NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 26

Setibanya rombongan Raja Yan Liao di Desa Wushan, suasana aneh langsung terasa sejak mereka melangkah masuk ke wilayah desa itu. Tidak ada suara anak-anak berlarian, tidak terdengar gong desa atau obrolan penduduk yang biasanya menyambut tamu. Jalan tanah yang dilewati tampak bersih namun sepi, seolah desa itu sengaja menutup diri dari dunia luar.

Letnan Bai Wang segera turun dari kudanya dan melangkah lebih dulu menuju sebuah penginapan tua yang berdiri di tepi jalan utama desa. Bangunannya tidak megah, namun terlihat kokoh dan terawat, cukup layak untuk bermalam. Tanpa menunggu perintah, Bai Wang masuk untuk mengatur kamar bagi Raja dan rombongan penting, sementara para prajurit diperintahkan berjaga di luar.

Begitu melangkah ke dalam, Bai Wang langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Penginapan itu sunyi, terlalu sunyi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tidak ada senyum basa-basi khas penginapan desa. Yang ada hanyalah seorang gadis muda yang duduk di balik meja kayu, membaca sebuah catatan lusuh dengan wajah datar, seolah keberadaan tamu sama sekali tidak berarti baginya.

“Selamat sore, Nona,” kata Bai Wang menahan sikap angkuhnya. “Kami adalah rombongan dari kerajaan dan berniat menginap semalam di penginapan ini. Tolong siapkan dua kamar, dan salah satunya kamar terbaik untuk Paduka Raja.”

Gadis itu perlahan menutup catatannya. Tatapannya dingin dan kosong saat ia mengangkat wajahnya. Dengan nada santai yang hampir terkesan malas, ia menjawab, “Penginapan ini tidak menerima pengunjung dari pemerintahan. Silakan pergi.”

Ucapan itu membuat alis Bai Wang terangkat. Untuk sesaat ia mengira gadis tersebut hanya bercanda atau tidak memahami situasi. Namun raut wajah gadis itu sama sekali tidak berubah.

Urat di leher Bai Wang mulai menegang, tetapi ia masih berusaha menahan diri. “Nona, apakah Anda sadar apa yang Anda katakan? Di luar ada Paduka Raja yang sedang menunggu. Apakah Anda tidak berniat menghormati Yang Mulia?”

Gadis itu menatap Bai Wang tanpa rasa gentar sedikit pun. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, melainkan ekspresi sinis yang tertahan. “Tuan,” katanya pelan namun tajam, “haruskah aku menghormati seorang Raja yang sama sekali tidak pernah memperdulikan kesengsaraan rakyatnya?”

Kata-kata itu membuat Bai Wang terdiam sejenak. Kerut di dahinya semakin dalam, antara marah dan bingung.

“Nona, apa maksudmu dengan ucapan itu?” tanyanya.

“Aku tidak berkewajiban menjelaskan apa pun,” jawab gadis itu dingin. “Pergilah sekarang juga. Jika tidak, jangan salahkan aku jika kalian diusir secara paksa.”

Ia melambaikan tangan seolah mengusir pengemis, sebuah sikap yang bagi Bai Wang adalah penghinaan yang tak termaafkan.

“Lancang!” bentaknya akhirnya. “Berani sekali kamu bersikap seperti itu kepada Paduka Raja. Apa kamu dan seluruh penduduk desa ini ingin memberontak?”

Gadis itu bangkit dari kursinya. Sorot matanya kini lebih tajam, namun tetap tenang. “Memberontak?” katanya lirih namun penuh tekanan. “Tuan dari istana, ini Desa Wushan, bukan kota besar. Desa ini sudah lama dilupakan oleh kerajaan kalian. Selama bertahun-tahun kami hidup tanpa bantuan sedikit pun dari istana. Kami bertahan sendiri, berdarah sendiri, dan mengubur mayat kami sendiri. Tapi bukan berarti Yang Mulia berhak berpura-pura bahwa kami tidak pernah ada.”

Setiap kalimatnya terasa seperti tamparan. Namun Bai Wang justru semakin tersulut amarah.

“Cukup!” serunya. “Aku tidak peduli alasanmu. Berani menghina Raja dan tidak menghormatinya adalah kejahatan besar. Kamu pantas dihukum mati!”

Pedang Bai Wang tercabut dari sarungnya dalam satu gerakan cepat. Namun sebelum bilah itu mencapai tubuh gadis tersebut, sebuah kilatan dingin melesat dari samping. Sebuah pisau kecil menghantam sisi pedang Bai Wang dengan kekuatan luar biasa, membuat pedang itu terpental dan jatuh berdering ke lantai kayu.

Mata Bai Wang membelalak. Ia segera menoleh ke arah sumber serangan.

