NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keheningan

Di tengah malam yang dingin, Rohita terbangun dengan tiba-tiba karena merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kedipan matanya yang masih berat karena tidur perlahan terbuka dengan kegelapan di dalam kamar kostnya. Jam dinding yang terletak di sudut kamar menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Biasanya pada jam seperti ini, ia masih bisa mendengar suara kecil dari Devi—entah itu suara musik yang dimainkan dengan volume rendah atau tawa ringannya yang kadang keluar saat ia sedang berbincang melalui ponsel. Kadang kala juga bisa terdengar suara lembut dari Dewi ,

Namun malam ini, segala sesuatu terasa berbeda. Ruangan kost yang biasanya memiliki nuansa hidup meskipun sudah larut malam kini sepi sekali, bahkan sampai bisa dirasakan kedamaiannya yang menusuk tulang. Rohita menggerakkan tubuhnya perlahan dari tempat tidur, menendang selimut yang menutupi badannya ke sisi lain ranjang. Ia meraih sandal yang terletak di dekat kaki ranjang dan melangkah menuju pintu kamar. Ketika membuka pintu, ia terhenti sejenak dengan tatapan yang penuh keheranan. kost yang biasanya sedikit terang karena lampu yang menyala redup kini benar-benar gelap gulita. Ia mencoba menekan sakelar lampu di dinding , namun tidak ada sedikit pun cahaya yang muncul. Sepertinya ada pemadaman listrik .

Meski begitu, keheningan yang menyelimuti seluruh kost adalah hal yang membuat Rohita merasa aneh. Bahkan ketika ada pemadaman listrik sebelumnya, ia masih bisa mendengar suara aktivitas kecil dari kedua temannya. Kadang Devi akan keluar dari kamarnya membawa senter kecil dan datang ke kamar Rohita untuk cerita-cerita sebentar, atau Dewi yang akan keluar dengan hati-hati sambil membawa lilin yang digunakan untuk menerangi jalannya ke kamar mandi. Malam ini, tidak ada satu pun suara yang bisa didengar selain bunyi napasnya sendiri dan langkah kaki yang sedikit mengeluarkan suara saat menyentuh lantai.

Rohita berjalan dan memanggil nama"Devi? Kamu dimana? Kok sepi banget ya malam ini..." , namun tidak ada jawaban yang datang . Rohita beberapa kali, memanggil nama Dewi dengan nada yang mulai sedikit khawatir, namun tidak ada satu pun gerakan atau suara yang terdengar.

Ia kembali ke kamar untuk mengambil senter yang ada di dalam tas ranselnya. Rohita memeriksa area kost seperti ruang tamu dan dapur. Ruang tamu yang biasanya ramai kini terlihat kosong dan sunyi. Buku-buku yang biasanya dibiarkan terbuka di atas meja oleh Dewi sudah tidak ada, dan bantal kecil yang seringkali digunakan Devi saat menonton sesuatu di ponsel juga tidak terlihat di kursinya. Di area dapur, segala sesuatu terlihat rapi dan tertata dengan baik, bahkan lebih rapi dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda aktivitas apa pun, seolah-olah tidak ada seorang pun yang pernah berada di sana hari ini.

Rohita merasa dahinya mulai panas karena rasa tidak nyaman yang tumbuh di dalam dirinya. Sifatnya yang pemarah biasanya akan membuatnya marah karena merasa ditinggalkan atau tidak diberitahu akan sesuatu, namun malam ini rasa keheranan dan kekhawatiran lebih mendominasi. Ia berjalan kembali ke beberapa ruangan namun tidak ada satu pun tanda bahwa ada orang di dalamnya. Ia mencoba menghubungi Devi melalui ponsel, namun suara nada sambung tidak pernah terdengar. Begitu juga dengan Dewi, nomornya tidak bisa dihubungi

Dengan dada yang mulai terasa sesak, Rohita kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap ke arah pintu kamar dengan tatapan yang bingung. Mengapa kost ini bisa tiba-tiba sepi ? Dimana saja Devi dan Dewi? Apakah mereka pergi bersama-sama tanpa memberitahunya? Pikiran-pikiran mulai berkeliaran di benaknya, sebagian membuatnya marah karena merasa tidak dipercaya, namun sebagian lainnya membuatnya khawatir akan keselamatan kedua temannya. Malam yang seharusnya digunakan untuk istirahat kini terasa sangat panjang dan penuh dengan ketidakpastian.

