Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Megan menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi langit-langit. Di sana berdiri seorang wanita yang nampak begitu anggun dalam balutan gaun pengantin sutra yang bertabur kristal, namun sorot matanya mati, jiwanya seolah terkikis perlahan oleh waktu yang tak memihak.
Riasan wajahnya sempurna, hasil karya tangan dingin MUA langganan Princess of Wales namun kemegahan itu justru terasa seperti topeng yang menyesakkan.
"Alex..." bisik Megan parau. Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya yang bergetar. "Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bertemu. Tapi jika aku masih boleh meminta satu kali lagi... aku berharap Tuhan mempertemukan kita, meskipun nanti semuanya sudah terlambat."
Satu tetes air mata lolos, membasahi pipinya yang baru saja dipoles sempurna. Megan memejamkan mata, meratapi hilangnya harapan yang selama ini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap berdiri.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Bradley melangkah masuk. Ia berniat memanggil Megan, namun langkahnya terhenti saat telinganya menangkap nama yang disebut Megan. Bukan nama Sean tunangannya, melainkan nama Alex.
Seketika, rahangnya mengeras. Ia melangkah mendekat, cengkeramannya pada buket bunga mawar putih semakin kuat.
"Tak ada lagi Alex, Meg! Dia tidak akan pernah datang untukmu!" desis Bradley, suaranya pelan namun tajam. "Aku yang ada di sini untukmu. Aku yang akan menggandengmu ke altar, bukan pria khayalanmu."
Bradley menarik lembut tangan Megan. "Hapus air matamu. Kita harus berangkat sekarang. Semua tamu sudah menunggumu, Nyonya Brown."
Megan tidak menjawab. Ia mengusap kasar air matanya, menatap Bradley dengan tatapan yang penuh kebencian yang mendalam. "Kau mungkin bisa memiliki ragaku, Brown. Kau bisa memamerkanku sebagai trofi kemenanganmu. Tapi ingat ini... kau tidak akan pernah memiliki hatiku. Selamanya."
"Apa kau masih berharap pada Alex, Meg? Atau pecundang bernama Sean itu?" Bradley bertanya dengan nada mengejek, meski di dalam hatinya ia merasakan nyeri yang asing.
Megan memalingkan wajah. Ia bahkan menyadari dengan getir bahwa dirinya sendiri sudah lupa kapan terakhir kali ia memanggil nama Sean Miller. Di kepalanya, hanya ada bayangan Alex anak laki-laki dari masa kecilnya yang kini terasa lebih nyata daripada pria yang sedang mencengkeram lengannya ini.
****
Mobil meluncur membelah jalanan pedesaan Surrey yang asri. Di kanan-kiri jalan, hamparan padang rumput yang mulai menghijau tertutup tipis oleh butiran salju yang turun perlahan, menciptakan pemandangan yang seharusnya romantis bagi pasangan mana pun.
Namun, di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara musim dingin itu sendiri.
Megan menatap keluar jendela, mengabaikan Bradley yang duduk dengan angkuh di sampingnya. Baginya, setiap inci keindahan Surrey hanyalah jeruji besi yang semakin erat mengurungnya.
"Jangan menatap jendela seolah kau sedang menuju tiang gantungan, Meg," suara Bradley rendah namun tajam, memecah kesunyian. "Gunakan senyummu. Hari ini dunia akan melihatmu sebagai wanita paling beruntung."
"Beruntung?" Megan tertawa sinis, matanya berkilat penuh amarah saat menoleh. "Wanita mana yang merasa beruntung saat dipaksa bersumpah di depan Tuhan untuk mencintai monster sepertimu? Kau menghancurkan hidupku, menghancurkan karierku, dan sekarang kau ingin aku tersenyum untuk kemunafikan ini?"
Bradley meraih tangan Megan, mencengkeramnya cukup kuat hingga Megan meringis. "Kau yang menawarkan pernikahan ini, ingat? Demi nyawa pahlawanmu, demi kehormatan Ayahmu dan demi skandalmu sendiri yang menikmati sentuhan di ranjang seorang pria yang di anggap musuhnya,”
‘Kau yang memaksaku memerankan semuanya di bawah kendalimu, bukan keinginanku!”
Sungguh sebuah perjalanan yang hanya di isi oleh pertengkaran.
****
Iring-iringan mobil Roll Royce Ghost itu akhirnya berhenti tepat di tepian Virginia Water Lake. Suasana begitu sunyi, hanya suara lonceng dari menara gereja tua yang berdentang, suaranya memantul di atas permukaan danau yang membeku, lalu tertelan oleh kesunyian salju tipis yang mulai turun membasahi Surrey pagi itu.
