Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hari telah berlalu bulan pun telah berganti. Segala sesuatunya berjalan dan berubah seiring berjalannya waktu.
Kehidupan Nafis pun kini telah berubah, menjadi single parent memang tidak mudah, akan tetapi Nafis bersyukur kedua anaknya tumbuh dengan baik. Naufal sudah tidak lagi rewel karena ketidak hadiran abinya. Azizah pun belajar dengan baik di pesantren. Bahkan tahun ini Azizah menyelesaikan hafalannya menjadi 30 juz.
Kesibukan Nafis kini pun bertambah. Selain bisnis butiknya yang semakin berjaya karena memiliki desainer sendiri dan juga pabrik konfeksi sendiri. Kliniknya pun semakin di percaya banyak orang untuk berkonsultasi dengannya. Bahkan Nafis sudah memiliki beberapa psikolog yang membantu dia menangani pasien di kliniknya.
Sekarang di tambah lagi beberapa novelnya di lirik oleh beberapa sutradara. Bahkan di salah satu novel yang di adopsi menjadi film Nafis di tunjuk sebagai penulis skenarionya.
Akan tetapi status dirinya yang seorang janda, membuat dia tak luput dari fitnah dan pandangan buruk dari orang di luar sana. Berkali-kali dia di terpa gosip tak sedap. Yang terbaru bahkan dia dikabarkan menjadi istri simpanan seorang sutradara. Beruntung semua tidak terbukti tapi, berita ini sempat membuatnya jadi bulan-bulanan awak media. Hanya dia menolak setiap ada stasiun TV yang mengundangnya untuk klarifikasi.
Nafis mencoba menghindar dari hingar bingar dunia selebriti. Dia tak mau masuk terlalu dalam dalam dunia itu. Jika pun terpaksa datang ke sebuah acara talk show, dia hanya akan datang jika berhubungan dengan karyanya. Sedari awal dia juga sudah mengatakan bahwa dia tidak berkenan menjawab jika pertanyaannya mengarah ke ranah pribadi.
Beruntungnya yang memeiliki acara paham dengan permintaannya. Jika pun mereka menolak , Nafis akan memilih menolak hadir. Dia tidak mau ranah pribadinya di ketahui banyak orang. Bahkan ketika berita perceraiannya dengan Hanafi tercium oleh media dia hanya bilang jika sudah tidak adanya kesejalanan pemikiran dan arah pandang hiduplah yang menjadi penyebab perceraiannya.
Nafis hanya takut jika suatu saat nanti apa yang dia ucap di layar kaca di lihat anak-anaknya. Dan membuat semakin memburuknya hubungan anak-anaknya dengan abinya. Dia tidak mau anak-anaknya kehilangan rasa hormat kepada abinya. Yang berujung dia lagi yang menjadi menjadi pihak di salahkan.
Nafis memilih fokus pada karya dan kebermanfaatan dirinya bagi orang banyak. Biar itu saja yang anak-anaknya lihat. agar mental mereka tidak rusak karena perpisahan anak-anaknya.
Nafis tak memberi celah pada dirinya sendiri maupun orang lain mengorek luka lamanya. Dia terus menampilkan karyanya, agar fokus khalayak ramai lebih tertuju kesana ketimbang mengorek tentang urusan pribadinya.
Hari ini di Papua besok bisa jadi sudah ada di Aceh bahkan bisa jadi keluar negeri. Kiprahnya dalam dunia psikologi membuatnya di terbang dari kota yang satu ke kota yang lain. Beruntung putra ecilnya paham akan kesinukan bundanya. kalau libur sekolah tak jarang Naufal yang kini duduk di bangku kelas 1 sd itu memeilih ikut kemana pun bundanya pergi.
Seperti hari ini, Nafis sedang dalam perjalanan menuju ke Bandung. Besok dia akan mengisi sebuah seminar di salah satu perguruan tinggi di sana. Selain itu siang harinya dia adi jadwalkan menemui anak yang menjadi korban trauma atas pertengkaran orang tuanya yang terjadi di depan matanya.
Nafis berangkat dari Jakarta sore hari, dia akan menginap di salah satu hotel yang ada di dekat berlangsungnya seminar besok.
Seperti biasa karena besok Naufal libur, maka anak ganteng yang mewarisi garis wajah Nafis itu memilih ikut bundanya.
" Bunda masih jauh ya ? " Ucap Naufal, sepertinya anak itu mulai kelelahan.
" Sebentar lagi juga sampai mas " Ucap kang Maman yang hari ini membersamai perjalanan Nafis di balik kemudi.
" Adek bosen ?" naufal mengangguk.
" Sabar ya, sebentar lagi juga sampai. Nanti bisa langsung istirahat di hotel."
" Iya bunda "
Setelah samapai di hotel Nafis memesan 3 buah kamar. Satu untuk dirinya dan Naufal, lalu satu lagi untuk Santi dan Mirna dan terakir untuk kang maman. Awalnya maman menolak dan mengatakan jika dia bisa tidur di mobil saja. Akan tetapi Nafis kekeh memesankan kamr untuknya istirahat.
Paginya Nafis bergegas menuju ketempatnya akan menjadi pembicara sebuah seminar. Sudah banyak peserta yang datang, team Nafis yag sudah berangkat lebih dulu pun sudah siap berjaga di stan mereka. Karena selain seminar, panitia juga membuka beberapa stan yang bisa di sewa untuk berjualan baik makanan, minuman dan juga beberapa barang lainnya. Team nafis memanfaatkan itu untuk mempromosikan novel dan buku baru Nafis yang berhubungan dengan dunia psikologi.
