Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15
Zavier yang sudah kembali ke mansion milik Ibunya. Helena. Pria itu tidak menyapa siapa pun.
Tidak juga ayahnya. Jackman Van O’connor.
Zavier sudah kembali beberapa hari lalu, namun Zavier malas untuk memperlihatkan diri di depan publik.
Ia melangkah masuk dengan wajah datar, melewati lorong panjang berlapis marmer hitam yang memantulkan bayangannya sendiri. Tidak ada kehangatan di rumah sebesar itu. Hanya gema langkah dan aroma mahal yang terasa dingin.
Ibunya sudah pasti berada di Mansion Utama bersama ayahnya. Ayah kandungnya. Ayah yang selalu melihatnya sebelah mata.
⸻
“Tuan Muda Zavier. Mohon maaf, saya menerima pesan dari utusan Tuan Besar. Yang akan datang menggantikan beliau di Acara Amal Tahunan adalah adik Anda.”
Pengawal bersetelan jas hitam itu membungkuk sempurna. Suaranya tertahan, penuh kehati-hatian.
Di hadapannya, Zavier Van O’connor duduk menyilangkan kaki di sofa kulit gelap, memutar pelan gelas kristal berisi alkohol. Cahaya lampu gantung memantul di cairan amber itu—tenang, sebelum badai datang.
Calios menelan ludah. Ia tahu tabiat tuannya. Dan ia tahu berita ini bukan kabar baik.
Tiba-tiba—
“PYARRR!!”
Gelas melesat cepat, melewati kepala Calios, lalu menghantam dinding marmer. Pecah berkeping-keping. Pecahan kaca berhamburan di lantai mahal itu.
Calios tetap berdiri tegak. Nyaris saja kepalanya pecah.
“Seharusnya aku membunuhnya sejak ayahku membawa pulang anak haram itu ke Mansion utama.” Suara Zavier rendah. Dingin. Mengandung racun.
Ia bangkit perlahan.
“Seharusnya aku melenyapkannya saat usianya enam tahun. Saat kedua matanya dengan lancang menatap mansion utama yang mewah, seolah dia pantas tinggal di dalamnya.”
Tatapannya berubah tajam, penuh kebencian yang tak pernah selesai.
“Padahal aku sudah menyiksa adik tiri ku tersayang. Sudah membuatnya tahu tempatnya. Tapi semakin keras aku menekan, semakin tajam dia menatapku.”
Zavier tersenyum tipis.
“Ayahku benar-benar iblis.”
Nama itu tidak perlu disebut. Semua orang di mansion tahu siapa yang ia maksud.
Jay Van O’connor.
“Calios,” suara Zavier turun menjadi lebih rendah. Lebih berbahaya. “Apa menurutmu aku tidak mampu menggantikan ayah di Acara Amal?”
“Anda sangat mampu, Tuan Muda,” jawab Calios cepat.
“Tapi kenapa ayahku seperti tidak memandangku?!” Zavier berteriak, suaranya menggema di ruangan luas itu. “Aku anak sahnya! Aku darah resminya!”
Ia menyapu meja dengan satu gerakan kasar. Botol alkohol hampir jatuh.
“Perusahaan induk diberikan pada anak haram itu. Sekarang acara sebesar itu juga diberikan padanya.”
Tangannya mengepal.
“Dengan menghadiri acara itu sebagai pengganti ayah, semua orang akan tahu siapa penerus O’connor yang sebenarnya!”
Calios hanya bisa diam.
Sejak bekerja di bawah Zavier, ia sudah beberapa kali melihat Jay Van O’connor secara langsung di perusahaan.
Hanya sekilas.
Namun cukup untuk membuatnya mengerti sesuatu.
Paras mereka hampir sama. Garis rahang tegas. Sorot mata tajam.
Tapi aura mereka, berbeda jauh.
Zavier seperti api yang mudah membakar.
Jay seperti es yang perlahan membekukan.
⸻
Zavier baru saja kembali dari Jerman atas perintah ayahnya, ia langsung berasumsi bahwa kepulangannya adalah pertanda penobatan. Bahwa Jackman Van O’connor akhirnya akan menunjuknya sebagai penerus.
“Ternyata maksud ayahku adalah, aku harus menyaksikan adik tiriku yang akan menjadi penerusnya?” kata Zavier tersenyum getir.
Realitas berkata lain.
Jackman tidak mudah ditemui. Bahkan oleh anak-anaknya sendiri.
Sang Ketua Mafia dikenal dunia bukan hanya karena kekejamannya, tetapi juga karena kepemimpinannya yang dingin dan presisi. Perusahaannya melesat ke daftar paling berpengaruh di dunia, dan namanya menjadi momok bagi mafia kecil maupun pebisnis rendahan.
Zavier tahu itu. Dan ia tahu satu hal lagi— Ayahnya tidak pernah menunjukkan kasih. Bukan pada dirinya. Bukan pada siapa pun.
⸻
Zavier akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Nafasnya berat, namun matanya masih menyala penuh kebencian.
