Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Sudah jam berapa sekarang ya, kayaknya aku ketiduran lumayan lama dan kepalaku sedikit pusing mungkin karena kebanyakkan menangis.
Hmmmm...
Siapa yang menyiapkan aku minum dan cemilan? Ini kamar siapa luas banget tapi aku kenal bau ini, sama sepeeti parfum kak Ray.
Setelah meminum dan makan cemilan aku pergi ke kamar mandi di kamar yang sedang ku tempati ini, begitu mewah dan elegan.
Aku keluar dari kamar dan di ruang santai keluarga Wilder sedang berkumpul.
"Loh Lea sudah bangun, ayo turun sini nak". Kata nyonya besar.
Di sana juga ada ayah dari ketiga saudara itu, Reno terlihat terunduk lesu di hadapan kedua orang tuanya.
"Duduk sini sayang".
Aku duduk di sebelah nyonya besar dia mengusap kepalaku dengan lembut dan menggenggam tanganku.
"Sekarang kamu mau bagaimana Reno". Tanya beliau kepada Reno.
"Reno mau putus sama Lea ma. Reno sudah lelah sama sikap Lea yang kekanak kanakan itu".
"Bukannya kamu lebih memilih selingkuhanmu itu? Siapa namanya, oh Melinda ya".
"Baguslah". Sambung nyonya besar
Aku dengan reflek menoleh ke arah beliau, beliau bilang baguslah jika aku dan Reno putus kami sudah pacaran 3 tahun lebih dan dia juga sudah mengambil keperawananku.
"Lea jangan sedih nak, dia memang tidak pantas untuk kamu".
"Tapi Lea sudah kotor tante". Jawabku tertunduk lesu
"Sayang, suatu hari pasti akan ada pria yang benar-benar sayang sama kamu dan menerima apa adanya diri kamu".
Air mataku kembali mengalir dan beliau memeluk diriku.
"Hais seandainya kamu jadi putri tante saja Lea, gadis secantik kamu bisa-bisanya di duakan sama wanita murahan begitu".
Setelah perbincangan yang teramat sangat lama dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, nyonya besar memintaku untuk menginap namun aku menolak dan memilih untuk pulang, karena aku tidak nyaman sudah banyak merepotkan keluarga ini.
"Ray antar Lea kerumahnya". Perintah sang ayah
"Baik yah".
"Eh om nggak usah Lea bisa pulang sendiri".
"Tidak baik wanita pergi sendirian malam-malam".
Motor yang ku bawa sudah di masukkan satpam ke garasi rumah keluarga Wilder dan sebuah mobil sport siap mengantarku pulang.
"Apa tidak meropatkan kak Ray?". Tanyaku padanya
"Ayo masuk".
Gugup dan cemas ketika bersama dengan Ray, karena yang aku tahu dia orang yang sangat pendiam tapi siapa sangka dia adalah pengusaha impor ekspor sukses termuda yang ada. Tentunya ayahku masih berada di puncak.
"Mau pulang ke asrama atau kerumah". tanyanya selama perjalanan
"Loh kakak tahu rumah ku?".
"Siapa yang nggak kenal sama kamu Lea, cuma si bodoh itu yang nggak tahu".
"Tapi orang tuaku tidak pernah mengekspos aku kak?".
"Kamu lupa aku punya perusahaan apa".
Aku terdiam sejenak.
"Kakak juga tahu rumahku?".
"Perumahan iceland kan?".
"Ih kakak stalker".
Dia hanya diam, rasanya canggung sekali aku hanya berharap sampai kerumah dengan selamat saja.
"Tidak usah kamu pedulikan lagi cecunguk itu, dia tidak pantas buat kamu Lea".
"Akan Lea coba kak, karena 3 tahun itu bukan waktu sebentar bagi Lea, apa lagi Lea sangat sayang pada mereka berdua".
"Hais kenapa kamu terlalu baik Leana".
Aku terlalu baik? Bukankah mereka yang jahat.
Sesampainya dirumah satpam membukakan gerbang rumahku yang begitu besar untukku yang tinggal sendirian.
"Masuklah, istirahat jangan pernah menghubunginya lagi".
Aku mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah, ku lihat di luar jendela mobil Ray masih terparkir di sana mungkin dia menungguku untuk mematikan lampu dan dia akan pulang.
Benar saja setelah 1 jam aku mematikan lampu barulah dia beranjak pergi.
Paginya setelah berendam dalam air hangat rasanya tubuhku menjadi lebih nyaman, selesai sarapan aku meminta pada bibi untuk menyiapkan motor untukku pergi ke kampus.
"Non ada tamu".
"Siapa bi pagi-pagi begini?".
"Tuan Ray non".
"Apa?".
Aku bergegas menuju ruang tamu dan Ray sudah duduk di sana dengan santai dan sibuk dengan ponselnya.
"Kak Ray ada apa?".
"Aku mau ke kantor sekalian antar kamu".
"Lea bisa berangkat sendiri kak".
