sudah menunggunya dengan wajah masam. Di sampingnya berdiri Bima, yang entah mengapa ada di lokasi proyek siang itu.

"Terlambat, Nona Marisa?" Sapa Bima dengan senyum kemenangan yang tipis. "Saya dengar Anda kesulitan dengan bahan baku? Bukankah integritas yang Anda banggakan itu termasuk ketepatan waktu dan manajemen supplier?"

Marisa menatap Bima lurus-lurus sambil menurunkan boks makanan. "Masalah teknis adalah bagian dari bisnis, Tuan Bima. Yang penting adalah solusinya.  Makanannya tetap berkualitas tinggi, silahkan dicek."

Bima mendekati salah satu kotak, hendak membukanya, namun Dalend tiba-tiba muncul dari balik bangunan proyek.

"Bima? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukankah bagian Logistik Administrasi tidak punya urusan dengan distribusi katering di lapangan?" Suara Dalend terdengar dingin dan menggelegar.

Bima sedikit terperanjat. "Saya... saya hanya memastikan standar perusahaan terpenuhi,  Tuan Dalend."

"Standar perusahaan adalah urusan Manajer Operasional. Yaitu aku,"  Dalend berdiri di samping Marisa, mengambil satu kotak makan siang dan membukanya di depan semua orang. Ia mencicipi makanannya. "Makanannya sempurna. Keterlambatan tiga puluh menit akan dicatat sebagai evaluasi, tapi tidak menggugurkan kontrak. Sekarang, kembali ke kantormu sebelum aku melaporkan intervensi ilegalmu ke Papa."

Bima membungkuk kaku dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!