"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Kamu Tidak Ingin Menciumku?
Alex tiba lebih dulu di apartemen sebelum Anita, kembali datang ke tempat ini setelah sekian lama dia langsung merasakan kesepian. Rasanya tempat ini tidak lagi nyaman untuknya, bahkan rasanya jadi asing sekali.
Sekarang satu-satunya tempat yang bisa dia sebut sebagai tempat tinggal adalah apartemennya bersama dengan sang sekretaris.
Aneh memang, tapi Alex tidak ingin mengakui hal itu secara terang-terangan.
Meskipun lama tidak dihuni namun apartemen ini terus dibersihkan oleh pihak pengurus, bahkan ada minuman dan beberapa cemilan ringan di lemari pendingin.
Tak berselang lama setelah kedatangannya, Anita pun menekan bell apartemen tersebut dan Alex segera membuka. Tatapan keduanya saling bertemu saat pintu tersebut akhirnya terbuka, Anita datang dengan penampilannya yang selalu terlihat sempurna.
"Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?" tanya Anita hingga memecah keheningan yang tercipta di antara keduanya. Kini mereka sudah masuk ke dalam apartemen dana Alex menutup pintu.
"Hem, lumayan," jawab Alex, bagaimanapun dia adalah seorang Casanova. Selalu memahami apa yang diinginkan oleh tiap wanita. Anita pun sama saja seperti kebanyakan wanita yang Alex kenal, pasti akan sangat senang jika mengetahui dia menunggunya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang? makan malam bersama?" tanya Alex kemudian.
"Boleh, aku akan pesan makanan dari restoran favoritku. Kamu pasti akan suka," jawab Anita dengan antusias.
"Lakukanlah," balas Alex dengan sorot matanya yang selalu terlihat dalam.
Anita tersenyum lebar, dia bahagia sekali. Seolah kini dia setelah benar-benar jadi bagian di dalam hidup Alex. Bahkan dari satu kata itu, seperti mengisyaratkan bahwa Anita diizinkan untuk bersikap semaunya di apartemen ini, seolah ini juga adalah apartemennya sendiri.
Saat Alex lebih dulu duduk di ruang tengah, Anita segera melalukan pemesanan makanan di restoran langganannya. Setelah itu Anita juga langsung menuju dapur dan menyiapkan semuanya. Bahkan memasang lilin di tengah-tengah meja makan. Anita secara mendadak menyiapkan candle light dinner yang sangat romantis untuk mereka berdua.
kebebasan yang Alex berikan juga membuatnya lebih mudah mengatur semuanya.
Tak sampai 30 menit semuanya telah siap, Anita dan Alex makan malam bersama dengan sesekali diiringi tawa kecil oleh Anita.
Sungguh, setelah makan malam ini Anita sangat berharap hubungan mereka bergerak lebih cepat, seperti ada ciuman atau bahkan tidur bersama.
Anita sangat mengharapkan hal inttim itu terjadi, toh pada akhirnya nanti mereka akan menikah juga.
Bahkan selama makan malam ini Anita sengaja bersikap sensual, menarik perhatian Alex agar segera menyentuhnya.
"Di luar hujan," ucap Anita setelah makan malam mereka selesai, dinding kaca di belakang tubuh Alex menunjukkan hujan yang mulai turun.
Kata-kata Anita tersebut membuat Alex menoleh ke belakang dan melihat hujan, namun kemudian yang terpikir di dalam benaknya adalah Dea.
Hujan-hujan begini pasti akan menyenangkan jika dihabiskan waktu bersama sang sekretaris.
"Padahal aku ingin langsung pulang setelah makan malam, tapi sepertinya sekarang harus menunggu hujan reda dulu," ucap Anita lagi, bersandiwara seolah sedikit kecewa padahal di dalam hatinya dia senang sekali karena ternyata alam pun mendukung niatnya untuk menghabiskan malam bersama dengan Alex.
"Pergilah ke ruang tengah lebih dulu, aku bereskan meja makannya sebentar," kata Anita lagi, dia juga berdiri lebih dulu dari kursinya.
