NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

"Selamat datang di episode yang akan meluluhkan hati kalian. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa saat seorang anak lahir, saat itu pula seorang ibu dilahirkan kembali dengan kekuatan yang baru. Di episode ini, kita akan melihat bagaimana Hana menatap masa depannya yang kini memiliki nama dan suara tangis. Mari kita sambut pelipur lara Hana, sang pemilik harapan baru."

.

.

Semburat jingga mulai mengintip di ufuk timur Desa Sukamaju, mengusir sisa-sisa kegelapan malam yang paling mencekam dalam hidup Hana. Di dalam ruangan klinik yang bersahaja, aroma minyak telon dan kain bersih mulai menggantikan bau amis darah dan keringat.

Suasana menjadi begitu tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas teratur dari bayi kecil yang kini terlelap di samping Hana.

Hana terbaring lemah, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari makhluk mungil di sampingnya. Tubuh bayi itu masih tampak kemerahan, dengan jemari tangan yang sangat kecil dan sesekali bergerak refleks.

Setiap kali bayi itu mendengkur halus, hati Hana serasa bergetar hebat. Rasa sakit yang semalam nyaris merenggut nyawanya kini terasa seperti mimpi buruk yang sudah sangat jauh.

Bidan Siti masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas teh manis. Ia tersenyum melihat keintiman antara ibu dan anak itu.

"Ini, dimakan dulu, Mbak Hana. Biar ada tenaga untuk menyusui nanti," ucap Bidan Siti lembut. "Putra Anda benar-benar pejuang. Dia tidak rewel sejak tadi, seolah tahu ibunya sedang butuh istirahat."

Hana mencoba duduk dengan bantuan Bidan Siti. "Terima kasih, Bu Bidan. Saya tidak tahu bagaimana nasib kami jika tidak sampai di sini semalam."

Bidan Siti mengelus pundak Hana. "Sudah takdir Tuhan, Mbak. Oh ya, sudah ada nama untuk jagoan kecil ini? Saya harus mengisi catatan kelahiran."

Hana terdiam sejenak. Ia mengelus lembut pipi bayinya yang sehalus sutra. Bayangan Bima yang membuang sepatu bayi di apartemen, Bima yang menyiramnya dengan lumpur, dan Bima yang mengabaikan panggilan telepon darurat semalam, melintas bergantian seperti film hitam putih yang menyakitkan.

Pria itu tidak pantas memberikan nama. Pria itu tidak pantas memiliki jejak apa pun pada manusia suci ini.

​"Namanya Aditya Saka," ucap Hana dengan nada bicara yang mantap, meski matanya berkaca-kaca.

​Bidan Siti menoleh, mencoba mengecap nama itu di indranya. "Nama yang gagah, Mbak. Apa artinya?"

​Hana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung ketegaran luar biasa. "Aditya berarti Matahari, dia akan menjadi cahaya yang menghalau kegelapan di hidupku. Dan Saka berarti Tiang atau Penyangga. Dia adalah fondasi kekuatanku untuk berdiri tegak kembali. Dia tidak butuh nama besar orang lain untuk menjadi hebat."

Hana sengaja tidak menggunakan nama belakang keluarga Erlangga. Ia telah memutuskan bahwa di dalam darah Saka, tidak boleh ada setetes pun pengakuan bagi pria yang telah menolaknya.

Sesaat setelah Bidan Siti keluar untuk mengurus administrasi, Hana menarik bayinya lebih dekat ke pelukannya. Ia membisikkan sesuatu di telinga kecil Saka, sebuah sumpah yang ia ikat dengan air matanya yang mulai menetes, kali ini air mata kekuatan.

"Dengar, Nak. Kamu adalah Aditya Saka. Kamu lahir dari kekuatan Bunda, bukan dari kemewahan Ayahmu yang tidak punya hati. Bunda berjanji, mulai detik ini, Bunda tidak akan pernah membiarkan pria itu menyentuhmu. Jangankan menyentuh, melihat bayanganmu saja tidak akan Bunda izinkan."

