🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 | Satu Koper dan Hujan Jakarta
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Suara palu hakim yang diketuk tiga kali itu masih terngiang di telinga Satya Samantha seperti lonceng kematian bagi harga diri nya. Di ruangan ber-AC yang dingin itu, status nya sebagai suami dari Clarissa Wijaya resmi berakhir. Tidak ada air mata, tidak ada drama perpisahan yang mengharukan. Yang ada hanyalah tatapan kosong Satya yang tertuju pada lantai marmer yang bersih.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang sidang Pengadilan Agama, udara panas Jakarta menyambut mereka, namun suasana di antara mereka jauh lebih membekukan.
"Ingat Satya," suara melengking itu berasal dari ibunda Clarissa, Ny. Linda, yang berdiri dengan tas Hermes di lengan kirinya. Mata nya menatap Satya dari atas ke bawah seolah-olah pria itu adalah noda lumpur di sepatu mahal nya. "Sejak awal, kamu itu hanya parasit. Beruntung Clarissa cukup sabar menanggung malu selama tiga tahun punya suami pengangguran yang cuma tahu cara memegang sudip di dapur."
Satya tetap diam. Ia merapatkan pegangan tangan nya pada gagang koper tua yang ritsleting nya sudah mulai rusak. Di dalam nya hanya ada beberapa potong baju, buku catatan usang, dan sisa martabat yang ia kumpulkan susah payah.
"Ma, sudah," sela Clarissa dingin. Wajah nya cantik, namun datar. Ia bahkan tidak memandang Satya saat berbicara. "Dia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan keluarga kita. Biarkan saja dia pergi ke tempat asal nya, ke desa kecil tempat dia bermimpi jadi orang sukses itu."
Satya akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Clarissa, wanita yang pernah ia cintai sepenuh hati, wanita yang ia dukung pendidikan nya dengan bekerja serabutan di awal pernikahan mereka sebelum karier Clarissa melesat dan ego keluarga nya memuncak.
"Begitu rupanya," batin Satya. "Tiga tahun pengabdian ku, setiap masakan yang ku siapkan untuk menyambut nya pulang kerja, setiap pijatan saat dia lelah, semua nya terhapus hanya karena aku tidak punya jabatan di kartu nama ku."
"Aku akan pergi," ujar Satya pendek. Suara nya serak. "Koper ini adalah hal terakhir yang ku bawa dari rumah itu. Aku tidak mengambil sepeser pun uang dari rekening bersama nya."
Ny. Linda tertawa mengejek. "Uang? Kamu pikir kamu punya kontribusi di rekening itu? Jangan melucu, Satya! Sekarang pergi! Dan jangan pernah berpikir untuk muncul lagi saat kamu kelaparan di jalanan."
Clarissa mengenakan kacamata hitam nya, berbalik, dan berjalan menuju sedan mewah yang sudah menunggu di lobi. Ny. Linda mengikuti dengan langkah angkuh, meninggalkan Satya berdiri sendirian di tangga pengadilan.
Baru saja ia melangkah keluar menuju trotoar, langit Jakarta yang semula mendung akhirnya tumpah. Hujan deras mengguyur dalam sekejap, membasahi kemeja murah Satya hingga melekat di kulit nya.
"Lucu sekali," gumam nya dalam hati, sambil menembus hujan. "Bahkan langit pun tahu waktu yang tepat untuk menertawakan ku."
Ia berjalan menjauh, menyeret koper nya yang berat karena meresap air. Di tengah hiruk-pikuk suara klakson dan deru hujan yang menghantam aspal, tiba-tiba sebuah sensasi aneh menghantam kepala nya.
**DEG.
Jantung nya berdetak sangat kencang hingga ia merasa sesak napas. Satya berhenti di pinggir jalan, memegangi kepala nya yang mendadak berdenyut hebat. Pandangan nya yang semula kabur karena air hujan, tiba-tiba berubah warna. Dunia di sekitar nya seolah melambat, menjadi hitam putih, kecuali satu hal.
Sebuah mobil BMW perak, mobil Clarissa yang baru saja melaju keluar dari gerbang pengadilan.
Tiba-tiba, penglihatan Satya terbelah. Di depan mata nya, ia tidak hanya melihat mobil itu bergerak, tetapi ia melihat bayangan transparan yang tumpang tindih dengan realita. Ia melihat mobil itu melaju menuju perempatan besar. Ia melihat sebuah truk kontainer yang rem nya blong melesat dari arah kanan. Ia melihat hantaman hebat, besi yang ringsek, kaca yang hancur berkeping-keping, dan tubuh Clarissa yang terjepit di balik kemudi dengan darah mengalir di wajah nya.
"Apa... apa ini?" Satya terengah-engah. Mata nya membelalak.
Ia menggelengkan kepala, mencoba menghalau bayangan mengerikan itu. Namun, penglihatan itu semakin jelas. Ia bisa melihat plat nomor truk itu, ia bahkan bisa mendengar suara jeritan Clarissa yang menyayat hati dalam bayangan tersebut.
