Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Omar memandang tuannya dengan perasaan campur aduk. Kagum, terharu dan sedikit khawatir.
“Tuan, cinta sebesar ini akan sangat menyakitkan jika tidak terbalas.” ucap Omar yang membuat Syakil tersenyum tipis.
“Sejak aku memutuskan untuk kembali kesini, aku sudah siap dengan segala resikonya, Omar. Entah itu penerimaan Arsy maupun penolakannya.”
Tanpa menunggu reaksi dari asistennya itu, Syakil melangkah pergi. Langkahnya mantap dan penuh tekad. Ia berjalan menuju lorong IGD, tempat dimana Arsy berada. Omar berdiri mematung dan menatap kepergian tuannya yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya, Omar benar-benar memahami betapa dalam cinta yang dimiliki Syakil untuk Arsy. Cinta yang tidak menuntut balasan maupun cinta yang tidak memaksa untuk dimiliki.
Lorong menuju ruang IGD terasa jauh lebih sunyi saat Syakil melangkah berhenti tepat di depan pintu ruang IGD tempat Arsy berada. Tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka sedikit. Celah sempit itu cukup baginya untuk mengintip ke dalam.
Dan di sanalah Arsy, perempuan itu tertidur dalam posisi duduk di kursi besi di samping ranjang ayahnya. Kepalanya miring ke samping, bersandar pada sandaran kursi yang dingin. Hijabnya yang panjang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Napasnya terdengar pelan dan tidak teratur, seperti orang yang tertidur bukan karena ingin, tapi karena tubuhnya sudah benar-benar menyerah oleh rasa lelah.
Tangan Arsy masih menggenggam ujung selimut rumah sakit milik ayahnya, seolah bahkan dalam tidurnya pun Arsy takut melepaskan ayahnya bahkan walau sedetik. Bahunya turun dan tidak lagi tegang seperti sebelumnya, tapi justru itulah yang membuat Syakil merasa dadanya mengencang. Di saat Arsy tidak sadar, semua pertahanan yang tadi ia bangun runtuh begitu saja.
Syakil tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama hanya untuk menatap perempuan yang dicintainya. Ada rasa tidak tega yang begitu kuat menghantamnya. Perempuan yang beberapa jam lalu memaksa dirinya terlihat baik-baik saja, kini tertidur dalam posisi yang sama sekali tidak nyaman. Lehernya miring terlalu lama.
“Kenapa dia tertidur dalam posisi seperti itu?” gumam Syakil dengan lirih dan hampir tak bersuara.
Ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar dan melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Seolah setiap gerakan yang ia lakukan bisa saja membangunkan Arsy. Syakil mendekat dan berhenti tepat di hadapan perempuan itu, lalu berlutut sedikit agar sejajar dengan wajahnya. Dari jarak sedekat itu, Syakil bisa melihat jelas betapa pucat wajah Arsy. Lingkaran gelap di bawah matanya. Bibirnya yang sedikit kering. Ada bekas air mata yang sudah mengering di pipinya.
“Kenapa kamu selalu sekeras ini sama diri kamu sendiri, Arsy?” bisik Syakil pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.
Ia melirik ke arah sofa panjang yang berada di sudut ruangan. Tidak empuk, tapi jelas jauh lebih layak daripada kursi besi dingin ini. Keputusannya diambil tanpa ragu ragu, Dengan gerakan sangat hati-hati, Syakil menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Arsy dan satu lagi menyangga punggungnya. Tubuh Arsy terasa ringan dan membuat hati Syakil kembali teriris. Ia mengangkat tubuh itu perlahan sembari memastikan kepala Arsy bersandar dengan aman di lengannya.
Arsy sedikit bergerak, alisnya mengernyit kecil, tapi ia tidak terbangun. Napasnya hanya berubah sedikit lebih dalam, seolah tubuhnya justru menerima kenyamanan yang akhirnya diberikan. Syakil menahan napas saat berjalan menuju sofa. Setiap langkah terasa seperti membawa sesuatu yang sangat berharga dan rapuh. Ia menurunkan tubuh Arsy perlahan, membaringkannya dengan hati-hati, memastikan punggungnya tersangga dengan baik dan kepalanya tidak miring.
