“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#6
[indah ya kisah Mak irah sama suaminya]
[indah gimana? Merek hidup susah kayak gitu]
[saling mencintai sehidup semati. Kita belum tentu bisa mendapatkan pasangan seperti mereka. Eh, kalau kakak sih pasti dapet. Soalnya aku bakalan setia sama kakak apapun yang terjadi]
[masih sempet gombal di situasi berduka pun]
[aku cuma berusaha jujur. Bukan gombal]
[kakak ada pasien]
Ayunda menutup ponselnya. Dia mematikan lampu utama kamarnya dan bersiap untuk tidur. Besok hari Senin, dia harus berangkat lebih cepat karena gerbang sekolah ditutup sepuluh menit lebih cepat dari hari biasanya.
“Yun, kamu tahu gak? Si ilham nembak Reni.”
“Masa? Terus diterima?”
“Nggak.”
“Kenapa? Katanya bosen jadi jomblo terus.”
“Reni bilang hidung ilham terlalu kecil.”
“Ih anjir, body shaming itu namanya. Lagian apa urusannya pacaran sama hidung kecil. Justru enak gak sih, kalau pilek ingusnya lebih sedikit.”
“Ih setan, jorok banget sih kamu.”
Mereka cekikikan saat upacara sedang di mulai. Nisa dan Ayunda memang selalu beris paling belakang sementara Reni baris paling depan.
“Eh, eh.” Nisa menyikut tangan sahabatnya.
“Apa?” Tanya Ayunda berbisik.
“Itu si Kevin ngelirik terus ke sini. Dia naksir kamu kayaknya.”
“Idiiiiih ogah.”
“Dia lumayan tau. Ketua pramuka, tinggi, pinter lagi.”
“Tapi calon suami aku dokter. Dari segi apapun dia kalah.”
“Lupa. Hehehe. Tapi Yun, kok bisa sih kamu suka sama dia sejak kamu kelas tiga sd. Mana dia nya juga membalas. Gak bosen? Maksudnya kamu gak pernah merasa cinta kamu luntur gitu ke dia.”
“Kata siapa berbalas. Aku merasa kalau dia gak cinta sama aku.”
“Mana ada. Dia suka jemput kamu ke sini.”
“Karena disuruh ibunya.”
“Kamunya juga kenapa kayak gak punya harga diri banget ngejar dia bertahun-tahun.”
“Namanya juga usaha, siapa tau hasilnya baik. Bodo amat lah dia suka sama aku atau nggak, yang penting akhirnya kami menikah.”
“Mau? Kamu nikah sama laki-laki yang gak cinta sama kamu, kamu mau?”
“Mau banget.”
“Edan sia mah.”
“Emang. Wkwkwkw.”
Nisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ayunda. Bagaimana bisa teman nya itu mencintai pria dengan gilanya samapai tidak bisa dicerna oleh otak orang lain.
“Apapun akan aku lakukan asal bisa sama dia.”
Nisa memegang jidat sahabatnya itu.
“Dingin padahal.” Ucapnya sambil memegang jidatnya sendiri.
“Gilanya aku bukan di sini,” menunjuk jidat.
“Tapi di sini,” menunjuk dada.
“Hah, maksudnya tete kamu?”
Ayunda mencubit pinggang Nisa hingga anak itu menggeliat.
“Dada! Hati aku maksudnya, bukan tete. Apa hubungannya sama tete?”
“Barang kali kamu menyusui dia.”
“Edaaaan, otaknya udah hancur ini orang. Gimana mau menyusui, dia suka aja nggak. Lagian kalau pun suka emang harus ya menyusui? Masuk neraka yang ada.”
“Tapi si Sarah pernah katanya,” bisik Nisa sangat pelan.
“Masa? Siapa yang disusui?”
“Renal.”
“Daebaaaak.”
“Ssssttttt.”
Nisa dan Ayunda langsung berhenti bergibah saat kakak kelasnya menyuruh mereka untuk diam.
Ayunda dan Nisa saling menatap. Mereka melanjutkan gosipnya dengan isyarat mata.
Sesampainya di rumah, Ayunda berganti pakaian lalu makan. Tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan karena syifa teman nya sedang berkunjung ke rumah nenek nya di desa lain.
[jangan ikut-ikutan kamu]
[ya enggak lah. Siapa juga yang mau aku susuin? Kakak? Jangankan nyusu, suka sama aku aja gak tau iya apa nggak]
Ayunda mencoba memancing Zayan. Rupanya dia memikirkan ucapan Nisa saat tadi upacara di sekolah.