Setelah menghabiskan hampir satu jam untuk berjalan-jalan di sekitar kost dan mencoba berbagai cara untuk menghubungi Devi dan Dewi tanpa hasil, Rohita merasa perutnya mulai keroncongan. Ia melihat ke arah jam dinding di kamarnya yang sekarang menunjukkan pukul satu lebih sepuluh menit. Meski kekhawatiran masih mengganggunya, ia menyadari bahwa perlu untuk menjaga kondisi tubuhnya agar bisa berpikir dengan lebih jernih. Selain itu, pikirnya sedikit terlintas bahwa mungkin Devi dan Dewi hanya pergi sebentar dan akan segera kembali, sehingga memasak makanan bisa menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dan juga menyediakan makanan untuk mereka ketika mereka kembali.

Rohita berdiri dan menuju dapur dengan membawa senternya. Meskipun listrik masih padam, ia menemukan beberapa lilin yang disimpan di dalam lemari dapur dan segera menyalakannya, membuat area dapur menjadi terang dengan cahaya kuning yang lembut. Ia mulai memeriksa isi kulkas dan lemari makanan untuk melihat apa saja yang bisa dimasak. Di dalam kulkas, ia menemukan beberapa sayuran segar seperti bayam, wortel, dan bawang merah, serta beberapa butir telur dan potongan daging ayam yang sudah dipotong kecil-kecil. Di lemari kayu, ada beras yang cukup banyak dan beberapa bumbu dapur yang lengkap.

Tanpa berpikir panjang, Rohita mulai menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Ia mencuci beras dengan cepat dan memasaknya di atas kompor gas yang masih bisa digunakan meskipun listrik padam. Sementara menunggu beras matang, ia mulai membersihkan sayuran dan memotongnya sesuai dengan yang dibutuhkan untuk membuat tumis sayuran dan telur balado. Sifatnya yang pemarah membuatnya bekerja dengan cepat dan tergesa-gesa, namun ia tetap menjaga kehati-hatian agar tidak melakukan kesalahan saat memotong atau memasak di bawah cahaya lilin. Suara ledakan minyak yang terkena air saat dimasukkan ke dalam wajan terdengar cukup keras di dapur yang sunyi, membuat Rohita sedikit terkejut, namun ia segera melanjutkan pekerjaannya.

Setelah sekitar empat puluh menit, makanan sudah siap matang. nasi yang hangat ditaruh di atas nampan besar, disertai dengan tumis sayuran yang berwarna hijau dan oranye serta telur balado yang berwarna merah cerah dan mengeluarkan aroma harum bumbu cabai dan bawang merah. Rohita menata makanan di atas meja makan di dapur, menyiapkan tiga piring dan sendok garpu untuk dirinya sendiri, Devi, dan Dewi. Ia merasa sedikit lega melihat hasil pekerjaannya, berharap bahwa kedua temannya akan segera muncul dan bisa menikmati makanan bersama.

Tanpa menunggu lama, Rohita mulai memanggil nama mereka dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, "Devi! Dewi! Makan sudah matang nih! Ayo keluar cepat sebelum makanan dingin!" Suaranya bergema di dalam kost yang masih sepi, namun tidak ada tanggapan yang datang. Ia berjalan sambil terus memanggil nama mereka, "Devi, kamu mana ya? Kamu kan biasanya suka banget sama telur balado yang aku buat. Cepat keluar dong!"

Setelah tidak mendapatkan respon dari Devi, ia memanggil nama dewi, "Dewi! Jangan kamu malah tertidur begitu saja ya. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu juga lho, tumis sayuran yang tidak terlalu banyak bumbu!" Namun seperti sebelumnya, tidak ada satu pun suara atau gerakan yang bisa dirasakan .

Rohita menatap hidangan yang sudah dia sajikan di meja makan . Aroma tumis kangkung dengan telur ceplok yang matang, namun rasa lapar yang tadinya menggoda tiba-tiba sirna begitu dia menyadari bahwa tak ada seorang pun yang akan menikmatinya bersama dia. Tangannya yang sudah siap mengambil sendok tiba-tiba terhenti di udara, kemudian dia menghela napas dalam-dalam sambil mengusap dahinya yang mulai terasa panas akibat perpaduan antara kemarahan dan kekhawatiran yang belum reda.

“Kalau saja mereka bilang mau keluar, kan aku tidak perlu repot memasak segini,” gumamnya dengan nada tinggi, meskipun tak ada orang lain yang mendengarnya. Namun seiring dengan keluarnya kata-kata itu, rasa marahnya perlahan-lahan bergeser menjadi kekosongan yang menusuk. Dia melihat ke sekeliling kamar yang biasanya ramai dengan suara candaan Devi atau kelicikan Dewi yang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu di balik buku tulisnya. Sekarang hanya ada hembusan angin yang masuk melalui celah jendela dan suara jam dinding yang terus berdetak dengan irama yang terasa semakin pelan dan menyakitkan.

