NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Jangan Sampai Menyesal

Sesampainya di rumah, Abel segera melepas segala kepenatan kantor dengan mandi air hangat. Setelah berganti pakaian rumah yang nyaman, ia langsung menuju kamar bayi. Kerinduannya pada Farel seolah menjadi obat penawar paling ampuh untuk segala kegelisahan hatinya.

Abel mengangkat Farel dari boks bayinya, menimangnya dengan penuh kasih sayang. "Halo, Jagoan Aunty... sudah kangen ya?" bisiknya lembut sambil menciumi pipi gembul Farel yang harum aroma minyak telon.

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Reno bersandar di sana dengan tangan bersedekap, menatap pemandangan manis itu sebelum akhirnya mendekat dan berbisik tepat di telinga Abel dengan nada usil namun sarat ancaman.

"Peringatan terakhir, Bel. Awas saja kalau lo masih berhubungan dengan si Arslan. Detik itu juga lo ketahuan jalan sama dia, lo gue pecat dari perusahaan!"

Abel tersentak, lalu menoleh menatap kakaknya dengan bibir mengerucut. "Kakak ini hobi banget sih mengancam adik sendiri. Kalau ternyata dia memang benar-benar sudah berubah bagaimana, Kak?"

Reno mendengus sinis, ia mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Farel yang mulai tertawa karena godaan Abel. "Berubah? Abel, dengerin gue. Cowok itu kalau sudah sekali berengsek, butuh waktu seumur hidup buat berubah. Pasti dia ada maunya. Kakak mu ini cowok, gue tahu persis apa yang ada di pikiran cowok saat mereka mencoba mengejar kembali apa yang sudah mereka buang."

Reno menghela napas, sorot matanya yang tajam perlahan melunak, menyiratkan rasa sayang yang dalam. "Gue nggak mau adik perempuan gue satu-satunya terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang sama. Cukup sekali gue lihat lo hancur karena dia. Gue nggak akan kasih dia kesempatan kedua untuk merusak senyum lo lagi."

Kalimat Reno barusan menghantam hati Abel dengan telak. Ia terdiam, hanya bisa menatap mata polos Farel di pelukannya. Perdebatan kecil itu meninggalkan rasa yang campur aduk di benak Abel. Di satu sisi, ia merasa sangat beruntung memiliki pelindung sehebat Reno yang rela menjadi benteng bagi hatinya. Namun di sisi lain, ia merasa terkekang karena Reno seolah menutup rapat pintu maaf yang sebenarnya mulai ingin Abel buka sedikit demi sedikit.

Abel tahu Reno benar, tapi hatinya yang keras kepala mulai bertanya-tanya: Bagaimana jika Arslan yang sekarang benar-benar berbeda dengan Arslan lima tahun yang lalu?

Malam semakin larut, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh suara jangkrik di taman depan. Di balkon lantai dua, Reno berdiri dalam kegelapan. Puntung rokoknya menyala kemerahan di tengah remang, asapnya mengepul tipis ke udara malam. Matanya yang tajam mengawasi jalanan di depan rumah mereka dengan waspada, seolah ia adalah penjaga mercusuar yang menunggu datangnya badai.

Tepat saat Reno hendak mematikan rokoknya, sebuah mobil sport yang sangat ia kenali berhenti perlahan di depan gerbang. Lampu mobil itu padam, dan tak lama kemudian, sosok Arslan keluar dari sana.

Arslan berdiri di depan pagar besi yang tinggi, tangannya menjinjing sebuah bungkusan martabak yang masih mengepulkan aroma manis mentega dan cokelat—makanan favorit Abel sejak dulu. Arslan tampak ragu, ia menatap ke arah jendela kamar Abel yang masih menyala, tak menyadari bahwa di atas sana, sang penjaga maut sedang memperhatikannya dengan tatapan membunuh.

Reno menyipitkan mata. Ia membuang rokoknya ke asbak dengan kasar, lalu berteriak dari atas balkon tanpa basa-basi.

"Mau apa lagi lo ke sini, hah?!"

Suara berat Reno yang menggelegar membuat Arslan tersentak hebat. Ia mendongak dan mendapati Reno sedang berdiri dengan angkuh di atas sana, menatapnya seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis.

"Kak Reno... Gue cuma mau antar ini buat Abel," jawab Arslan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang. Ia mengangkat bungkusan martabak itu tinggi-tinggi.

