Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 1 bagian 3
Bell pulang berbunyi tepat pukul 12 siang, dan hujan belum juga reda. Hari pertama tahun ajaran tentu tidak akan seefektif hari lainnya, dan hujan yang terus menerus turun membuat pihak sekolah memutuskan untuk membubarkan sekolah tepat pada tengah hari. Namun beberapa organisasi memutuskan untuk mengadakan pertemuan pertama, beberapa siswa OSIS juga masih harus tinggal untuk evaluasi. Jadi meski bell pulang sudah berbunyi sekolah masih dihuni banyak siswa. Daniel adalah siswa baru jadi ia memilih pulang lebih dulu.
Siapa yang akan menyangka di hari pertamanya masuk sekolah, ia harus beradaptasi dengan begitu banyak hal. Gosip yang selalu menghangatkan koridor, teman-temannya yang terlihat urakan, bahkan diskriminasi gedung pun harus ia rasakan. Ia tidak akan membahas status sosial, karena ia yakin setiap sekolah memiliki permasalahan itu.
Daniel duduk di bangku penumpang dengan sedikit melamun, namun ia masih mendengar cerita yang Mas Rian tentang gosip di sekolah barunya. Itu tidak berbeda dengan yang disampaikan Hani, tapi telah dibumbui dengan berbagai macam rempah dan penyedap sehingga penuh rasa.
“Mas Rian tau darimana mas?” tanya Daniel.
“Ya yang cerita sopir pribadi pelaku lah. Padahal menurut si supir sebelum masuk SMA anak-anak itu bukan anak nakal. Yah salah pilih teman paling.” jawabnya. Temtu saja bukan hanya para wanita yang suka bergosip, terkadang laki-laki pun suka bergosip.
“Orang tua mereka bisnis juga mas? Papa kenal tidak ya?” tanya Daniel.
“Mungkin kenal den. Korban yang kesurupan aja anaknya Pak Prass” jawab Mas Rian.
“Pak Prass siapa?” tanya Daniel heran.
“Satpam toko yang dipanggil Pak haji itu loh den, namanya Pak Prass”
“Serius mas?” kaget Daniel.
“Serius, tadinya saya juga tidak percaya den. Ternyata diam-diam banyak anak kariyawan Bapak yang sekolah ini juga. Padahal sekolahnya mahal loh” jawab Mas Rian. Dia memutar stir ke kiri berputar di tikungan sebelum masuk ke dalam kompleks rumahnya.
Daniel masih terdiam karena apa yang dikatakan Mas Rian. Pagi tadi Jonatan bilang ayahnya bekerja di toko utama, Daniel pikir dia hanya bercanda, dan mendengar langsung hal seperti itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Dia tidak ingin dijauhi lagi karena dianggap lebih mapan atau dimanfaatkan orang lain. Semoga saja teman-temannya tidak seperti ular berbisa.
Dia masuk ke rumah dengan malas, bayangan tentang dimanfaatkan teman-temannya terlihat benar-benar tidak menyenangkan. Namun semuanya lenyap ketika ibunya menyambut dengan bersemangat dan ayahnya yang sudah duduk di ujung meja makan dengan pakaian santai dan handphone yang masih menyala. Ia seperti sangat melamun tadi hingga tidak melihat mobil ayahnya sudah terparkir. Biasanya ayahnya tidak akan kembali secepat ini, apa yang membuatnya pulang begitu awal?
“Dan ganti bajumu dan turun untuk makan, sore nanti ikut ayah menjenguk Mitha salah satu anak kariyawan ayah lalu temani ayah menemui beberapa kolega bisnis” ucap Erwin ketika melihat Daniel masuk ke ruangan. Ia mematikan sambungan teleponnya dan memandang Daniel dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kenapa tidak mengajak ibu?” tanya Daniel.
“Tema pertemuan malam ini pengusaha dan pewaris, tentu aku harus membawamu bukan ibumu” ucap Pak Erwin.
Dia mengamati Daniel yang terdiam sesaat sebelum mengangguk dan berbalik untuk menganti pakaian. Diam-diam ia mengagumi postur tubuh putranya, dengan bahu yang lebar dan punggung yang tegap ia terlihat seperti bangsawan kuno. Apalagi ketika ia berjalan tanpa membungkuk, aura aristokrat yang kental seolah memenuhi ruangan. Putranya yang bukan darah dagingnya. Terkadang ia sangat kesal mengingat Daniel hadir ke dalam keluarganya demgan cara yang tidak terduga. Namun ia bersyukur, anak itu tahu dimana dan apa yang harus ia lakukan dengan posisinya.
