Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Tirai Luka
Malam merayap di atas kota dengan udara yang membawa aroma hujan yang belum tuntas jatuh. Di dalam ruang kerja yang hanya diterangi oleh lampu meja temaram, Sasha dan Gio duduk berdekatan. Aroma kopi yang mulai mendingin dan tumpukan kertas tua memenuhi ruang di antara mereka.
Sasha sesekali melirik suaminya dari balik helaian rambut yang jatuh menutupi wajah. Ada rasa aneh yang mulai merambat di hatinya—sesuatu yang sudah lama ia kunci rapat sejak rahasia pertama terungkap. Melihat Gio yang begitu gigih, dengan kening berkerut dan mata yang merah karena kurang tidur demi melindunginya, Sasha merasakan tembok pertahanannya sedikit demi sedikit terkikis.
Apakah aku mulai jatuh cinta lagi padanya di tengah kekacauan ini? batin Sasha.
Ada kehangatan yang samar saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan ketika meraih berkas yang sama. Getaran itu nyata. Meski ia baru saja mengancam akan "menebas" Gio jika berbohong lagi, Sasha tidak bisa memungkiri bahwa keberadaan Gio adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam kegilaan teror Dimas.
Namun, di sisi lain meja, Gio merasa seperti sedang berjalan di atas jembatan gantung yang talinya mulai putus satu per satu. Ia bisa merasakan tatapan Sasha yang mulai melembut, dan itu justru membuatnya semakin tersiksa.
Jika kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, Sha... apakah kamu masih akan sudi menyentuh tanganku?
Gio memijat pelipisnya. Ingatannya melompat kembali ke belasan tahun lalu. Ke sebuah jalanan gelap yang licin karena hujan, suara decit ban yang memekakkan telinga, dan bau bensin yang menyengat. Ada rahasia yang jauh lebih hitam dari sekadar "diam". Rahasia tentang bagaimana sebenarnya mobil orang tua Sasha bisa kehilangan kendali. Dan rahasia itu melibatkan satu nama yang selama ini Gio jaga dengan nyawanya sendiri.
"Gio? Kamu melamun?" suara lembut Sasha memecah lamunan gelapnya.
Gio tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Hanya sedikit lelah, Sha. Berkas ini... sepertinya ada yang sengaja dihilangkan dari arsip kepolisian."
Sasha bergeser duduk lebih dekat, aroma parfumnya yang menenangkan masuk ke indra penciuman Gio. "Kita akan menemukannya. Bersama. Aku merasa... sejak kita memutuskan untuk jujur, beban di bahuku sedikit berkurang. Terima kasih, Gio. Karena akhirnya memilih untuk berdiri di sampingku, bukan di depanku sebagai pelindung yang buta."
Sasha memberanikan diri menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Gio. Gio membeku. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan antara gairah yang kembali tumbuh dan rasa ngeri yang luar biasa. Ia mengelus rambut Sasha dengan tangan gemetar. Ia sangat mencintai wanita ini, namun cinta itu terasa seperti racun yang ia minum setiap hari.
"Sha," bisik Gio parau. "Jika suatu saat nanti dunia ternyata tidak seindah yang kita bayangkan... jika kenyataan tentang masa lalu itu jauh lebih pahit dari kebohongan yang kusimpan... apakah kamu akan tetap di sini?"
Sasha mengangkat kepalanya, menatap mata kelam Gio. "Kenapa kamu bertanya begitu? Kita sudah sepakat, kan? Kebenaran, sepahit apa pun itu, adalah harga mati."
Gio hanya terdiam. Ia ingin berteriak, ingin menumpahkan segalanya, namun bayangan Sasha yang akan meninggalkannya dengan kebencian abadi membuatnya kehilangan keberanian. Ia pengecut. Ia tahu itu.
Tiba-tiba, suara notifikasi masuk ke laptop Gio yang tersambung dengan sistem keamanan rumah. Sebuah email masuk tanpa subjek.
Sasha yang melihat itu langsung menegakkan tubuhnya. "Dari Dimas lagi?"
Gio membukanya dengan ragu. Bukannya teks, email itu berisi sebuah file rekaman suara lama dengan durasi hanya sepuluh detik. Gio ragu untuk memutarnya, tapi Sasha sudah terlebih dahulu menekan tombol play.
Suara statis terdengar sejenak, lalu muncul suara pria yang berat dan penuh tekanan.