"Ini akan terjadi," sebuah suara di dalam sanubari nya berbisik dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Darah leluhur mu telah terbangun. Masa depan adalah lembaran terbuka bagi mu."
Satya berdiri mematung di pinggir jalan. Tangan nya gemetar. Secara naluriah, ia membuka mulut untuk berteriak, memanggil nama Clarissa, memperingatkan nya agar tidak melewati perempatan itu.
"Clarissa! Berhenti!"
Teriakan nya tertelan suara guntur. Tangan nya terangkat, namun perlahan, ia menurunkan nya kembali.
Pikiran nya berputar kembali pada menit-menit yang lalu. Ia mengingat wajah menghina Ny. Linda. Ia mengingat mata dingin Clarissa yang menganggap nya sebagai sampah yang tak berguna. Ia mengingat bagaimana mereka membuang nya seperti anjing kurap setelah semua yang ia korbankan.
"Kenapa aku harus menyelamatkan nya?" bisik Satya pada diri nya sendiri. "Bukankah dia bilang aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan nya? Bukankah aku hanya sampah yang tidak pantas berada di dunia nya?"
Ia menatap mobil perak itu yang kini menjauh, menuju perempatan maut yang ia lihat dalam visi nya.
"Kamu ingin aku pergi dari hidup mu, Clarissa," gumam Satya dengan nada yang mendadak dingin, sedingin air hujan yang membasahi tubuh nya. "Maka, aku akan pergi. Dan takdir mu... bukan lagi urusan ku."
Ia berbalik arah. Ia tidak berlari mengejar mobil itu. Ia justru melangkah berlawanan arah, menyeret koper nya dengan mantap.
Sepuluh detik kemudian...
BRAAAKKKK!!!
Suara dentuman logam yang menghantam logam terdengar sangat keras, bahkan mengalahkan suara badai. Suara decit ban yang beradu dengan aspal basah diikuti oleh suara ledakan kecil. Orang-orang di sekitar mulai berteriak histeris.
"Kecelakaan! Ada kecelakaan besar di perempatan!"
Satya tidak menoleh. Ia terus berjalan. Bahu nya yang semula merosot karena beban hidup, perlahan mulai tegak. Ada sesuatu yang aneh mengalir di nadi nya, sesuatu yang panas, kuat, dan penuh tenaga. Ia merasakan mata nya memanas, dan ketika ia melihat pantulan diri nya di genangan air, ia melihat kilatan cahaya keemasan di pupil mata nya sebelum kembali normal.
"Mulai hari ini," Satya berpikir dalam hati, "Satya yang lemah telah mati di bawah hujan ini. Kalian menyebut ku sampah? Maka aku akan menjadi sampah yang akan mencekik dunia ini dengan kebenaran yang hanya bisa ku lihat sendiri."
Ia tahu, krisis moneter akan segera menghantam negeri ini. Ia melihat bayangan gedung-gedung tinggi yang terbakar, orang-orang yang mengantre makanan, dan jatuh nya nilai mata uang yang akan membuat para konglomerat sombong seperti keluarga Wijaya bertekuk lutut memohon belas kasihan.
"Shanghai," gumam nya. "Aku harus pergi ke China. Di sana, di tengah kekacauan, naga akan bangkit."
Seorang pengendara motor yang berteduh di dekat nya memperhatikan Satya yang berbicara sendiri sambil tersenyum tipis di tengah hujan badai.
"Mas! Itu ada kecelakaan parah di sana! Mas nggak apa-apa?" tanya si pengendara cemas.
Satya menoleh sedikit, menatap wajah pria itu. Dalam sekejap, ia melihat aura pria itu, sebuah garis hijau keberuntungan yang berarti pria ini akan memenangkan undian kecil dalam waktu dekat.
"Aku baik-baik saja," jawab Satya tenang. "Tapi kamu, jangan lewat jalan pintas di depan sana. Ada pohon tumbang yang akan menimpa mu. Lewatlah jalan utama, meski macet, kamu akan sampai rumah dengan selamat."
Si pengendara motor mengernyitkan dahi. "Hah? Pohon tumbang apa sih, Mas? Cuaca emang buruk, tapi—"
Sebelum pria itu selesai bicara, Satya sudah melangkah pergi, menghilang di balik tirai hujan. Ia tidak perlu penjelasan. Ia tidak perlu pengakuan. Kekuatan ini... adalah tiket nya untuk membalas dendam pada dunia yang telah menginjak nya.
Di kejauhan, sirine ambulans mulai meraung-raung, menuju tempat Clarissa yang mungkin sedang meregang nyawa. Satya tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Di mata nya kini hanya ada satu tujuan: Menjadi penguasa takdir.
"Selamat tinggal, masa lalu ku yang menyedihkan," batin Satya saat ia menaiki bus kota menuju bandara, menghabiskan sisa uang terakhir nya untuk sebuah spekulasi besar. "Dunia tidak akan pernah siap menghadapi apa yang bisa ku lihat."
...----------------🍁----------------🍁----------------...