Erwin Yulian mungkin bukan orang besar yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya, namun ia punya semangat yang tinggi dan keuletan untuk membangun usahanya. Itu adalah salah satu hal penting yang membuat bisnisnya sukses. Ditambah keluarganya punya koneksi yang cukup baik dengan banyak pelaku bisnis hebat. Daniel perlu berperilaku ‘baik’ sebagai pewarisnya, dan selama ini dia telah melakukannya dengan benar-benar baik.
Tepat pukul 15.30 mereka berangkat untuk menjenguk Mitha. Sejak pertama kali ayahnya menyebut nama itu Daniel merasa sedikit aneh. Pagi ini di sekolah dia disambut dengan cerita Mitha yang kesurupan, lalu fakta dia adalah anak salah satu pekerja ayahnya, dan sekarang ia harus menjenguknya. Ada sedikit rasa kewalahan dalam hatinya, apalagi ketika melihat Pak Prass. Daniel mengenalnya sebagai orang yang sangat tabah, namun kini tampak sangat terpukul dan pasrah. Itu membuatnya prihatin.
Apa Pak Prass tahu apa yang dilakukan teman-temannya sehingga membuat putrinya seperti ini? Apakah dia masih akan setabah dan sesabar itu?
“Benar-benar kesurupan Dan?” bisik sang Ayah.
Daniel tidak langsung menjawab namun menatap tubuh Mitha yang berbaring tidur di atas ranjang Rumah Sakit. Wajahnya pucat dengan lingkar mata yang menebal dan hitam, rambutnya berantakan, pipinya tirus, beberapa luka cakar juga terlihat di sepanjang kulit yang tidak tertutup pakaian. Namun fokus Daniel bukan pada semua itu, namun pada sosok transparan yang memegang tangan Mitha. Sosok gadis berpakaian kasual dengan bibir yang menghitam dan mata yang sayu. Ia memegang tangan Mitha erat, meminta pertolongan.
“Perawat akan menyuntikan obat penenang setiap 2 jam, tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya” ucap Pak Prass.
“Ya sudah pak, bapak boleh ambil cuti untuk saat ini sampai anaknya sembuh” ucap Pak Erwin menenangkan.
Daniel diam-diam keluar dari ruangan dan ayahnya menyusul tidak lama kemudian. Mereka tidak ingin terlalu lama berada di Rumah Sakit, bukan hanya karena tempat itu dipenuhi oleh orang sakit dan terlalu banyak bakteri. Tempat itu juga dipenuhi udara yang lembab dan bau obat yang menyengat, Erwin tidak pernah suka bau obat-obatan seperti itu. Sedangkan bagi Daniel, memasuki Rumah Sakit itu seperti memasuki rumah hantu. Ada begitu banyak arwah di tempat itu, dan dia tidak pernah menyukainya.
Hujan deras mulai kembali mengguyur kota sejak mobil mereka meninggalkan Rumah Sakit.
“Ada arwah seorang gadis yang mengikutinya. Sepertinya ia tidak sengaja melewati atau berada di TKP pembunuhan. Arwah itu meminta tolong tetapi tidak ada satu orang pun yang memahaminya” ucap Daniel ketika sampai di parkiran mobil.
“Lalu bagaimana cara mengatasinya? Pak Prass tidak bisa terus menerus cuti dan anaknya pun akan tersiksa jika terus menerus seperti ini. Tanpa sedikit pun makanan, dia akan seperti mayat hidup” ucap Pak Erwin.
“Satu-satunya jalan untuk menyadarkan kembali Mitha adalah menemukan siapa yang membunuh tubuh arwahnya. Kita tidak tahu dimana harus memulai dan sebenarnya kita tidak punya alasan yang kuat untuk memulai. Aku yakin ayah bisa mencari orang lain sebagai pengganti Pak Prass” ujar Daniel. Dia menatap Pak Zaki yang sedikit kaget dengan ucapnya.