Alex yang sedang memikirkan Dea hanya mengangguk saja, sedikitpun dia tidak memahami isyarat yang sejak tadi diberikan oleh calon istri pilihan mamanya tersebut.
Alex justru langsung pergi ke ruang tengah dan merogoh ponsel di saku celananya, berniat untuk menghubungi Dea dan mengatakan untuk menunggunya pulang malam ini. Atau bahkan mungkin Dea sudah lebih dulu mengirimnya pesan untuk pulang lebih cepat.
Tapi setelah ponsel itu terbuka Alex tidak mendapatkan satupun notifikasi dari sang sekretaris, semua notifikasi yang masuk justru hanya tentang urusan kerja.
Dan entah kenapa Alex kesal sekali dengan hal sepele tersebut, karena dia benar-benar ingin Dea menggilainya. "Kenapa dia tidak mengirim ku pesan?" gumam Alex kesal.
Dia melirik lagi ke arah jendela dan melihat hujan yang sepertinya turun semakin deras, lalu ke arah ponselnya berharap sekarang Dea menelpon. Alex butuh alasan untuk pulang sekarang, tapi Dea tak kunjung memberikan alasan tersebut.
"Atau jangan-jangan sekarang dia justru pergi dengan pria lain," gumam Alex lagi, yang pikirannya malah bercabang kemana-mana.
"Lex," panggil Anita yang akhirnya menyusul ke ruang tengah.
Reflek Alex segera kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. Tentang Dea dia sungguh tak ingin ada satu orang pun yang mengendusnya, apalagi sampai pihak keluarga mengetahui.
karena jika sampai hal itu terjadi kedua orang tuanya pasti tak akan tinggal diam, apalagi Alex bukan hanya menjadikan dia sebagai simpanannya tapi sudah menikahi secara sah wanita tersebut. Hal seperti ini pasti akan mencoreng nama baik keluarga.
"Sudah selesai?" tanya Alex.
Anit mengangguk manja, "Hem," jawabnya singkat, "Kamu menghubungi siapa?" tanyanya kemudian, dia melihat jelas juga jika tadi Alex memegang ponselnya.
"Urusan pekerjaan."
"Sibuk sekali, bahkan saat ada aku kamu masih sibuk bekerja," jawab Anita, dia melangkah mendekat membuat jarak mereka semakin tipis, kini mungkin hanya sekitar satu langkah.
Anita menatap kedua mata Alex dengan intens, bibirnya sedikit terbuka dan dadanya nampak naik turun dengan lebih jelas.
Jika dulu Alex pasti akan langsung menerjang wanita tersebut dan melemparnya ke ranjang, tapi sayangnya sekarang Alex tidak seperti itu lagi. Karena bukannya merasa panas dengan pemandangan menggoda di hadapannya, Alex justru masih terus teringat Dea. Dea dan Dea terus. Yang diotaknya justru tentang percintaan panas mereka di kamar mandi sore tadi.
"Anita," panggil Alex kemudian.
"Apah?" balas Anita yang masih terus menggoda.
"Aku akan menelpon supir untuk mengantarmu pulang."
Deg! Anita kaget sekali mendengar ucapan tersebut, bagaimana mungkin disaat panas begini Alex justru ingin dia pergi. Padahal suasananya pun sangat pas untuk mereka saling menghangatkan.
Anita juga bukan wanita yang lugu, dia pun tahu jika Alex memiliki banyak wanita di luaran sana. Alex adalah pria yang bebas. Tapi kenapa? Kini Alex seolah tak ingin menyentuhnya.
"Apa? supir?" tanya Anita saking tak percayanya.
"Iya, sepertinya hujan akan lama. Jadi lebih baik kamu pulang dengan supir."
"Tapi Lex, aku masih ingin disinih sekarang," balas Anita, kini dia lebih berani dengan mendekati Alex dan memeluk pinggangnya lembut. "Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu," kata Anita lagi yang mendongak memberikan bibirnya agar Alex segera mencium.
Untuk sesaat Alex mematung dibuatnya, karena ternyata kelelakiannya terpancing juga dengan semua ulah Anita.
"Kamu tidak ingin menciumku?"
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