"...pastikan remnya tidak berfungsi. Aku tidak mau ada saksi hidup dari keluarga itu. Lakukan sekarang sebelum mereka sampai ke persimpangan."
Klik. Rekaman berakhir.
Wajah Sasha seketika menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Suara itu... ia mengenalnya. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, frekuensi suara itu masih terekam di memorinya. Itu adalah suara yang sering ia dengar di kantor ayahnya dulu.
"Itu... itu bukan kecelakaan biasa," bisik Sasha dengan suara yang nyaris hilang. "Seseorang menyabotase mobil Papa."
Sasha menoleh ke arah Gio, mencari kekuatan, namun yang ia temukan justru ekspresi yang jauh lebih mengerikan. Gio tidak tampak terkejut. Gio tampak... hancur, seolah ia sudah tahu rekaman itu akan muncul suatu hari nanti.
"Gio?" Sasha menyipitkan matanya, kecurigaan yang tadi sempat padam kini berkobar kembali dengan api yang lebih besar. "Kenapa ekspresimu seperti itu? Kamu... kamu tidak kaget mendengar rekaman ini?"
Gio bangkit dari kursinya, berjalan menjauh menuju jendela, membelakangi Sasha. Bahunya bergetar. "Dunia ini gelap, Sha. Lebih gelap dari yang kamu duga."
"Jangan beri aku teka-teki lagi!" teriak Sasha, emosinya meledak. Ia menghampiri Gio dan memutar tubuh pria itu dengan paksa. "Kamu tahu sesuatu tentang sabotase ini, kan? Kamu tahu siapa pria di rekaman itu!"
Gio menatap Sasha dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa bersalah itu kini sudah mencapai puncaknya. Ia merasa oksigen di ruangan itu hilang. Dimas tidak hanya ingin menghancurkan mereka dengan teror, tapi Dimas ingin menghancurkan mereka dengan memancing Gio untuk mengakui dosanya sendiri.
"Siapa dia, Gio? Jawab aku!" Sasha mengguncang bahu Gio, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya. "Siapa yang membunuh orang tuaku?!"
Gio memegang pergelangan tangan Sasha, mencoba menenangkannya, namun Sasha menepisnya dengan kasar. Di mata Sasha, kini Gio bukan lagi sandaran, melainkan sebuah kotak pandora yang berisi kehancuran.
"Jika aku mengatakannya sekarang, kita berdua tidak akan pernah bisa kembali lagi, Sha," ucap Gio dengan suara yang pecah.
Sasha mundur selangkah, menatap suaminya dengan tatapan yang penuh kengerian. "Kamu... kamu terlibat dalam ini?"
"Tidak seperti yang kamu pikirkan!"
"Lalu seperti apa?!" jerit Sasha. "Katakan padaku sekarang atau aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah membiarkanmu melihatku lagi!"
Ancaman itu adalah kartu as yang paling ditakuti Gio. Ia menarik napas dalam, menutup matanya sejenak, membayangkan kebahagiaan singkat yang mereka rasakan beberapa menit lalu di bawah lampu meja yang hangat. Kini, semua itu musnah.
Gio membuka matanya, menatap Sasha dengan kejujuran yang paling menyakitkan yang pernah ia miliki.
"Suara di rekaman itu..." Gio menjeda, suaranya tercekat di tenggorokan. "...dia adalah orang yang mengirimku untuk mengawasimu sejak awal. Pria yang merencanakan semua itu... adalah pria yang selama ini kupanggil 'Ayah'."
Sasha terhuyung, tangannya meraih pinggiran meja agar tidak jatuh. Dunianya runtuh. Langit-langit ruangan itu seolah jatuh menimpa kepalanya.
"Ayahmu?" bisik Sasha tak percaya. "Jadi... suamiku adalah putra dari pembunuh orang tuaku?"
Gio melangkah maju, ingin meraihnya, namun Sasha mengangkat tangannya dengan isyarat berhenti yang tegas.
"Jangan sentuh aku," desis Sasha. Matanya yang tadinya mulai menaruh hati, kini berubah menjadi sedingin es kutub.
"Sha, dengarkan aku dulu—"
"Tidak ada lagi yang perlu didengar, Gio," potong Sasha dengan nada suara yang begitu tajam hingga mampu menyayat udara.
Sasha berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berbalik dan menatap Gio dengan tatapan yang akan menghantui Gio selamanya.
"Malam ini, kamu benar-benar telah kehilangan segalanya, Gio. Termasuk aku."