Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 (twenty six)
Suara peluit kereta api di Stasiun Tugu terdengar seperti jeritan panjang yang menyayat fajar. Ratna melangkah keluar dari gerbong dengan napas yang tertahan. Yogyakarta biasanya menyambut siapa pun dengan aroma gudeg dan keramahan yang tulus, namun bagi Ratna, kota ini terasa seperti labirin kaca yang siap pecah.
Ia menarik pinggiran topi baseball-nya lebih rendah. Di sampingnya, Teguh terus waspada, tangannya tak lepas dari tas ransel yang berisi perlengkapan darurat. Mereka bergerak cepat menuju pintu keluar, mencoba melebur di antara kerumunan turis yang membawa kamera dan ransel besar.
Saat mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan untuk memetakan rute, Ratna membeku. Di seberang jalan, seorang wanita dengan jaket denim sedang berdiri di depan penjual koran. Wanita itu mengenakan kacamata hitam, namun bentuk dagunya, cara dia mengikat rambutnya, hingga gestur tangannya saat menerima kembalian uang...
"Teguh," bisik Ratna, suaranya parau. "Lihat ke arah jam dua. Di depan kios koran."
Teguh mengikuti arah pandangannya. "Wanita jaket denim? Kenapa, Bu? Dia cuma warga biasa."
"Itu Siska," desis Ratna.
"Bu, Siska sudah tewas di Jakarta. Kita sendiri yang melihat gedung itu meledak," Teguh mencoba mengingatkan dengan nada lembut, seolah bicara pada seseorang yang sedang trauma.
"Aku tahu apa yang kulihat, Teguh! Aku seorang jenderal! Aku tidak pernah lupa wajah musuhku!" Ratna mencengkeram pinggiran meja plastik itu hingga memutih. "Bukan cuma dia. Tadi di peron, aku melihat wanita dengan postur yang sama. Di dalam kereta, pramugari yang menyajikan kopi... mereka semua punya kemiripan yang tidak wajar."
Teguh terdiam. Ia mulai khawatir jika guncangan jiwa akibat transmigrasi dan pertempuran bertubi-tubi mulai merusak kewarasan Ratna. Namun, Ratna tahu ini bukan halusinasi. Ini adalah insting yang telah terasah di ratusan medan perang. Sesuatu sedang mempermainkan matanya.
Mereka memutuskan untuk menginap di sebuah losmen tua di daerah Sosrowijayan. Kamarnya sempit, dengan dinding kayu yang sudah mulai lapuk. Saat Ratna memeriksa kolong tempat tidur untuk memastikan keamanan, ia menemukan sebuah amplop cokelat kecil yang direkatkan dengan selotip bening.
Ratna merobeknya dengan cepat. Di dalamnya terdapat sebuah kliping koran lama yang sudah menguning, bertanggal 15 tahun yang lalu. Berita utamanya: "Kebakaran Hebat di Panti Asuhan Kasih Bunda: Dua Saudara Kembar Dinyatakan Hilang".
Ada sebuah foto hitam putih yang menyertai berita itu. Dua gadis kecil, berusia sekitar tujuh tahun, sedang bergandengan tangan. Wajah mereka identik. Di bawah foto itu, ada tulisan tangan yang sangat rapi menggunakan tinta merah:
"Satu menjadi pedang yang haus darah, satu lagi menjadi sarung yang menyembunyikan dendam. Mana yang akan kau pilih untuk membantumu, Jenderal? Jangan mati terlalu cepat, karena panggung ini baru saja disiapkan. - S"
"Selina..." gumam Ratna. Nama itu muncul di kepalanya begitu saja, seolah-olah ditarik dari ingatan yang bukan miliknya.
"Siapa Selina, Bu?" tanya Teguh yang sedang memasang jammer sinyal di pojok ruangan.
"Aku tidak tahu. Tapi dia tahu siapa aku, dan dia tahu tentang Siska," jawab Ratna. Ia merasa seperti seekor tikus yang sedang dilepaskan di dalam labirin. Seseorang sedang menyediakan jalan, menyediakan informasi, bahkan mungkin menyediakan perlindungan, tapi dengan tujuan yang belum jelas.
Malam harinya, mereka mencoba mencari makan di area Malioboro. Di tengah riuh rendah suara pengamen dan aroma sate ayam, Ratna merasa dunia di sekelilingnya bergerak dalam gerak lambat.
Setiap kali ia menoleh, ia melihat "Siska".
Di bangku taman, seorang wanita sedang membaca buku wajah Siska.
Di balik kemudi becak, seorang wanita yang sedang menunggu penumpang profil Siska.
Bahkan seorang seniman jalanan yang sedang melukis sketsa memiliki sorot mata Siska.
"Ini tidak masuk akal," Ratna mulai berkeringat dingin. "Teguh, kita harus pergi. Kota ini penuh dengan dia!"
"Bu, tenanglah! Semua orang di sini berbeda-beda!" Teguh mencoba memegang bahu Ratna, namun Ratna menepisnya.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel satelit Ratna. Bukan dari Hendra.
“Ke arah utara. 200 meter. Masuk ke gang sempit di samping toko batik. Tim pembersih Phoenix sudah mengunci lokasimu. Aku sudah membukakan pintu belakang untukmu.”
Ratna tidak punya pilihan. Ia menarik lengan Teguh dan berlari menuju gang yang dimaksud. Benar saja, pintu sebuah gudang tua terbuka sedikit. Begitu mereka masuk, Ratna melihat sesosok bayangan wanita berdiri di ujung lorong yang gelap.
Wanita itu memakai pakaian serba hitam. Wajahnya... sama dengan Siska. Tapi auranya berbeda. Ada kesedihan dan kebencian yang mendalam di matanya, bukan kekosongan seperti kloning yang mereka hadapi di Merapi.
"Siapa kau?!" teriak Ratna sambil menodongkan pistolnya.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa sangat akrab sekaligus asing. "Panggil aku Selina. Dan simpan pelurumu, Jenderal. Kau akan membutuhkannya untuk membunuh kakakku... berkali-kali."
Sebelum Ratna sempat mengejar, sebuah bom asap meledak di antara mereka. Saat asap menghilang, Selina sudah lenyap, meninggalkan Ratna dalam kebingungan yang luar biasa. Ia merasa telah menjadi pion dalam perang saudara antara dua monster.