Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Si Bisu
Angin tenggara bertiup kencang di sepanjang aliran Sungai Brantas, membawa aroma lumpur, ikan asin, dan keringat ribuan manusia yang menggantungkan kehidupan di urat nadi perairan Majapahit itu.
Di dermaga besar yang sibuk, riuh suara tawar-menawar pedagang dan derap kaki kuli angkut menjadi latar musik bagi kehidupan yang keras. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pemuda dengan pakaian goni kumal bergerak lincah memanggul karung-karung beras yang beratnya mampu mematahkan tulang pria biasa.
Pemuda itu dikenal sebagai Sura. Setidaknya, itulah nama yang dia goreskan di tanah ketika pertama kali melamar kerja di mandor dermaga yang galak.
Sura tidak pernah bicara, lidahnya terkunci seolah-olah oleh sumpah bisu yang tak terbaca. Wajahnya selalu tertunduk, sebagian ditutupi oleh caping bambu yang sudah koyak. Namun, yang paling mencolok adalah kain penutup punggung yang luar biasa tebal.
Di bawah terik matahari yang membakar kulit, Sura tetap mengenakan lapisan kain kasar itu, seolah-olah menyembunyikan cacat yang mengerikan atau beban yang tak terlihat.
Tak ada yang tahu bahwa di balik kain itu, terdapat bekas luka bakar yang menyerupai pola sayap—sisa-sisa dari kekuatan Garuda Paksi yang dipaksa masuk kembali ke dalam sukmanya.
Setiap karung yang dipanggul adalah langkah kebebasan. Setiap keping tembaga yang dikumpulkan dari keringatnya adalah biaya untuk menaiki kapal jung besar yang akan membawanya ke Trowulan, pusat kemegahan Kerajaan Majapahit.
Subosito—yang kini sepenuhnya menjadi Sura—merasakan denyut energi di punggung setiap kali dirinya mengangkat beban berat. Kekuatan tanah dari Gada Sungsang Aji yang kini menyatu dalam dirinya membantu tetap tegak, tetapi juga harus sangat berhati-hati.
Sura tidak boleh melepaskan satu percikan api sekecil apa pun. Dirinya harus menekan hawa panasnya hingga ke titik nol, membiarkan dirinya dianggap sebagai kuli rendahan yang tak punya harga diri.
"Hei, Bisu! Cepat sedikit! Kapal Sri Rejeki akan segera lepas sauh!" teriak sang mandor sambil membungkus cambuk kecil ke udara.
Sura hanya mengangguk pelan, lalu mempercepat langkahnya melewati jembatan kayu yang licin menuju geladak kapal jung besar yang telah bersiap berangkat.
Setelah menyerahkan pundi-pundi koin hasil kerja kerasnya di kapal selama seminggu terakhir kepada awak, Sura akhirnya mendapatkan tempat di bagian geladak bawah—sebuah sudut sempit di dekat tumpukan peti rempah-rempah yang berbau tajam.
Kapal mulai bergerak, membelah air sungai yang kecokelatan. Subosito atau Sura duduk bersila, mencoba mengatur napasnya yang sesak.
Menahan kekuatan Garuda Paksi di dalam tubuh yang bergerak aktif adalah melemahkan dirinya. Rasanya seperti mencoba memenjarakan matahari di dalam kotak kayu kecil; panasnya terus meronta, mencari celah untuk meledak keluar.
“Warna jiwamu sangat berisik. Padahal mulutmu begitu sunyi!"
Subosito tersentak, lalu membuka mata dan menoleh ke samping. Di sana, duduk seorang gadis muda dengan pakaian putih yang sederhana. Wajahnya cantik dan tenang, dengan sepasang mata yang tertutup selaput putih—dia buta.
Gadis itu memegang sebuah tongkat kayu cendana yang mengeluarkan aroma harum yang menenangkan.
Subosito tersenyum dan menjawab pertanyaan sebagai orang bisu. Pemuda itu hanya memberikan erangan kecil yang tidak jelas sebagai respons.
Gadis itu tersenyum tipis, kepalanya miring seolah sedang mendengarkan melodi yang hanya bisa didengar olehnya.
"Kau tidak perlu berpura-pura di depanku. Aku tidak melihat wajahmu yang penuh debu, atau kain tebal di punggungmu. Aku melihat Prana . Dan di tempatmu duduk, aku melihat warna emas yang membara, dibungkus oleh lapisan tanah yang kelabu!"
DEG!
Subosito mulai menegang, jantungnya berdetak kencang. Apakah identitasnya akan terungkap secepat ini?
"Jangan takut," lanjut gadis itu, suaranya lembut nan berwibawa. "Namaku Larasati. Aku hanya seorang pengembara yang mencari kedamaian di tengah kekacauan dunia. Aku berbicara padamu karena jiwamu membawa peringatan yang mendesak!"
Subosito mengisyaratkan membentuk tulisan tangan di lantai kapal dengan telunjuknya seraya memegang tangan kanan Larasati. Pemuda itu membentuk tulisan S.U.R.A.
Larasati mendekati wajah Subosito, meskipun matanya tak menatap langsung. "Jadi namamu Sura. Kau hendak menuju Trowulan untuk Sayembara Jagat Raya, bukan? Kau pikir kekuatan apimu adalah senjata terbaikmu. Tapi ketahuilah, di jantung Majapahit, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang membawa keris sakti atau gada baja. Mereka yang berada di lingkaran dalam Maharaja adalah para Pandita dan telik sandi yang mampu membaca pikiran— Aji Pameling !"
Subosito mengerutkan kening. Membaca pikiran?