Lima sosok berdiri di pintu penginapan. Mereka mengenakan seragam hijau dengan lambang daun dan bukit di dada. Aura mereka tenang, namun menekan. Dari sikap berdiri saja, Bai Wang tahu mereka bukan pendekar biasa.

Pendekar Ahli.

Pendekar Ahli dari Perguruan Bukit Hijau.

“Ooh,” Bai Wang menyeringai dingin. “Pantas saja kamu begitu berani. Ternyata ada perlindungan.”

“Pergilah,” kata salah satu pendekar yang memegang pisau dengan suara datar. “Jangan mengusik ketenangan Desa Wushan.”

“Kalian dari Perguruan Bukit Hijau, bukan?” Bai Wang berkata sambil melangkah mundur setengah langkah. “Jadi benar. Perguruan Bukit Hijau berniat memberontak terhadap kerajaan!”

Ia segera memberi isyarat tangan. Dalam hitungan detik, puluhan pasukan elit kerajaan memasuki penginapan dan membentuk formasi mengepung kelima pendekar dan gadis itu. Namun anehnya, tak satu pun dari mereka menunjukkan kepanikan.

“Dasar anjing-anjing istana,” ujar salah satu Pendekar Ahli dengan nada menghina. “Selalu saja mengira kekuasaan adalah keadilan.”

“Akui kesalahan kalian dan berlutut meminta maaf kepada Paduka Raja,” kata Bai Wang dingin. “Jika tidak, kalian semua akan dihukum mati di tempat ini.”

Suasana tegang itu tiba-tiba terpecah oleh suara langkah kaki yang mantap.

“Ada apa ini?”

Raja Yan Liao masuk ke dalam penginapan, diikuti Permaisuri serta tiga Pendekar Ahli pengawal istana. Wibawa seorang Raja langsung memenuhi ruangan, namun yang mengejutkan, tak satupun dari lima Pendekar Bukit Hijau maupun gadis itu menundukkan kepala.

Bai Wang segera berlutut. “Ampun Yang Mulia. Mereka menolak menerima rombongan kita meskipun sudah tahu Paduka Raja akan menginap. Mereka bersikap kasar, menghina Yang Mulia, dan diduga berniat memberontak.”

Raja Yan Liao tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu ruangan, berhenti pada gadis itu, lalu pada lima Pendekar Bukit Hijau yang berdiri tegak tanpa hormat.

“Benarkah demikian?” tanyanya dengan suara tenang namun berat.

Raja Yan Liao melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya tenang, tidak ada tekanan berlebihan yang biasa digunakan penguasa untuk mematahkan lawan bicara. Sikapnya justru lembut, seolah ia sedang berbicara sebagai seorang manusia, bukan sebagai Raja.

“Para Tuan Pendekar sekalian,” ucap Yan Liao perlahan, “maafkan sikap Letnan-ku yang mungkin telah menyinggung kalian. Ia hanya menjalankan tugasnya menjaga keselamatan kami. Namun setidaknya, berikanlah kami alasan yang jelas, mengapa kalian menolak kedatanganku beserta rombongan.”

Nada bicaranya rendah dan terkendali. Ia sengaja menurunkan wibawa kekuasaan agar tidak terkesan arogan di hadapan para Pendekar yang jelas menyimpan luka lama.

Gadis itu menatap Raja Yan Liao beberapa saat. Sorot matanya yang semula dingin perlahan berubah, seolah menilai ketulusan di balik kata-kata sang Raja.

“Yang Mulia benar-benar bijak dalam menilai situasi,” katanya akhirnya.

“Kurang ajar!” bentak Bai Wang dengan wajah memerah. “Kamu masih berani tidak memberi hormat di hadapan Yang Mulia?”

“Letnan Bai, cukup,” kata Raja Yan Liao sambil mengangkat tangannya memberi isyarat agar Bai Wang tidak bertindak gegabah. “Biarkan dia berbicara.”

Bai Wang menggertakkan giginya, namun tetap mundur satu langkah dan menahan amarahnya.

Di sisi Raja, Permaisuri Bai Ling Yin memperhatikan gadis itu dengan seksama. Sebagai seorang wanita yang telah lama berada di lingkungan istana, ia bisa melihat lebih dari sekadar sikap luar. Gadis di hadapannya memiliki kecantikan alami, bukan kecantikan yang dipoles. Tatapannya tajam, pembawaannya tenang, dan keberaniannya bukan hasil nekat, melainkan keyakinan. Permaisuri yakin, gadis itu memiliki latar belakang yang tidak sederhana.

“Nona,” kata Raja Yan Liao dengan nada lebih ramah, “siapa namamu? Dan bisakah kamu menjelaskan alasan di balik sikapmu tadi?”

Gadis itu menarik napas dalam, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada, sebuah gestur hormat yang sederhana namun tulus.

“Maafkan hamba jika bersikap tidak sopan kepada Paduka,” ucapnya. “Nama hamba Lu Ying. Hamba adalah cucu dari Lu Dong, pemimpin Perguruan Bukit Hijau. Ayah hamba bernama Lu Zhin Ji.”

Nama itu membuat Raja Yan Liao terdiam. Sejenak, wajahnya kosong, seolah pikirannya sedang menggali ingatan lama yang terkubur dalam-dalam. Beberapa detik berlalu sebelum sorot matanya berubah.

“Lu Zhin Ji…” gumamnya pelan.

Ingatan itu akhirnya muncul dengan jelas. Seorang Pendekar Ahli yang gagah, bertarung tanpa ragu di garis depan saat perebutan tahta. Seorang pria yang tidak pernah menyebutkan asal-usulnya, hanya mengaku bertarung demi keyakinannya sendiri. Seorang Pendekar yang gugur tanpa sempat menerima penghargaan yang layak.

“Jadi kamu Putri Pendekar Lu?” tanya Yan Liao dengan nada terkejut yang tidak ia sembunyikan.

Lu Ying mengangguk perlahan.

Lu Zhin Ji memang salah satu Pendekar terkuat di pihak Yan Liao saat itu. Ia bertempur mati-matian melawan kubu paman Yan Jiayi, menahan serangan demi membuka jalan kemenangan. Namun identitasnya sengaja ia rahasiakan. Bukan hanya Lu Zhin Ji, banyak Pendekar lain yang memilih jalan yang sama, membantu tanpa membawa nama keluarga, perguruan, atau desa mereka, agar konflik perebutan tahta tidak menyeret orang-orang di belakang mereka.

Kini, Yan Liao baru menyadari kenyataan yang terlambat. Pendekar Lu ternyata berasal dari Desa Wushan dan merupakan Tuan Muda dari Perguruan Bukit Hijau.

“Begitu rupanya,” kata Yan Liao dengan suara berat. “Sekarang aku mengerti mengapa kalian bersikap seperti ini. Tampaknya telah terjadi kesalahpahaman yang panjang antara kita, berakar dari peristiwa masa lalu.”

Lu Ying menggenggam jemarinya erat. Amarah yang ia tahan sejak tadi perlahan muncul ke permukaan.

“Jadi Yang Mulia akhirnya menyadarinya?” katanya. “Benar. Semua ini berkaitan dengan ayah hamba. Ayah adalah penerus Perguruan Bukit Hijau dan juga pelindung Desa Wushan. Ia dihormati oleh seluruh penduduk. Seharusnya ia gugur sebagai pahlawan.”

Suaranya bergetar, namun ia tetap berdiri tegak.

“Namun setelah ayah gugur, Paduka tidak pernah datang ke desa ini. Tidak ada penghormatan. Tidak ada kunjungan. Bahkan ketika Desa Wushan ditindas oleh sisa-sisa kelompok pendukung Yan Jiayi, kerajaan tidak mengirimkan bantuan sedikit pun.”

Beberapa Pendekar Bukit Hijau mengepalkan tangan mereka. Luka lama kembali terkuak.

“Jika bukan karena Kakek yang mempertaruhkan nyawanya melindungi desa, mungkin Wushan sudah lenyap dari peta,” lanjut Lu Ying. “Dan saat itulah Dewi Kematian datang menyelimuti desa kami.”

Ruangan penginapan menjadi sunyi. Kata-kata Lu Ying bukan sekadar tuduhan, melainkan jeritan yang telah lama tertahan.

“Nona Lu,” kata Yan Liao dengan nada tulus, “kamu dan seluruh penduduk Desa Wushan telah salah paham. Aku tidak pernah melupakan jasa para Pendekar yang gugur sebagai pahlawan.”

Ia menatap Lu Ying lurus-lurus.

“Namun banyak Pendekar saat itu bertarung tanpa identitas. Mereka memilih jalan itu sendiri. Tanpa nama, tanpa asal. Hal itulah yang membuat istana kesulitan menelusuri keluarga dan desa mereka untuk memberikan penghormatan dan bantuan yang layak.”

Yan Liao mengepalkan tangannya perlahan, sebuah ekspresi penyesalan yang jarang ia perlihatkan.

“Jika aku tahu Lu Zhin Ji berasal dari Desa Wushan, aku tidak akan membiarkan desa ini menghadapi penderitaan sendirian.”

Kata-kata itu tidak langsung meredakan kemarahan Lu Ying, namun untuk pertama kalinya, ada keraguan di wajahnya. Sebuah celah kecil terbuka di antara dendam dan kebenaran.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!