Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang yang Tak Bisa Dibayar
Hari ketiga di rumah sakit. Dokter bilang Antoni udah boleh pulang.
"Demam nya udah turun total. Kondisi nya stabil. Tapi tetep harus kontrol seminggu lagi buat pastikan nggak ada komplikasi," kata dokter sambil nulis resep obat di kertas.
Lestari ngangguk berulang kali. "Baik, Dok. Terima kasih banyak, Dok..."
Antoni duduk di tempat tidur, kaki nya ayun-ayun, senyum lebar. Dia seneng akhirnya bisa pulang. Bosen banget tidur di rumah sakit tiga hari, nggak bisa main, cuma rebahan sama liat TV doang.
"Ibu, kita pulang sekarang?" tanya Antoni sambil lompat turun dari tempat tidur.
"Iya, Nak. Sebentar ya, Ibu urus administrasi dulu."
Lestari ke ruang administrasi—ruangan kecil di samping kasir dengan meja dan komputer tua yang layar nya masih tebel banget.
Perawat kasir cetak nota. Kertas panjang kayak struk ATM, tapi lebih panjang lagi. Lestari ngeliat angka di paling bawah.
Total biaya: Rp 5.247.000
Lima juta dua ratus empat puluh tujuh ribu rupiah.
Lestari menelan ludah. Angka sebesar itu... angka yang setara gaji dia hampir dua bulan.
"Sudah lunas, Bu. Kemarin sudah dibayar sama bapak yang ngantar ibu," kata perawat sambil senyum ramah.
"Sudah... lunas?"
"Iya, Bu. Pake kartu kredit. Bapak nya baik sekali ya. Jarang lho ada orang yang mau bantuin sampai sebesar itu."
Lestari diem. Dadanya sesak.
Lima juta lebih.
Adriano bayar semua.
Tanpa ragu. Tanpa mikir dua kali.
Padahal... padahal dia cuma pembantu di rumah Adriano. Cuma orang asing yang kebetulan pernah ditolong tujuh tahun lalu.
Kenapa... kenapa Adriano sebaik itu?
Lestari ambil nota, lipet, masukin ke saku daster. Keluar dari ruang administrasi dengan langkah berat.
Antoni udah nunggu di depan ruang rawat inap, pegang boneka beruang kecil yang dikasih perawat. "Ibu! Ayo pulang! Aku kangen Bu Siti!"
"Iya, Nak. Ayo."
Mereka jalan ke luar rumah sakit. Di depan pintu UGD, Adriano berdiri bersandar di mobil nya, tangan di saku celana, mata nya liat ke arah pintu.
Begitu liat Lestari sama Antoni keluar, dia langsung jalan deket.
"Sudah selesai?"
"Sudah, tuan... terima kasih... terima kasih banyak sudah nunggu..."
"Ayo naik. Aku antar kalian pulang."
Antoni loncat girang. "Asik! Naik mobil Om lagi!"
Mereka naik mobil. Antoni duduk di belakang, Lestari di depan samping Adriano.
Mobil jalan pelan keluar dari parkiran rumah sakit, masuk ke jalan raya Jakarta yang mulai rame karena udah jam sepuluh pagi.
Di dalam mobil, hening. Antoni sibuk main boneka nya di belakang, bikin suara-suara lucu sendiri. Lestari duduk kaku, tangan nya mengepal di pangkuan.
"Tuan..." kata Lestari pelan.
"Hmm?"
"Biaya rumah sakit... lima juta lebih... saya... saya mau bayar. Tapi... tapi saya nggak punya uang segitu sekarang. Boleh nggak... boleh nggak saya cicil tiap bulan? Saya potong gaji saya... dua ratus ribu tiap bulan... sampai lunas..."
Adriano ngeliat Lestari sekilas, terus balik liat jalan lagi. "Nggak usah."
"Tapi tuan..."
"Anggap itu hadiah buat Antoni."