Tidak ada balasan. Gadis itu tersenyum kecut.
[Butuh banget pengakuan?]
Lama Ayunda hanya melihat layar ponsel miliknya saat Zayan mengirim pesan. Dia sendiri kini bingung harus menjawab apa.
[Nggak juga sih. Lagian suka ataupun tidak, yang penting kita bersama nantinya]
[maksa banget]
[Kakak keberatan ya? Apa harus aku menyerah saat ini? Apa kakak merasa terbebani dengan semua perasaanku sama kakak? Kakak bete ya sebenarnya dan gak suka sama cinta aku yang ugal-ugalan ini]
[kamu kenapa?]
Ayunda terdiam. Dia kembali membaca chat yang dia kirim.
“Ih, aku kenapa ya. Kok sensitif banget. Tiba-tiba banget kesel sama kak Zayan”
Tidak ingin semuanya kacau lebih jauh. Dia memilih untuk tidak melanjutkan chatnya.
...***...
“Kenapa, Zay?” Tanya Andreas saat melihat Zayan hanya diam menatap ponselnya.
“Nggak. Bukan apa-apa.”
“Berantem sama pacar?”
“Bukan.”
“Terus kenapa? Wajah kamu kayak panik gitu. Ketahuan selingkuh?”
“Sembarangan! Mana mungkin gue mendua.”
“Oh, artinya lo ngaku kalau selama ini ternyata lo punya cewek.”
Zayan diam.
“Santai aja, bro. Gak aneh kok. Malah gue seneng kalau lo punya cewek. Jadi, tuduhan teman-teman kita yang bilang lo gay itu salah.”
“Sialan!”
Mereka tertawa.
“Gue tanya satu hal sama lo.”
“Apaan?”
“Cewek kalau tiba-tiba bersikap aneh itu kenapa ya? Dia gak marah cuma dia marah.”
Andreas mengerutkan kening.
“Maksudnya gimana? Dia gak marah tapi marah. Gimana gue bisa jawab, pertanyaan lo aja aneh.”
Zayan tertawa kecil.
“Coba jelasin lebih rinci biar gue ngerti masalahnya apa.”
“Gak usah lah. Gue aja kali yang terlalu sensitif.”
Zayan kembali ke membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia dan Andreas memang berteman. Teman satu almamater, teman satu kelas dan kini satu kamar bareng di asrama sebuah rumah sakit tempat mereka bekerja.
“Lo meras dia aneh? Semisal sikap atau cara dia chat?”
Zayan langsung duduk mendengar ucapan Andreas. Dia mengangguk cepat.
“Gue gak ngelakuin apa-apa tapi chat dia aneh, gak kayak biasanya.”
“Mungkin dia lagi mens, makanya sensi. Atau mungkin dia mendengar sesuatu yang tidak enak tentang lo atau tentang kalian.”
“Kenapa marahnya sama gue?”
“Ya aneh kalau dia marahnya sama gue.”
Zayan tertawa.
“Mending jangan dibahas di ponsel, kadang masalahnya malah tambah runyam. Bicarakan pas kalian bertemu aja nanti.”
“Nanti deh pas gue balik.”
“Cewek lo sekampung sama lo?”
Zayan tidak menjawab, dia kembali merebahkan tubuhnya. Dokter muda itu membuka kunci layar ponselnya, membuka galeri untuk melihat foto seseorang.
“Wuiiihhhh, siapa tuh? Adek lo?”
Zayan sangat terkejut tiba-tiba Andreas berbicara tepat di telinganya.
“Ck! Bikin kaget aja lo.”
“Manis tuh anak. Perasaan lo gak punya adek. Lo kan bungsu.”
“Ya itu tau!”
“Terus itu siapa? Wah jangan-jangan itu cewek lo? Wah parah. Lo pedofil, Zay? Itu cewek masih kecil dan lo udah tua bangke.”
Zayan melempar bantal tempat di wajah temannya itu. Zayan kembali duduk.
“Ini foto dia waktu baru masuk smp. Sekarang udah kelas tiga sma.”
“Mana coba gue lihat.”
Zayan menunjukkan foto Ayunda.
“Sebentar. Lo kan tinggal di kampung. Kok bia sih ada cewek semanis dia? Kulitnya putih mulus gitu.”
“Jangan terkecoh sama penampilan nya.”
“Kenapa emang?”
“Dia itu kayak monyet kecil.”
Andreas melongo.