"Mama ku yang memintanya".
"Hah tante".
Setelah sarapan aku segera mendatangi Ray yang sudah menungguku di taman depan, mobilnya begitu mencolok dan jika aku pergi dengannya menggunakan mobil ini aku akan menjadi pusat perhatian.
Benar saja setibanya di kampus semua mata tertuju padaku yang baru keluar dari mobil Ray.
Mungkin fikir mereka, bagaimana bisa gadis miskisn sepertiku bisa naik mobil mewah, jika aku ingin beli pun bisa.
"Habis jual diri kamu Lea, ya ampun nasibmu baru di putusin Reno sudah langsung jual diri". Sindir Melinda
Siapa sangka Melinda yang ku anggap sebagai teman baikku ternyata punya sifat begini, apa yang Reno lihat darinya apa jangan-jangan mereka sudah melakukannya.
"Apa urusannya denganmu? Urus saja pacarmu jangan urusin urusan orang lain, mau aku jual diri kek apa kek tidak ada urusannya sama kamu". Marahku padanya
"Hahaha pantas saja Reno mutusin kamu, ternyata benar ya kamu jual diri pada orang. Menjijikkan".
"Aku? Bukankah merebut pacar teman sendiri lebih menjijikkan".
"Ingat ya Lea, kamu itu nggak pantas sama Reno sampai kapanpun".
"Ambilah bekas sampahku". tantangku padanya
"Kamu".
Untunglah dosen datang tepat waktu, terimakasih pak telah menyelamatkan diriku.
pelajaran demi pelajaran sudah ku lewati dengan tatapan orang-orang yang merendahkan diriku.
...****************...
Beberapa hari setelahnya, banyak berita miring tentangku hingga akhirnya pihak kampus memanggilku dan mengeluarkanku secara resmi dari kampus karena membuat kegaduhan di kampus.
Aku yang sempat blank dengan surat keputusan itu hanya bisa menghela nafas panjang, beginikah kekuatan dari seorang Melinda.
Setibanya di asrama dan membereskan semua barangku, aku menelpon kedua orang tuaku.
(Mama maaf Leana di kelaurkan dari kampus).
(Apa bagaimana bisa?).
Aku menjelaskan semuanya kepada mama, beliau sangat marah dan akan berangkat sendiri untuk menjemputku di kota.
(Ayah bagaimana).
(Sudah biarkan saja ayah kamu, mama akan jemput kamu sekarang).
Setelah membereskan barang, aku memanggil jasa angkut untuk mengangkut barang bawaanku.
Malu? Tentu saja aku yang menjadi korban malah menjadi pelaku, setidak adil ini kah hidup orang yang biasa saja dan selalu di anggap remeh oleh orang yang merasa diri mereka hebat.
Bukankah di atas langit masih ada langit?
Besoknya mamaku tiba.
"Sayang mama, ayo pulang".
"Tapi mama baru sampai".
"Huh baiklah, karena perjalan juga lumayan lama".
Setelah makan bersama, ayah tiba-tiba menelpon mama yang tidak ada dirumah dan tiba-tiba berada dirumahku.
Panjang lebar beliau membicarakan tentangku di ponselnya.
Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku terus menerus, maka sebaiknya aku menjauhkan diri dari mereka berdua.
"Ma, yah. Leana mau liburan bolehkan".
"Mau kemana sayang?". Tanya mama lembut.
"Aku mau keliling eropa lalu ke asia, Lea mau ketemu tante". jawabku dengan pasti
"Sendirian?".
"Iya ma, Leana mau belajar tapi tidak kuliah, Leana mau belajar hal baru".
Dengan penuh keyakinan aku ingin kedua orang tuaku percaya padaku. jika aku meneruskan kuliahku mungkin hal yang sama akan terjadi padaku.
Dengan berat hati kedua orang tuaku menyetujui keinginanku, namun sebelum itu aku harus ikut pulang bersama mama agar ayahku tidak semakin cemas tentang diriku.
Gadis kotor ini ingin memperbaikki hidupnya sendiri tidak apa kan? Mungkin dengan bertemu orang-orang baru dan hal-hal baru akan merubah diriku sedikit demi sedikit.
Esoknya aku dan mama mengambil pernerbangan pagi agar sorenya kami sudah sampai di rumah.
Aku rindu dengan rumah yang ada mama dan ayah aku masih punya rumah untuk pulang ketika aku lelah dengan dunia ini.
Sebelum memulai petualanganku yang akan ku lakukan bulan depan begitu matang, hanya saja ini mungkin akan banyak memakan biaya dari orang tuaku, namun mereka tidak masalah karena selama kuliah aku jarang meminta uang pada mereka dan lebih memilih berhemat.
Aku juga sudah menghungi tanteku, betapa senangnya dia aku memilih tinggal bersama dirinya dan suaminya, mereka sudah lama menikah namun belum di karuniai seorang anak.
semangat ngetik thor sampe tamat..