💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — AFTER THE GLITCH
Taman belakang rumah itu sunyi, namun jenis sunyi yang menyimpan banyak rahasia.
Lampu-lampu taman memantul di permukaan kolam kecil, menciptakan bayangan yang menari di atas air. Segalanya terlihat terlalu indah, terlalu estetik, dan itu justru membuat suasana terasa semakin tegang.
Di tempat seperti ini, keindahan biasanya hanya digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan percakapan yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sekejap.
Alinea masih menatap lurus ke depan.
“Saya memilih kamu karena kamu nyata.”
Kalimat itu terus replay di kepalanya
seperti notifikasi yang tidak bisa di-swipe.
Alinea tertawa kecil.
“Pak… jangan ngomong kayak gitu di luar ruangan ber-AC.”
Arsenio menoleh sedikit. “Kenapa?”
“Karena saya bisa salah interpretasi.”
“Interpretasi apa?”
“Interpretasi yang bikin saya lupa ini cuma kontrak.”
Sunyi.
Angin bergerak pelan.
Arsenio tidak langsung menjawab.
Biasanya ia cepat. Efisien. Terstruktur.
Sekarang? Delay.
“Saya tidak pernah memperlakukan ini sebagai permainan,” katanya akhirnya.
“Buat Bapak mungkin bukan permainan. Buat keluarga Bapak? Itu audisi.”
Arsenio tidak menyangkal,Karena itu benar.
Beberapa detik berlalu.
Alinea melipat tangan di depan dada.
“Dan gala amal itu… Pak sadar kan itu bukan cuma makan malam fancy ?”
“Saya sadar.”
“Itu publik. Media. Relasi bisnis.”
“Saya tahu.”
“Dan kalau kita gagal?”
Arsenio menatapnya lurus.
“Saya tidak gagal.”
Jawaban CEO.
Jawaban ego.
Jawaban yang selalu percaya diri.
Alinea menggeleng pelan. “Ini bukan presentasi investor, Pak.”
“Lalu apa?”
“Ini perasaan orang.”
Hening lagi.
Kalimat itu menggantung.
Arsenio sedikit menggeser posisi, kini benar-benar menghadapnya.
“Perasaan siapa?”
Pertanyaan itu terdengar tenang. Tapi terlalu tajam.
Alinea menelan ludah.
Harusnya Alinea menjawab dengan bercanda.
Harusnya Alinea membelokkan arah pembicaraan seperti biasa.
“Semua yang ada di meja tadi.”
Termasuk saya.
Arsenio menangkap itu.
Dan itu mengganggu kestabilannya.
Di dalam rumah, Nadia berdiri diam memperhatikan mereka dari balik jendela kaca besar.
Ia tidak terlihat marah. Tidak ada guratan cemburu di wajahnya. Ia justru terlihat sedang menghitung—menilai setiap gerak-gerik, menimbang setiap risiko, dan menyusun variabel baru.
Satu hal yang semua orang lupakan tentang Nadia,ia bukan tipe perempuan yang mau menerima kekalahan tanpa strategi di tangan. Dan baginya, apa yang ia lihat di taman bukanlah akhir, melainkan awal dari permainan yang sesungguhnya.
“Kita kembali ke dalam,” kata Arsenio akhirnya.
“Siap, Pak Robot.”
Mereka berjalan berdampingan lagi, meninggalkan taman yang sunyi itu.
Namun, ada yang berubah. Jarak di antara mereka kini terasa berbeda.
Tidak terlalu jauh untuk disebut orang asing.
Tidak terlalu dekat untuk disebut sepasang kekasih.
Hanya ada ruang kosong yang ambigu—sebuah jarak yang tidak berani mereka pangkas, namun terlalu menyesakkan untuk dibiarkan begitu saja.
Setelah makan malam selesai dan mereka kembali ke mobil, Alinea akhirnya bersuara.
“Bapak sadar nggak tadi jawabannya ke Nadia itu agresif?”
“Jawaban saya faktual.”
“Faktual tapi intimidatif.”
Arsenio menoleh sekilas. “Kamu tidak suka?”
Alinea terdiam.
Itu masalahnya.
Ia tidak benci.
Dan itu bikin takut.
“Pak,” katanya pelan, “jangan biasakan saya berdiri di samping Bapak kalau nanti suatu hari Bapak mundur.”
Arsenio mengerem di lampu merah.
Ia menatapnya.
Lama.
“Saya tidak pernah mundur.”
“Semua orang mundur dari sesuatu.”
“Tidak dari keputusan yang saya buat sendiri.”
Kalimat itu berat.
Karena jauh di dalam lubuk hatinya, Alinea tahu satu kebenaran yang pahit.
Alinea memang dipilih.
Bukan dipaksa.
Alinea tidak sedang ditarik masuk ke dunia Arsenio dengan paksaan, melainkan ia sendiri yang mengizinkan dirinya melangkah masuk. Dan menyadari bahwa ia punya andil dalam kekacauan ini membuat segalanya terasa jauh lebih berat.
Keesokan harinya di kantor, suasana berubah tipis—nyaris tidak terlihat, tapi sangat terasa.
Tidak ada yang salah secara teknis. Jadwal tetap berjalan, kopi tetap tersaji. Tapi ada sesuatu yang tidak lagi sama. Alinea kini bergerak lebih tenang, lebih hati-hati.