“Ya, kita tunggu saja siapa tahu kasusnya selesai dalam waktu dekat. Mencari pengganti bukanlah hal yang mudah, dan itu menjadi keputusan Pak Prass untuk bertahan atau tidak”
Keheningan terjadi setelah kalimat yang diucapkan Pak Erwin. Hanya suara deru mesin dan hujan yang mengisi keheningan. Pak Zaki pun tidak berani menyela, dia hanya melirik sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan.
“Yah?” ucap Daniel memecah keheningan mobil.
“Apa?”
“Ayah kenal keluarga Dewanta?” tanya Daniel.
“Ah aku lupa, kamu pasti bertemu dengan pewarisnya. Apakah ada masalah?”
“Tidak juga. Pada awalnya aku tidak tahu dia Dewanta, dia hanya memperkenalkan diri sebagai Andre. Kami sekelas” jawab Daniel.
“Kamu sekelas dengannya, bagaimana mungkin? Dia terlihat sangat cerdas” kaget Pak Erwin.
“Apa ayah sedang bilang aku tidak pintar?” tanya Daniel.
“Tentu saja tidak, kau berada di sana karena pilihan. Teruskan ceritamu bagaimana kamu tahu dia adalah Dewanta, apa kau melihat buku absensi?” tanya sang Ayah. Meski sebenarnya kecewa, ia akan mendukung kemauan putranya. Ia tidak ingin Daniel terjebak dalam keinginan egois kedua orang tuanya.
“Ada keributan tadi. 2 orang gadis datang ke kelas kami, Ilyas bilang mereka adalah anggota geng yang terlibat dalam kasus Mitha. Mereka yang membawa Mitha ke sekolah malam itu. Awalnya mereka ingin meminta tolong pada Andre, tapi Andre menolak dengan alasan tidak ingin terlibat. Andre yang memergoki mereka pertama kali, dan mereka menuduh Andre sebagai penyebar berita.” Daniel menarik nafas pelan dan memandang ke luar jendela.
“Kenapa mereka meminta pertolongan Andre?” tanya Pak Erwin.
“Tahun lalu saat perkemahan Andre membantu guru agama mengatasi beberapa siswa yang kesurupan, dan mereka menyimpulkan bahwa Andre bisa mengatasinya” jawab Daniel, dia kembali fokus ke depan dan melanjutkan ceritanya.
“Ku pikir semuanya selesai dengan penolakan Andre, namun salah satu siswi itu tidak terima dan mengatakan Andre adalah anak seorang gundik. Itu membuat seisi kelas heboh dan tidak terima, mereka bilang siswi itu lah yang terlahir di luar pernikahan. Aku penasaran lalu melihat buku presentasi, tidak ada nama Andre hanya ada Andreas Dewanta. Itu kesimpulanku karena tidak ada Andreas lainnya di kelasku” jawab Daniel.
Mendengar cerita putranya Erwin menghela nafas panjang. Permasalahan keluarga Dewanta sebenarnya tidak serumit itu, namun karena rasa kasihan semuanya menjadi berbelit-belit.
“Andra Dewanta menikah 2 bulan sebelum aku menikahi ibumu, dan itu bukan acara privat yang hanya dihadiri oleh keluarga. Itu adalah acara besar yang mengundang begitu banyak kolega termasuk aku. Sebelum pesta dimulai beredar kabar bahwa mantan kekasih Andra datang di salah satu Vila tidak jauh dari tempat acara, tentu saja itu membuat beberapa orang panik, dia bukan wanita yang baik. Kami berusaha untuk membuat acaranya berjalan tanpa masalah dan berhasil menjauhkan wanita itu. Kami tidak tahu apa yang terjadi setelah acara itu selesai, sampai setahun kemudian kami menerima kabar tentang kelahiran Andreas.”
Daniel memperhatikan ayahnya bercerita, tidak biasanya ayahnya mau berbicara seperti ini, kecuali dengan ibunya tentu saja.
“Tapi sebulan kemudian berita tidak mengenakan kembali terdengar, mantan kekasih Andra datang ke rumah utama Dewanta dengan seorang anak. Ia mengaku bahwa anak itu adalah anak Andra, tetapi wanita itu menolak untuk tes DNA sampai saat ini. Keluarga besar Dewanta tidak pernah mengakuinya, bukan hanya karena lahir di luar nikah tetapi karena tidak ada dokumen resmi tentang anak itu. Dalam keluarga lama selir mungkin diakui, namun seorang gadis yang terlahir di luar nikah adalah kasus lain. Apalagi ketika Andra menolak untuk menikahi wanita itu atau menceraikan Bu Dewi, semuanya menjadi semakin rumit” pungkas Erwin.