Awalnya Nafis hendak menolak tawaran mengisi seminar ini. Karena yang menjadi fokus pembahasannya adalah tentang pernikahan di usia muda dan cara memepertahankan agar tetap langgeng di atas terpaan kerasnya badai perpisahan.
Nafis merasa tak layak karena rumah tangganya sendiri pun tidak berhasil. Dia merasa malu jika apa yang dia sampaikan justru dia sendiiri yang tidak bisa mempraktekannya.
Namun pihak panitia bersikeras membujuknya. Mereka bilang bisa saja orang-orang belajar dari kisahnya agar tidak sampai gagal rumah tangganya.
Nafis pun memutuskan menerima undangan itu dengan harapan, apa yang dia sampaikan bisa menjadi salah satu pijakan mereka yag mengikuti seminar ini di masa depan."
Seminar berjalan kondusif samapi pada Akhirnya ada seorang yang mengajukan pertanyaan tentang bagaimana orang yang yang punya banyak teori seperti dirinya memilih menyerah dengan rumah tangganya .
Nafis menarik nafas dalam sebelum menjawab pertayaan orang tersebut.
" Baik, terima kasih atas pertanyaannya. Saya ijin jawab ya. Saya mengakui kegagalan saya karena tidak bisa mempertahankan rumah tangga saya. Ada hal prinsip yang membuat saya memilih mundur. keputusan ini saya ambil juga bukan satu dua hari, banyak sekali pertimbangan saya. Akan tetapi pada akhirnya saya mundur karena memang sudah tidak bisa dipertahankan. Beliau dan saya sudah beda pandangan."
" Pertimbangan saya selanjutnya adalah menjaga psikologi anak-anak saya. Saya tidak mau mereka tumbuh dalam suasana rumah yang tidak lagi kondusif "
" Apa hal prinsip itu bunda ?" Nafis tersenyum.
" Setiap orang tentu punya prinsip hidup masing-masing. Dan jika prinsip itu di langgar tentu tidak akan nyaman bukan ?"
" dan bagi saya cukup mejadi pembelajaran bagi saya pribadi apa yang membuat saya memutuskan mengambil keputusan besar dan tidak mudah ini. Setiap pasangan yag memutuskan berumah tangga tentu menginginkan bisa bersama sampai akhir dan tidak mengharap sebuah perpisahan. Begitu juga dengan saya, saya pun sama sedari awal tentu mengharap pernikahan ini sekali seumur hidup terlebih sudah ada anak di atara kami. Akan tetapi saya memutuskan menyerah karena memang sudah tidak ada yang bisa saya perbaiki menurut versi saya "
" Benar jika ada seorang ulama besar mengatakan jika menikah adalah takdir sementara berpisah adalah murni keputusan manusianya. Seberat apapun jika memang masih sanggup menahan ya tetap langgeng sampai akhir. "
" Rumah tangga itu berdiri atas dua orang yang saling melengkapi. Jika bermasalah ya sudah barang tentu ini salah kedua belah pihak. Itu yang saya yakini. Dan karena itu selama ini saya memilih menyimpan sediri apa yang menjadi musabab saya mengambil keputusan demikian "
" Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karean tidak dapat memenuhi ekspetasi anda semua dengan jawaban yang sesuai."
" Saya menghormati beliau, karena bagaimanapun beliau adalah abi dari anak-anak saya. Dan di jaman yang serba cangih ini tentu apapun yang saya ucap akan meninggalkan jejak yang sampai kapanpun bisa di akses kembali oleh putra-putri saya. Saya tidak mau ucapan saya hari ini membuat buruk hubungan ayah dan anak di kemudian hari."
" Perceraian orang tuanya itu sudah menjadi luka yang teramat dalam bagi anak-anak. Karena itulah saya selama ini mendorong para orang tua yang memang tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya agar tetap menjaga hubungan baik, jikapun tidak bisa setidaknya tidak saling menjelekan satu sama lain. Agar apa ? "
" Tentu agar anak-anak tidak semakin merasakan betapa buruknya perceraian orang ua mereka."
" Ini adalah salah satu upaya saya menjaga hati anak-anak agar tidak semakin terluka."
" Saya menerima undangan mengisi seminar ini pun sebenarnya berat. Bagaimana saya bisa memberi kiat-kiat bagaimana mempertahankan rumah tangga sementara rumah tangga saya sendiri tidak bisa bertahan ?"
" Akan tetapi ucapan pak rektor membuat saya memberanikan diri berdiri di sini dengan harapan apa yang saya alami bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman semua. Bahwa saya tidak memaklumi adanya perpisahan, akan tetapi terkadang mundur lebih baik dari pada membuat banyak hati ikut terluka. Jika masih bisa di pertahankan maka teruslah berusaha. Sampai di titik kamu merasa memang sudah saatnya kamu melepasnya, maka lepaskanlah tanpa menambah luka dan drama yang berkepanjangan "
" Selama masih ada upaya dari kedua sisi untuk saling memperbaiki keutuhan rumah tangga maka, jangan biarkan apapun menggoyahkan pondasi yang sudah kalian bangun dengan susah payah "
" Tapi jangan biarkan dirimu berjuang sendiri terlalu lama. Terlebih jika kamu menyadari bahwa apa yang kamu perjuangan hanya akan berakhir sebuah kesia-siaan belaka."
Seminar baru berakkhir dua jam kemudian. Banyak peserta yang ingin berfoto bersama dengan Nafis. Dengan ramah Nafis meladeni mereka. Lelah tapi, dia merasa bahagia dan lega.
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri