Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan
Kriiingggg~~
Kriiinggg~~
Saat sedang tertidur lelap Caramel di kejutkan dengan suara telepon rumah yang berdering. Caramel buru-buru turun ke lantai bawah untuk mengangkat panggilan, jam menunjukkan pukul 02.25 pagi buta.
"Halo___
"Tante... rumah Tante dimana." Suara Erlangga yang datar terdengar.
"Erlangga?." Kaget Caramel.
"Ya." Saut Erlangga.
"Dimana lokasimu saat ini? aku akan pergi menjemput sekarang juga." Ucap Caramel.
"Wartel alun-alun simpang lima." Suara Erlangga terdengar semakin lirih.
"Ya, aku akan segera pergi. Tunggu disana, jangan pergi kemana pun." Ucap Caramel panik.
Caramel menyambar jaket dan kunci mobil, dia akan segera pergi menjemput calon anak pembangkang pulang ke rumah. Caramel menjemput secepat yang dirinya bisa, ternyata di jam ini alun-alun simpang lima masih cukup ramai pedagang.
Caramel mencari di lokasi wartel, tapi tidak siapapun di sana. Caramel berlari mencari dengan cepat, hingga melihat seorang anak meringkuk di kursi taman sendirian.
"Erlangga!!!." Pekik Caramel, berlari mendekat.
Caramel melihat Erlangga sudah terlihat pucat, menyentuh perutnya dan merintih kesakitan. Caramel menyibak jaket dan melihat ada luka tusukan cukup dalam di sana, Caramel langsung menekan luka itu agar menghambat pendarahan.
"Brengsek, apa mereka yang menusukmu?." Caramel merasa geram.
Erlangga hanya bisa mengangguk lemas, Caramel menggendong Erlangga dengan mudah karena dia tinggi dan kuat. Berlari cepat menuju mobil, dia akan membawa Erlangga kembali ke rumahnya.
Kenapa tidak ke rumah sakit? itu terlalu beresiko karena nantinya Caramel yang bisa di jadikan tersangka. Urusannya juga akan menjadi runyam jika melibatkan polisi.
Di rumah juga ada ruangan khusus medis, Caramel memiliki ilmu ini saat di latih oleh Kakeknya dulu. Dengan telaten Caramel menjahit luka Erlangga dan menghentikan pendarahan, syukurlah dia datang tepat waktu dan bisa menyelamatkan Erlangga.
"Apa di cerita asli Erlangga juga tertusuk? siapa yang menyelamatkan Erlangga di cerita aslinya?." Batin Caramel bertanya-tanya.
Erlangga terbangun di ranjang mewah, dia merintih karena bekas jahitan di perutnya terasa sangat sakit dan perih. Meskipun begitu dia tetap berusaha duduk dan pergi ke kamar mandi untuk kencing.
Setelah buang air dan mencuci wajah, Erlangga turun ke lantai bawah untuk mencari Caramel. Dia sebenarnya merasa malu karena akhirnya meminta pertolongan pada Caramel, dia berhutang nyawa sekarang.
"Sudah bangun? duduk lah di ruang keluarga sambil menunggu sarapan matang." Ucap Caramel hangat.
Erlangga tersipu malu karena gengsi ingin berterimakasih. Dia berjalan dengan pelan dan duduk di depan TV, mengamati Caramel yang memasak dengan cekatan.
Caramel datang membawa steak beef dan kentang goreng. Tidak lupa jus alpukat dan air putih, bagi Caramel ini biasa saja tapi bagi Erlangga ini sangat luar biasa.
"Makan lah perlahan, aku sudah memotongnya untukmu tapi masih panas." Ucap Caramel perhatian.
"Terimakasih banyak, berkat pertolongan Tante aku selamat." Ucap Erlangga.
"Syukurlah aku tidak terlambat. Jadi bagaimana kronologi mu bisa tertusuk?." Tanya Caramel.
"Sebenarnya udah lama para preman mengganggu ku, tapi lama-lama mereka kelewatan. Mereka mulai berani lemparin kaca jendela kost pake batu. Belum lagi kalau aku lewat di depan mereka, pasti aku langsung di kroyok. Semalam mereka paksa aku ikut ke tempat penjual minuman keras, aku tolak tapi mereka ngancem dan akhirnya aku ngelawan dan kena luka tusuk." Erlangga menjelaskan.
"Terus bagaimana mereka saat ini?." Tanya Caramel.
Erlangga terdiam membisu, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Dari raut wajahnya yang menyimpan rasa takut, mungkin Erlangga sudah melakukan sesuatu.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja." Ucap Caramel.
"Di gang dekat penjual miras ada pabrik penggilingan padi. Pas aku kena tusuk aku rasanya marah banget, dan entah punya pemikiran dari mana aku lempar mereka ke tempat penggilingan." Ucap Erlangga, dia menunduk sambil memilin jari nya gugup.
Deg.
"Jadi... mereka tewas tergiling?." Caramel syok, tidak menyangka Erlangga pernah melakukan hal seperti ini.
Erlangga hanya menunduk, sepertinya dia juga syok setelah melakukan pembunuhan untuk pertama kalinya. Tapi mungkin itu cukup wajar jika selama ini Erlangga memiliki dendam yang menumpuk, belum lagi dia di tusuk lebih dulu jadi insting bertahan hidupnya pasti muncul.
Jika dia tidak membunuh maka dia yang terbunuh, peraturan alam liar yang selalu muncul di saat genting. Caramel tidak mengalahkan Erlangga karena dia tidak naif, dulu dia juga sering membunuh orang sejak kecil.
srakk..srakk..
"Tidak apa-apa, aku akan menutupi kasus ini. Aku membela mu karena menurutku tindakan mu itu wajar, karena jika kamu memilih diam maka mereka yang akan membunuhmu. Aku juga bukan orang baik, jika membunuh itu di perlukan maka jangan ragu untuk melakukan nya." Ucap Caramel, mengusap rambut Erlangga.
Erlangga masih terguncang dan pembelaan Caramel membuatnya merasa lega. Erlangga akhirnya menangis karena merasa syok hebat, dia merasa sangat berdosa dan menjadi monster tapi berkat dukungan Caramel dia bisa berpikir lebih jernih.
Caramel memeluk Erlangga dengan hangat, tidak pernah terpikir dalam otaknya jika dia akan berada di situasi ini. Jangan kan menenangkan orang, dia dulu bahkan tidak tau caranya berkomunikasi dengan benar dengan sesama manusia.
"Tidak apa-apa, mulai sekarang tinggal lah bersama Mama dan Papa ya." Caramel mengusap air mata di pipi Erlangga, lalu mengecup keningnya dengan hangat.
"Kenapa Tante melakukan ini semua?." Erlangga masih ingin memastikan.
"Karena sejak awal, aku memang ingin mengadopsi mu. Jika kamu menolak, maka aku tidak akan mengadopsi siapapun." Ucap Caramel, dia jujur.
"Kenapa harus aku?." Erlangga masih belum bisa percaya, meskipun dia bertanya sambil menangis dengan lucu.
"Aku tidak tau. Ibarat jika kamu merasa hati mu cocok untuk suatu hal, pasti kamu akan mengusahakan nya bukan? aku tidak memiliki alasan, yang terpenting aku benar-benar akan merawat mu dengan sangat baik." Ucap Caramel.
"Merawatku?." Lirih Erlangga.
"Benar, Erlan. Mama dan Papa akan merawatmu dengan baik." Ucap Caramel, menyebut dirinya Mama.
"Mama..." Lirih Erlangga mengeratkan pelukannya pada Caramel.
"Mama di sini, setelah ini jangan takut lagi ya." Caramel membalas pelukan itu dengan senang.
"Terimakasih... Mama." Erlangga akhirnya mau menerima.
JEDAAARRRR
Entah kebetulan atau apa, tiba-tiba guntur menyambar dengan keras dan hujan deras turun begitu saja. Padahal awan tadinya sangat cerah, tapi tiba-tiba hujan badai.
"Ini pertanda baik atau buruk?." Batin Caramel.
Sejak hari itu Caramel tidak menyadari jika penghancuran pertamanya sudah di mulai. Caramel berhasil membawa satu karakter penting, yang bisa mengubah dan menghancurkan alur sebenarnya.
Erlangga yang di cerita asli seharusnya tetap sendirian dan berjuang tanpa bantuan, kini mendapatkan rumah dan perlindungan dari Caramel. Karakter asing yang tiba-tiba merusak plot, tindakan Caramel tentu saja akan membawa efek kupu-kupu. Entah efek baik atau buruk, Caramel akan mengetahui itu tidak lama lagi.
aneh ga sih 🤔🤔🤔