Lestari menggeleng cepet. "Nggak bisa, tuan! Itu uang besar! Saya... saya nggak bisa nerima gitu aja... saya bukan orang yang suka ngutang... saya... saya harus bayar..."
Suara Lestari mulai bergetar. Mata nya mulai panas.
Adriano berhenti di lampu merah. Noleh ke Lestari. "Lestari, ini bukan hutang."
"Tapi tuan bayar buat saya! Itu artinya saya ngutang sama tuan!"
"Nggak. Itu artinya aku bantuin kamu. Beda."
"Sama aja! Saya tetep... saya tetep ngerasa berhutang... saya nggak suka ngerasa kayak gini... saya takut..."
"Takut apa?"
Lestari diem. Napas nya jadi cepet. Tangan nya gemetar di pangkuan.
"Takut... takut tuan bakal minta sesuatu sebagai bayaran..."
Adriano bingung. "Bayaran? Bayaran apa?"
Lestari nunduk. Suara nya pelan banget, nyaris bisikan.
"Dulu... dulu kalau Dyon kasih saya uang... atau kasih saya sesuatu... dia pasti minta bayaran. Suruh saya... suruh saya layani nafsu dia. Atau suruh saya kerja rodi tanpa istirahat. Atau... atau mukul saya lebih keras kalau saya nolak. Dia bilang... dia bilang karena dia udah kasih saya makan, kasih saya tempat tinggal, jadi saya harus... harus nurut apapun yang dia mau..."
Air mata Lestari jatuh. Netes ke tangan nya yang masih gemetar.
"Jadi saya... saya trauma dikasih sesuatu tanpa pamrih. Saya selalu mikir pasti ada maunya. Pasti ada yang harus saya bayar. Saya... saya takut tuan juga..."
"Juga apa?"
Lestari nggak lanjutin. Dia nggak berani ngomong lebih jauh.
Lampu merah berubah hijau. Tapi Adriano nggak jalan. Mobil di belakang klakson keras, tapi Adriano nggak peduli.
Dia lepas sabuk pengaman, noleh penuh ke Lestari, pegang bahu Lestari dengan kedua tangan.
"Lestari, dengerin aku."
Lestari ngangkat kepala pelan. Mata nya merah, basah, penuh air mata.
Adriano natap mata Lestari serius. "Nggak semua orang jahat. Nggak semua kebaikan ada harga nya. Nggak semua laki-laki sama."
"Tapi..."
"Dengerin dulu. Aku tau kamu trauma. Aku tau kamu pernah diperlakukan kayak barang. Tapi aku bukan dia. Aku nggak akan minta apapun dari kamu. Aku nggak akan suruh kamu bayar pake apapun. Aku bantuin kamu karena aku peduli. Titik. Nggak ada embel-embel."
Lestari masih nangis. "Tapi kenapa... kenapa tuan sebaik itu... saya... saya cuma pembantu... saya cuma... cuma orang yang nggak berarti..."
"Kamu bukan cuma pembantu. Kamu manusia yang punya hak buat dihargai. Kamu ibu yang berjuang buat anak nya. Kamu... kamu orang yang kuat, walau kamu nggak sadar."
Adriano ngeluarin napas. "Ingat ini ya. Ibarat aja... nggak semua garam itu asin. Contohnya Gudang Garam, isi nya rokok bukan garam."
Hening sebentar.
Lestari berkedip. Ngusap air mata nya.
Terus... ketawa.
Ketawa kecil di tengah tangis. "Apa-apaan sih tuan... konyol banget..."
Adriano senyum tipis. "Konyol tapi bener kan?"
Lestari manggut sambil senyum getir. "Iya... bener... maaf saya... saya terlalu banyak mikir..."
"Nggak apa. Wajar kamu mikir kayak gitu setelah apa yang kamu alamin. Tapi sekarang... sekarang coba percaya. Percaya sama aku. Aku nggak akan sakiti kamu."