Daniel terdiam sekejap. Dia membayangkan wajah Andre, lalu membandingkannya dengan gadis yang datang ke kelasnya siang tadi. Tidak ada kemiripan sedikitpun.
“Lalu mengapa gadis itu masih sangat arogan? Dia tidak diakui?” tanya Daniel.
“Andra merasa pernah melakukan hubungan dengan wanita itu, ada rasa tanggungjawab dalam dirinya. Siapa yang menduga rasa tanggungjawab itu menjadi senjata bagi mereka untuk menyerang Dewanta. Apalagi gadis itu 2 bulan lebih tua dari Andreas” jawab Erwin.
“Benar-benar tidak tahu malu. Lalu bagaimana dengan Bu Dewi?” tanya Daniel.
“Dia tentu kecewa dengan keputusan Andra, tapi dia juga tidak menggugat Andra. Dia pergi, kembali ke keluarganya dan membangun rumah kecil yang jauh dari hiruk-pikuk perusahaan. Keluarga Dewanta membiarkannya membawa Andre sebagai hukuman bagi Andra karena tidak bisa mengambil keputusan. Pada akhirnya masalah itu hanya berjalan seperti ini hingga saat ini.”
“Jadi Bu Dewi ini juga pengusaha yah?” tanya Daniel.
“Ya, dia adalah seorang florist dan kebunnya masih menjadi pemasok utama bunga melati untuk beberapa perusahaan teh hingga saat ini. Kudengar adiknya adalah perwira kepolisian” jawab Pak Erwin. Dia menatap rintik hujan yang mengetuk jendela mobil, menatap pantulan cahaya lampu yang terbiasa. Mengingat masa lalu yang sedikit demi sedikit mulai ia lupakan.
“Bertemanlah dengannya, bukan karena dia adalah seorang pewaris. Bertemanlah dengannya karena dia Andre. Bukan hal yang mudah bagi seorang anak dari keluarga terkenal membaur bersama orang yang tidak memerasnya. Aku yakin ada alasan mengapa dia tidak pernah memperlihatkan kekayaannya” imbuh Pak Erwin lagi.
Diam-diam Pak Zaki yang mendengarkan dari balik kemudi tersenyum kecil. Dia membelokan mobil ke tikungan terakhir dan masuk ke halaman hotel yang digunakan untuk pertemuan. Hotel mewah yang telah didekorasi dengan gaya klasik ala inggris, terlihat sangat indah dan penuh kenangan.
Namun bagi Daniel tempat ini tidak seindah itu. Malam yang tenang dengan gerimis di gedung tua tentu bukan suatu perpaduan yang bagus. Dari awal dia memasuki lobi utama hotel itu ia telah disambut dengan beberapa hal yang tidak menyenangkan. Ia ingin menggandeng tangan ayahnya, seperti apa yang dilakukan saat kecil. Namun ia tidak mungkin melakukannya.
Memasuki aula utama lampu terang mulai menyambut, gelas-gelas kaca berisi wine mahal telah ditata dengan begitu indah. Suara berat dan tawa yang terdengar sangat mahal memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Bau parfum mahal bercampur menjadi satu, membuat suasana ruangan menjadi berat. Acara lelang yang dibalut dengan segala macam kemewahan dengan tema ‘pengusaha dan pewaris’ terdengar sangat berlebihan. Namun itulah yang terjadi, ia hanya berharap bisa segera melarikan diri dari tempat ini.
Daniel masih mendengarkan obrolan ayahnya dengan seorang kenalan, saat sebuah suara melengking menyapa indra pendengarannya.
“Daniel!”
Daniel menengok ke belakang, melihat Hani melambaikan tangan ke arahnya. Ia menggunakan sebuah dress cantik berwarna kuning segar dengan perhiasan sederhana. Terlihat mencolok namun cocok dengan tema malam ini. Andre duduk tidak jauh darinya dengan setelan jas yang simpel dengan jam tangan mewah, sederhana tanpa meninggalkan kesan mahal. Dia meminta izin pada ayahnya dan pergi menemui kedua teman barunya.