Ia mulai menjaga jarak profesional ekstra satu lapis. Sebuah sekat tak kasatmata yang ia bangun untuk memastikan bahwa kejadian semalam—sentuhan rambut, lutut yang bersentuhan, dan kejujuran di taman—tidak akan bocor ke dalam jam kerja mereka.
Arsenio merasakannya dalam lima menit pertama.
“Kenapa kamu formal sekali hari ini?” tanyanya tanpa mengangkat kepala dari tablet.
“Saya selalu formal, Pak.”
“Kamu biasanya menyela saya tiga kali sebelum jam sembilan.”
“Sedang menghemat energi.”
Arsenio menatapnya.
Ini bukan Alinea yang kemarin.
Ini adalah Alinea yang sedang sibuk membangun firewall di sekeliling dirinya.
Sikapnya sangat sempurna, sangat efisien, namun terasa dingin dan berjarak. Dan entah kenapa, bagi Arsenio, profesionalitas Alinea yang mendadak meningkat ini justru terasa seperti gangguan.
Ia kehilangan akses ke sisi Alinea yang biasanya bisa ia baca. Ketidakmampuan Arsenio untuk "menembus" pertahanan baru itu mulai membuatnya tidak nyaman dengan cara yang sangat menjengkelkan.
Jam makan siang adalah waktu paling rawan, dan Nadia tahu itu.
Ia muncul di lobby Volt-Tech tanpa janji temu, namun tanpa keraguan sedikit pun. Suara heels-nya yang tegas kembali memecah keheningan lobi yang minimalis dan futuristik itu.
Ia tidak berhenti di meja resepsionis untuk melapor,ia berjalan terus, melewati gerbang sensor seolah-olah sistem keamanan kantor itu mengenali aromanya.
Nadia berjalan masuk seperti seseorang yang masih merasa memiliki akses penuh—bukan hanya ke gedung ini, tapi juga ke hidup pria yang memimpinnya.
Alinea melihatnya lebih dulu dari meja resepsionis.
“Oh no.”
Mode error aktif.
Nadia tersenyum elegan. “Saya ingin bertemu Arsenio.”
“Sudah ada janji?”
“Tidak perlu.”
Alinea tersenyum manis. “Di perusahaan ini, semua perlu.”
Dua perempuan itu saling tatap.
Tidak ada suara tinggi.
Tidak ada drama terbuka.
Tapi udara di sekitar mereka mendidih.
“Jadi,” Nadia mendekat sedikit, “kamu benar-benar berniat ikut gala itu?”
Alinea menatap lurus.
“Selama kontrak berlaku, saya profesional.”
Nadia tersenyum tipis.
“Pastikan kamu siap. Dunia Arsenio tidak ramah untuk orang yang terlalu… nyata.”
Ouch.
Sebelum Alinea sempat membalas, suara berat terdengar dari belakang.
“Kalau ada yang ingin disampaikan, sampaikan ke saya.”
Arsenio.
Datang tepat waktu.
Nadia tidak mundur.
“Tenang, Sen. Saya cuma berbicara dengan—”
“Dengan siapa yang saya pilih.”
Satu kalimat.
Suasananya sangat clear. Terbuka. Dan sangat publik.
Di tengah lobby Volt-Tech yang dingin, Nadia berdiri menantang eksistensi Alinea. Di sekitar mereka, beberapa staf mendadak sangat tekun menatap layar atau berkas, meski telinga mereka jelas-jelas terpasang tajam ke arah meja asisten itu. Mereka tidak mau melewatkan satu detik pun dari tontonan gratis ini.
Nadia tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Alinea selama beberapa detik—sebuah tatapan yang berfungsi sebagai pemindai, mencari retakan pada firewall yang dibangun Alinea sejak pagi.
Lalu, ia tersenyum lagi. Sebuah senyum kemenangan yang seolah berkata bahwa di gedung ini pun, dialah pemegang otoritas yang sebenarnya.
“Baik. Kita lihat nanti di gala.”
Ia pergi.
Sunyi.
Alinea menghembuskan napas panjang.
“Pak… Bapak barusan bikin HRD deg-degan.”
“Saya tidak peduli.”
“Reputasi?”
“Saya tidak peduli.”
Alinea menatapnya.
“Bapak ini lagi error ya?”
Arsenio mendekat sedikit.
“Kalau iya?”
Jarak mereka sekarang terlalu dekat untuk sekadar percakapan kerja.
“Kamu yang mulai mengacaukan sistem saya.”
Jantung Alinea langsung skip satu beat.
“Pak, saya cuma staf.”
“Tidak.”
Nada Arsenio berubah.
Lebih rendah.
Lebih jujur dari biasanya.
“Kamu lebih dari itu.”
Silence.
Untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun candaan yang keluar dari mulut Alinea. Tidak ada defense mechanism humor yang biasanya ia gunakan untuk menutupi kecemasannya.
Karena ia tahu pasti—
Jika ia membiarkan Nadia lewat, atau jika ia membiarkan dirinya terpancing satu langkah lagi, maka semuanya akan berubah. Kontrak profesional yang ia tanda tangani dengan tinta hitam itu tidak akan pernah cukup kuat untuk menahan ledakan yang akan terjadi.
Ia sedang berdiri di tepi jurang, dan kontrak itu bukan lagi parasut yang bisa menyelamatkannya.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