Pintu sedan utama terbuka, Bradley Brown turun dengan keangkuhan seorang penguasa. Ia mengenakan tuksedo putih gading yang sangat kontras dengan dunia kelabu di sekitarnya. Ia berdiri sebentar, embusan napasnya membentuk uap putih di udara, sebelum ia berbalik dan mengulurkan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis ke dalam mobil.Megan muncul dari kegelapan kabin. Menyambut uluran tangan Bradley dengan wajah kaku.
Mereka berjalan berdampingan memasuki gereja. Seketika, seluruh tamu undangan berdiri. Mereka menyaksikan sepasang pengantin yang tampak begitu memukau secara visual, meski tanpa satu pun senyum yang tersungging di wajah keduanya. Megan tampak begitu cantik; gaun putihnya yang menjuntai panjang menyapu lantai batu katedral yang dingin, menciptakan bunyi gemerisik kain sutra yang mengisi keheningan ruangan.
Di sepanjang lorong menuju altar, ribuan mawar putih mekar dengan sempurna. Harumnya menyeruak ke seluruh penjuru gereja, namun bagi Megan, aroma itu justru terasa sangat mencekik. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Tak ada binar di matanya; ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Bibirnya terkunci rapat, tak menyisakan sedikit pun ruang bagi sebuah senyum kebahagiaan.
Di balik kerudung transparannya, wajah Megan adalah sebuah potret kepalsuan yang sempurna. Ia melangkah menuju altar bukan sebagai seorang mempelai yang sedang jatuh cinta, melainkan seperti seorang tawanan yang sedang menyerahkan diri menuju takdirnya yang paling kelam.
Gaun putih yang membalut tubuhnya tak lebih dari sekadar kain kafan yang membungkus sisa-sisa harapannya yang telah mati.
“Tersenyumlah, Meg. Karena hari ini adalah hari yang akan kau rindukan suatu hari nanti,” bisik Bradley dengan nada mengejek.
“Cih, bahkan jika ada kehidupan kedua, aku tak berharap untuk bertemu lagi denganmu, Brown,” desis Megan tanpa menoleh sedikit pun.
Ucapan saling serang itu mengiringi langkah kaki mereka yang bergema di keheningan katedral, hingga akhirnya mereka tiba di depan altar. Di sana, seorang pendeta tua dengan jubah sakralnya sudah berdiri menyambut mereka, siap untuk mengunci takdir dua insan yang saling membenci ini dalam sebuah ikatan suci yang abadi.
Pendeta tua itu membuka kitab sucinya, menatap kedua mempelai dengan senyum kebajikan yang tak menyadari prahara di depan matanya. Suara organ gereja yang lembut menyisakan keheningan yang menyesakkan di bawah langit-langit katedral yang tinggi.
"Saudara..."
Pemberkatan sudah di mulai, pendeta tua itu sudah membacakan ikrar sumpah janji namun suara itu mendadak terdengar seperti kaset rusak di telinga Megan. Hanya dengungan samar, fokusnya lenyap, jantungnya seolah berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok yang sangat ia benci dalam hidupnya setelah Bradley Brown.
Seseorang yang telah menjerat ayahnya hingga ia harus mengorbankan dirinya sendiri demi menutupi skandal besar di Virginia.
Wanita itu berada di sana. Duduk dengan anggun di barisan tamu undangan paling depan, tepat di samping Peter.
"Alice..." bisik Megan, suaranya bergetar hebat menahan luapan emosi yang nyaris meledak. Kepalan tangannya di balik buket bunga semakin erat. Bagaimana mungkin sekertaris ayahnya ada di sini, bersanding dengan tangan kanan Bradley?
"Saudara Megan... sekali lagi saya bertanya, apakah engkau bersedia menerima pria ini sebagai suami anda dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit hingga maut memisahakan?" pendeta itu mengulang pertanyaannya dengan nada lebih lembut, mengira Megan hanya sedang gugup, setelah tiga kali ia bertanya namun masih tak ada respon dari Megan.
Bradley yang menyadari perubahan drastis pada Megan segera merangkul pinggang wanita itu dengan posesif. Cengkeramannya yang kuat seolah menjadi peringatan sekaligus sandaran agar Megan tidak tumbang oleh amarahnya sendiri.
Pendeta kembali menatap Megan dengan sabar.
“Saudara Megan…?”
Keheningan semakin terasa di antara bangku-bangku kayu tua dan mawar putih yang seolah ikut menahan napas. Tatapan Megan akhirnya bertemu dengan Alice.
Di balik senyum anggun wanita itu, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah rahasia.
Rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berada di lingkaran terdalam kegelapan. Jantung Megan berdegup keras. Cengkeraman Bradley di pinggangnya semakin kuat. Jari-jarinya menekan pinggangnya, cukup keras untuk mengingatkannya bahwa ia tidak punya ruang untuk goyah.
“Saudara Megan?” ulang pendeta itu sekali lagi, suaranya kini terdengar lebih dekat… lebih mendesak.
Akhirnya Megan membuka mulutnya.