Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku menemukanMu
Tengah malam, saat aku sedang asyik scroll dan mengetik di medsos, sebuah balasan muncul.
Pesan itu dari Hana. Dadaku berdegup kencang.
“Raka… dulu kita pernah kenalan lewat Friendster, lalu SMS-an. Aku waktu itu masih SMA kelas 3, dan kamu sudah kuliah,” tulisnya.
“Apakah ini… benar kamu? Atau aku salah orang?”
Aku terdiam sejenak.
Apa? Benarkah ini? Aku benar-benar kaget. Tidak pernah menyangka, sama sekali tidak pernah membayangkan hari seperti ini akan ada. Apalagi di tengah malam. Rasanya seperti mimpi. Tapi aku tahu, aku harus membalasnya. Aku menarik napas panjang dan mulai mengetik:
“Ya, Hana… itu aku. Kamu masih ingat sebagian kecil isi SMS kita? SMS kita kala itu, saat zaman hape jadul?” 😄
Aku menambahkan emot tertawa 😄 di akhir pesan, agar tidak terdengar terlalu kaku atau serius.
Notifikasi muncul seketika, membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Pesan dari Hana:
“Ah, Raka… itu sudah lama banget. Aku benar-benar lupa apa saja isi SMS itu 😄 Bayangkan, sudah 16 tahun lamanya, Raka! Omegottt!”
Aku tersenyum sendiri, membaca pesan itu berulang kali. Lucu sekaligus menghangatkan hati. Enam belas tahun… hampir dua dekade! Semua percakapan, tawa kecil, dan curhat yang dulu kukira hilang, kini muncul kembali dalam satu baris kata dari Hana. Aku menatap ponsel, merasa seperti melangkah kembali ke masa lalu.
“16 tahun… ya, tapi aku masih ingat sebagian besar, Hana. Bahkan aku sampai foto SMS kita dulu, simpan rapi di kotak kecilku. Kalau kamu mau, aku bisa kirim satu untuk mengenang masa itu. 😄”
Aku menambahkan emot tertawa 😄 lagi, agar nada pesanku tetap ringan. Meski hati ini bergetar, aku ingin ia merasakan nostalgia yang sama—tanpa terkesan terlalu serius.
Balasan Hana.
Hah gila kamu Raka serius.. kamu buatkan foto SMS itu? dulu ga kayak sekarang loh bisa screenshot hahhahaa ah coba aku mau lihat supaya aku benar benar yakin bahwa aku tuh ga salah orang 😅🙈
Aku menahan napas, jari-jari gemetar sedikit.
Memori itu kembali: dulu, aku harus membawa ponsel jadulku ke tukang foto tidak ada screenshot, tidak ada kamera canggih. Aku menutupi rasa malu, tapi nekat untuk memotret layar SMS kita. Hasilnya kubungkus, kusimpan rapi di sela sela buku di kamarku.
Sekarang, 16 tahun kemudian, aku menatap foto itu sejenak. Aku mengambilnya di tempat persembunyian yang selama ini aku sembunyikan.
Lalu, dengan hati-hati, aku memotret salah satu SMS lama dengan ponsel modernku dan mengirimkannya ke Hana.
“Lihat ini, Hana 😄 Aku tahu ini konyol dan gila wakakaka… tapi ini salah satu SMS kita dulu. Biar kamu yakin ternyata ga salah orang,” tulisku sambil menambahkan emot tertawa.
Beberapa detik terasa seperti selamanya. Aku membayangkan reaksinya. Apakah ia akan tertawa, tersenyum, atau malah terharu? Dan akhirnya, notifikasi balasan muncul:
“Hahaha… astaga Raka 😄 Aku nggak nyangka! Ini benar-benar… aku ingat sekarang! Omegottt, ini lucu banget! Aku nggak salah orang ya? 😄”
Aku tersenyum lebar. Ada rasa lega, senang, dan… rindu yang menumpuk. SMS lama itu bukan hanya kertas atau foto, tapi jembatan yang menghubungkan kita lagi setelah 16 tahun..
Aku mengetik dengan hati-hati, jari sedikit gemetar tapi bersemangat.
“Jadi… sekarang, apa kabarmu, Hana?” tulisku.
Beberapa detik terasa lama. Aku menatap layar, membayangkan senyum Hana di sana. Rasanya aneh setelah 16 tahun, aku akhirnya bisa memulai percakapan sederhana ini lagi.
Notifikasi muncul. Pesan dari Hana:
“Aku baik, Raka 😄 Sibuk sama anak-anak dan keluarga. Tapi… senang bisa ngobrol sama kamu lagi setelah sekian lama! Btw, SMS itu benar-benar alay ya 😄 Masa muda kita kelihatan polos banget, Raka wkwkwk. Kamu sendiri gimana kabarnya? Aku lihat di profilmu, baru selesai S2 ya?”
Aku tersenyum sendiri, merasakan hangat yang tak pernah kurasakan sejak lama. Percakapan sederhana ini hanya “apa kabar”tapi bagiku, rasanya seperti membuka pintu yang tertutup selama 16 tahun.