Saat Arsy sudah terbaring dengan lebih nyaman, Syakil baru benar-benar menghela napas. Ia berdiri sejenak dan menatap Arsy yang kini tertidur lebih nyaman. Lalu, tanpa berpikir panjang, Syakil membuka jas yang dikenakannya. Gerakan itu pelan, nyaris tak bersuara. Ia membentangkan jas itu dan menyelimuti tubuh Arsy dengan hati-hati, memastikan jasnya menutupi bahu hingga dada perempuan itu.
Di ambang pintu, Omar berdiri terdiam. Ia baru saja sampai, mengikuti tuannya dengan langkah pelan, dan kini menyaksikan semuanya tanpa berkata apa pun. Pemandangan itu membuat dadanya terasa penuh. Tuannya, laki-laki yang dikenal dingin dan penuh kendali, kini berdiri tanpa jas, hanya dengan kemeja yang digulung sedikit di lengannya, menatap seorang perempuan seolah dunia berhenti di sana.
Syakil tidak menoleh. Ia tidak perlu tahu bahwa Omar melihatnya. Yang ia tahu hanya satu hal: Arsy tidak boleh kedinginan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Hingga tiba-tiba, suara mesin monitor di samping ranjang Pak Rahman berubah iramanya. Bukan alarm, tapi cukup berbeda untuk menarik perhatian. Kelopak mata lelaki itu bergerak pelan. Napasnya terdengar lebih berat.
“Ar…sy…” suara itu keluar lirih, terputus-putus dan hampir seperti desahan.
Syakil langsung menoleh. Detik berikutnya, ia sudah berada di sisi ranjang Pak Rahman. Ia duduk di kursi yang tadi ditempati Arsy dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Iya, Pak,” jawab Syakil lembut. “Saya di sini.”
Mata Pak Rahman terbuka perlahan. Pandangannya masih buram, berusaha menyesuaikan dengan cahaya dan keadaan disekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu kembali menatap wajah Syakil yang terlihat asing baginya.
“Arsy… mana Arsy…” tanya pak Rahman lirih sementara napasnya tersengal-sengal.
Syakil menoleh sekilas ke arah sofa, memastikan Arsy masih tertidur dengan tenang. Ia kembali menatap Pak Rahman dan tersenyum kecil.
“Arsy lagi istirahat, Pak,” katanya pelan. “Dia kecapekan.”
Pak Rahman mengangguk kecil, seolah jawaban itu masuk akal. Tapi beberapa detik kemudian, alisnya berkerut.
“Kamu…” suaranya terdengar lemah. “Kamu siapa?”
Syakil menelan ludah. Ia memilih kata-kata yang akan diucapkan ke pak Rahman dengan hati-hati.
“Nama saya Syakil, Pak,” jawab Syakil. “Saya teman Arsy waktu sekolah dulu. Saya datang ke sini untuk menemui dia.”
Mendengar nama putrinya disebut, ekspresi Pak Rahman berubah. Tatapannya terlihat kosong sesaat, lalu matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Ada sesuatu yang jelas bergolak di balik wajah lelah itu.
“Arsy…” gumam pak Rahman lagi yang kali ini dengan nada berbeda.
Setetes air mata jatuh dari sudut mata pak Rahman dan mengalir pelan ke pelipisnya. Dadanya naik turun lebih cepat, seolah emosi yang tiba-tiba menyeruak terlalu besar untuk tubuhnya yang lemah. Syakil membeku di tempatnya. Kebingungan jelas terpancar di wajahnya. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mengapa menyebut nama Arsy justru membuat Pak Rahman menangis seperti ini?
“Pak?” panggil Syakil pelan dan penuh kehati-hatian.
Pak Rahman tidak langsung menjawab. Air matanya terus mengalir, diam-diam, tanpa isak. Seolah ada luka lama yang terbuka kembali. Luka yang berkaitan dengan putri yang sangat ia cintai. Syakil menatap lelaki itu dengan perasaan campur aduk. Ada kekhawatiran dan kebingungan. Ia merasakan firasat kuat bahwa di balik air mata pak Rahman, tersembunyi sebuah cerita yang belum ia ketahui tentang Arsy.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit