kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Kamar perawatan VVIP itu mendadak hening, hanya menyisakan suara mesin EKG yang ritmenya semakin melambat dan berat. Cahaya lampu yang temaram menyinari wajah Kirana yang kini tampak begitu tirus, namun sorot matanya yang biasanya tajam penuh kecemburuan, kini melunak menjadi genangan kepasrahan yang dalam.
Di sekeliling ranjang, keluarga besar berkumpul. Afkar, Monika, Kakek Suhadi, Ardiansyah , Najwa, dan Ishaq berdiri mematung dengan wajah yang basah oleh air mata. Di sudut ruangan, Tono dan Selena berdiri berdampingan, meremas tangan satu sama lain, mencoba menahan isak tangis di depan besan mereka yang sedang menjemput maut.
Kirana menggerakkan jarinya yang dingin, menggapai tangan Alendra. Alendra segera menggenggamnya, mendekapkannya ke pipinya yang kasar karena tidak bercukur.
Suara Kirana sangat tipis, seperti embusan angin di celah pintu "Mas... waktuku... sudah habis. Jangan menangis... aku sudah tidak sakit lagi nanti."
Alendra hanya bisa menggeleng, bahunya terguncang hebat. Ia ingin bicara, namun tenggorokannya seperti tersumbat batu besar.
"Pak Tono... Ibu Selena... kemarilah."
Tono dan Selena melangkah mendekat, menunduk dengan rasa hormat dan sedih yang mendalam.
"Maafkan saya... Maaf karena saya telah memperlakukan putri kalian dengan buruk. Saya... saya yang membuatnya merasa tidak pantas di rumah ini. Maafkan kesombongan saya yang ingin memilikinya sendirian, padahal saya tahu... hatinya jauh lebih mulia."
Selena menutup mulutnya, menangis terisak "Nyonya... jangan bicara begitu. Kami sudah memaafkan semuanya."
Tono hanya diam mematung. Di balik sakunya, ia merasakan lipatan surat dari Patricia yang menyatakan bahwa putrinya aman. Ia ingin berteriak memberi tahu Alendra, namun ia teringat janji setianya pada sang putri yang ingin bertaubat dalam kesunyian. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat, meski hatinya perih melihat penderitaan Alendra.
Kirana menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah setiap tarikan adalah perjuangan melawan maut. Ia menatap Alendra, mencari sisa-sisa cinta di mata suaminya.
"Mas... satu permintaan terakhirku. Saat nanti... saat takdir mempertemukanmu kembali dengan Patricia... sampaikan maafku padanya. Katakan padanya, jangan merasa bersalah. Katakan padanya... untuk menjagamu, menggantikan posisiku."
Alendra terisak, ia mencium tangan Kirana berkali-kali. "Kiran, jangan bicara begitu... Kamu akan sembuh, kita akan cari dia bersama..."
Kirana tersenyum getir, setetes air mata jatuh dari sudut matanya "Jangan bohongi dirimu lagi, Mas. Aku pergi... agar kamu bisa bernapas. Cintai dia... sebagaimana kamu selalu memanggil namanya di setiap tidurmu. Aku... ikhlas."
Kirana menatap seluruh anggota keluarga satu per satu. Ia meminta maaf kepada Kakek Suhadi atas segala kekurangannya, juga kepada Monika dan afkar ...Ruangan itu penuh dengan adegan emosi yang tertahan. Najwa memeluk Ishaq dengan erat, tak sanggup melihat kakak iparnya sedang berada di garis akhir.
Tiba-tiba, mata Kirana menatap lurus ke atas. Napasnya tersengal sekali, dua kali, lalu tubuhnya perlahan melemas.
Beeeeep...
Suara panjang dari monitor jantung,.
memecah kesunyian, menandakan bahwa sang nyonya rumah telah menghembuskan napas terakhirnya.
Alendra berteriak histeris, memeluk jasad Kirana "KIRANAAA! MAAFKAN AKUUU!"
Alendra jatuh berlutut di lantai, membenamkan wajahnya di sprei yang masih hangat oleh tubuh Kirana. Kakek Suhadi menutup matanya, bibirnya bergerak dalam doa, sementara Monika pingsan di pelukan Afkar.