“Benar,” bisik Larasati seolah tahu apa yang dipikirkan Subosito. "Jika kau bertarung sambil membayangkan bagaimana apimu akan membakar lawan, mereka akan tahu seranganmu sebelum kau menggerakkan jari!Jika kau masih mengandalkan api emas itu, kau hanya akan menjadi sasaran empuk. Mereka akan mengunci sukmamu tepat saat kau berniat menggunakan kekuatanmu!"
Larasati menyentuh punggung tangan Subosito. Sentuhannya dingin, sejuk seperti udara pegunungan, "Belajarlah bertarung dengan 'Kekosongan'. Bertarunglah tanpa niat, tanpa amarah, dan yang terpenting, bertarunglah tanpa apimu. Jika kau bisa memenangkan sayembara itu hanya dengan tangan kosong dan pikiran yang tenang seperti telaga, maka saat itulah kau benar-benar layak disebut Sang Pelindung!"
Subosito tersentak, peringatan Larasati adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya. Selama ini, dirinya selalu menganggap api Garuda Paksi sebagai identitas sekaligus senjata utamanya.
Namun kini, Subosito harus belajar melepaskannya. Dirinya harus menjadi ksatria yang kuat bukan karena apa yang dimiliki, tetapi karena apa yang mampu dikendalikan.
Malam itu, di tengah goyangan kapal yang lembut, Subosito tidak tidur. Pemuda itu mulai bermeditasi, mencoba mengingat kesadarannya dari api di punggungnya.
Subosito membayangkan dirinya adalah selembar daun yang jatuh di sungai—mengikuti arus, tanpa beban, tanpa arah, tetapi tetap utuh. Dirinya harus belajar bertarung dengan gerakan refleks tubuh murni, tanpa melibatkan energi Garuda Paksi yang bisa dideteksi oleh para pembaca pikiran di Majapahit.
Perjalanan tiba Brantas memakan waktu beberapa hari. Selama itu pula, Subosito terus berlatih secara rahasia di dalam kapal, di sudut-sudut gelap.
Pemuda itu melatih otot-ototnya untuk bergerak lebih efisien, menggunakan kekuatan fisik murni yang didapatkan dari latihan keras di bawah bimbingan Resi Bhaskara dulu, tetapi tanpa sentuhan api.
Setiap kali Subosito merasa ingin melepaskan energi karena kelelahan, dirinya teringat kata-kata Larasati: Warna jiwamu sangat berisik. Maka dari itu, Subosito harus membuat jiwanya menjadi hening, mengatur kegelapan malam, agar tak ada satu pun musuh yang bisa memetakan gerakannya.
Saat kapal mendekati pelabuhan Canggu—pintu masuk utama menuju ibu kota Trowulan, suasana berubah menjadi semakin tegang. Kapal-kapal perang Majapahit dengan layar besar berwarna merah-putih berpatroli di mana-mana.
Bendera-bendera kerajaan berkibar angkuh di atas menara-menara pengawas.
Subosito berdiri di tepi geladak, menatap ke arah menara-menara bata merah Trowulan yang mulai terlihat di Cakrawala. Kota itu adalah pusat peradaban yang luar biasa, sekaligus menjadi arena ujian hidup dan mati.
Larasati berdiri di sana, tongkatnya mengetuk lantai geladak dengan irama yang tenang. "Kita akan segera sampai. Ingat pesanku, Sura. Jangan biarkan mataharimu terbit sebelum waktunya. Majapahit adalah hutan rimba bagi mereka yang tidak bisa menjaga rahasia di dalam kepala mereka sendiri!"
Subosito mengangguk pelan, meskipun Larasati tidak bisa melihatnya.
Pemuda itu merasakan beban di punggungnya terasa lebih ringan, bukan karena kekuatannya berkurang, tetapi karena dirinya mulai belajar untuk tidak menjadikannya pusat dari segala tindakannya.
Saat kapal merapat, Subosito turun bersama kepadatan penumpang lainnya. Pemuda itu memanggul bundelan kainnya, berjalan bungkuk dengan melewati banyak mata yang kosong.
Dia kembali menjadi Sura, si kuli bisu yang tak berarti. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah tekad baru telah membeku. Subosito tidak akan membakar musuhnya dengan api; dia akan menyembunyikan mereka dengan kebenaran yang tak terucapkan.
Baru saja Subosito melangkah keluar dari area dermaga, pemuda itu merasakan penampakan mata yang memperhatikan dirinya dengan kekuatan yang tidak biasa.
Bukan dari seorang prajurit atau pembaca pikiran, melainkan dari seorang bocah kecil yang sedang duduk di atas tumpukan peti kayu sambil mengunyah buah tebu.
Bocah itu mengenakan pakaian kumal, khas anak jalanan yang bertahan hidup dengan mencopet. Namun, matanya yang tajam seolah mampu melihat menembus lapisan kain tebal di punggung Subosito.
Bocah itu meringis, menunjukkan giginya yang tidak rapi, lalu melompat turun dan mulai mengikuti Subosito dari jarak jauh.
Subosito tidak menyadari bahwa penyamarannya yang sempurna bagi orang dewasa, justru tampak sangat mencolok bagi mereka yang memiliki indra murni anak-anak yang belum terpengaruhi oleh nafsu kekuasaan.
Langkah Subosito di ibu kota Majapahit dimulai dengan ketenangan, namun tantangan yang menantinya jauh lebih bising dari apa yang dia bayangkan.
Di kota, di mana setiap dinding memiliki telinga dan setiap melewatinya mampu menembus pikiran, mampukah dia tetap menjadi "Si Bisu" hingga akhir?
Dan siapa sebenarnya bocah pencopet yang terus membuntutinya? Apakah dia kawan, atau justru ancaman baru yang akan membocorkan rahasia tentang "matahari" yang dia sembunyikan di balik pakaian kumalnya?
Jangan lewatkan kelanjutan kisah Subosito.