Hana mencium kening Saka dengan khidmat. "Dia mungkin punya harta untuk membeli dunia, tapi dia tidak akan pernah cukup kaya untuk membeli satu detik pun waktumu. Kita akan tumbuh bersama, hanya kita berdua."

Janji itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu adalah benteng yang Hana bangun untuk melindungi Saka dari racun kesombongan Bima. Bagi Hana, Saka bukan hanya seorang putra, melainkan martabatnya yang baru saja lahir kembali.

Tiga hari kemudian, Hana diizinkan pulang ke rumah tuanya. Dengan menggendong Arka menggunakan kain jarik kuno milik neneknya, Hana melangkah keluar dari klinik.

Penduduk desa yang mulai mengenal Hana sebagai penjual kue yang gigih menyapanya dengan ramah. Beberapa ibu-ibu memberikan bingkisan berisi sabun bayi dan kain bekas yang masih layak pakai.

Hana merasa sangat tersentuh. Di Jakarta, ia tinggal di apartemen mewah di mana tetangga kanan-kirinya bahkan tidak tahu namanya. Di sini, di kemiskinan ini, ia justru merasa dikelilingi oleh keluarga.

Sesampainya di rumah, Hana meletakkan Saka di dalam ayunan kain yang ia buat sendiri dari sisa sprei bersih. Ia menatap dapur sempitnya. Ia tahu, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai hari ini. Ia tidak bisa hanya berdiam diri menghabiskan sisa uang tabungannya.

Meski tubuhnya masih terasa nyeri bekas jahitan, Hana mulai menyalakan kompor. Ia harus menyiapkan adonan kue untuk dijual besok pagi. Sambil mengaduk santan, telinganya tetap waspada mendengar suara dari ayunan Saka.

"Bunda kerja dulu ya, Saka. Demi susu dan masa depanmu," bisiknya ke arah ayunan yang bergoyang pelan.

Sementara itu di Jakarta, Bima Erlangga terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat akibat hangover. Ia membuka matanya di kamar apartemen yang kini berantakan.

Clarissa masih tertidur di sampingnya, mendengkur halus setelah pesta semalaman yang menghabiskan puluhan juta rupiah.

Bima meraih ponselnya. Tidak ada notifikasi baru dari nomor tak dikenal yang menghubunginya semalam. Entah kenapa, rasa penasaran itu mulai berubah menjadi kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia mencoba menghubungi pengacaranya, Baskoro.

"Baskoro, apa kau tahu kabar Hana? Maksudku, apa dia menghubungimu lagi untuk minta bantuan?" tanya Bima dengan suara serak.

"Tidak ada, Pak Bima. Sejak penandatanganan surat cerai dan pelepasan aset itu, Ibu Hana benar-benar menghilang. Saya bahkan mencoba mengirimkan salinan akta cerai ke rumahnya, tapi kabarnya beliau juga tidak ada di sana," jawab Baskoro di seberang telepon.

Bima terdiam. Menghilang? Bagaimana mungkin seorang wanita hamil tua menghilang tanpa jejak di kota sebesar ini?

Padahal, saat surat cerai di kirimkan, Hana masih berada di Klinik tiga hari yang lalu. Karena tidak ada orang di sana, surat pun di bawa kembali oleh petugas pos.

Kini, Bima bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon. Ia menatap langit Jakarta yang abu-abu. Secara matematis, usia kandungan Hana seharusnya sudah memasuki masa persalinan.

Bima membayangkan Hana mungkin sedang berada di rumah sakit kelas tiga, menangis karena tidak bisa membayar tagihan, atau mungkin sedang mengantre di Puskesmas yang sesak.

Harusnya ia merasa senang. Itulah yang ia inginkan, bukan? Melihat Hana menderita agar dia tahu bahwa hidup tanpa Bima adalah sebuah bencana. Namun, yang Bima rasakan justru sebaliknya.

Ada sebuah rasa kehilangan yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang berharga yang baru saja tergelincir dari tangannya dan jatuh ke jurang yang dalam.