Di sudut lain, Tono dan Selena saling berpandangan. Ada rahasia besar yang mereka simpan, keberadaan Patricia dan janin yang sedang dikandungnya. Tono melihat Alendra yang begitu hancur, namun ia tetap memilih diam. Ia tahu, jika ia bicara sekarang, emosi Alendra yang sedang tidak stabil bisa merusak ketenangan yang baru saja ditemukan Patricia di pesantren.
Tono membatin dengan wajah kaku "Maafkan Papa, Alendra. Biarkan Nyonya Kirana pergi dengan tenang dulu. Ada waktu untuk segalanya."
Rumah sakit itu menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah perjuangan cinta segitiga yang penuh luka. Kirana pergi membawa maafnya, sementara Alendra tertinggal dalam penyesalan yang membakar.
Malam itu, Alendra berdiri di balkon rumah sakit, menatap langit yang gelap. Ia merasa sangat sendirian. Istri pertamanya telah tiada, dan istri keduanya masih hilang di telan bumi. Ia tidak tahu bahwa jauh di sana, di sebuah pesantren kecil, Patricia sedang bersujud sambil memegang perutnya, seolah merasakan separuh dari belenggu suaminya baru saja terlepas.
***
Prosesi pemakaman Kirana berlangsung dengan megah namun terasa begitu dingin di pemakaman elit San Diego Hills. Hamparan rumput hijau yang tertata sempurna dan nisan marmer putih menjadi latar belakang perpisahan terakhir sang ratu rumah keluarga Suhadi.
Langit tampak mendung, seolah turut berduka, namun tidak ada hujan yang turun, hanya angin kering yang sesekali menerbangkan kelopak bunga mawar di atas gundukan tanah merah yang masih basah.
Alendra berdiri mematung. Pakaian hitamnya tampak kontras dengan wajahnya yang pucat pasi dan mata yang sembap luar biasa. Saat jenazah perlahan diturunkan, lutut Alendra lemas. Ia bersimpuh di tepi liang lahat, tangannya mencengkeram tanah dengan kuku-kuku yang kotor.
Suaranya serak, nyaris hilang "Selamat jalan, Kiran... Maafkan aku yang baru menyadari arti hadirmu saat kamu sudah tidak bernapas. Maafkan aku..."
Kakek Suhadi berdiri di belakangnya, memegang bahu Alendra dengan tangan yang gemetar. Sang kakek tidak bicara, namun binar matanya menunjukkan kedukaan yang dalam atas hilangnya menantunya. Di samping mereka, Najwa terisak di pundak Ishaq, sementara Tono dan Selena berdiri jauh di belakang kerumunan, menunduk dalam sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Alendra bersikeras untuk tetap di sana sampai matahari hampir terbenam. Ia ingin menemani Kirana di malam pertama-nya di alam keabadian.
Saat suasana mulai sunyi dan hanya menyisakan suara gesekan daun, Alendra bangkit untuk berpamitan. Namun, matanya menangkap sesuatu yang janggal di balik nisan marmer Kirana. Ada sebuah bungkusan kecil kain putih yang diletakkan sedemikian rupa agar tidak terbang terbawa angin.
Alendra mengerutkan dahi. Ia berlutut kembali dan mengambil bungkusan itu dengan tangan gemetar.
Saat bungkusan itu dibuka, jantung Alendra seolah berhenti berdetak. Di dalamnya terdapat selembar cadar hitam yang sangat halus,cadar yang sama dengan yang diberikan Zahra pada Patricia dan sebuah surat singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
Alendra membuka lipatan kertas itu dengan napas yang memburu.
"Untuk Mbak Kirana...
Maafkan aku yang tidak berani menemuimu secara langsung. Aku datang hanya untuk mendoakanmu dari kejauhan. Aku sudah memaafkan segala yang terjadi, dan aku berharap Mbak juga memaafkanku. Sekarang, Mas Alen sepenuhnya milikmu dalam kenangan, dan biarkan aku menghilang bersama rahasia ini.
Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya."
— P
Alendra langsung berdiri, ia memutar tubuhnya ke segala arah. Matanya mencari-cari di antara barisan nisan yang luas itu.
Alendra berteriak histeris "PATRICIA! KAMU DI SINI, KAN?! PATRICIA, KELUAR!"
Suaranya bergema di area pemakaman yang sepi. Ia berlari menuju gerbang keluar, napasnya tersengal. Ia melihat siluet seorang wanita berpakaian serba hitam dan bercadar yang baru saja masuk ke dalam sebuah mobil di kejauhan.