Tanpa berpikir panjang, Rohita mengambil nampan berisi makanan yang sudah dia siapkan, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju depan kost. Langkah kakinya terasa berat setiap kali menyentuh lantai .

Dia mencari tempat duduk di salah satu bangku kayu yang sudah agak lapuk, kemudian meletakkan nampan di atas meja yang bersebelahan. Tanpa merasa lapar, dia mulai mengambil makanan sedikit demi sedikit dengan sendoknya. Rasanya yang biasanya lezat terasa hambar di lidahnya, seolah-olah semua rasa telah hilang bersama dengan keberadaan Devi dan Dewi. Saat makanan mulai sedikit demi sedikit berkurang, pikirannya mulai melayang ke berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada kedua temannya satu kamar itu.

“Mereka tidak mungkin pergi begitu saja tanpa memberi tahu,” bisik Rohita sambil menatap langit yang mulai menunjukkan beberapa titik bintang yang bersinar lemah di balik awan tipis. Dia mencoba mengingat kembali kejadian sebelum dia tidur dan kemudian bangun karena merasa tidak nyaman. Saat itu, sekitar jam sembilan malam, dia melihat Devi sedang duduk di atas kasurnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya dengan wajah yang sedikit serius – sebuah ekspresi yang jarang muncul di wajah yang selalu ceria itu. Sementara Dewi, seperti biasa, sedang duduk di sudut kamar sambil membaca buku dengan wajah yang merah padam, seolah-olah dia sedang menyembunyikan sesuatu. Rohita yang kala itu masih merasa sedikit lesu hanya mengangguk sebentar sebelum kembali menutup mata, tidak menyangka bahwa itu akan menjadi kesempatan terakhir dia melihat mereka berdua di kamar.

“Jangan sampai ada yang salah dengan mereka,” ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar. Dia mulai merenung tentang bagaimana hubungan mereka bertiga telah berkembang selama bertahun-tahun tinggal bersama di kost itu. Meskipun Rohita sering marah karena sikap ceria Devi yang terkadang terlalu berlebihan atau karena sifat pemalu Dewi yang membuatnya sulit berkomunikasi, dia tahu bahwa kedua wanita itu adalah orang-orang terpenting dalam hidupnya di tengah hiruk-pikuk kehidupan desa. Devi selalu menjadi sumber kebahagiaan yang tak pernah padam, selalu siap menghibur Rohita ketika dia sedang marah atau kesal dengan hal-hal kecil. Sementara Dewi, meskipun jarang berbicara, selalu siap membantu dengan segala cara yang bisa dia lakukan – seperti membersihkan kamar ketika Rohita terlalu lelah atau menyimpan makanan untuknya ketika dia pulang larut malam.

Rohita menyadari bahwa dia jarang menunjukkan rasa terima kasihnya kepada mereka berdua. Selalu saja dia marah karena hal-hal kecil, selalu mengeluh tentang bagaimana Devi terlalu banyak bicara atau Dewi terlalu pendiam. Namun sekarang, ketika mereka tidak ada di sisi dia, dia menyadari betapa besar kekosongan yang mereka tinggalkan. Dia mulai menyalahkan diri sendiri karena tidak pernah memperhatikan lebih jauh ketika ada tanda-tanda bahwa sesuatu mungkin sedang terjadi pada mereka berdua.

Suara angin yang semakin kencang membuatnya sedikit terkejut kembali ke kenyataan. Dia melihat bahwa sebagian makanan di nampan masih tersisa, dan dia tidak punya kekuatan lagi untuk melanjutkan makan. Dia menyimpan sisa makanan ke dalam wadah plastik yang ada di sampingnya, kemudian kembali menatap ke arah jalan yang sepi di depan kost. Jam sudah menunjukkan hampir jam tiga namun masih tidak ada tanda-tanda kedatangan Devi atau Dewi.

Rohita mulai merenung tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Dia menghela napas lagi, kemudian memegang erat kedua tangannya di atas meja. Di dalam hatinya, dia berdoa dengan sekuat tenaga bahwa Devi dan Dewi baik-baik saja dan akan segera kembali ke kamar mereka. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ketika mereka kembali, dia akan berusaha lebih sabar, lebih memperhatikan mereka, dan tidak lagi mudah marah karena hal-hal yang tidak penting.

Saat udara semakin dingin, Rohita tetap berada di depan kost, menunggu dengan harapan yang semakin memudar namun tidak pernah benar-benar hilang. Dia menatap jalan yang kosong, berharap setiap kali ada suara kendaraan atau langkah kaki, itu adalah mereka yang dia tunggu.

1
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!