Ia mengangkat tangan, menunjuk botol alkohol dengan telunjuk panjangnya.
“Tuangkan.”
Calios bergerak cepat. Menuangkan cairan itu dengan hati-hati ke dalam gelas baru.
Zavier menerima gelas itu tanpa melihat.
“Jika ayah ingin memainkan permainan ini,” gumamnya pelan, “maka aku juga akan bermain.”
Ia meneguk alkohol itu dalam satu tegukan.
Matanya mengarah ke luar jendela mansion yang luas.
Di suatu tempat dalam kota yang sama—
Jay mungkin sedang bersiap menghadiri acara amal itu. Tanpa menyadari—
Bahwa kakaknya yang baru kembali tidak hanya membawa ambisi. Tapi juga dendam yang belum pernah mati.
Zavier belum benar-benar meneguk alkohol keduanya ketika Calios akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Tuan Muda… ada satu informasi lagi.”
Zavier tidak menoleh. “Katakan.”
Calios menegakkan punggungnya. “Ini tentang Tuan Jay.”
Gelas itu berhenti tepat di depan bibir Zavier. Hanya sepersekian detik. Lalu ia menurunkannya perlahan.
“Apa lagi tentang anak haram itu?”
Calios menarik napas pendek. “Orang-orang kami di divisi intelijen menemukan sesuatu yang… menarik.”
Kini Zavier menoleh. Tatapannya tajam seperti bilah pisau.
“Berbicara yang jelas.”
“Selama bertahun-tahun, Tuan Jay ternyata menjaga seorang gadis.”
Hening.
“Menjaga?” ulang Zavier pelan.
“Ya, Tuan Muda. Bukan hubungan yang terlihat terang-terangan. Tidak pernah dibawa ke acara resmi. Tidak pernah muncul di sisi beliau di publik. Tapi kami menemukan pola.”
Zavier menyipitkan mata.
“Wanita itu tinggal di rumah sendirian, tidak jelas orang tuanya dimana. Keamanannya juga dipantau, dalam jarak.”
Zavier bangkit perlahan dari sofa.
“Dalam jarak?” suaranya berubah rendah.
“Ya. Tidak pernah terlalu dekat. Tidak pernah terlihat mencolok, Tuan Jay selalu ‘kebetulan’ berada di tempat yang sama dengan pola yang sama dalam waktu kurang lebih 4 tahun ini.”
Sunyi.
Hanya suara detik jam besar di sudut ruangan.
Zavier tersenyum. Namun senyuman itu tidak mengandung kehangatan sedikit pun.
“Jadi iblis kecil itu ternyata punya sesuatu yang dia lindungi.”
Calios melanjutkan, “Menurut laporan, gadis itu sudah berada dalam pengawasannya lebih dari 4 tahun. Tanpa pernah menyentuhnya secara terbuka. Tanpa pernah mengklaimnya.”
Zavier tertawa kecil.
“Menarik. Apa dia jatuh cinta? Hahaha… Dia pasti tahu cinta dan perasaan hanya akan meruntuhkan semuanya, menjadi celah untuk di serang dan menjadi titik kelemahan. Sehingga dia hanya mengagumi gadis itu dalam diam selama ini. Hahahha… Sangat menarik!”
Zavier kemudian berjalan mendekati jendela besar mansion. Cahaya sore mulai merayap masuk, membuat bayangannya memanjang di lantai marmer.
“Selama ini aku pikir dia tidak punya kelemahan.”
Zavier memutar gelas di tangannya.
“Ternyata dia hanya menyembunyikannya dengan sangat rapi.”
Calios ragu sejenak sebelum menambahkan, “Tuan Muda, dari cara pengamanan dilakukan, terlihat jelas gadis itu sangat penting bagi beliau.”
Zavier memiringkan kepala sedikit.
“Penting?”
Matanya menyala.
“Kalau begitu… dia bukan sekadar gadis biasa.”
Ia meneguk alkoholnya sampai habis.
“Dia titik lemah.”
Suasana ruangan kembali terasa berat.
“Apakah Tuan ingin saya selidiki lebih dalam?” tanya Calios hati-hati.
Zavier terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis.
“Tentu saja, ini menyangkut gadis yang akan menjadi adik iparku pastinya aku harus melihat seberapa berharganya dia bagi Jay.”
Calios mengangguk paham.
“Kita tidak akan menyentuhnya dulu.”
Zavier menoleh, sorot matanya penuh rencana.
“Biarkan Jay merasa aman. Biarkan dia terus menjaga dalam diam, dalam jarak.”
Ia melangkah mendekati Calios hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
“Karena saat seseorang menjaga sesuatu terlalu lama…”
Suara Zavier merendah, hampir berbisik.
“…rasa memiliki itu berubah menjadi obsesi.”
Ia menyeringai.
“Dan obsesi… adalah senjata paling indah untuk menghancurkan seseorang.”
Calios merasakan bulu kuduknya berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Jerman—
Zavier tampak benar-benar tertarik pada sesuatu.
Dan sesuatu itu…
adalah kelemahan adiknya sendiri.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr