Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
“Oh! Sudah bangun?”
Terlihat Juh Yeon langsung sibuk membantu Siska yang ingin duduk setelah membuka mata di salah satu kamar rumah sakit.
“Kenapa ini? Kok kaya mimpi?” tanya Siska.
“Kakimu luka. Ada tulang yang retak dan harus dipasang pen,” ujar Juh Yeon sembari kembali duduk di sisi ranjang.
Diam, Siska mengerutkan kening namun, sedetik kemudian dia menghela napas pelan.
“Jadi, gak bisa ikut magang akhir, ya?” tanyanya lemas.
“Gak apa-apa, yang penting sehat aja dulu,” sahut Juh Yeon dengan senyum riang.
“Eh! Tapi, itu cewe nyebelin gimana?” omel Siska tiba-tiba.
“Sudah diurus. Dia dimutasi ke kantor cabang di Jepang. Di taro di posisi administrasi. Sertifikat BIdannya dibekukan selama lima tahun.”
“Terus, Joo Heon?”
“Sama, dimutasi juga. Tapi, ke Beijing. Hukumannya sama aja kaya Sae Ra.”
“Mmm…tapi, mukamu gak apa-apa?” tanya Siska yang merasa tak nyaman saat melihat masih ada plester yang tertempel di dahi serta pipi Juh Yeon.
“Gak. Gak perlu sampai harus di operasi. Masih ganteng. Hahaha…”
Diam sesaat Siska hanya tersenyum sipu.
“Tapi…kamu gimana? Gak dihukum, kan?” tanya Siska ragu.
“Gak. Cuma dimasukin ke daftar kuning sama kaya AJ. Karena mukul temen sembarangan. Hehe…”
“Eh, gak fatal, kan, tapi?”
“Hahaha…kalo masuk daftar kuning Min Gyu masih aman. Asal gak masuk daftar hitamnya Kak Min Woo.”
“Aku gak enak,” ujar Siska melemah.
“Gak apa-apa. Semangat sembuh aja dulu. Bentar lagi, kan, mau ketemu Papamu,” ujar Juh Yeon riang.
“Iya,” sahut Siska dengan senyum senang, “tapi…kenapa juga kamu pukul Joo Heon?”
“Dia bela yang salah. Jadi, kupukul biar sadar. Sudah nyata semua orang tau kalo dia cuma dimanfaatkan sama Sae Ra. Cuma dijadikan ladang duit tapi, masih aja gitu.”
“Tapi, kudenger kamu sama Joo Heon deket banget dari kecil.”
“Iya, deket. Tapi, mungkin Tuhan cuma mau kita pisah sebentar. Kalo kangen, paling dia yang hubungi aku duluan.”
“Tapi, beneran kamu gak apa-apa?” tanya Siska lagi.
“Dibilang gak apa-apa pun sebenernya gak bener. Aku seneng dia jadi temenku. Kami dari kecil berjuang bareng supaya bisa sampe ke titik ini. Tapi, kaya apa? Pilihan hidup orang, kita gak bisa kendalikan,” jelas Juh Yeon pasrah.
“Maaf, ya, gara-gara a…”
Melihat Juh Yeon menggeleng sesaat sambil tersenyum tulus, Siska pun terdiam.
“Gak apa-apa. Kamu gak salah. Ini namanya berproses. Joo Heon, tuh, termasuk kesayangan Kak Min Woo, mungkin ini pelajaran juga buat dia, buat kami semua yang sudah lama di sini, biar bisa lebih ngehargain orang lain. Jangan suka nyalahin diri sendiri karena ngerasa gak enak. Ujung-ujungnya kamu yang kesiksa. Selama orientasi kuperhatikan, kamu ngedumel tapi, tetep aja nurutin Sae Ra karena gak nyaman. Nah, liat hasilnya sekarang. Kamu kena kaya gini, bahkan minta maaf pun dia gak ada.”
Mendengar omelannya, Siska pun sempat terdiam namun, sedetik kemudian dia tersenyum geli.
“Kenapa?” tanya Juh Yeon bingung.
“Gak. Lucu aja. Padahal deket pun kita gak tapi, kamu bela mati-matian. Bahkan orang yang sempet bilang mau nikahin aku aja, jangankan bela, pamit pergi ninggalin buat nikah sama yang lain pun gak ada.”
Diam, Juh Yeon pun meraih salah satu tangan Siska.
“Kalo gitu, deket sama aku aja. Kenalin, aku, Kim Juh Yeon. Perawat Senior di Byul Hospital. Anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku cewe, sudah nikah dan netap di Beijing. Adekku cowo masih kuliah di Universitas Seoul. Umurku 32 tahun. Aku lajang. Suka warna biru. Suka melukis. Dan selalu berusaha mensyukuri apapun yang datang ke dalam hidupku.”
Siska tampak tersenyum sebelum kemudian meletakkan tangannya yang terpasang infus ke atas genggaman tangan Juh Yeon.
“Aku, Siska Miesha. Calon Perawat Senior di Byul Medical Clinic…”
Kata orang, jangan terlalu mengejar apa yang kita cintai. Karena pasir yang digenggam terlalu kuat pun pada akhirnya akan melepas diri melalui celah jari…