"Sayang, kenapa pagi-pagi sudah bicara soal wanita itu?" Clarissa terbangun, suaranya terdengar manja namun mulai terasa mengganggu bagi telinga Bima. "Lupakan saja dia. Hari ini kita jadi kan ke butik perhiasan? Ada koleksi baru yang ingin kupakai untuk acara sosialita besok."

Bima menoleh ke arah Clarissa. Wajah wanita itu cantik, sangat cantik. Namun entah kenapa, kecantikannya terasa seperti plastik, indah namun tidak bernyawa. Ia teringat wajah Hana saat hamil, pucat, namun selalu terpancar ketulusan dari matanya.

"Nanti saja, Clar. Aku sedang tidak enak badan," jawab Bima ketus.

Bima meninggalkan Clarissa yang merengut kesal. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, membuka laci meja, dan mengeluarkan foto USG yang sempat ia selamatkan dari tempat sampah tempo hari. Ia menatap titik kecil itu.

"Apa kau sudah lahir?" gumamnya lirih.

Bima tidak tahu bahwa di saat yang sama, putra kandungnya, sedang memejamkan mata dalam dekapan hangat Hana di sebuah rumah kayu yang sunyi. Bima tidak tahu bahwa anak yang ia sebut sebagai beban itu kini telah menjadi matahari bagi wanita yang ia injak-injak harga dirinya.

Dan yang paling tidak Bima ketahui adalah, doa seorang ibu yang terzalimi sedang bergerak di langit, menyiapkan panggung bagi karma yang akan segera menjemputnya.

Bagaimana Hana membagi waktu antara mengurus bayi Saka dan berjualan kue di pasar?

Jangan lewatkan keseruannya!

1
Bang Fay
semangat hana untuk saka
Bang Fay
selamat Hana kamu hebat
Bang Fay
💪💪💪 hana
Bang Fay
jangan pikirin dia hana fokus pada bayi mu
Bang Fay
💪💪💪 hana kamu bisa
Bang Fay
💪💪 hana
Bang Fay
tenang hana kamu bisa lalui 💪💪
Bang Fay
cerita nya sangat bagus menarik terimakasih semoga kedepannya lebih seru lagi.cerita yg sangat luar biasa ♥️♥️♥️
Ovha Selvia
Eps sebelumnya adrian udah jumpa hana, malahan skalian periksa saka. Skrg tiba2 baru jumpa dan kaget pemilik kue viral ternyata hana? Thooor apa gak kebalek2 ini epsnya? 🧐
RA_maa
maamam tuh gensi gede. dikasih malaikat malah milih Iblis.
rusmiwarni rusmana
pasti akan datang penyesalan yang mendalam
Thích nhỏ lớp trưởng
.
Anik Setyowati
malah ingin menggalakan pernikahan Hana nggak menuntut pelakornya yg sudah membuat hidup dan perusahaanya nyaris hancur emang gila ini orang
Anik Setyowati
iya mangkanya itu,kan pengacaranya tahu Hana didesa dicerita awal kenapa sekarang gak tahu kok lucu sih
Anik Setyowati
aku kok bingung si Thor perasaan waktu Baskoro pengacaranya bima datang mintak tanda tangan itu kan Hana waktu itu dirumah peninggalan neneknya,tp kok ini setelahnya bima bilang waktu itu Hana di klinik, terus apa Kanya Baskoro Hana sudah pindah nggak didesa itu lagi,padahal kan Hana masih dirumah peninggalan neneknya itu gimana sih thor
Anik Setyowati
padahal waktu suster ngebel bima ditempat diskotik itu Hana belum sampe diklinik tp kok seaka akan susternya sudah ngebel bima aneh critanya
Anik Setyowati
ngapain bidannya ngebel bima Thor terus aneh kok punya nomernya bima lucu, sedangkan Hana aja nomernya bima sudah dibloker malah sudah dibuang waktu pertama pergi dari jakarta
Anik Setyowati
katanya tadi nggak akan pulang ke obutiri Thor gimanasih
Masayu Yanti
sampe nangis baca nya.koq ada ya orang kejam nya melampaui binatang 😭😭
Asrial
ceritanya bagus kak, jangan lupa mampir jg ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!