NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you cheated on me?

Lift berdenting halus saat mencapai lantai dua puluh. Lorong hotel ini begitu sunyi, dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki. Nana berjalan dengan lutut yang terasa lemas, sementara Abian berjalan di sampingnya dengan wajah datar.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Kamar nomor 205.

"Sudah siap, Na?" tanya Abian pelan.

Nana tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang dan mengangguk pelan. Hatinya berteriak bahwa ini salah, bahwa Rian tidak mungkin melakukannya, tapi pemandangan di lobi tadi adalah bukti yang sulit dibantah.

Klik.

Abian menempelkan kartu aksesnya. Lampu indikator berubah hijau. Tanpa ragu, Abian mendorong pintu itu terbuka lebar.

Pemandangan di dalam sana seketika menghancurkan sisa-sisa harapan Nana. Di atas ranjang king size yang berantakan, sepasang insan berbeda jenis sedang dalam posisi yang sangat intim. Mereka tampak tanpa busana, sedang menumpahkan hasrat satu sama lain, tidak menyadari bahwa pintu kamar telah terbuka.

"R-Rian?" suara Nana pecah.

Kedua orang di atas ranjang itu tersentak hebat. Wanita berpakaian terbuka yang tadi di lobi yang kini tidak mengenakan apa-apa selain selimut yang ditarik asal berteriak kaget. Rian, pria yang selama ini selalu tampak tulus dan sederhana di mata Nana, menoleh dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Refleks, Nana langsung berbalik badan, namun jemarinya bergerak cepat menutupi mata Abian.

"Tutup mata Bapak! Mereka ngga pakai baju." ucap Nana setengah berteriak, suaranya bergetar hebat karena menahan tangis dan syok.

Abian, dengan tenang, menurunkan tangan Nana dari wajahnya. Ia tetap berdiri tegak, menatap pemandangan kacau di depannya dengan tatapan menghina.

"Kamu yang seharusnya tutup mata, Nana," sahut Abian dengan nada rendah.

Rian benar-benar panik. Ia berusaha meraih celananya yang tergeletak di lantai sambil tergagap. "Na... Nana! Ini... ini nggak seperti yang kamu lihat! Aku bisa jelasin!"

Abian tertawa sinis, tawa yang bergema di ruangan mewah itu. "Penjelasan apa? Sudah jelas-jelas ada buktinya."

Rian turun dari ranjang dengan hanya menggunakan boxer, tangannya gemetar menunjuk Abian. "Siapa lu?! Keluar! Lu nggak berhak masuk ke sini!"

Abian melangkah satu tindak ke depan, auranya begitu mengintimidasi hingga Rian mundur selangkah.

"Saya investor tempat kamu berzinah ini. Dan saya adalah orang yang paling berhak menendangmu keluar dari sini dalam keadaan telanjang kalau saya mau."

Nana tidak sanggup lagi. Ia membelakangi mereka semua, bahunya berguncang hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Semua kata-kata pedas Abian selama ini tentang Rian ternyata bukan sekadar hinaan tanpa dasar, melainkan kenyataan pahit yang tidak ingin ia akui.

"Na, dengerin aku..." Rian mencoba mendekat.

"Jangan berani-berani kamu menyentuhnya dengan tangan kotor itu," ancam Abian.

Nana membalikkan badannya. Wajah yang biasanya tenang dan penuh kesabaran itu kini basah oleh air mata, namun sorot matanya tajam.

Ia menatap Rian yang berdiri mematung di samping ranjang dengan wajah yang tak lagi terlihat polos, melainkan pengecut.

"You cheated on me. Di depan mata saya sendiri," suara Nana bergetar, namun setiap katanya menekan.

Rian mencoba melangkah maju, "Na, denger dulu, ini cuma sekali..."

"Satu kali atau seribu kali, hasilnya sama! Kamu pengkhianat!" potong Nana dengan suara melengking.

"Selama dua tahun ini, apa yang kurang, Rian? Kamu minta uang buat bayar kontrakan, aku kasih. Kamu bilang motormu rusak dan butuh servis, aku yang potong gaji buat bantu kamu. Aku selalu kasih apa yang kamu mau karena aku percaya kamu lagi berjuang!"

Nana menyeka air matanya dengan kasar, lalu jarinya menunjuk tajam ke arah wanita yang masih duduk di atas ranjang sambil dengan santai menyalakan rokok, seolah tontonan di depannya adalah hal biasa.

"Dan kamu!" tunjuk Nana pada wanita itu. "Kamu juga mau-mauan aja diajak sama laki-laki kayak dia? Kamu nggak punya harga diri?!"

Wanita itu mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Nana dengan tatapan datar yang dingin. "Jangan bawa-bawa harga diri ke saya, Mbak. Ini memang kerjaan saya. Selama ada uangnya, ya saya layani."

Nana tertegun. Matanya membelalak lebar. "Kerjaan? Maksud kamu..."

Kesadaran itu menghantam Nana seperti godam berat. Ia menoleh perlahan ke arah Rian yang kini menunduk dalam.

"Oh... jadi kamu nyewa LC?" tanya Nana dengan nada tak percaya.

"Semalam... semalam kamu telepon aku, bilang butuh uang mendesak buat bayar cicilan yang nunggak. Itu uang terakhir di tabunganku bulan ini, Rian! Jadi kamu minta uang itu cuma buat nyewa LC?!"

Rian mencoba membela diri, suaranya meninggi karena malu. "Ya habisnya kamu sibuk terus sama bos kamu itu! Aku juga butuh hiburan, Na! Kamu terlalu kaku, nggak pernah mau diajak senang-senang!"

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Rian, membuat pria itu terjerembap kembali ke kasur. Bukan Nana yang melakukannya, melainkan Abian yang sejak tadi berdiri diam menyimak.

"Mulutmu lebih sampah dari yang saya duga," desis Abian dingin.

Nana tertawa getir di tengah tangisnya. Ia menatap Rian dengan tatapan paling menjijikkan yang pernah ia berikan pada manusia.

"Aku pikir kamu cuma miskin harta, Rian. Ternyata kamu juga miskin moral," ucap Nana lirih namun penuh penekanan.

"Dasar... laki-laki lo*te."

Kata-kata itu keluar dengan telak. Rian terdiam, tak mampu lagi membalas.

Abian melangkah mendekat, lalu tanpa diduga, ia melepaskan jas navy-nya dan menyampirkannya ke bahu Nana yang sedang bergetar hebat.

"Ayo pergi, Na," ajak Abian, kali ini suaranya melunak, meski tatapannya pada Rian masih setajam silet.

"Biarkan dia menikmati sisa waktunya dengan hiburan yang dibayar pakai uang pemberianmu. Besok, dia bahkan nggak akan mampu beli galon untuk dirinya sendiri."

Abian menarik Nana keluar dari kamar itu, meninggalkan Rian yang hanya bisa terdiam meratapi kehancurannya di dalam kemewahan yang bukan miliknya.

Wanita itu mematikan puntung rokoknya di asbak kristal di atas nakas. Dengan santai, ia membetulkan posisi selimutnya dan menatap Rian yang masih memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Abian.

"Gimana? Jadi lanjut lagi nggak? Apa mau disudahi saja karena drama tadi?" tanya wanita itu tanpa beban

"Ya lanjutlah! Aku sudah bayar kamu mahal, pakai uang cash lagi. Rugi kalau berhenti sekarang cuma gara-gara gangguan nggak penting begini."

1
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!