"Bawa balik sampah lo itu! Adik gue nggak butuh asupan dari pengecut kayak lo!" sahut Reno ketus. Ia kemudian berbalik dan menghilang ke dalam rumah, namun sedetik kemudian terdengar langkah kaki yang menuruni tangga dengan cepat.

Di dalam rumah, Abel yang mendengar keributan itu langsung keluar dari kamarnya. Ia melihat Reno sudah berada di depan pintu utama dengan wajah merah padam.

"Kak, jangan mulai lagi!" cegat Abel, namun Reno sudah lebih dulu membuka pintu lebar-lebar.

Arslan masih berdiri di depan pagar yang terkunci saat Reno melangkah keluar ke halaman. "Lo nggak dengar kata-kata gue di kantor tadi?" Bentak Reno pada Abel.

"Jauhi adik gue! Dan satu lagi..." Reno menunjuk ke arah martabak itu, "Abel nggak butuh perhatian lo. Dia punya gue yang bisa beliin dia satu pabrik martabak kalau dia mau!"

Arslan menghela napas panjang, ia mendekatkan wajahnya ke celah pagar. "Gue nggak ke sini buat berantem sama lo, Kak. Gue ke sini buat Abel. Dan buat anak itu. Gue cuma mau pastiin mereka baik-baik saja."

Mendengar kata "anak itu", rahang Reno mengeras. Kesalahpahaman Arslan tentang Farel adalah hal paling konyol sekaligus menyebalkan yang pernah Reno dengar. Ia ingin sekali memukul wajah Arslan saat itu juga, tapi ia melihat Abel sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan memohon.

"Taruh di atas pagar dan pergi," ucap Abel tiba-tiba dari ambang pintu. Suaranya kecil namun tegas.

Arslan menatap Abel yang berdiri di kegelapan teras. Ada rasa sakit saat melihat jarak yang begitu jauh di antara mereka. Dengan perlahan, Arslan meletakkan bungkusan martabak itu di atas tiang pagar besi.

"Gue cuma mau lo tahu, gue nggak akan menyerah, Bel. Sekeras apa pun kakak lo melarang," ujar Arslan sungguh-sungguh sebelum akhirnya kembali ke mobilnya.

Reno mendengus, menoleh ke arah Abel dengan tatapan tidak percaya. "Lo beneran mau makan itu?"

Abel tidak menjawab. Ia berjalan mendekati pagar, mengambil bungkusan itu, dan mencium aroma manisnya yang familiar. "Setidaknya martabaknya nggak salah apa-apa, Kak," gumam Abel pelan, meninggalkan Reno yang masih berdiri di halaman dengan perasaan dongkol yang luar biasa.

Reno terdiam di ruang utama. Ia memijat pangkal hidungnya pelan. Sekeras apapun ia mencegah raga Abel, adiknya akan tetap berjalan menuju Arslan.

Reno hanya tidak ingin Abel terluka untuk keduakalinya, namun ia pun tidak ingin Abel menyesal atas cinta yang tidak tersampaikan. Reno tak ingin Abel seperti dirinya yang terlambat mengakui cinta dalam dirinya. Reno tidak ingin kebodohan itu terulang kedua kalinya.

Di ruang keluarga lantai atas, Abel tersenyum menatap sebuah hidangan manis yang paling ia sukai. Pikirannya masih melayang dan menerka bahwa Arslan masih mengingat apa yang ia suka dan apa yang tidak ia sukai.

"Apakah kamu pernah merasakan cinta seperti yang aku rasakan?" Batin Abel sambil menggigit satu suap martabak pemberian Arslan.

Reno datang dan ikut memakan martabak itu, "katanya ini makanan sampah." Sindir Abel.

"Lo sendiri yang bilang tadi, setidaknya makanan ini tidak salah apa-apa."

Abel tersenyum menatap lekat wajah Kakaknya yang tampak lebih tenang.

"Aku mau pergi kencan sama Arslan, boleh ya Kak?" Bisik Abel memulai pertikaian.

Reno tersedak makanannya sendiri. "Apa lo kata? Lo mau mati, hah?"

Reno berdiri dan menghimpit kepala adiknya diantara lengan dan badannya. "Lo bener-bener ya, gak ada kapoknya sama sekali."

"Dia udah berubah kak."

"Berubah jadi apa? Monyet? Singa? Atau Ultraman?"

"Iiih.... Kakak gak asik."

Reno mengacak-acak rambut Abel dan memeluk adiknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Jangan menangis lagi, jangan terjebak lagi. Kakak gak mau adik Kakak yang cantik ini terluka lagi." Reno mencubit hidup Abel gemas.

"Kakak.... "

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!