Lestari ngeliat mata Adriano. Mata yang... mata yang tulus.
Dia ngangguk pelan. "Terima kasih, tuan... terima kasih..."
Adriano lepas pegangan nya dari bahu Lestari. Pasang sabuk pengaman lagi. Mobil jalan.
Di belakang, Antoni udah ketiduran, peluk boneka nya erat.
Mobil berhenti di depan gang kontrakan Lestari. Adriano turun, bantuin Lestari turunin Antoni yang masih tidur dari kursi belakang.
Lestari gendong Antoni. "Terima kasih, tuan. Maaf merepotkan..."
"Nggak merepotkan. Istirahat yang cukup. Besok kamu nggak usah masuk dulu. Istirahat seminggu aja. Gaji tetep jalan."
"Tapi tuan, saya..."
"Nggak usah bantah. Ini perintah dari majikan." Adriano senyum tipis.
Lestari nggak bisa ngelawan lagi. Dia cuma ngangguk. "Baik, tuan... sekali lagi, terima kasih..."
Adriano naik mobil lagi. Mobil jalan, hilang di tikungan gang.
Lestari masuk kontrakan. Bu Siti langsung nyambut dengan senyum lega. "Lestari! Antoni! Alhamdulillah udah pulang! Gimana Antoni?"
"Udah sehat, Tante. Tinggal kontrol seminggu lagi."
"Syukurlah... Tante khawatir banget kemarin. Tante sampai nggak bisa tidur gara-gara mikirin Antoni..."
Lestari bawa Antoni ke kamar, baringkan di kasur. Antoni masih tidur nyenyak. Lestari selimuti, cium kepala Antoni.
"Terima kasih Ya Allah... terima kasih udah selamatin anak ku..."
Lestari keluar kamar, ke ruang tamu, duduk di kursi plastik. Ambil tas nya, mau ngecek isi nya.
Buka tas.
Di dalem ada... amplop cokelat.
Amplop yang Lestari nggak pernah masukin.
Lestari keluarin amplop itu. Buka.
Di dalem nya... uang.
Banyak banget.
Lestari itung. Lembar demi lembar. Semuanya seratus ribuan.
Total: dua juta rupiah.
Lestari kaget. "Dari mana... uang ini..."
Di dalam amplop ada kertas kecil. Tulisan tangan. Tulisan rapi tapi nggak terlalu bagus, kayak tulisan orang yang jarang nulis tangan karena biasa ngetik.
Tulisan nya: "Buat Antoni jajan. Jangan dipikir hutang. ...A..."
A.
Adriano.
Lestari ngeliat uang di tangan nya. Mata nya panas lagi.
"Kenapa... kenapa dia sebaik ini... kenapa..."
Bu Siti ngeliat dari dapur. "Kenapa, Nak? Kamu nangis lagi?"
Lestari menggeleng. Senyum sambil nangis. "Nggak apa, Tante... cuma... cuma terharu aja..."
Bu Siti senyum ngerti. "Tuan Adriano ya? Dia emang orang baik."
"Iya, Tante... dia... dia terlalu baik buat saya..."
Lestari peluk amplop itu erat. Di dalam hati nya... ada perasaan yang makin kuat.
Perasaan yang bikin jantung nya berdebar tiap inget wajah Adriano.
Perasaan yang bikin dia pengen ketemu Adriano lagi.
Perasaan yang... yang mungkin udah jadi cinta.
Tapi Lestari takut.
Takut perasaan ini salah.
Takut Adriano nggak ngerasa hal yang sama.
Takut... takut dia cuma bermimpi terlalu tinggi.
Tapi... tetep aja.
Tetep aja hati nya berharap.
Berharap mungkin... mungkin takdir bakal baik sama dia kali ini.
Mungkin... Adriano adalah hadiah dari Tuhan setelah semua penderitaan yang dia alamin.
Mungkin.
---